Share

Bab 2

Penulis: Niu Susanti
Perjalanan menuju ke sana memakan waktu cukup lama. Khawatir anaknya akan kedinginan saat masuk ke dalam mobil nanti, Maudy sengaja menaikkan suhu pemanas satu derajat lebih awal.

Keduanya tak saling bertukar kata sepanjang perjalanan.

Mobil tiba di depan gerbang pusat PAUD. Baru saja berbelok, mereka sudah melihat dua atau tiga baris anak-anak berdiri di luar gerbang.

Hari ini adalah hari kegiatan bertema, sehingga mereka mengenakan pakaian yang sama. Semua anak memakai kostum beruang.

Jika dipandang dari kejauhan, mereka benar-benar terlihat seperti sekumpulan anak beruang berbulu halus.

Setelah memarkir mobil, keduanya turun bersamaan.

Mengingat percakapan tadi yang belum tuntas, Maudy kembali membuka suara, "Surat perjanjiannya kamu baca kalau ada waktu. Kalau ada yang nggak sreg, kamu bisa minta pengacara buat susun ulang."

"Udah yakin?"

David bahkan tidak mengangkat pandangannya sedikit pun, seolah tidak menganggap serius perkataan Maudy. "Perceraian ini bakal ngaruh banget ke masa depan Althaf. Maudy, jangan terlalu egois dan cuma mikirin diri kamu sendiri."

Egois.

Kata itu terasa cukup menusuk.

Maudy terdiam beberapa saat. "Althaf aku kandung selama sepuluh bulan. Nggak akan ada yang bisa memperlakukannya lebih baik daripada aku."

"Dengan apa kamu mau menghidupinya? Gaji kamu yang segitu bahkan nggak cukup buat nutup biaya hidupnya selama setengah bulan."

Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Dengan kedua tangan bersedekap, dia bersandar di bagian depan mobil.

"Jangan salahkan aku kalau nggak mengingatkanmu. Dia itu anakku, anak David Hartono. Kamu mungkin sanggup tahan hidup pas-pasan, tapi bukan berarti dia juga harus begitu."

"Oh ya? Anakmu?" tanya Maudy pelan. "Terus, kamu bisa nggak nebak yang mana anakmu?"

Pandangan David jatuh pada sekumpulan "anak beruang" yang sedang bermain riang di depannya, keningnya agak berkerut.

Rahangnya mengeras, dia tak berkata sepatah kata pun.

Keheningannya menjawab segalanya.

Dia tidak mengenali anaknya.

Betapa konyolnya, seorang ayah kandung sampai tidak bisa mengenali anak sendiri.

Karena sejak awal tak ada harapan, rasa kecewa pun tak ada artinya. Maudy hanya merapatkan sweater rajutnya, lalu mengalihkan pandangan. "Nggak usah dicari, Althaf nggak ada di sini."

Althaf tertidur di ruang tunggu.

Saat digendong keluar oleh gurunya, si kecil belum membuka mata. Masih setengah sadar, dia langsung beralih ke gendongan Maudy.

"Ibu," gumamnya sambil mengusap mata. "Ibu udah pulang? Ibu datang jemput aku?"

Usianya baru tiga tahun, badannya gempal dan montok, menggemaskan seperti boneka beruang kecil.

Dilihat dari sudut mana pun, Althaf memang sangat menggemaskan.

"Hmm." Khawatir Althaf kedinginan karena baru bangun tidur, Maudy menutupi sebagian wajah bocah itu dengan mantel yang dikenakannya, lalu membujuknya dengan lembut, "Ngantuk banget, ya? Tidur lagi saja. Sebentar lagi kita sampai di rumah."

Althaf masih berusaha membuka matanya beberapa kali, tetapi akhirnya kalah juga oleh kantuk dan tertidur pulas di pelukan ibunya.

Tidurnya sangat nyenyak, hampir tidak bangun sama sekali sepanjang perjalanan.

Di tengah perjalanan pulang, ponsel David berdering.

Begitu dia mengangkat telepon, suara seorang wanita langsung terdengar dari ujung sana.

Terdengar agak panik, dengan suara yang lembut dan lirih, "Pak David, tadi pas sampai rumah saya bongkar-bongkar tas, sepertinya ID card saya ketinggalan di sofa ruang tamu."

