Masuk"Itu jauh lebih bagus, Ben. Saat nanti lo udah minta Sekar buat balik ke lo, lo udah benar-benar siap dari segala sisi, termasuk buat melindungi dia dari nyokap dan kakek lo atau bahkan mungkin dari Rachel dan keluarganya. Karena kalau gue lihat Si Rachel nggak cuma cinta sama lo, tapi udah masuk ke obsesi."Jagat mengernyitkan dahinya, bingung dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Devan. "Maksud lo gimana, Van?"Devan menegakkan duduknya dan menatap lurus tepat ke mata Jagat. "Sebenarnya sejak kita ke Labuan Bajo dan ketemu Rachel di sana, lihat cara dia mencoba dekat ke lo terus posting foto kita di media sosialnya. Dia kan harusnya tahu Lo udah sama Sekar, tapi kelakuannya waktu itu seperti kalian masih menjalin hubungan tanpa status beberapa tahun lalu.Lebih anehnya lagi, waktu itu gue dengar bokapnya Rachel beli saham AYT Tech dan beberapa hari setelahnya nyokap lo mengumumkan pertunangan lo sama Rachel. Kalau tebakan gue benar, Rachel mau lo balik sama dia d
"Hari ini terasa cepat banget ya? Aku ngerasa seperti baru tadi pagi sarapan, ini sudah jam lima saja."Sekar hanya tersenyum menanggapi ucapan Prily. Baginya hari ini terasa begitu panjang, setiap detik terasa seperti siksaan untuknya apalagi setelah tadi meninggalkan Jagat di roof top."Kamu nggak bawa mobil ya hari ini? Soalnya tadi pagi aku lihat kamu jalan kaki dari arah gerbang.""Iya, Pril. Lagi malas bawa, untung ada adikku yang menginap di apartemen."Prily hanya membulatkan bibirnya lalu tersenyum. Hari ini gadis itu tak banyak berbicara padanya selain karena urusan pekerjaan. Tak seperti biasanya yang sering kali mengajaknya mengobrol. Sekar menyadari itu. Mungkin karena sedari pagi ia juga lebih banyak diam.Keluar dari gedung apartemen, Sekar lalu melangkah ke arah halte di mana Arjuna sudah menunggunya. Ia baru saja melihat pesan dari adiknya yang mengatakan sudah berada di dekat halte perusahaan."Sebelum ke rumah Eyang, kita ke apartemen lo la
Sekar terus berjalan sampai ia berhasil melewati pintu penghubung roof top. Setelah menutupnya, ia berdiri cukup lama di balik pintu sambil terisak. Air matanya tak mau berhenti saat tatapan terluka yang Jagat tunjukkan terus berlarian dalam pikirannya."Maafkan aku." Ucapnya pelan seraya mengusap kedua pipinya.Ia merasa menjadi pihak yang jahat dalam hubungannya dengan Jagat. Ia telah menyakiti pria itu demi perpisahan yang saat ini ia anggap baik. Keputusan ini memang menyakitkan karena terjadi saat ia dan Jagat sama-sama sudah menyatakan perasaan, tapi ia tak punya pilihan lain karena Bu Dian telah mengancam Mamanya."Lo mau tahu gue tahu dari siapa? Dari Mama. Bu Dian menghubungi Mama, menyuruhnya untuk meminta lo jauhi anaknya. Awalnya cuma itu, tapi tadi siang Mama bilang lagi kalau Bu Dian mengancam dia. Kalau lo nggak segera memutuskan hubungan dengan Jagat, dia mengancam Mama akan membuat hidup lo dan keluarga kita jadi sengsara. Gue seharusnya nggak bilang ini sama lo, tapi
"Lo bilang apa tadi? Kasih surat pengunduran diri?""Iya, tadi gue udah kasih surat pengunduran diri ke kepala divisi gue."Sekar kembali menyeruput es teh yang ada di gelasnya seraya memandangi Sisil yang kini termenung. Ada apa dengan temannya itu?"Lo kenapa, Sil?" Tanya Sekar heran."Gue cuma nggak nyangka lo beneran resign."Sekar mengernyitkan dahinya. Bukankah waktu Sisil berpendapat akan lebih baik dia resign daripada terus bekerja di sini dan bertemu dengan Jagat."Nanti gue makan siang sama siapa di kantin?" Lanjut Sisil seraya menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.Sekar jadi ikut merasa sedih. Selama kerja di AYT Tech mereka memang selalu makan siang bersama di kantin jika Sisil sedang tidak ada pekerjaan lapangan. "Nanti lo bisa makan siang di luar kalau gitu. Lo kan sering tuh kesel sama gue yang malas gerak karena lebih sering milih makan di kantin daripada di luar."Sisil tertawa pelan. Wanita itu menganggukkan kepala mendengar ucapannya. "Iya juga sih. Nanti gue ma
