MasukJohan menatap dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah gelap dan penuh ancaman. "Jalan!"Sopir menginjak gas dalam-dalam. Mobil pun melesat seperti anak panah yang lepas dari busurnya.Saryna yang masih mencengkeram jendela mobil tak mau melepaskan genggamannya, tapi gaya inersia menyeretnya sejauh 2 meter, dan akhirnya dia terbanting keras ke aspal."Saryna!"Shelly memaku pandangannya pada kaca spion belakang.Rendy dan Diana berlari menghampiri, membantu Saryna berdiri. Meski kulit di lengannya sudah sobek dan berdarah, Saryna tetap memaksakan diri bangkit dan hendak mengejar."Nggak usah dikejar. Nggak bakal terkejar."Diana menatap luka di lengan Saryna. Wajahnya pucat pasi ketakutan. "Kita cari cara lain untuk selamatkan dia, ya? Tapi, obati lukamu dulu!"Mobil membelok di ujung jalan. Bayangan ketiga orang itu perlahan lenyap dari kaca spion.Hati Shelly serasa diremas hingga mengerut. Dia menggigit rahangnya rapat-rapat, memaksa dirinya tetap tenang, sama sekali tidak boleh men
"Nona, tolong jaga Nyonya sebentar!"Melihat Shelly menyusul, pelayan langsung menghentikan langkahnya dan menghadang jalan. "Itu ibu kandung Anda. Kalau sampai terjadi apa-apa … ah!"Shelly tak bisa melewatinya. Tanpa pikir panjang, dia mengangkat tangan dan menampar keras pipi pelayan itu."Awas!"Pelayan itu sempoyongan, menutup wajah dengan kedua tangan sambil mundur terhuyung.Shelly tak memberinya kesempatan untuk bereaksi. Dia langsung berbalik hendak berlari kembali ke parkiran. Pada saat itulah, dia melihat Maxwell datang sambil menggendong Nana.Sang sopir, dengan satu mata tertutup dan satu kaki yang pincang, mengejar dari belakang.Di sisi lain, Saryna berlari besar-besar menghampiri Maxwell, meraih Nana dari pelukannya."Nana, sayang, ibu sudah di sini. Ini semua salah ibu. Ibu sudah bikin kamu ketakutan begini!"Nana langsung menghambur ke pelukan ibunya. Semua rasa takut dan kesedihan yang tertahan seketika meledak. Dia menangis sampai seluruh wajahnya memerah.Sopir itu
Shelly melirik sekilas, lalu mengirimkan nomor plat mobil Johan kepada Maxwell lewat pesan singkat.Maxwell langsung paham maksudnya. Tanpa suara, tanpa tanda-tanda mencurigakan, dia menyelinap keluar dari kerumunan dan pergi.Johan punya rencana cadangan. Hasil pemungutan suara hari ini sangat mungkin berbalik arah dan Keluarga Gunawan bisa jatuh ke tangan Shelly. Tapi bahkan kalau itu terjadi pun, Johan tidak akan semudah itu menepati janjinya, tidak akan semudah itu mengembalikan Nana.Nana adalah kartu trufnya untuk mengendalikan Shelly.Shelly tak punya selera untuk mendengarkan basa-basi orang-orang di sekelilingnya. Dalam hatinya berdoa keras-keras, semoga Maxwell berhasil menyelamatkan Nana.Pemungutan suara dimulai. Semua orang menuliskan nama pilihan mereka di selembar kertas kecil, melipatnya, lalu memasukkannya ke dalam sebuah kotak. Pada akhirnya, kepala Keluarga Gunawan yang menjabat saat ini, yaitu Gavin, yang akan membacakan hasilnya.Ruang leluhur yang luas itu hening
Pemilihan ahli waris Keluarga Gunawan dilangsungkan di dalam aula leluhur Keluarga Gunawan.Keluarga Gunawan bermukim di pegunungan Tonha, Kota Sentara. Puluhan rumah memenuhi seluruh lembah itu dan semuanya milik keluarga besar mereka.Pagi-pagi sekali, deretan mobil mewah berdatangan dari segala penjuru, memadati lereng bukit. Tempat yang biasanya sunyi senyap itu mendadak riuh dan penuh geliat.Atas desakan Shelly, Nana ikut bersamanya.Si kecil duduk di pangkuan Shelly. Lehernya menjulur panjang memandang ke luar jendela. "Ibu, Ibu Angkat cari Ibu.""Nana, sayang. Sebentar lagi setelah ibu angkat menyelesaikan urusan di sini, kita langsung cari ibumu, ya."Shelly mengelus kepala si kecil itu. Suaranya datar dan tenang.Mereka duduk di minibus tujuh kursi. Johan duduk bersebelahan dengan Shelly, kaki menyilang santai, mata terpejam seperti orang tidur siang."Nanti dia nggak boleh turun dari mobil."Begitu mendengar suara Johan, Nana langsung menyusup lebih dalam ke pelukan Shelly.