David membuka kancing kerah bajunya, gerakannya tetap santai dan tak terburu-buru.

"Kalau hilang, ya sudah bikin baru aja."

"T-tapi saya takut Kak Maudy nanti lihat ...."

"Kalau lihat memangnya kenapa?" Ucapan David terdengar seperti sedang membujuk anak kecil. "Tadi kamu terus-terusan bilang ngantuk, 'kan? Sampai rumah istirahat yang benar. Jangan mikir yang aneh-aneh."

Nada suaranya dipenuhi kesabaran dan kelembutan yang sangat jarang dia tunjukkan.

Maudy sudah lama tidak mendengar nada bicara seperti itu dari pria itu.

Dulu, saat baru menjalin hubungan, David memang sering mengucapkan hal-hal semacam itu. Saat itu, pria ini juga gemar memegang dagunya lalu menciumnya, sembari memberikan bujukan manis yang membuat Maudy sama sekali tidak bisa marah.

Sering kali, ingatan-ingatan sepele dan remeh seperti inilah yang justru membuat Maudy merasa pria di hadapannya kini begitu asing.

Seolah segala sesuatunya terjadi di kehidupan yang lain.

Padahal baru beberapa tahun berlalu, segala perlakuan yang dulu David berikan padanya, kini bisa dengan mudah pria itu curahkan kepada gadis lain.

Panggilan terputus dan suasana di dalam mobil kembali sunyi.

David mengangkat pandangannya, menatap Maudy yang sedang menyetir.

"Barangnya di mana?" Nada suaranya dingin. "Kamu yang buangin?"

Nada bicaranya benar-benar berbeda dengan saat membujuk gadis tadi, tak ada lagi sedikit pun kehangatan.

"Iya, aku yang buangin."

'Bukannya memang itu yang kamu pikirkan?'

Maudy menatap salju di luar jendela yang turun makin deras. Suaranya tenang nyaris tanpa emosi, tetapi terasa dingin. "Kalau di hatimu udah ada jawabannya, ngapain nanya lagi sama aku."

Rasanya seperti memukul gumpalan kapas.

Suasana berubah menjadi sunyi yang ganjil.

"Dia masih gadis muda, Maudy. Kamu nggak perlu pakai pikiran kotor buat ngadepin dia." Suara David terdengar dingin.

Pikiran kotor.

Maudy tidak pernah menyangka, suatu hari nanti dirinya akan dicap sekejam ini oleh suaminya sendiri.

Tujuh tahun menjalin asmara, tiga tahun berumah tangga.

Ternyata, masa jenuh tujuh tahun benar-benar takdir yang tak bisa dielakkan.

Di kursi belakang, napas Althaf terdengar teratur, masih terlelap pulas.

Dia sama sekali tidak tahu pertengkaran macam apa yang baru saja dialami kedua orang tuanya.

….

Sesampainya di vila, Maudy menggendong Althaf dan membaringkannya di ranjang anak.

Setelah si kecil benar-benar tertidur lelap, barulah dia keluar dari kamar dan menutup pintu dengan gerakan hati-hati.

Namun, detik berikutnya, pergelangan tangannya ditarik oleh seseorang.

David berdiri di belakangnya, sedikit menyamping. Pria itu sudah berganti setelan jas hitam yang sudah disetrika rapi tanpa sedikit pun kerutan. Mungkin dia hendak pergi, tetapi ke mana pun tujuannya, dia tak pernah merasa perlu melapor pada Maudy.

Pandangannya jatuh pada memar di pergelangan tangan Maudy. Keningnya agak berkerut, lalu dia menarik tubuh wanita itu lebih dekat.

"Tangan kamu kenapa?"

"Aku udah bilang aku nggak mau."

Keduanya hampir berbicara di saat yang bersamaan.

Suasana terdiam selama tiga detik.

"Kenapa? Kamu kira aku bakal maksa kamu naik ke ranjang?"

Tatapan David dipenuhi ketidakpedulian, begitu gelap dan tak terbaca. "Tenang aja, ketertarikanku sama kamu udah nggak sebesar itu lagi."

Melihat vas bunga saja selama tujuh tahun pasti akan bosan, apalagi manusia.

Kata-kata itu seperti jarum, menusuk pelan tepat ke jantung Maudy.