"Saya tidak menerima perjodohan dengan Rachel, Om. Sampai kapanpun saya tidak akan menikahi anak Om."Jagat tak ingin berbasa-basi dengan Pak Januar yang kini tengah duduk di depannya. Saat ini ia dan pria setengah baya itu ada di ruangannya. Pintu sudah ia kunci agar tidak ada siapapun yang masuk untuk mengganggu pembicaraan mereka.Dan kini bisa ia dapati wajah Pak Januar yang tampak tak terkejut sama sekali dengan ucapannya. Sepertinya pria itu sudah bisa menebaknya karena memang ia sudah sempat menolak tentang perjodohan ini."Sebenarnya apa kekurangan Rachel sampai kamu tidak bisa menerimanya, Jagat? Putri saya terlihat begitu mencintai kamu. Saya kira dulu kalian mempunyai hubungan spesial."Jagat masih memandang Pak Januar dengan raut wajah tenang. Apa ia perlu menceritakan tentang Rachel yang pernah mempermainkannya dulu?"Saya memang pernah mencintai Rachel, Om. Tapi itu dulu dan hubungan kami tidak pernah ada kejelasan karena saat itu Rachel belum ingin memiliki komitmen. Su
"Akhirnya selesai juga." Ucap Sekar seraya memandang laptop yang menampilkan surat pengunduran dirinya.Besok ia akan berangkat pagi sekali untuk mencetak surat itu dan memberikannya pada kepala divisi untuk diteruskan kepada pihak HRD. Biasanya menunggu kurang lebih lima belas hari kerja atau paling lama satu bulan sampai akhirnya ia bisa keluar dan benar-benar berhenti bekerja. Hal itu dilakukan agar perusahaan memiliki waktu untuk mencari penggantinya.Sekar sudah memikirkan baik-baik keputusan yang ia ambil ini. Meski tidak mudah karena ia harus meninggalkan tempat kerja pertamanya sejak lulus kuliah dan meninggalkan rekan-rekan kerja yang begitu baik, tapi ia juga tidak bisa lagi untuk terus berada di satu lingkungan dengan Jagat, belum lagi kabar perjodohan pria itu dengan Rachel yang kini sudah diketahui seluruh karyawan di AYT Tech. Dan kenyataan bahwa perusahaan itu juga milik Bu Dian yang jelas-jelas tidak menyukainya, membuatnya mantap untuk berhenti bekerja di sana. Saat
Sekar mematikan televisinya setelah hampir tiga jam ia menonton pertandingan bulu tangkis. Ia memang begitu suka dengan acara olahraga, sampai hari ini pun ia belum makan malam hanya karena tidak ingin ketinggalan match para perwakilan Indonesia.Perut yang terasa keroncongan memaksa tubuhnya yang
Sekar terkejut, Jagat terkejut, Mamanya juga terkejut. Semua orang yang ada di apartemennya terkejut. Mereka semua memiliki keterkejutan yang berbeda, tapi dalam kebingungan yang sama. Sama-sama bingung ke satu sama lain. Jantung Sekar berdebar kencang karena pasti setelah ini Sang Mama akan mencer
"Maksud lo?"Sekar tentu terkejut dengan ucapan Dhika. Maksudnya bilang melamarnya itu apa? Selama ini mereka hanya sebatas rekan kerja dan akrab karena masuk ke perusahaan di angkatan yang sama. Sebenarnya tidak hanya Dhika yang satu angkatan dengannya, ada Sisil dan beberapa rekan dari masing-mas
"Kaki lo kenapa, kok jalannya gitu?"Suara Sisil membuat Sekar yang sedang berjalan menuju lift menengok ke arah temannya. Wanita itu terlihat mengernyitkan dahi memandanginya. Seaneh itukah cara jalannya? Tapi mungkin iya, karena ia pun masih merasakan ada yang mengganjal di pangkal pahanya."Ngga