"Semalam dia rewel hampir sepanjang malam, tadi pagi-pagi sekali juga sudah bangun dan hampir nggak makan apa-apa. Ini baru saja tertidur sebentar, kemungkinan masih bakal tidur agak lama," bisik Agnes seraya merendahkan suaranya.Shelly melangkah mendekat, merapikan selimut Nana, lalu menepuk-nepuk lembut punggung bocah itu."Nana, anak pintar, Ibu Angkat ada di sini. Jangan menangis."Isakan lirih Nana perlahan reda. Kerutan di kening kecilnya pun ikut mengendur.Agnes masih berdiri di sana. Setelah terdiam sejenak, dia berucap, "Pemungutan suara besok sangat penting. Kemampuanmu jauh melampaui Saryna, peluangmu untuk membalikkan keadaan sangat besar. Ayahmu juga sudah menghubungi beberapa pihak secara diam-diam. Asal kamu bisa merebut kembali hak waris Keluarga Gunawan, dia akan melepaskan Nana. Aku rasa pihak Diana juga akan merelakan hak waris itu.""Aku paham. Kamu keluar saja." Shelly sama sekali tidak menatapnya.Agnes sempat mematung sejenak sebelum akhirnya melangkah keluar d
"Lalu Bu Shelly? Dan Jery?"Maxwell baru tersadar, Johan membawa Nana pergi semata-mata untuk menekan Shelly."Dia sudah kembali ke rumah keluarga Gunawan," jawab Jeffry singkat. "Jery ikut aku.""Aku … aku langsung temui Rendy sekarang. Pastikan dia nggak bikin masalah lagi!"Maxwell menutup telepon dan langsung bergegas mencari Rendy.…Sementara itu, di dalam mobil yang melaju pulang, Rendy duduk di belakang kemudi dengan Diana di kursi penumpang. Kabin mobil membisu seperti kubur, Rendy menatap lurus ke depan, Diana membuang pandang ke jendela, tidak satu kata pun terucap sepanjang jalan.Sesampainya di depan rumah, Maxwell sudah berdiri menunggu di pintu. Rendy menyuruh Diana masuk duluan.Setelah Diana menghilang ke dalam, Rendy melangkah mendekat dengan kepala tertunduk."Pasti Pak Jeffry yang suruh kamu ke sini."Maxwell mengangguk pelan. "Pak Rendy, di momen sepenting ini kita nggak boleh sampai tersandung."Kemenangan sudah di depan mata. Johan sudah kehilangan harapan untuk
Shelly adalah anak paling berprestasi di panti asuhan. Karena nilai akademisnya sangat baik, dia diterima di universitas top dalam negeri dengan beasiswa penuh.Di sanalah dia bertemu Jeffry.Di antara begitu banyak pria dari kalangan elit, Jeffry begitu menonjol, langsung menarik pandangannya.Awal
Tengah malam, Shelly Malvis mengunggah sebuah foto bayi yang baru lahir, lengkap dengan keterangan: [Naik pangkat jadi Ibu! Putra sulungku!]Belum satu jam, pintu rumahnya sudah diketuk oleh mantan suami yang telah bercerai dengannya selama setengah tahun.Begitu pintu dibuka, wajah muram Jeffry lan
Setiap kali bertemu di acara seperti ini, Harrison selalu mencari masalah dengan Jeffry.Namun karena dia bukan saingan Jeffry, dia pun memilih cara lain, yaitu mempersulit orang-orang di sekitar Jeffry.Salah satunya … Shelly.Shelly berbalik dan mengganti arah, berniat keluar lewat pintu belakang.
Di dalam aula.Ke mana pun Jeffry pergi, selalu ada orang-orang yang mengerumuninya.Dia sedang berbincang dengan beberapa senior di dunia bisnis, sementara orang lain terus datang silih berganti untuk menyapanya.“Kak Jeffry.”Elora berjalan mendekat, lalu dengan manis menggandeng lengannya.Lengan