Agak perih, tetapi yang lebih terasa adalah kesadaran.

Maudy menepis tangannya, lalu mundur selangkah.

Namun, David tidak memberinya jeda untuk menenangkan diri. Dia kembali menancapkan pisau di tempat yang sama. "Aku lagi sibuk banget akhir-akhir ini. Kalau kamu mau sesuatu, bilang aja langsung, nggak usah pakai cara muter-muter begini."

"Asal kamu tetap menjalankan peranmu sebagai Nyonya Hartono, syaratnya terserah kamu."

Bagi David, saat Maudy menyebut kata cerai, itu tak lebih dari taktik untuk menarik perhatiannya. Dan sekarang, dia sudah menunjukkan sikap untuk membujuknya.

Bukan bujukan mesra antar suami istri, melainkan lebih mirip cara mitra bisnis menawarkan perdamaian, layaknya sebuah negosiasi.

Mau uang? Mau mobil?

Atau mau rumah?

Asal Maudy mau minta, semua itu bukan masalah.

Namun, Maudy ingat betul saat awal menjalin hubungan dulu. David hanyalah pemuda miskin yang tak punya apa-apa. Mereka tinggal di kamar sewaan seluas 20 hingga 30 meter persegi. Saat itu, David menyuruhnya meniup lilin dan membuat permohonan, dengan tatapan penuh ketulusan, berjanji dengan nada lirih bahwa suatu hari nanti akan memberikan kehidupan yang lebih baik untuknya.

Kini, pembawaannya yang begitu royal benar-benar sudah jauh berbeda dari dulu.

Sampai-sampai Maudy hampir tak mengenalinya lagi.

"Kenapa di matamu, semua masalah bisa diselesaikan pakai uang?"

Ekspresi Maudy tetap tenang, tetapi suaranya bagaikan pisau bermata lembut. "Jangan anggap semua orang sama kayak kamu yang dalam hidupnya cuma ada pekerjaan dan uang. Kalau memang aku mengejar uang, tujuh tahun lalu aku nggak akan memilih hidup bersamamu. Lagi pula, aku cuma nikah sama kamu, bukan jual diri ke kamu. Aku punya hak buat ngajuin cerai."

"David, aku nggak punya utang apa-apa sama kamu. Kamu nggak punya hak buat menghakimi aku pakai nada kayak gitu."

Maudy mengucapkan setiap kata dengan tegas dan penuh penekanan.

Bertahun-tahun ini, banyak yang bilang Nyonya Hartono adalah wanita yang lembut dan sabar.

Di mana pun dan kapan pun, dia selalu tampil anggun dan lemah lembut.

Seolah-olah tak pernah marah.

Sampai-sampai David pun sempat beranggapan, istrinya ini berwatak lembut dan mudah diatur.

Sampai saat ini, sepertinya David baru sadar bahwa Maudy tidak sedang main-main. Dia berjalan mendekat, terus memangkas jarak di antara mereka hingga berhenti hanya setengah kepalan tangan darinya, lalu menatap wanita itu lekat-lekat.

Setelah terdiam sejenak, David bertanya pelan.

"Kamu serius?"

"Iya." Maudy tak sedikit pun menghindar dari tatapan pria itu, lalu mengangguk. "Aku serius."

"Apa kamu keasyikan hidup enak selama ini, sampai lupa betapa kejamnya Kota Amber ini? Tahu nggak apa artinya kalau kamu cerai sama aku?"

Aura di sekelilingnya mendadak mencekam, suaranya terdengar begitu rendah dan dingin.

"Tanpa status Nyonya Hartono, kamu nggak akan bisa bertahan di Kota Amber. Nggak sampai tiga hari, kamu bakal balik memohon padaku." David berkata dengan nada dingin, lalu mencengkeram dagu Maudy dan memaksanya mendongak.

Tepat pada detik itu, dia melihat dengan jelas tatapan di mata Maudy. Tatapan itu tenang sekaligus teguh. Dia berkedip perlahan, seolah sama sekali tidak tergoyahkan.

"Kalau begitu, coba kita lihat."

Maudy menatapnya dengan tenang, tanpa ada sedikit pun emosi berlebih di matanya. "Lihat saja apa aku bakal balik memohon padamu."

Suasana seketika hening.

Suasananya terasa begitu tegang, seolah hanya butuh satu percikan kecil untuk meledak.

