MasukTak lama, Kakek Robert muncul, langkahnya mantap dengan ketukan tongkatnya yang teratur di lantai marmer nan mewah di rumah itu, meski usianya sudah lanjut. Sorot matanya tajam, memindai keadaan sekitar sebelum akhirnya berhenti pada Bella.
“Selamat siang, Kakek Robert,” sapa Bella sopan, menundukkan kepala. “Kenapa repot-repot ke sini? Seharusnya saya yang menjenguk…”
Kakek Robert tidak menjawab langsung. Tatapannya justru jatuh pada Alfie yang tertidur, lalu kembali pada Bella.
“Aku datang karena aku mendengar banyak hal,” ucapnya akhirnya, suara berat dan berwibawa. “Aku ingin memastikan dengan mata kepalaku sendiri.”
Bella pura-pura bingung, memainkan perannya dengan hati-hati. Ia menghela napas panjang, lalu menunduk, membiarkan suaranya terdengar bergetar.
"B-baik, saya akan pergi dari kehidupan Deon, Kek," ucap Bella, merasa lemah dan tidak berdaya.
"Eh, apa katamu?"
Deon memberikan bathrobe dan membantu Jannah memakainya, lalu menuntunya ke arah meja makan."Kemarilah, aku memasak untukmu.""Kamu yang masak?""Ehem... ya, khusus untuk istriku yang sudah kelelahan. Kamu butuh banyak protein."Wajah Jannah kembali memerah.Di meja makan kecil dalam kamar itu, Jannah makan perlahan. Beberapa suap pertama berjalan normal, sampai tiba-tiba bahunya menegang. Ia berhenti, menunduk sedikit, menahan napas.Rintihan kecil lolos dari bibirnya, nyaris tak terdengar namun Deon menangkapnya.“Jan?”Nada suaranya langsung berubah. Cemas.Ia mencoba memperbaiki posisi duduknya sedikit miring."S-sakit?"Jannah mencoba tersenyum, tapi gagal. “Sedikit… tidak nyaman.”Tanpa bertanya lebih jauh, Deon langsung berdiri. Ia tahu tubuh Jannah masih dalam masa pemulihan. Nyeri akibat perbuatan Deon semalam itu tidak mungkin hilang hanya dalam semalam.
Jannah mengangguk dengan desah napas kelelahan. "Kita masih bisa melakukannya besok, aku butuh tidur."Deon menggeser tubuhnya lalu berbaring di sisi Jannah."Baiklah, tidurlah, Sayang."Deon menarik selimut lalu menyelimuti tubuh basah dan kelelahan itu sambil tersenyum puas karena melihat bekas-bekas kepemilikkan yang berhasil ia cetak di berbagai spot.Deon mengecup kening Jannah. "Tidurlah. Aku akan memanggilmu bangun nanti.""Hmmm."Jannah benar-benar tertidur.Mereka tidak saling memeluk erat, tidak lagi saling menuntut apa pun. Hanya dua tubuh yang kelelehan karena akhirnya menemukan kehangatan yang sama, berbagi ruang, gairah dan hasrat yang sama.Pagi berlalu dalam keheningan yang menenangkan. Walau matahari menyusup pelan melalui tirai jendela, menyinari dua insan yang polos itu, mereka tidak bangun.Mereka tidur dalam kelelahan, namun rasa puas dan kebahagian yang tidak tertuliskan."Aku i
Ia membawanya ke ranjang. Membaringkannya perlahan seolah takut tubuh Jannah remuk saat menyentuh ranjang kering itu.Dengan penuh kesabaran, Deon menyeka tubuh Jannah menggunakan handuk hangat, seolah takut satu gerakan kasar saja bisa membangunkannya dari kedamaian singkat itu.Tangannya yang memegang handuk, perlahan menyusuri lekuk tubuh istrinya yang sangat ia impikan.Ia sungguh ingin melumat habis tubuh dengan kulit mulus sempurna itu, namun ia mencoba menahan diri. Hanya menyeka dengan penuh kelembutan.Setelah itu, ia membaringkannya di atas seprai bersih, menarik selimut menutupi tubuhnya hingga sebatas dada."Kamu membuatku ingin memakanmu saat ini juga. Sungguh jahat dirimu, Jannah," bisiknya.Deon duduk di sisi ranjang, menatap wajah itu lama.“Aku sungguh merindukanmu…” bisiknya lirih, hampir tak terdengar.“Tapi aku akan menunggu… sampai aku diizinkan untuk meminta hakku sebagai su
