MasukKalau memang sesuai penjelasan Johan, semua itu memang masih bisa dijelaskan.Namun, Shelly tetap tidak bisa menerima sikap dan perilaku Agnes."Suruh Harrison selidiki Keluarga Gunawan."Jeffry melirik ke luar jendela. Sinar matahari yang menembus masuk jatuh di wajahnya, membuat garis rahangnya tampak semakin tegas.Shelly terdiam. Entah kenapa, nada bicara Jeffry terdengar seperti seseorang yang sedang mengambek."Kenapa? Sebagai mantan atasan, aku bahkan masih peduli dengan keadaanmu. Masa atasanmu yang sekarang nggak peduli pada bawahannya?"Melihat Shelly tetap diam, nada suara Jeffry terdengar sedikit menyindir.Shelly merasa tidak nyaman mendengarnya. "Tentu saja bukan begitu. Aku hanya nggak mau merepotkannya.""Pengertian sekali. Dulu cukup banyak masalah yang kamu buat untukku."Jeffry menggenggam kemudi sedikit lebih erat. "Aku mengajarimu sedikit demi sedikit sejak pertama kali kamu masuk dunia kerja, dari orang yang nggak mengerti apa-apa sampai menjadi seorang profesiona
"Kebanyakan gadis bereaksi sama sepertimu. Mereka juga menolak dengan tegas. Tapi, ada sebagian kecil yang memanfaatkan kesempatan untuk menipu uangnya, lalu menghilang begitu saja. Dulu saya memperingatkanmu seperti itu karena dua alasan. Pertama, saya khawatir keadaannya yang tidak normal itu akan merusak hubungan kerja sama kita. Kedua, saya takut kamu akan mengambil uangnya dan menghilang. Jadi, saya mohon kamu bisa mengerti.””Saya mohon kamu bisa memahami hati seorang ibu. Ibu mana pun pasti tidak akan sanggup menerima kenyataan kehilangan anak. Jadi, bisakah kamu tidak menolak kebaikannya?"Anak yang kehilangan ibu tidak akan pernah sama dengan anak yang tumbuh dalam keluarga yang utuh.Begitu pula seorang ibu yang kehilangan anak juga tidak akan pernah sama dengan ibu-ibu lainnya.Hati Shelly sulit untuk tidak tersentuh. Namun, apa yang menyentuhnya hanyalah kisah itu.Soal sikap Agnes, dia tetap merasakan penolakan yang sulit dijelaskan."Pak Johan, kalau memang seperti yang A
Tangisan Nana terdengar dari dalam mobil menembus jendela. Seberapa pun Kak Ratih membujuknya, dia tetap tidak mau berhenti menangis.Saryna akhirnya tidak punya pilihan selain kembali ke dalam mobil. Begitu Saryna pergi, Shelly segera memanggil taksi dan langsung menuju kediaman Keluarga Gunawan.Agnes sepertinya sudah menduga Shelly akan datang. Begitu dia tiba di depan rumah dan menekan bel pintu, pelayan yang membukakan pintu langsung bertanya, "Nona Shelly, ya?""Ya." Shelly mengangguk. "Apakah Bu Agnes ada di rumah?""Nyonya sedang berada di ruang minum teh. Saya antar Anda ke sana."Pelayan membuka pintu, lalu mengambilkan sepasang sandal untuknya.Shelly mengganti sepatunya, membawa tas, melewati koridor ruang tamu hingga tiba di ruang minum teh di ujung lorong.Agnes duduk dengan anggun di depan meja teh. Panci teh di atas tungku kecil masih mendidih pelan, mengeluarkan aroma harum yang memenuhi ruangan."Shelly, kenapa kamu kemari?"Begitu melihat Shelly, Agnes segera berdiri
Sampai sekarang pun Saryna masih belum bisa memahaminya. "Kamu yakin ... dia benar-benar memesankan satu kamar untukmu secara gratis?"Shelly mengangguk. "Yakin."Saryna memutar bola matanya sampai bagian putih matanya hampir terlihat seluruhnya."Aku pernah lihat orang baik, tapi belum pernah lihat orang yang kebaikannya meluap sampai begini. Apa uang mereka memang kebanyakan sampai nggak tahu mau dipakai buat apa?"Ada pepatah yang mengatakan ... semakin kaya seseorang, biasanya semakin perhitungan dan semakin mementingkan diri sendiri.Karena kalau orang kaya terlalu dermawan ... akan selalu ada orang yang datang meminta bantuan tanpa henti.Maka, banyak orang kaya justru hidup dengan sangat berhati-hati, takut satu orang memanfaatkan mereka, lalu disusul orang berikutnya.Setahu Shelly, reputasi Keluarga Gunawan di kalangan elite Kota Sentara sebenarnya tidak terlalu baik.Mereka juga bukan keluarga yang sengaja membangun citra sebagai dermawan.Itu sudah cukup membuktikan bahwa an
