Skandal Panas Sang CEO dengan Cinta Pertama

Skandal Panas Sang CEO dengan Cinta Pertama

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-07-20
Oleh:  Tessa kamilaBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
2 Peringkat. 2 Ulasan-ulasan
43Bab
220Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

HOT NEWS : Maverick Knox Leonard—CEO perusahaan Leonard International—telah resmi bercerai! Rumor beredar: Ia tidak pernah menyentuh istrinya selama enam bulan pernikahan. ✨ Publik baru saja digemparkan oleh berita perceraian dari pewaris utama keluarga Leonard. Tapi, yang tidak diketahui oleh siapa pun adalah... Skandal terpanasnya bukanlah perceraian. Melainkan, kembalinya cinta pertama sang miliarder yang telah menghilang selama bertahun-tahun. Dan ketika satu foto Maverick memeluk sang mantan di depan sebuah hotel bocor ke publik, seluruh New York mendadak histeris. Siapa wanita misterius itu? Kenapa Maverick Leonard rela membakar seluruh internet hanya demi untuk menyembunyikan identitasnya? ✨ Kini, seluruh dunia bersiap untuk menyaksikan satu hal: ❤️‍🔥SKANDAL TERPANAS SANG BILLIONAIRE NEW YORK BARU SAJA DIMULAI.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1 [Perceraian sang Mantan]

Prolog

Baccarat Hotel, Manhattan, New York, USA.

Pukul 08.25.

Kedua mata Miranda mengerjap pelan. Dalam keadaan setengah sadar, indra penciumannya tiba-tiba menangkap aroma sisa champagne mahal, berpadu dengan wangi parfum mewah yang terasa begitu familiar, tapi bukan aroma miliknya.

Miranda menarik napas pendek. Ia mengamati tubuhnya sendiri. Setelan gaun koktail yang ia kenakan semalam masih melekat sempurna.

"Oh... untung saja." Ia bergumam lega. "Aku tidak melakukan apa pun tadi malam."

Tetapi, tubuhnya terasa sangat sulit digerakkan. Miranda melirik ke bawah, dan... melihat sebuah lengan hangat, kokoh, memeluk pinggangnya erat hingga membuat ruang geraknya terasa terbatas.

Ia terdiam sesaat, mencoba menyusun kepingan memori semalam. Bar hotel, suasana riuh, masuk ke dalam kamar, dan—ya, ia berakhir tertidur di sini, bersama seseorang.

Dengan gerakan lambat serta hati-hati, Miranda menyentuh lengan besar itu, menggeser menjauh dari pinggangnya. Tidak kasar, tidak pula lembut. Hanya menggeser saja, memisahkan diri.

Ia menoleh ke kanan.

Di sana, pada bantal di sebelahnya, terbaring wajah seorang pria yang sangat ia kenali, bahkan ia hafal betul setiap lekuknya. Pria itu masih mengenakan setelan hitam mahal, rambut sedikit acak, napas terdengar tenang, serta garis rahang tegas. Sesosok pria yang segera menyeretnya paksa kembali ke masa lalu.

Miranda menatap wajah itu lama-terlalu lama.

Hingga... dengan suara nyaris berbisik, ia menyebut namanya. "Maverick Knox Leonard."

Prolog End

***

FLASHBACK—DUA HARI SEBELUMNYA.

John F. Kennedy International Airport, New York, USA.

Suara roda koper saling bersahutan di lantai granit mengiringi langkah Miranda Foster yang baru kembali dari Afrika setelah dua tahun penuh pengabdian menjadi volunteer di sana. Rambutnya sedikit kusut setelah berjam-jam di udara, tapi langkahnya tetap ringan dan cepat.

Di belakang, tiga pelayan dari mansion keluarga Foster—yang mengenakan pakaian kasual agar tidak menarik perhatian—berjalan sambil menyeret koper-koper besar. Mereka sengaja menjaga jarak sopan, karena semua pelayan tahu, Miranda tidak pernah suka menjadi pusat perhatian.

Ia hanya ingin keluar dari terminal dan bertemu dengan kekasihnya, Oliver Dunn. Pria yang ia kencani saat mereka masih sama-sama menjadi volunteer. Tetapi lima belas bulan lalu, mereka terpaksa menjalin hubungan jarak jauh karena Oliver memutuskan untuk kembali ke New York.

Saat ia melintas di area penjemputan, ada sebuah televisi besar yang menempel pada dinding tengah menayangkan berita hiburan pagi.

"HOLLYWOOD SHOCK—Berkas putusan perceraian artis Christina Spencer dengan CEO Leonard International, Maverick Knox Leonard, bocor ke media."