"Kamu akan terikat padaku sampai kematian menyambut salah satu di antara kita. Oh tidak, bahkan nyawamu pun adalah milikku dan tempat kamu dikuburkan adalah satu peti bersamaku."Suara tawa mengelegar dalam ruangan mewah itu.Bella melangkah menuju kamar mandi, melepas pakaiannya dengan gerakan lambat dan terukur, seolah setiap helai yang jatuh ke lantai adalah bagian dari masa lalu yang ingin ia tinggalkan.Gaun tipisnya meluncur lebih dulu, disusul pakaian dalam berwarna gading dari kain sutera lembur yang dibiarkan tergeletak tanpa ia pedulikan.Segitiga dalaman dibukanya perlahan dan dibiarkannya di lantai begitu saja saat ia masuk ke dalam kamar mandi nan mewah itu.Ia berdiri di bawah pancuran, memutar kenop shower, lalu membiarkan air dingin mengalir deras membasahi tubuhnya.Bella memejamkan mata.Air dingin menelusuri bahunya, punggungnya, lalu turun menyusuri lekuk tubuhnya yang masih terjaga dengan sempurna.Dinginny
Bella menutup map tersebut dan tersenyum lagi, senyum yang sama dinginnya dengan pantulan kaca tadi.Ayahnya yang berkuasa di Irlandia mewariskan semua harta kekayaannya kepada Bella, satu-satunya anak perempuan yang ia miliki.Ayahnya meninggal seminggu yang lalu dan Bella sudah mendapatkan modal utamanya untuk membalas dendam.Indonesia.Tempat di mana semuanya runtuh bagi Afgan.Dan mungkin… tempat di mana ia akan menyusun ulang papan permainan.Di luar, hujan mulai turun, membasahi kota asing yang selama ini menjadi tempat persembunyiannya.Bella berdiri, mengambil mantel panjangnya, lalu berjalan menuju pintu.Tangisan bayi terdengar lagi dari kejauhan, samar, namun nyata.Bella berhenti sejenak.Ia tidak menoleh.Tidak kali ini.Karena ada sesuatu yang lebih mendesak daripada rasa bersalah dan Bella selalu memilih apa yang ia inginkan, bahkan jika dunia harus membayar harganya."B
Kaca gedung tinggi itu memantulkan wajah Bella dengan sempurna, rapi, dingin, dan nyaris tanpa emosi. Langit Irlandia kelabu, awan-awan juga menggantung rendah, seolah dunia pun tahu bahwa di balik ketenangan ini ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai.Bella menyilangkan tangan di dada.Senyumnya muncul perlahan. Bukan senyum bahagia. Lebih mirip lengkungan tipis yang lahir dari rasa meremehkan.“Jadi Afgan gagal?” gumamnya lirih.Ia menghela napas kecil, lalu tertawa pelan, tawa tanpa suara yang bahkan tidak menggetarkan dadanya.“Bodoh,” lanjutnya, masih menatap pantulan dirinya sendiri.“Sama seperti sejak pertama kali aku mengenalnya.”Di benaknya, potongan-potongan berita itu kembali berputar: Afgan tertangkap. Cacat. Vonis seumur hidup. Seluruh rencana berantakan, jatuh satu per satu seperti kartu domino yang disusun terlalu tinggi oleh tangan ceroboh.Perempuan itu tertawa l







