Share

Bab 142

Author: Ratih Larasati
“A … aku tentu yakin!”

Di hati Joycelin, fakta bahwa Shelly mengandung anak Harrison sudah mengakar kuat.

Melihat nada penuh keraguan dari Nenek Mina, Joycelin langsung membalas dengan nada sewajarnya,

“Kalau bukan milik Harrison, memangnya milik Kak Jeffry?”

Semakin dipikirkan, Nenek Mina semakin merasa ada yang tidak beres.

“Selama dua tahun pernikahan dengan Kak Jeffry, Shelly nggak hamil. Mana mungkin Kak Jeffry bisa tiba-tiba menghamilinya, apalagi setelah bercerai?”

Joycelin jelas tidak pe
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 144

    “Jaga di luar. Jangan biarkan siapa pun masuk!”Amarah Melly begitu besar. Namun kali ini, amarah itu tidak diarahkan pada Shelly.Setelah melempar dua kalimat itu, dia langsung masuk ke kantor Jeffry.Brak!Pintu kantor ditutup keras sampai seluruh lantai gedung terasa ikut bergetar.Shelly menatap pintu yang tertutup rapat itu dengan heran.Bukan hanya karena Melly ternyata tidak melampiaskan amarah padanya, tetapi juga karena dia ternyata bisa semarah itu kepada Jeffry.Apa yang telah dilakukan Jeffry?Meski hanya terpisah satu pintu, suasana di luar begitu sunyi sampai suara jarum jatuh pun mungkin bisa terdengar.Sedangkan di dalam, keributan memecah ruangan.Lebih tepatnya, Melly yang mengoceh sendirian tanpa henti.“Kamu berani mengancam Elora? Bagaimana aku harus memberi penjelasan pada Keluarga Laurent!”Jeffry duduk tenang di balik meja kerja, membiarkan Melly meluapkan emosinya.“Jeffry, manusia itu harus punya hati nurani! Elora gadis sebaik itu. Nggak apa-apa kamu nggak me

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 143

    Nenek Mina terus membujuk tanpa henti.Pada akhirnya, topik ini ditutup dengan jawaban singkat dari Jeffry. “Aku akan mempertimbangkannya lagi.”Setelah Nenek Mina keluar dari kantor Jeffry, rapat Shelly sudah selesai dan dia sudah kembali ke mejanya.“Nenek?”Begitu melihat Nenek Mina keluar dari kantor Jeffry, Shelly segera meletakkan dokumen dan berdiri menghampiri.“Lyly ….” Nenek Mina tersenyum hangat penuh kasih. “Capek?”“Nggak.” Shelly menggeleng. “Nenek datang ke perusahaan karena ada urusan?”Sejak melihat Shelly, wajah Nenek Mina langsung penuh senyum sampai sulit menutup mulut.“Nenek cuma jalan-jalan ke sini. Bosan di rumah, jadi datang lihat kamu. Ngomong-ngomong, soal yang nenek bilang kemarin … apakah kamu sudah memikirkannya?”Baru setelah diungkit, Shelly teringat soal pengangkatan keluarga angkat itu.Soal itu terlalu berlebihan dan datang terlalu tiba-tiba. Jadi, dia pun sempat berpikir Nenek Mina hanya sedang iseng sesaat.Kalau semangatnya sudah lewat, masalah itu

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 142

    “A … aku tentu yakin!”Di hati Joycelin, fakta bahwa Shelly mengandung anak Harrison sudah mengakar kuat.Melihat nada penuh keraguan dari Nenek Mina, Joycelin langsung membalas dengan nada sewajarnya,“Kalau bukan milik Harrison, memangnya milik Kak Jeffry?”Semakin dipikirkan, Nenek Mina semakin merasa ada yang tidak beres.“Selama dua tahun pernikahan dengan Kak Jeffry, Shelly nggak hamil. Mana mungkin Kak Jeffry bisa tiba-tiba menghamilinya, apalagi setelah bercerai?”Joycelin jelas tidak percaya.Dia tahu selama dua tahun pernikahan itu, mereka selalu menggunakan alat kontrasepsi.Nenek Mina pun pernah mendesak soal anak beberapa kali, tetapi Jeffry selalu berkata tidak terburu-buru.Artinya jelas. Dia memang tidak pernah berniat punya anak dengan Shelly.Setelah bercerai baru mau punya anak? Apa otaknya kemasukan air?Setelah dipikir lagi, Nenek Mina pun menghela napas. “Kalau begitu, aku akan cari tahu sikap Keluarga Wijaya dulu.”Hubungan Keluarga Anderson dan Keluarga Wijaya s

