LOGINPara petugas itu hanya diam, berusaha menerima keadaan seorang pria penuh kekuasaan yang terlihat hancur karena kehilangan yang teramat berat.
Hujan mulai turun perlahan, menetes di bahunya, di rambutnya, lalu menyatu dengan air mata yang jatuh tanpa henti di wajahnya.
Di bawah langit yang muram, Deon tetap tak beranjak, masih menatap makam-makam tanpa nama itu, seolah menunggu seseorang memanggilnya pulang.
"Gali!" perintahnya dengan tegas.
"Tapi, Tuan. Ini sedang hujan dan-"
"Gali!" perintah Deon sekali lagi lalu tanpa aba-aba, dia menggali tanah lembab yang sudah berumput itu dengan tangan kosong.
Beberapa petugas yang berada di sana mulai panik.
"Pergi, ambil peralatan! Kita harus menggali saat ini juga!" teriak salah satu petugas kepala.
Tanah berlumpur bercampur curah hujan, menghitam dan lengket di telapak tangan Deon. Ia tak lagi peduli pada pakaian mahal yang kini berlumur tanah dan air. Sekop bergantian berpindah tang
Jannah menatap keduanya dengan mata yang mulai berkaca, bukan karena takut, tapi karena tekad yang sudah terbentuk bulat.“Aku ingin kalian berdua dengarkan aku baik-baik.”Suara Jannah bergetar, namun tetap kuat.Vincent dan Naila saling berpandangan, menunggu kata-kata yang selanjutnya keluar.“Ini masalahku,” Jannah berkata pelan, “masalah yang dimulai karena aku pernah memberi jalan untuk Afgan masuk ke hidupku. Karena aku pernah percaya padanya. Karena aku pernah… membiarkan dia menganggap aku miliknya.”"Aku tahu dia mencintaiku dan menyayangiku. Terlepas dari masalah dendam yang ia miliki karena keluarga Mahendra."Vincent mengepalkan tangan, rahangnya mengeras.“Jangan berpikir begitu. Afgan gila.”"Dia itu tidak mungkin bisa mencintai perempuan!""Aku sudah menyelidiki masa lalunya dan..."“Dia memang gila,” sela Jannah, “tapi
Vincent mengangguk. “Kita harus hati-hati. Afgan bukan orang sederhana.”Hening beberapa detik.Lalu Jannah mengeluarkan ponselnya.“Aku... aku harus menghubunginya.”Naila langsung mencengkeram lengan Jannah. “Kamu gila!? Kamu baru saja dengar apa yang dia lakukan!”“Kalau aku tidak bicara dengannya,” kata Jannah dengan suara rendah, “aku tidak akan pernah lihat Amara lagi.”Vincent membuka mulut untuk membantah namun sebelum kata-kata keluar, ponsel Jannah berdering.Nama di layar itu membuat mereka bertiga menegang.**Afgan.**Jantung Jannah seakan berhenti.Ia menatap Vincent dan Naila sebentar, keduanya menggeleng keras, memberi isyarat untuk tidak menjawab.Tapi Jannah… mengangkat panggilan itu.---“Jannah,” suara Afgan lembut, seakan ia adalah pria baik-baik yang baru bangun tidur. “Aku m
“Oh ya,” Vincent mendengus. “Naila lagi hamil besar dan dia ngamuk karena aku ninggalin dia. Tapi aku nggak peduli. Kamu dulu kuselamatkan.”"Aku akan mencari Amara nanti."Deon mengangkat tangan lemah, ingin menolak, tapi tubuhnya tidak mematuhi. "Ama...ra"Vincent membuka pintu mobilnya dan dengan hati-hati mendudukkan Deon di kursi penumpang. Pria itu hampir pingsan lagi. Vincent menepuk wajahnya pelan.“Bertahan, bro. Kalau kamu mati di sini, Jannah bunuh aku.”"Kita ke rumah sakit dulu!"Itu cukup membuat Deon tersenyum samar atau mungkin itu hanya refleks. "Aku butuh wanita, tubuhku panas sekali, aku ingin... Jannah.""Bodoh!" umpat Vincent dengan kesal.Vincent menstarter mobil dan melaju kencang menuju rumah sakit terdekat.Di tengah jalan, Deon sempat menggumamkan beberapa nama berulang dengan suara hampir tak terdengar:“A… Amara…&rdqu
“Aku tahu kamu dimanipulasi,” lanjut Vincent, suaranya tegas tapi tidak kasar. “Cahyo yang kasih laporan. Semua telinganya mengarah ke Afgan. Kamu cuma pion kecil di permainan dia.”Vincent mengambil kamera dari samping pelayan yang sudah rusak terbanting lalu melihat isinya."Belum terekam apa pun, tapi aku harus menghancurkan semua ini."Vincent menarik memory card yang ada di dalam kamera lalu mematahkannya dan menginjaknya dengan keras dengan kakinya sehingga memory card itu pecah berkeping-keping."Kau gadis bodoh! Setelah kamu merekam semua, dia juga tidak akan melepaskanmu!"Air mata yang sejak tadi Nila tahan akhirnya jatuh deras.“A-aku tidak ingin melakukan ini…” ia memeluk dirinya, bahunya bergetar. “Aku takut. Mereka bilang kalau aku tidak mengikuti rencana… Amara akan dibunuh…”Vincent menutup matanya sejenak, marah dan pilu bersamaan.Dua hari la
Tubuh Nila bergetar. Seluruh rencana yang ia ikuti selama ini. Semua kepura-puraan dan kebohongan tiba-tiba terasa begitu menjijikkan.Namun ancaman itu nyata dan ia tidak punya pilihan.Dengan tangan menggigil, Nila duduk perlahan di atas tubuh Deon, menatap Deon yang sudah tidak mampu membedakan mana mimpi, mana realita. Pelayan menekan tombol rekam. Lampu kamera kecil menyala merah.Nila menurunkan tali gaunnya yang sebelah lagi secara perlahan sehingga kedua tali itu mulai menampakkan bukit kembar yang menggiurkan tatapan Deon."Kamu cantik sekali, Jannah..." Deon ingin bangkit, namun Nila menahan dada pria itu dengan tangannya. Dia tidak ingin Deon menyentuh dadanya. Bukankah mereka hanya perlu menyatukan bagian bawahnya agar terekam dengan baik?Dirinya merasa jijik karena harus disaksikan oleh beberapa orang sekaligus.Nila bergerak turun perlahan dan mulai membuka retsleting celana pria itu.Saat itulah…Terdenga
Namun ia segera menepis rasa itu. Tugasnya belum selesai.Tersirat wajah Afgan yang mungkin melecehkannya berulang kali sebelum menyerahkan tubuh kotornya kepada para penjaganya. Dia harus berhasil membuat rekaman kalau ingin selamat dari bahaya itu.“Tenang, Pak,” ucapnya lembut. “Amara akan aman… setelah Anda lakukan apa yang diminta.”Deon membuka matanya setengah. “Diminta… apa?”"Kalian mau apa?"Nila hendak menjawab, tetapi Deon tiba-tiba menariknya ke dekat, mencengkeram bahunya. Ia menatap wajah Nila dengan pupil melebar, seperti mencari sosok Jannah di tubuh orang lain.“Jannah… jangan pergi lagi… jangan tinggalkan aku…” desahnya.Nila tercekat. Dengan cepat ia berusaha menguasai keadaan. “Saya bukan Jannah, Pak Deon. Tapi saya bisa membantu Anda.”"Lihat diriku, saya Nila dan kita akan tidur bersama, saya harus mengambil beb







