Share

Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa
Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa
Author: Niu Susanti

Bab 1

Author: Niu Susanti
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat menjawab. Silakan coba lagi nanti ...."

Maudy Wirawan dengan tangan gemetar memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.

Pesawat yang ditumpangi untuk pulang dari Kota Deblin tadi baru saja diterjang turbulensi hebat, nyaris menjemput ajal.

Sekarang, begitu mendarat dan berdiri di pintu keluar, kakinya masih terasa lemas.

Dia menelepon David Hartono. Sebenarnya dia tak terlalu berharap, tetapi saat pria itu tidak juga mengangkat telepon, sisa harapannya pun benar-benar pupus.

Sesampainya di rumah.

David sedang mabuk berat.

Dia menyandar miring di salah satu sudut sofa dengan wajah tanpa ekspresi. Di sudut bibirnya terjepit setengah batang rokok yang hampir habis, sementara di sebelahnya ada seorang gadis yang bersandar, terlihat sangat intim.

Gadis itu dengan pipi merona melepaskan dasi David, lalu mulai membuka kancing kemeja pria itu.

David sama sekali tidak menolak, raut wajahnya bahkan menampilkan ekspresi yang samar dan sulit diartikan.

Maudy menutup pintu. Mendengar suara itu, gadis tersebut menoleh. Begitu melihat Maudy, dia tertegun sejenak lalu buru-buru menarik kembali tangannya.

"Kak Maudy ...."

Barulah saat itu Maudy mengenali gadis tersebut. Gadis itu adalah presenter magang baru yang baru saja dikontrak di stasiun TV. Wajahnya terlihat sangat polos.

Dulu saat merekrutnya, Maudy sendiri yang menyeleksi. Katanya, gadis ini mirip dengan dirinya di masa muda, penuh semangat dan punya daya juang.

"Halo," sapanya sambil mengangguk sopan.

"Tadi waktu acara makan bersama, Pak David minum agak banyak. Jadi, saya khawatir perutnya akan bermasalah, makanya saya putuskan buat tinggal sebentar." Gadis itu menunjuk setengah gelas air madu yang sudah dingin di sampingnya sambil menjelaskan dengan sikap yang begitu sopan. "Anda nggak keberatan, 'kan?"

Dia menundukkan kepala. Tubuhnya yang mungil membuatnya tampak begitu penurut.

Tipe wanita yang disukai oleh David.

Bahkan Maudy sendiri tidak sampai hati berkata kasar padanya.

"Nggak kok," jawab Maudy datar. "Makasih, ya."

Gadis itu melirik Maudy dengan takut-takut. Melihat Maudy benar-benar tidak marah, dia seolah kehilangan semangat. "Karena Anda sudah sampai, saya pamit pulang dulu. Oh ya, jangan lupa minta Pak David minum air madunya."

Setelah gadis itu pergi, rumah kembali sunyi.

David tampak kehabisan tenaga akibat mabuk. Kelopak matanya terkulai berat, kedua tangannya bersedekap. Dia menyandar di sofa, sesekali mengembuskan asap rokok yang mengepul perlahan. Entah sedang memikirkan apa, tetapi jelas sekali dia sedang tidak dalam suasana hati yang baik, membuat aura di sekitarnya terasa begitu berat.

Keduanya terdiam.

Tak seorang pun angkat bicara.

Maudy menyingsingkan lengan bajunya, lalu tanpa sepatah kata pun, memungut bingkai foto pernikahan mereka dari lantai.

Kacanya pecah, serpihannya berserakan di sekitar.

Di dalam bingkai itu hanya tersisa foto pendaftaran pernikahan berlatar merah yang sudah kusut. Ekspresi wajah mereka berdua di foto itu sama-sama muram, bahkan terlihat saling menjaga jarak. Maudy samar-samar ingat, setelah foto ini diambil, David langsung pergi dengan mobilnya, bahkan tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Selama tiga tahun menikah, ini adalah satu-satunya foto mereka.

Dan kemungkinan besar, ini juga akan menjadi foto terakhir mereka.

Dia meletakkan kembali bingkai foto itu di atas meja. Hampir di saat yang sama, David tiba-tiba memeluknya dari belakang.

Tubuh David terasa berat, sebagian besar beban tubuhnya menindih Maudy, kedua lengannya melingkar erat di pinggangnya.

Jemari Maudy yang menggenggam foto itu seketika mengencang. Dengan sisa harapan terakhirnya, dia bertanya, "Kenapa kamu nggak angkat telepon?"

David sama sekali tidak menyadari gelagat aneh Maudy. Butuh waktu agak lama baginya untuk merespons, suaranya terdengar rendah.

"Kenapa?"

Nada bicara Maudy yang tadinya datar kini mulai bergetar, "Aku meneleponmu belasan kali hari ini, kenapa satu pun nggak kamu angkat?"

