MasukKediaman Hartono.Angin malam bertiup dingin, prakiraan cuaca menyebutkan bahwa salju akan segera turun kembali.Para pelayan pun sibuk bekerja, memindahkan tanaman dan bunga-bunga langka milik Rere dari paviliun ke dalam rumah. Mereka bolak-balik mengangkutnya, langkah kaki terdengar tergesa-gesa, saling bersusulan tanpa henti."Tahun ini saljunya kok nggak berhenti turun ya," gumam Rere.Maya duduk di sampingnya, memegang papan kartu kata untuk mengajari Althaf mengenal huruf. Mendengar ucapan itu, dia pun mengangguk. "Nggak tahu Kak David lagi ngapain sekarang. Gimana kalau aku rebuskan jahe hangat buat diantar ke sana?""Ibu tahu kamu perhatian sama Kak David, tapi dia 'kan beda sama Althaf, nggak bakal kedinginan sampai sakit." Rere tersenyum puas. "Kamu ini, jangan terlalu fokus sama dia terus. Namanya juga perempuan, perbanyaklah bergaul dan cari teman, itu lebih baik buat masa depan kamu."Maya tersenyum sambil mengalihkan pembicaraan, "Aku masih mau nemenin Ibu beberapa tahun
Namun, sebenarnya, dia paham semuanya.Setelah membantu sopir memapah pemuda itu duduk di kursi belakang, Maudy baru hendak membuka pintu depan untuk masuk, ketika suara klakson yang nyaring terdengar dari tak jauh. Itu mobil David, lampu utamanya menyala terang, menyilaukan mata."Masuk."Maudy tak berkata apa-apa.Pria itu mengulanginya lagi. "Masuk."David memang dikaruniai wajah yang memancarkan aura berwibawa, dengan struktur tulang yang sangat tegas, tajam dan mengintimidasi. Lampu kuning remang di langit-langit kabin menciptakan bayangan di balik bulu matanya. Tatapannya dingin dan kelam, memancarkan aura mendesak yang tak bisa ditolak."Maudy, jangan lupa siapa dirimu."Kalimat itu lagi.Bagaikan kutukan.Mengingatkannya agar tidak lupa pada identitasnya. Istri CEO Grup Hartono yang mempermalukan suaminya di depan umum demi pria lain, kalau sampai tersebar, hanya akan membuat semua orang kehilangan muka.Namun, Maudy tiba-tiba benar-benar tak ingin memedulikan apa pun lagi."Ak
Setelah selesai menikmati anggur merah, beberapa bos lain mengeluarkan arak yang mereka simpan di sini.Setelah beberapa ronde minum, suasana di ruang VIP jadi jauh lebih ramai.Saat Maudy kembali, sang kepala stasiun sudah mabuk berat. Wajahnya memerah khas orang paruh baya yang kebanyakan minum. Dia menarik Maudy dan menyuruhnya melanjutkan giliran bersulang dengan para bos.Yoga khawatir perut Maudy tidak kuat, jadi dia dengan sigap maju untuk menggantikannya minum. Satu cangkir demi satu cangkir ditenggaknya. Tenggorokannya terasa perih, dan perutnya terasa terbakar.Namun, arak beda sama anggur merah. Kadarnya tinggi, baru beberapa cangkir masuk, orangnya langsung tumbang mabuk.Maudy merasa agak khawatir.Yoga memberinya tatapan menenangkan, memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja.Pelayan membuka pintu. David berjalan masuk dengan santai, pandangannya menyapu mereka berdua. Suaranya tetap tenang, tetapi menyimpan tekanan khas seorang atasan yang terbiasa memegang kendali. "Kala
Setiap kali bekerja dengan intensitas tinggi dalam waktu lama, sakit lambung Maudy mudah kambuh. Beberapa hari ini dia begitu sibuk hingga tak sempat makan lebih dari beberapa suap. Setelah menelan beberapa gelas anggur dingin tadi, perutnya kini terasa sangat tidak nyaman, sebuah pertanda kram lambung akan segera menyerang.Seluruh tubuhnya terasa tidak nyaman.Maudy bersandar di kursi ruang istirahat, memejamkan mata untuk beristirahat sejenak. Tepat pada saat itu, terdengar suara ketukan pintu."Tok, tok"Maudy tidak berpikir panjang, mengira itu Yoga yang datang membawakan obat pereda nyeri, sehingga dia berkata pelan, "Masuklah, Yoga."Tidak ada suara dari luar pintu.Beberapa detik kemudian, pintu baru terbuka dengan suara 'kriet'."Wah, kayaknya kamu bakal kecewa deh. Aku bukan sutradara muda yang mau kasih perhatian ke kamu." Suara pria yang terdengar tepat di atas kepalanya terdengar sangat berat, berat hingga ke dasar, dan auranya pun terasa begitu mencekam.Maudy sudah terla
Maudy mengangguk.Yoga belum ikut masuk. Dia berjalan ke dapur untuk mengecek daftar menu.Para tamu di ruang VIP telah lengkap berkumpul. Mereka mengobrol santai berdua atau bertiga. Di saat seperti ini, sebenarnya tidak banyak yang membicarakan bisnis. Kebanyakan justru membicarakan urusan keluarga untuk mempererat hubungan, seperti, "Keponakan Anda tahun ini umurnya berapa?" atau "Lapangan golf Pak Yanto sudah diperluas lagi nih, kalau ada waktu main bareng yuk!"Beberapa direktur utama yang duduk dekat meja utama secara inisiatif mendekati David untuk mengobrol. Pria itu tidak memberikan tanggapan apa pun, raut wajahnya dingin dan angkuh, sesekali hanya mengangkat gelasnya untuk bersulang sebagai balasan.Meskipun David termasuk yang paling muda di antara orang-orang ini, di lingkaran ini di mana kekuasaan dan kedudukan yang berbicara, wajar jika dia menjadi pusat perhatian dan pujian.Tak ada keuntungan, tak ada yang datang. Orang-orang berkerumun hanya demi kepentingan masing-mas
Beberapa kali latihan terakhir menjelang Tahun Baru membuat stasiun TV sibuk luar biasa.Maudy hampir dua minggu tidak pulang ke rumah.Seorang penari dari program tari klasik mengalami cedera, sementara penari pengganti tidak bisa segera datang untuk mengikuti latihan. Akibatnya, seluruh program tersebut terancam diganti. Maudy begitu sibuk hingga nyaris tidak punya waktu untuk mengurus hal lain. Ponselnya seharian hanya tergeletak begitu saja, sampai baterainya nyaris tidak berkurang banyak karena dia sama sekali tidak sempat menyentuhnya.Sejak perpisahan terakhir mereka, pertemuan kembali dengan David kali ini benar-benar menjadi sesuatu yang tidak pernah Maudy duga.Untuk jamuan makan bersama para mitra kerja kali ini, Maudy sudah menolaknya tiga atau empat kali dengan alasan sibuk. Namun, dia tetap tidak mampu menolak undangan sang kepala stasiun yang terus-menerus membujuknya, sehingga mau tidak mau dia harus ikut menghadiri perjamuan tersebut.Berbeda dengan Gala Tahun Baru seb