Miranda spontan berhenti melangkah, kepalanya sedikit mendongak, menatap layar besar tersebut.

Di sana, wajah Christina Spencer terpampang glamor dalam balutan gaun merah. Berganti dengan foto Maverick Leonard, memakai setelan gelap, bahu tegap, pandangan datar yang sudah pasti terlalu familiar bagi Miranda.

Penyiar wanita melanjutkan:

"Pasangan itu ternyata sudah resmi bercerai satu minggu lalu. Gugatan diajukan oleh pihak Christina Spencer. Sumber internal terdekat mengatakan bahwa keduanya tidak pernah tinggal dalam satu kamar sejak awal pernikahan mereka. Hingga kini, pihak Leonard belum memberikan pernyataan resmi."

Miranda mengerjap pelan. Jantungnya berdetak tidak karuan, bukan karena rindu, bukan karena marah, tapi... karena masa lalu yang tiba-tiba menampar wajahnya tanpa permisi dan tanpa sopan-santun.

Sementara di layar sana, tayangan masih terus berlanjut. Lalu, tajuk besar melintas di bawah foto Maverick.

"MAVERICK LEONARD—BILLIONAIRE MUDA RESMI MENJADI DUDA."

Miranda masih terpaku pada layar besar itu. Berita infotainment terus berulang. Wajah Christina Spencer pun juga tetap ditampilkan berdampingan dengan Maverick Knox Leonard. Di bawah, headline tebal berkedip-kedip:

"Berkas Putusan Perceraian Christina Spencer & CEO Leonard International Bocor ke Media."

Suara dari sang penyiar hilang-timbul tertutup riuh bandara, tetapi cukup jelas bagi Miranda untuk mengetahui bahwa dunia sedang membicarakan perceraian paling panas minggu ini.

Namun tiba-tiba, sebuah suara memanggil pelan dari kanan.

"MIRA!"

Miranda tersentak kecil, ia menoleh cepat.

Tiga pelayan keluarga Foster yang berdiri rapi di belakangnya pun ikut mengarah ke sumber suara.

Oliver Dunn. Kekasihnya itu terlihat duduk di sebuah kursi sedikit jauh dari mereka.

Miranda mendesah kecil, ia mendekati salah satu pelayannya dan berkata dengan suara lirih, "Bawa semua kopernya ke mobil, antar ke apartemen. Jangan sampai kekasihku tahu kalian menjemputku di sini."

Pelayan itu mengangguk singkat, kemudian segera menoleh ke dua rekannya, mengajak mereka berjalan pergi dari sana menuju pintu keluar.

Begitu para pelayan sudah menjauh, Miranda menarik napas kecil. Ia merapikan rambutnya sebentar, dan memaksakan senyum paling natural yang ia punya.

Seperti pesan dari sang Papa, Raymond Foster, Miranda dilarang menunjukkan siapa dirinya, dan siapa keluarganya pada orang lain. Papa berkata, 'tidak semua manusia di dunia ini adalah orang baik'. Dan Miranda memilih menurut. Lagi pula, bukankah ini untuk kebaikannya sendiri? Ia juga tidak ingin diperdaya atau ditipu oleh laki-laki penggila harta di luar sana.

Wanita itu segera berjalan cepat, mendekat ke tempat Oliver berada.

"Sudah lama menungguku?" tanya Miranda begitu ia sudah tiba di samping sang kekasih.

Oliver mengangguk pelan. "Lumayan. Kau tadi lama sekali berdiri di sana."

Pria itu menoleh sekilas ke layar televisi. "Kau menonton berita perceraian CEO dari perusahaan tempatku bekerja?"

Miranda menggeleng sambil duduk di sebelahnya. "Tidak terlalu. Aku hanya merasa heran karena belakangan ini banyak selebritas yang bercerai."

Oliver tersenyum tipis. "Ayo sarapan dulu. Kita makan di restoran bandara saja. Aku harus cepat kembali ke kantor." Ia menyelipkan ponselnya ke dalam saku kemeja. "Dan... aku ingin mengatakan sesuatu padamu."

***

Di restoran bandara...

Deru koper, pengumuman boarding, serta langkah kaki terburu-buru bergema dari balik dinding kaca restoran. Miranda duduk berhadapan dengan Oliver Dunn, di meja kecil ujung dekat jendela yang sudah dipenuhi menu sarapan.

Ada Avocado toast with poached egg, bacon tipis, serta latte panas untuk Miranda. Sementara Oliver memilih egg and cheese sandwich, dan black coffee, sesuai dengan gayanya yang selalu ingin terlihat efisien.

