Share

Bab 79

Author: Runayanti
last update Last Updated: 2025-08-25 10:08:13

Ucapan itu membuat Deon terdiam seketika. Sorot matanya sempat goyah, tapi ia mencoba mempertahankan ekspresi dinginnya.

“Semua yang kamu miliki sekarang,” lanjut Kakek Robert perlahan, menekankan setiap katanya, “rumahmu, perusahaan ini, saham, fasilitas, bahkan pengaruhmu di kalangan pebisnis… semuanya masih atas nama keluargaku. Tanpa aku, kamu bukan siapa-siapa.”

Deon mengepalkan tangannya makin keras. “Aku tidak peduli soal harta. Aku bisa hidup tanpa itu semua.”

“Benarkah?” Kakek Robert mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap cucunya lekat-lekat. “Lalu… dengan apa kamu akan mengobati Jannah?”

Mata Deon membesar, napasnya tercekat. "Pikirkan baik-baik, Deon. Atau kamu akan mempercepat kematian istrimu yang tidak berguna itu!"

Kakek Robert berdiri perlahan, langkahnya mantap lalu dinaikkan tongkatnya mendekati sampai ujung tongkat itu menekan pundak sebelah kiri milik Deo

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pak Deon, Istrimu Menolak Kembali   Bab 363

    Jannah mengangguk dengan desah napas kelelahan. "Kita masih bisa melakukannya besok, aku butuh tidur."Deon menggeser tubuhnya lalu berbaring di sisi Jannah."Baiklah, tidurlah, Sayang."Deon menarik selimut lalu menyelimuti tubuh basah dan kelelahan itu sambil tersenyum puas karena melihat bekas-bekas kepemilikkan yang berhasil ia cetak di berbagai spot.Deon mengecup kening Jannah. "Tidurlah. Aku akan memanggilmu bangun nanti.""Hmmm."Jannah benar-benar tertidur.Mereka tidak saling memeluk erat, tidak lagi saling menuntut apa pun. Hanya dua tubuh yang kelelehan karena akhirnya menemukan kehangatan yang sama, berbagi ruang, gairah dan hasrat yang sama.Pagi berlalu dalam keheningan yang menenangkan. Walau matahari menyusup pelan melalui tirai jendela, menyinari dua insan yang polos itu, mereka tidak bangun.Mereka tidur dalam kelelahan, namun rasa puas dan kebahagian yang tidak tertuliskan."Aku i

  • Pak Deon, Istrimu Menolak Kembali   Bab 362

    Ia membawanya ke ranjang. Membaringkannya perlahan seolah takut tubuh Jannah remuk saat menyentuh ranjang kering itu.Dengan penuh kesabaran, Deon menyeka tubuh Jannah menggunakan handuk hangat, seolah takut satu gerakan kasar saja bisa membangunkannya dari kedamaian singkat itu.Tangannya yang memegang handuk, perlahan menyusuri lekuk tubuh istrinya yang sangat ia impikan.Ia sungguh ingin melumat habis tubuh dengan kulit mulus sempurna itu, namun ia mencoba menahan diri. Hanya menyeka dengan penuh kelembutan.Setelah itu, ia membaringkannya di atas seprai bersih, menarik selimut menutupi tubuhnya hingga sebatas dada."Kamu membuatku ingin memakanmu saat ini juga. Sungguh jahat dirimu, Jannah," bisiknya.Deon duduk di sisi ranjang, menatap wajah itu lama.“Aku sungguh merindukanmu…” bisiknya lirih, hampir tak terdengar.“Tapi aku akan menunggu… sampai aku diizinkan untuk meminta hakku sebagai su