Suara David terdengar sedikit tidak sabar, "Nggak dengar."

Tidak dengar.

Padahal, dua minggu sebelum pulang dari perjalanan dinas di Kota Deblin, Maudy sudah mengirimkan jadwal penerbangan dan waktu kedatangannya. Sekarang, sudah sepuluh jam lewat dari waktu mendarat yang seharusnya.

Penerbangan itu baru saja diterjang turbulensi hebat dan semua penumpang nyaris tidak bisa kembali dengan selamat.

Kabar itu masih bertengger di puncak pencarian real-time, membuat banyak warganet ikut cemas.

Sementara David, suaminya sendiri.

Bahkan tak mengucapkan sepatah kata pun untuk menunjukkan kepedulian.

Dia tidak bertanya kenapa Maudy baru pulang, atau ada apa dengannya.

Dia hanya melontarkan satu alasan: tidak mendengar panggilannya.

Rasa lelah yang mendera fisik maupun batin membuat Maudy tak punya tenaga untuk mengutarakan apa pun lagi. Dia menundukkan pandangan, hanya bergumam pelan, "Hmm."

Terserah.

Biarlah.

Setelah cukup lama, David tampaknya sudah agak sadar dari mabuknya. Nada suaranya kini terdengar lebih sadar. Dia menoleh melihat sekeliling rumah, lalu bertanya pelan, "Di mana dia?"

Yang dimaksud David adalah gadis yang tadi.

"Udah pergi."

"Kamu usir?"

"Kalau kamu butuh, biar aku bisa memanggilnya kembali." Maudy hanya berkata begitu.

Aroma alkohol yang belum sepenuhnya menguap masih tercium dari napas David. Bibir tipisnya hampir menempel di cuping telinga Maudy. "Kok nadamu begitu? Cemburu?"

Napasnya begitu dekat, terasa panas.

Bibir bawahnya mengusap pelan cuping telinga Maudy yang paling sensitif, menimbulkan rasa geli.

"Nggak."

Maudy memalingkan wajah.

Sikap Maudy yang menghindar sepertinya membuat David tidak senang. Dia meraih dagu Maudy, "Kenapa menghindar?"

Maudy tidak ingin berbasa-basi lagi. Baru saja dia hendak berbalik pergi, tangan pria itu langsung mencengkeram belakang kepalanya, membalikkan tubuh Maudy dan menindihnya di atas sofa.

Sofa itu ambles cukup dalam, dan seketika ciumannya pun menyergap Maudy.

Ciuman itu datang tanpa peringatan, gerakannya kasar, melumat bibir Maudy sampai terasa kebas, membuatnya merasa dunia berputar.

Tubuh David masih dipenuhi aroma rokok dan alkohol, sementara sikapnya memancarkan hasrat untuk menguasai. Maudy merasa tubuhnya kian lemas. Sweater rajut putih yang dikenakannya disingkap oleh David, hawa dingin langsung menyergap, menampakkan kulitnya yang halus dan mulus dengan aroma lembut sabun mandi yang masih tersisa.

Udara di sekitar mereka terasa panas dan lengket, kulit mereka saling menempel erat.

David membenamkan wajah di area sensitif cuping telinga Maudy, mengecupnya dua kali. Tangannya meraba perut bawah Maudy, suaranya terdengar serak, "Boleh, 'kan?"

"Aku lagi capek banget hari ini."

Maudy memejamkan mata, sangat menolak sentuhan pria itu. "Lagi pula, Althaf sebentar lagi pulang sekolah. Aku udah lama nggak ketemu dia. Aku sangat merindukannya."

Mereka memiliki seorang putra berusia tiga tahun.

Nama panggilannya adalah Althaf.

"Terus aku gimana? Kamu kangen aku nggak?"

Maudy tak menjawab.

Tak mendapat respons, David tak bergerak selama beberapa saat. Dia tetap mempertahankan posisi itu cukup lama sebelum akhirnya kembali membuka suara, "Sekarang jam berapa?"

"Jam lima lewat tiga puluh satu."

Tinggal kurang dari setengah jam lagi sebelum Althaf pulang sekolah.

"Baiklah."

Efek mabuk David sudah jauh berkurang. Dia akhirnya melepaskan Maudy, lalu dengan santai mulai membuka kancing kemejanya.

Sambil terus membuka kancingnya, dia melangkah menuju kamar mandi. Suaranya terdengar serak, "Tunggu aku sepuluh menit."

Pukul lima lebih tiga puluh sembilan menit.

David melangkah keluar setelah mandi, kini mengenakan sweater hitam berkerah tinggi yang terlihat santai. Rambut hitam di dahinya masih basah dan disibak ke belakang dengan satu usapan, memperlihatkan garis wajah dan rahang yang tegas serta tajam.