Tapi, baru saja Miranda menghabiskan setengah Avocado toast-nya, tiba-tiba Oliver memanggil pelan, "Mira."

Wanita itu mengangguk sambil tetap mengunyah. "Ya?"

Oliver menarik napas sejenak. Berusaha mengumpulkan keberanian, lalu berkata pelan, "sepertinya... kita harus mengakhiri hubungan ini."

Gerakan Miranda langsung berhenti. Telur yang ia kunyah meluncur bulat-bulat ke tenggorokan ketika ia memaksa menelan.

"Maksudmu?"

Oliver merapikan kerah kemejanya, kebiasaan yang selalu pria itu lakukan saat sedang gugup. "Kau tahu, bulan lalu aku sudah naik jabatan. Aku diangkat menjadi Manajer Strategi di Perusahaan Leonard International."

Suara Oliver naik setengah oktaf, merasa begitu bangga dengan pencapaian karir kilatnya tersebut. "Dan... semakin kupikirkan, kurasa hubungan kita ini tidak baik untuk masa depanku, Mira. Aku membutuhkan istri dengan finansial stabil. Seseorang yang... setara denganku. Maafkan aku. Sungguh, aku tidak bermaksud jahat, hanya saja... aku tidak bisa menikahi wanita yang tidak memiliki pekerjaan sepertimu. Apalagi kau suka sekali makan."

Miranda terdiam. Tidak sedih sama sekali. Ia hanya bingung. Lalu, dengan suara paling tenang yang pernah ia keluarkan dalam hubungan ini, Miranda bertanya, "Jadi... kau memutuskanku karena merasa aku tidak setara denganmu secara finansial dan aku suka sekali makan? Begitu?"

Oliver mengangguk cepat, ia berpikir bahwa Miranda baru saja memahami rumus hidupnya. "Maafkan aku. Aku hanya berusaha realistis. Hidup di New York ini sangat keras. Harga rumah selalu naik setiap tahun. Bahan makanan juga terus naik tidak mau turun. Aku...."

Pria itu menelan ludah, kemudian mengusap-usap leher belakangnya, mencoba mereda kegugupan yang kembali membuncah. "Aku juga sedang berusaha mendekati salah satu manajer dari divisi pemasaran di perusahaan. Aku butuh wanita yang bisa menopangku secara finansial, Mira. Kuharap kau mengerti."

Miranda memejamkan mata sebentar.

Ahh... Sial.

Ia menyembunyikan statusnya mati-matian selama ini agar tidak diperdaya oleh laki-laki pemburu harta. Tapi sekarang justru dicampakan karena dianggap pengangguran?

Ironi macam apa ini?

Oliver melanjutkan dengan polos, seusai menyeruput kopi. "Jika sudah selesai makan, aku akan mengantarmu pulang. Tapi... sebenarnya kau ini tinggal di mana? Kau tidak pernah mau mengatakannya padaku sejak kita menjadi volunteer dulu."

Miranda berhenti menatap. Ia sudah mencapai batas kesabarannya.

Dengan gerakan cepat, wanita itu mengibaskan tangan ke udara. Sudah muak dengan laki-laki pengecut ini. "Pergi saja. Tidak perlu menungguku. Sana! Enyah dari wajahku!"

Oliver sedikit tersentak. "Mi-Mira? Ka-kau marah? Sungguh, a-aku hanya berusaha menjelaskan—"

Miranda membanting garpu ke piring. Suara "brak" sampai terdengar nyaring, membuat beberapa orang di sekitar menoleh serempak. Menatap mereka berdua.

"ENYAH KAU DARI SINI, KEPARAT! ENYAH SAJA DARI HADAPANKU!"

Beberapa pengunjung restoran ikut berjingkat, sama seperti Oliver Dunn. Bahkan, seorang pria yang sedang menikmati pancake berlumuran sirup maple sampai tersedak hebat.

Oliver langsung berdiri kikuk, wajahnya memerah bercampur pucat.

Akhirnya, pria itu mundur dua langkah... lalu pergi begitu saja. Meninggalkan keka—bukan—mantan kekasihnya di sana.

Miranda mengambil napas dalam, meraih latte-nya, dan meneguk minuman tersebut hingga tandas.

"Apa katanya tadi? Pengangguran? Kurang ajar sekali bedebah itu."

To be Continued...

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ulasan-ulasan

Tessa kamila
Tessa kamila
welcome to my new story!
2026-07-03 11:32:12
1
0
Tessa kamila
Tessa kamila
Silakan baca buku pertama dari author. kiss kiss ...
2026-07-02 12:41:57
2
0
43 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status