"Sepertinya memang ada pasien bernama itu."Herman tetap tenang tanpa menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun. "Apa Anda mengenalnya?"Agnes mengangguk."Apa Dokter masih ingat dia mengandung bayi laki-laki atau perempuan?"Shanen langsung menoleh ke arah Agnes. "Bu, maksud Ibu apa?""Diam." Tatapan Agnes mengandung peringatan saat mengarah kepadanya, lalu dia kembali menatap Herman.Herman terdiam beberapa saat sebelum menggeleng pelan."Pasien yang saya tangani terlalu banyak. Saya hanya ingat memang ada pasien bernama Shelly, tapi saya sudah lupa detail kondisinya."Agnes menurunkan suaranya. "Kapan jadwal kontrol berikutnya?""Seharusnya sudah dekat. Memasuki trimester akhir, pemeriksaannya memang lebih sering.""Kalau begitu, nanti tolong periksa untuk saya ... apakah yang dikandungnya bayi laki-laki."Agnes kembali mengeluarkan cek itu. Dia menyelipkannya ke dalam tas Herman."Begitu tahu hasilnya, segera beri kabar.""Bu Agnes." Wajah Herman berubah serius. "Saya juga punya ba
Tubuh Shanen menegang. Raut wajahnya jelas memperlihatkan kegelisahan."Bu Agnes, ini melanggar aturan." Herman langsung menolak tanpa ragu. "Saya harus mematuhi etika profesi."Agnes membuka tasnya, lalu mengeluarkan selembar cek dan mendorongnya ke hadapan Herman."Apakah ini cukup?"Sembilan angka nol.Benar-benar murah hati.Tatapan Herman berhenti sejenak pada cek itu, lalu beralih kepada Agnes."Kehamilan Nyonya Shanen sudah lebih dari tujuh bulan, bukan? Keluarga Gunawan sangat menginginkan anak laki-laki?"Agnes mengangguk tanpa berusaha menyembunyikan tujuannya."Bayinya ada dua. Setidaknya salah satunya pasti laki-laki, kan?""Kalau begitu, kenapa nggak memeriksanya lebih awal? Kandungannya sudah sebesar ini. Kalau ternyata bukan laki-laki, apa yang akan Anda lakukan?" Herman balik bertanya.Shanen langsung menjawab tanpa ragu, "Pasti ada salah satunya yang laki-laki!"Kesombongan yang biasanya terlihat di wajahnya kini menghilang.Yang tersisa hanyalah kegelisahan dan kecema
“Karena kamu yang pandai mengungkapkan perasaan, urusan itu biar kamu saja yang mengurusnya.”Melihat dirinya tidak berhasil membujuk Melly, Nenek Mina pun berbalik sambil memanggil Kakek Yanto.“Ayo, kita naik dan tidur.”Kakek Yanto merapikan satu per satu bidak gomoku di papan, lalu bangkit mengi
“Baiklah.” Suara Harrison kembali santai. “Kali ini, aku benar-benar percaya padamu.”Shelly tertegun. “Maksudmu?”Harrison terkekeh ringan. “Maksudku, aku nggak akan membayarkan 4 miliar untuk penalti kontrakmu, tapi ….”Klik.Shelly langsung menutup telepon dan melempar ponselnya ke samping.Di wa
Awalnya, Shelly masih mempertimbangkan apakah dia perlu meminta bantuan Harrison. Namun sekarang, dia tidak perlu berharap lagi, jalan itu telah tertutup.Pagi itu, Shelly tampak diliputi banyak pikiran. Wajahnya terlihat pucat dan tidak bersemangat.“Kak Shelly.”Tania memanfaatkan kesempatan saat
“Pak, apakah Anda keluarga pasien?”Setelah suara bising mereda, suara perawat kecil terdengar jelas dari seberang telepon.“Pasien pingsan saat sedang infus di rumah sakit. Bisa datang sebentar?”Keluarga pasien?Jeffry langsung memposisikan Shelly sebagai “pasien”, tapi dia sendiri tidak bisa meng