Ruang tamu sudah dibersihkan oleh Maudy hingga bersih tak berdebu, menyisakan dua kantong sampah hitam di dekat pintu masuk.

"Kalau udah beres, kita berangkat."

Selesai bicara, Maudy langsung melangkah lebih dulu.

Saat hendak keluar, pandangan David tiba-tiba menangkap sesuatu di atas meja ruang tamu yang sepertinya tadi tidak ada. Dia pun bertanya santai, "Yang ada di atas meja itu apa?"

"Surat perjanjian cerai."

Nada Maudy terdengar sangat wajar, saking wajarnya sampai membuat David butuh beberapa detik untuk mencerna ucapannya.

David menghentikan langkahnya. Dia menoleh, menatap lurus ke mata Maudy yang tenang. Suaranya ditekan rendah, sulit ditebak apakah dia sedang marah atau tidak. "Maksud kamu apa?"

Maudy tak menjawab. Baru saja dia hendak membuka pintu, pria itu langsung menahan pintu dengan satu tangan, menghalangi jalannya.

"Jawab aku," tanyanya. "Maksud kamu apa?"

Maudy menunduk melirik jam tangannya. Dia tidak berniat bertengkar, jadi dia hanya berkata, "Kalau kita terus begini, aku nggak yakin dengan kemampuan mengemudiku bisa sampai ke sekolah Althaf dalam 15 menit."

David menatap wajah Maudy beberapa saat, baru kemudian menarik kembali tangannya.

Maudy mengangkat kedua kantong sampah itu dengan satu tangan, lalu mendorong pintu dan melangkah keluar.

Pria di belakangnya terdiam cukup lama, lalu berkata pelan, "Gimana kalau aku bilang nggak mau cerai?"

Maudy tidak menghentikan langkahnya. Angin dingin menerbangkan rambutnya hingga berantakan. Dia mendongak menatap Kota Amber yang diselimuti angin dan salju di bulan Desember. Jari-jemarinya terasa kaku karena dingin dan pandangannya pun sedikit kabur.

Wajahnya datar tanpa ekspresi, suaranya terdengar sangat pelan.

"Aku cuma mau Althaf."

Maudy tidak mengincar harta Keluarga Hartono sedikit pun, juga tidak menginginkan status sebagai Nyonya Hartono. Tak ada lagi yang ingin dia harapkan.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 50

    Kediaman Hartono.Angin malam bertiup dingin, prakiraan cuaca menyebutkan bahwa salju akan segera turun kembali.Para pelayan pun sibuk bekerja, memindahkan tanaman dan bunga-bunga langka milik Rere dari paviliun ke dalam rumah. Mereka bolak-balik mengangkutnya, langkah kaki terdengar tergesa-gesa, saling bersusulan tanpa henti."Tahun ini saljunya kok nggak berhenti turun ya," gumam Rere.Maya duduk di sampingnya, memegang papan kartu kata untuk mengajari Althaf mengenal huruf. Mendengar ucapan itu, dia pun mengangguk. "Nggak tahu Kak David lagi ngapain sekarang. Gimana kalau aku rebuskan jahe hangat buat diantar ke sana?""Ibu tahu kamu perhatian sama Kak David, tapi dia 'kan beda sama Althaf, nggak bakal kedinginan sampai sakit." Rere tersenyum puas. "Kamu ini, jangan terlalu fokus sama dia terus. Namanya juga perempuan, perbanyaklah bergaul dan cari teman, itu lebih baik buat masa depan kamu."Maya tersenyum sambil mengalihkan pembicaraan, "Aku masih mau nemenin Ibu beberapa tahun

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 49

    Namun, sebenarnya, dia paham semuanya.Setelah membantu sopir memapah pemuda itu duduk di kursi belakang, Maudy baru hendak membuka pintu depan untuk masuk, ketika suara klakson yang nyaring terdengar dari tak jauh. Itu mobil David, lampu utamanya menyala terang, menyilaukan mata."Masuk."Maudy tak berkata apa-apa.Pria itu mengulanginya lagi. "Masuk."David memang dikaruniai wajah yang memancarkan aura berwibawa, dengan struktur tulang yang sangat tegas, tajam dan mengintimidasi. Lampu kuning remang di langit-langit kabin menciptakan bayangan di balik bulu matanya. Tatapannya dingin dan kelam, memancarkan aura mendesak yang tak bisa ditolak."Maudy, jangan lupa siapa dirimu."Kalimat itu lagi.Bagaikan kutukan.Mengingatkannya agar tidak lupa pada identitasnya. Istri CEO Grup Hartono yang mempermalukan suaminya di depan umum demi pria lain, kalau sampai tersebar, hanya akan membuat semua orang kehilangan muka.Namun, Maudy tiba-tiba benar-benar tak ingin memedulikan apa pun lagi."Ak

