LOGINSore itu juga, Deon berangkat ke bandara.
Langit Jakarta kembali mendung, seolah ikut meratap. Setiap langkahnya diiringi rasa berat yang sukar dijelaskan, antara harapan dan ketakutan yang saling berperang di dadanya.
Dalam pesawat menuju timur, ia menatap keluar jendela, melihat awan kelabu yang menggulung di kejauhan.
Beberapa jam kemudian, pesawat mendarat di Ambon. Udara laut langsung menyambutnya dengan angin asin yang tajam.
Deon segera bertemu dengan pihak kepolisian setempat dan tim pencari yang dulu menangani kecelakaan itu.
Seorang petugas menunjukkan peta besar di ruang kecil kantor pelabuhan. “Kapal itu karam di sini, Pak,” katanya sambil menunjuk lingkaran merah di laut timur. “Arusnya kuat, tapi ada beberapa pulau kecil di sekitar. Kami masih melakukan pencarian berkala. Masih ada jenazah yang belum ditemukan dan...”
"Jannah... istriku."
“Laporan kalian adalah... dua bulan yang lalu?”
Ia menghela napas seolah sedang bersedih, tetapi matanya berkilat dingin.“Aku sudah menyiapkan semua dengan sempurna. Rumah tangga mereka hancur, kepercayaan mereka rusak, dan aku tinggal mengambil Jannah… tapi Deon, selalu saja Deon…”Afgan memijit batang hidungnya, lalu berbalik perlahan.Tatapannya lurus menembus Nila yang masih meringkuk di bawah meja, menangis tanpa suara dengan bekas kepemilikian yang menyebar di berbagai spot pada kulitnya yang rapuh.“Kau tahu apa kesalahan terbesarmu?”Nila menggigit bibirnya, merasakan air mata menumpuk.“Kesalahanmu adalah… kau memilih untuk menaruh simpati pada mereka.”Afgan mendekat, suaranya menurun menjadi bisikan yang menyeramkan. “Sekarang kau berada di pihakku. Tidak ada pilihan lain.”"Kamu milikku, wanita yang kubeli. Kalau aku menyuruhku melompat dari gedung, maka kamu akan melakukannya. Kalau aku menyur
Nila menggeleng dengan gelengan kecil. Kedua lututnya terasa lemas.Afgan tersenyum kecil, sebuah senyum yang membuat darah Nila membeku.“Apa lagi yang kau dengar, hm? Kau mendengar mereka bicara tentang aku? Tentang Bella? Tentang rencanaku?”"Apakah... Jannah sudah tahu?"Nila menggeleng cepat, namun tubuhnya bergetar. “T-tidak, saya hanya mendengar… mereka bicara tentang… perceraian… tapi mereka… mereka tampak saling… membutuhkan. Tapi Nyonya sepertinya... tidak tahu tentang Tuan dan Bella.”Itu adalah jawaban jujur.Sialnya, jawaban itu justru membuat rahang Afgan mengeras.“Jadi Deon masih menyembunyikan tentangku lalu dia masih tidak bisa melepaskan Jannah…” gumam Afgan sambil berjalan memutar, kedua tangannya berada di belakang punggung. “Dan Jannah… ah, Jannah. Dia perempuan keras kepala yang sangat sulit ditundukkan.”