Satu detik.

Dua detik.

David melepaskan cengkeramannya di dagu Maudy, nadanya kembali dingin.

"Maudy, kamu udah bukan anak 18 tahun lagi. Aku saranin kamu untuk sadar dan jangan kekanak-kanakan."

Itu adalah kalimat terakhir yang David lontarkan sebelum beranjak pergi.

Sesampainya di luar vila, dia mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya, lalu menelepon seseorang. Nada bicaranya berbanding terbalik dengan ketidaksabarannya tadi, terdengar lembut dan memanjakan. Dia bertanya pada gadis di seberang sana kenapa belum tidur, apakah lapar, dan ingin makan sesuatu.

Meninggalkan Maudy seorang diri di ruang tamu, dengan tangan dan kaki yang terasa dingin.

Kalimat pria itu masih terngiang di kepalanya.

Satu kalimat yang diucapkan dengan begitu enteng.

Namun, bobotnya terasa begitu berat, menghantam Maudy hingga otaknya seolah kekurangan oksigen dan napasnya terasa sesak.

Benar juga.

Dia memang sudah bukan gadis 18 tahun lagi.

Namun, di sisi David, akan selalu ada gadis-gadis muda yang tak pernah habis.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 50

    Kediaman Hartono.Angin malam bertiup dingin, prakiraan cuaca menyebutkan bahwa salju akan segera turun kembali.Para pelayan pun sibuk bekerja, memindahkan tanaman dan bunga-bunga langka milik Rere dari paviliun ke dalam rumah. Mereka bolak-balik mengangkutnya, langkah kaki terdengar tergesa-gesa, saling bersusulan tanpa henti."Tahun ini saljunya kok nggak berhenti turun ya," gumam Rere.Maya duduk di sampingnya, memegang papan kartu kata untuk mengajari Althaf mengenal huruf. Mendengar ucapan itu, dia pun mengangguk. "Nggak tahu Kak David lagi ngapain sekarang. Gimana kalau aku rebuskan jahe hangat buat diantar ke sana?""Ibu tahu kamu perhatian sama Kak David, tapi dia 'kan beda sama Althaf, nggak bakal kedinginan sampai sakit." Rere tersenyum puas. "Kamu ini, jangan terlalu fokus sama dia terus. Namanya juga perempuan, perbanyaklah bergaul dan cari teman, itu lebih baik buat masa depan kamu."Maya tersenyum sambil mengalihkan pembicaraan, "Aku masih mau nemenin Ibu beberapa tahun

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 49

    Namun, sebenarnya, dia paham semuanya.Setelah membantu sopir memapah pemuda itu duduk di kursi belakang, Maudy baru hendak membuka pintu depan untuk masuk, ketika suara klakson yang nyaring terdengar dari tak jauh. Itu mobil David, lampu utamanya menyala terang, menyilaukan mata."Masuk."Maudy tak berkata apa-apa.Pria itu mengulanginya lagi. "Masuk."David memang dikaruniai wajah yang memancarkan aura berwibawa, dengan struktur tulang yang sangat tegas, tajam dan mengintimidasi. Lampu kuning remang di langit-langit kabin menciptakan bayangan di balik bulu matanya. Tatapannya dingin dan kelam, memancarkan aura mendesak yang tak bisa ditolak."Maudy, jangan lupa siapa dirimu."Kalimat itu lagi.Bagaikan kutukan.Mengingatkannya agar tidak lupa pada identitasnya. Istri CEO Grup Hartono yang mempermalukan suaminya di depan umum demi pria lain, kalau sampai tersebar, hanya akan membuat semua orang kehilangan muka.Namun, Maudy tiba-tiba benar-benar tak ingin memedulikan apa pun lagi."Ak