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 48

    Setelah selesai menikmati anggur merah, beberapa bos lain mengeluarkan arak yang mereka simpan di sini.Setelah beberapa ronde minum, suasana di ruang VIP jadi jauh lebih ramai.Saat Maudy kembali, sang kepala stasiun sudah mabuk berat. Wajahnya memerah khas orang paruh baya yang kebanyakan minum. Dia menarik Maudy dan menyuruhnya melanjutkan giliran bersulang dengan para bos.Yoga khawatir perut Maudy tidak kuat, jadi dia dengan sigap maju untuk menggantikannya minum. Satu cangkir demi satu cangkir ditenggaknya. Tenggorokannya terasa perih, dan perutnya terasa terbakar.Namun, arak beda sama anggur merah. Kadarnya tinggi, baru beberapa cangkir masuk, orangnya langsung tumbang mabuk.Maudy merasa agak khawatir.Yoga memberinya tatapan menenangkan, memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja.Pelayan membuka pintu. David berjalan masuk dengan santai, pandangannya menyapu mereka berdua. Suaranya tetap tenang, tetapi menyimpan tekanan khas seorang atasan yang terbiasa memegang kendali. "Kala

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 47

    Setiap kali bekerja dengan intensitas tinggi dalam waktu lama, sakit lambung Maudy mudah kambuh. Beberapa hari ini dia begitu sibuk hingga tak sempat makan lebih dari beberapa suap. Setelah menelan beberapa gelas anggur dingin tadi, perutnya kini terasa sangat tidak nyaman, sebuah pertanda kram lambung akan segera menyerang.Seluruh tubuhnya terasa tidak nyaman.Maudy bersandar di kursi ruang istirahat, memejamkan mata untuk beristirahat sejenak. Tepat pada saat itu, terdengar suara ketukan pintu."Tok, tok"Maudy tidak berpikir panjang, mengira itu Yoga yang datang membawakan obat pereda nyeri, sehingga dia berkata pelan, "Masuklah, Yoga."Tidak ada suara dari luar pintu.Beberapa detik kemudian, pintu baru terbuka dengan suara 'kriet'."Wah, kayaknya kamu bakal kecewa deh. Aku bukan sutradara muda yang mau kasih perhatian ke kamu." Suara pria yang terdengar tepat di atas kepalanya terdengar sangat berat, berat hingga ke dasar, dan auranya pun terasa begitu mencekam.Maudy sudah terla

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 46

    Maudy mengangguk.Yoga belum ikut masuk. Dia berjalan ke dapur untuk mengecek daftar menu.Para tamu di ruang VIP telah lengkap berkumpul. Mereka mengobrol santai berdua atau bertiga. Di saat seperti ini, sebenarnya tidak banyak yang membicarakan bisnis. Kebanyakan justru membicarakan urusan keluarga untuk mempererat hubungan, seperti, "Keponakan Anda tahun ini umurnya berapa?" atau "Lapangan golf Pak Yanto sudah diperluas lagi nih, kalau ada waktu main bareng yuk!"Beberapa direktur utama yang duduk dekat meja utama secara inisiatif mendekati David untuk mengobrol. Pria itu tidak memberikan tanggapan apa pun, raut wajahnya dingin dan angkuh, sesekali hanya mengangkat gelasnya untuk bersulang sebagai balasan.Meskipun David termasuk yang paling muda di antara orang-orang ini, di lingkaran ini di mana kekuasaan dan kedudukan yang berbicara, wajar jika dia menjadi pusat perhatian dan pujian.Tak ada keuntungan, tak ada yang datang. Orang-orang berkerumun hanya demi kepentingan masing-mas

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 45

    Beberapa kali latihan terakhir menjelang Tahun Baru membuat stasiun TV sibuk luar biasa.Maudy hampir dua minggu tidak pulang ke rumah.Seorang penari dari program tari klasik mengalami cedera, sementara penari pengganti tidak bisa segera datang untuk mengikuti latihan. Akibatnya, seluruh program tersebut terancam diganti. Maudy begitu sibuk hingga nyaris tidak punya waktu untuk mengurus hal lain. Ponselnya seharian hanya tergeletak begitu saja, sampai baterainya nyaris tidak berkurang banyak karena dia sama sekali tidak sempat menyentuhnya.Sejak perpisahan terakhir mereka, pertemuan kembali dengan David kali ini benar-benar menjadi sesuatu yang tidak pernah Maudy duga.Untuk jamuan makan bersama para mitra kerja kali ini, Maudy sudah menolaknya tiga atau empat kali dengan alasan sibuk. Namun, dia tetap tidak mampu menolak undangan sang kepala stasiun yang terus-menerus membujuknya, sehingga mau tidak mau dia harus ikut menghadiri perjamuan tersebut.Berbeda dengan Gala Tahun Baru seb

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status