  • Pak Deon, Istrimu Menolak Kembali   Bab 361

    "Kamu akan terikat padaku sampai kematian menyambut salah satu di antara kita. Oh tidak, bahkan nyawamu pun adalah milikku dan tempat kamu dikuburkan adalah satu peti bersamaku."Suara tawa mengelegar dalam ruangan mewah itu.Bella melangkah menuju kamar mandi, melepas pakaiannya dengan gerakan lambat dan terukur, seolah setiap helai yang jatuh ke lantai adalah bagian dari masa lalu yang ingin ia tinggalkan.Gaun tipisnya meluncur lebih dulu, disusul pakaian dalam berwarna gading dari kain sutera lembur yang dibiarkan tergeletak tanpa ia pedulikan.Segitiga dalaman dibukanya perlahan dan dibiarkannya di lantai begitu saja saat ia masuk ke dalam kamar mandi nan mewah itu.Ia berdiri di bawah pancuran, memutar kenop shower, lalu membiarkan air dingin mengalir deras membasahi tubuhnya.Bella memejamkan mata.Air dingin menelusuri bahunya, punggungnya, lalu turun menyusuri lekuk tubuhnya yang masih terjaga dengan sempurna.Dinginny

  • Pak Deon, Istrimu Menolak Kembali   Bab 360

    Bella menutup map tersebut dan tersenyum lagi, senyum yang sama dinginnya dengan pantulan kaca tadi.Ayahnya yang berkuasa di Irlandia mewariskan semua harta kekayaannya kepada Bella, satu-satunya anak perempuan yang ia miliki.Ayahnya meninggal seminggu yang lalu dan Bella sudah mendapatkan modal utamanya untuk membalas dendam.Indonesia.Tempat di mana semuanya runtuh bagi Afgan.Dan mungkin… tempat di mana ia akan menyusun ulang papan permainan.Di luar, hujan mulai turun, membasahi kota asing yang selama ini menjadi tempat persembunyiannya.Bella berdiri, mengambil mantel panjangnya, lalu berjalan menuju pintu.Tangisan bayi terdengar lagi dari kejauhan, samar, namun nyata.Bella berhenti sejenak.Ia tidak menoleh.Tidak kali ini.Karena ada sesuatu yang lebih mendesak daripada rasa bersalah dan Bella selalu memilih apa yang ia inginkan, bahkan jika dunia harus membayar harganya."B

  • Pak Deon, Istrimu Menolak Kembali   Bab 359

    Kaca gedung tinggi itu memantulkan wajah Bella dengan sempurna, rapi, dingin, dan nyaris tanpa emosi. Langit Irlandia kelabu, awan-awan juga menggantung rendah, seolah dunia pun tahu bahwa di balik ketenangan ini ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai.Bella menyilangkan tangan di dada.Senyumnya muncul perlahan. Bukan senyum bahagia. Lebih mirip lengkungan tipis yang lahir dari rasa meremehkan.“Jadi Afgan gagal?” gumamnya lirih.Ia menghela napas kecil, lalu tertawa pelan, tawa tanpa suara yang bahkan tidak menggetarkan dadanya.“Bodoh,” lanjutnya, masih menatap pantulan dirinya sendiri.“Sama seperti sejak pertama kali aku mengenalnya.”Di benaknya, potongan-potongan berita itu kembali berputar: Afgan tertangkap. Cacat. Vonis seumur hidup. Seluruh rencana berantakan, jatuh satu per satu seperti kartu domino yang disusun terlalu tinggi oleh tangan ceroboh.Perempuan itu tertawa l

  • Pak Deon, Istrimu Menolak Kembali   Bab 358

    Bukan ciuman penuh tuntutan.Bukan juga ciuman yang ingin mengikat.Hanya sentuhan singkat, pengakuan diam-diam bahwa cinta itu belum sepenuhnya mati.Dan Jannah tidak menolak.Matanya terpejam. Napasnya bergetar. Ada bagian dari dirinya yang masih mengenal kehangatan itu, yang masih mencintai pria yang berdiri di hadapannya, pria yang menjadi ayah dari Alfie dan Amara, pria yang pernah menjadi seluruh dunianya sebelum segalanya runtuh.Namun ketika Deon sedikit menjauh, Jannah membuka mata.Tatapannya basah, namun jernih.“Dirimu mungkin menutup celah untukku, tapi tubuhmu sangat jujur. Aku tahu kamu mencintaiku, Jannah. Maukah kamu memberiku kesempatan lagi?” tanya Deon pelan.Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada memaksa. Tidak juga dengan putus asa. Hanya harapan yang jujur, harapan seorang pria yang akhirnya berani mengakui bahwa ia takut kehilangan.Di luar dugaan Deon, Jannah menggeleng.Bukan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status