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 141

    Orang-orang di divisi sekretaris mulai berdatangan satu per satu. Hampir semuanya melirik ke arah Shelly.Begitu melihatnya, Wulan langsung meletakkan tas dan berlari menghampirinya.“Lyly, untuk apa kamu di sini?”“Menunggu Pak Jeffry masuk kerja.” Setelah menjawab, Shelly sempat ragu sejenak sebelum bertanya, “Soal voting nanti, divisi sekretaris ….”Namun sebelum dia selesai bicara, pintu lift terbuka.Jeffry yang mengenakan setelan abu-abu muda melangkah keluar dari lift.Sosoknya yang tinggi dan ramping berjalan mendekat dengan langkah tenang.Tatapan matanya dalam dan tajam menekan.Dalam sekejap, Shelly langsung mengurungkan niat untuk mencari tahu kabar.Wulan yang membelakanginya belum sadar Jeffry datang.Melihat Shelly berhenti bicara di tengah jalan, dia refleks bertanya, “Voting apa ….”Belum selesai bicara, dia mendengar langkah kaki.Barulah dia sadar siapa yang datang.Dia langsung menutup mulut dan mundur ke samping.“Pak Jeffry.”“Pak Jeffry.”Keduanya menyapa bersama

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 140

    “Kalau saja masih ada sedikit harapan dari pihak Harrison, aku nggak mungkin mempertimbangkan persoalan kembali ke Grup Dominion.”Kalimat itu terus berputar di kepala Jeffry seperti gema yang mengganggu.Setiap kali terulang, wajah Jeffry menjadi semakin dingin.Mata tajamnya menatap Shelly yang sama sekali tidak menyadari keberadaannya.Di sisi lain, Saryna juga setuju dengan ucapan Shelly.Setelah mengeluh panjang lebar, dia kembali mengingatkan Shelly agar berhati-hati kalau kembali bekerja di Grup Dominion.Shelly hanya mendengarkan dengan hati yang rumit.Tak lama kemudian, terdengar suara tangisan anak dari ujung lain telepon.Barulah Shelly membuka suara lagi. “Sudahlah, kamu urus anakmu dulu.”Telepon ditutup.Shelly memasukkan ponselnya kembali ke saku, lalu berbalik hendak pergi.Namun tiba-tiba, punggungnya terasa dingin.Tatapannya tanpa sadar mengarah ke satu sisi.Detik berikutnya, dia langsung bertemu dengan pandangan mata Jeffry yang tajam dan membakar.Tenggorokan She

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 139

    Setelah berbincang singkat, Shelly meninggalkan kamar rawat.Karena lift penuh sesak, dia memilih turun lewat tangga sampai ke lantai satu.Namun baru berjalan sampai tengah lobi, dia langsung melihat Jeffry mendorong kursi roda Elora keluar dari lift.Kaki Elora masih dibalut gips. Dia mengenakan gaun putih dengan selimut merah muda menutupi kakinya.Pria di belakang memakai setelan hitam pekat. Seluruh tubuhnya memancarkan aura dingin yang membuat orang enggan mendekat.Para pengawal membuka jalan di tengah lobi yang penuh sesak.Sialnya, Shelly berdiri tepat di ujung jalur itu.Begitu sadar, dia buru-buru ingin pergi.Sayangnya, waktu sudah terlambat.“Shelly.”Elora lebih dulu memanggilnya dengan suara lembut.Langkah Shelly berhenti.Dia menoleh, lalu menyapa dengan sopan, “Pak Jeffry. Nona Elora.”“Kak Jeffry, ayo kita ke sana.” Elora menarik pelan tangan Jeffry.Jeffry hanya menjawab singkat, “Hm.” Lalu mendorong kursi roda mendekati Shelly.Elora mendongak dan menatap Shelly. “

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status