“Terima kasih,” katanya pelan.Hanya dua kata, tetapi cukup untuk membuat dada Deon menghangat dan hancur bersamaan.Begitu dingin, begitu ketus. Langsung menutup harapan kecil tentang kebersamaan kembali.Beberapa saat kemudian, mereka tiba di rumah Jannah.Begitu mobil berhenti di depan rumah, Jannah turun tergesa-gesa dan membuka pintu dengan cepat.Berlari kecil menuju ke kamar tidur.Deon mengikutinya dari belakang. Betapa terkejutnya mereka saat kamar itu kosong."Alfie...," pekik Jannah dengan panik menatap tempat tidur yang berantakan dan hanya ada selimut serta bantal."Deon... Alfie tak ada." Kedua mata Jannah langsung basah dan suaranya bergetar.Alfie tiba-tiba muncul dari luar pintu kamar, rambut acaknya menandakan ia baru saja bangun dari tidur singkat. Sebelah tangannya memegang gelas berisi air minum.“Mama?”"ALFIE!"Jannah langsung memeluknya erat, menenggelamkan wajahnya ke rambut anak lelaki itu. Bacaan doa yang tidak terucap mengalir dari hatinya.“Ada apa?” tanya
Namun ada sesuatu… Sesuatu yang membuat bulu kuduk Jannah berdiri.“Kau dengar itu?” bisiknya.Deon mengangguk. “Nila seharusnya di kamar Amara.”Keduanya saling bertukar pandang. "Amara?" Jannah mulai panik.Lalu suara langkah kecil bukan langkah dewasa, berjalan menjauh di lorong villa.Deon cepat-cepat membuka pintu dan melihat ke dalam kamar, sementara Jannah menyusul di belakang. Kamar Amara kosong. Hanya lampu malam yang berkelip lembut."Nila?"Deon bergegas menuju ke pintu belakang villa dan terkejut melihat pintu belakang itu dalam kondisi terbuka.“Nila!” seru Jannah, tapi pintu belakang terbanting sebelum mereka sempat mendekat.Jannah memeluk dirinya sendiri, firasat buruk itu kini menghantam penuh.“Deon…” suaranya memudar, “…jangan bilang…”Deon memicingkan mata ke arah jalan yang menghubungkan villa ke jalan besar."NILA!" terianya mulai panik.Tiba-tiba terdengar suara decitan ban mobil lalu pintu mobil yang dibanting keras.Semua terjadi begitu cepat.Dengan langkah c
Hening kembali turun di antara mereka. Jannah berdiri di dekat jendela, memandang lampu-lampu Berlin dari kaca jendela villa. Cahaya itu memantul di kaca, membuat bayangannya tampak rapuh.“Sudah terlambat, Deon,” katanya akhirnya. “Kita selesai pagi tadi.”Deon bangkit mendekat ke belakang tubuh Jannah yang berkata 'tegar' tapi terasa begitu rapuh. “Kita tidak selesai kalau aku belum menyerah.”Jannah tertawa pahit. “Kamu selalu begitu… tidak pernah mau melepaskan, padahal kamu yang membuatku melepaskan.”Jannah berbalik dan tidak sadar, betapa Deon sangat dekat dengannya, sampai hembusan napasnya terasa oleh perempuan itu."Deon." Jannah menahan napas.Jannah ingin menghindar karena merasa laki-laki itu sudah terlalu dekat dengannya, tapi Deon segera menahan lengannya.Tatapan Deon sendu dan entah mengapa, berhasil membuat hati kecil Jannah berdesir halus.“Ki
“Nila,” Jannah menatapnya serius, “aku dan Deon sudah membuat keputusan yang matang. Tidak ada hubungannya dengan tugasmu.”"Kalau kamu masih mau menjadi pengasuh Amara, kamu boleh tetap mengerjakan pekerjaanmu, namun batasi perasaan pribadi," lanjutnya dengan nada dingin.Nila menatap Jannah. Ada sesuatu di matanya, campuran cemburu atau iri, dan sekaligus merasa sedih.“Bukannya… bukannya kalian masih saling mencintai?” tanya Nila polos.Pertanyaan itu menusuk jauh lebih dalam daripada yang Jannah kira. Deon menegang seperti patung.Jannah menoleh ke arah Deon sesaat, lalu menjawab pendek,“Cinta tidak cukup, Nila.”Nila menggeleng keras, panik. “Tidak! Tidak mungkin! Tadi Tuan Deon bilang masih ingin memperbaiki masa depan… artinya Tuan masih cinta, kan?”Deon tercekat.Nila mengambil langkah maju. “Lalu Ibu Jannah bilang lelah… tap