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 48

    Setelah selesai menikmati anggur merah, beberapa bos lain mengeluarkan arak yang mereka simpan di sini.Setelah beberapa ronde minum, suasana di ruang VIP jadi jauh lebih ramai.Saat Maudy kembali, sang kepala stasiun sudah mabuk berat. Wajahnya memerah khas orang paruh baya yang kebanyakan minum. Dia menarik Maudy dan menyuruhnya melanjutkan giliran bersulang dengan para bos.Yoga khawatir perut Maudy tidak kuat, jadi dia dengan sigap maju untuk menggantikannya minum. Satu cangkir demi satu cangkir ditenggaknya. Tenggorokannya terasa perih, dan perutnya terasa terbakar.Namun, arak beda sama anggur merah. Kadarnya tinggi, baru beberapa cangkir masuk, orangnya langsung tumbang mabuk.Maudy merasa agak khawatir.Yoga memberinya tatapan menenangkan, memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja.Pelayan membuka pintu. David berjalan masuk dengan santai, pandangannya menyapu mereka berdua. Suaranya tetap tenang, tetapi menyimpan tekanan khas seorang atasan yang terbiasa memegang kendali. "Kala

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 47

    Setiap kali bekerja dengan intensitas tinggi dalam waktu lama, sakit lambung Maudy mudah kambuh. Beberapa hari ini dia begitu sibuk hingga tak sempat makan lebih dari beberapa suap. Setelah menelan beberapa gelas anggur dingin tadi, perutnya kini terasa sangat tidak nyaman, sebuah pertanda kram lambung akan segera menyerang.Seluruh tubuhnya terasa tidak nyaman.Maudy bersandar di kursi ruang istirahat, memejamkan mata untuk beristirahat sejenak. Tepat pada saat itu, terdengar suara ketukan pintu."Tok, tok"Maudy tidak berpikir panjang, mengira itu Yoga yang datang membawakan obat pereda nyeri, sehingga dia berkata pelan, "Masuklah, Yoga."Tidak ada suara dari luar pintu.Beberapa detik kemudian, pintu baru terbuka dengan suara 'kriet'."Wah, kayaknya kamu bakal kecewa deh. Aku bukan sutradara muda yang mau kasih perhatian ke kamu." Suara pria yang terdengar tepat di atas kepalanya terdengar sangat berat, berat hingga ke dasar, dan auranya pun terasa begitu mencekam.Maudy sudah terla

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 46

    Maudy mengangguk.Yoga belum ikut masuk. Dia berjalan ke dapur untuk mengecek daftar menu.Para tamu di ruang VIP telah lengkap berkumpul. Mereka mengobrol santai berdua atau bertiga. Di saat seperti ini, sebenarnya tidak banyak yang membicarakan bisnis. Kebanyakan justru membicarakan urusan keluarga untuk mempererat hubungan, seperti, "Keponakan Anda tahun ini umurnya berapa?" atau "Lapangan golf Pak Yanto sudah diperluas lagi nih, kalau ada waktu main bareng yuk!"Beberapa direktur utama yang duduk dekat meja utama secara inisiatif mendekati David untuk mengobrol. Pria itu tidak memberikan tanggapan apa pun, raut wajahnya dingin dan angkuh, sesekali hanya mengangkat gelasnya untuk bersulang sebagai balasan.Meskipun David termasuk yang paling muda di antara orang-orang ini, di lingkaran ini di mana kekuasaan dan kedudukan yang berbicara, wajar jika dia menjadi pusat perhatian dan pujian.Tak ada keuntungan, tak ada yang datang. Orang-orang berkerumun hanya demi kepentingan masing-mas

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 45

    Beberapa kali latihan terakhir menjelang Tahun Baru membuat stasiun TV sibuk luar biasa.Maudy hampir dua minggu tidak pulang ke rumah.Seorang penari dari program tari klasik mengalami cedera, sementara penari pengganti tidak bisa segera datang untuk mengikuti latihan. Akibatnya, seluruh program tersebut terancam diganti. Maudy begitu sibuk hingga nyaris tidak punya waktu untuk mengurus hal lain. Ponselnya seharian hanya tergeletak begitu saja, sampai baterainya nyaris tidak berkurang banyak karena dia sama sekali tidak sempat menyentuhnya.Sejak perpisahan terakhir mereka, pertemuan kembali dengan David kali ini benar-benar menjadi sesuatu yang tidak pernah Maudy duga.Untuk jamuan makan bersama para mitra kerja kali ini, Maudy sudah menolaknya tiga atau empat kali dengan alasan sibuk. Namun, dia tetap tidak mampu menolak undangan sang kepala stasiun yang terus-menerus membujuknya, sehingga mau tidak mau dia harus ikut menghadiri perjamuan tersebut.Berbeda dengan Gala Tahun Baru seb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status