FAZER LOGIN"Sepertinya memang ada pasien bernama itu."Herman tetap tenang tanpa menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun. "Apa Anda mengenalnya?"Agnes mengangguk."Apa Dokter masih ingat dia mengandung bayi laki-laki atau perempuan?"Shanen langsung menoleh ke arah Agnes. "Bu, maksud Ibu apa?""Diam." Tatapan Agnes mengandung peringatan saat mengarah kepadanya, lalu dia kembali menatap Herman.Herman terdiam beberapa saat sebelum menggeleng pelan."Pasien yang saya tangani terlalu banyak. Saya hanya ingat memang ada pasien bernama Shelly, tapi saya sudah lupa detail kondisinya."Agnes menurunkan suaranya. "Kapan jadwal kontrol berikutnya?""Seharusnya sudah dekat. Memasuki trimester akhir, pemeriksaannya memang lebih sering.""Kalau begitu, nanti tolong periksa untuk saya ... apakah yang dikandungnya bayi laki-laki."Agnes kembali mengeluarkan cek itu. Dia menyelipkannya ke dalam tas Herman."Begitu tahu hasilnya, segera beri kabar.""Bu Agnes." Wajah Herman berubah serius. "Saya juga punya ba
Tubuh Shanen menegang. Raut wajahnya jelas memperlihatkan kegelisahan."Bu Agnes, ini melanggar aturan." Herman langsung menolak tanpa ragu. "Saya harus mematuhi etika profesi."Agnes membuka tasnya, lalu mengeluarkan selembar cek dan mendorongnya ke hadapan Herman."Apakah ini cukup?"Sembilan angka nol.Benar-benar murah hati.Tatapan Herman berhenti sejenak pada cek itu, lalu beralih kepada Agnes."Kehamilan Nyonya Shanen sudah lebih dari tujuh bulan, bukan? Keluarga Gunawan sangat menginginkan anak laki-laki?"Agnes mengangguk tanpa berusaha menyembunyikan tujuannya."Bayinya ada dua. Setidaknya salah satunya pasti laki-laki, kan?""Kalau begitu, kenapa nggak memeriksanya lebih awal? Kandungannya sudah sebesar ini. Kalau ternyata bukan laki-laki, apa yang akan Anda lakukan?" Herman balik bertanya.Shanen langsung menjawab tanpa ragu, "Pasti ada salah satunya yang laki-laki!"Kesombongan yang biasanya terlihat di wajahnya kini menghilang.Yang tersisa hanyalah kegelisahan dan kecema
Shelly menatap layar ponselnya.Di kotak percakapan terus muncul tulisan “sedang mengetik”.Napasnya pelan, matanya tidak berkedip sedikit pun, terus menatap layar.Namun setelah menunggu cukup lama ....Status “sedang mengetik” terus muncul dan menghilang berulang kali, hingga akhirnya benar-benar sunyi.Jeffry tidak lagi membalas pesannya.Shelly mematikan layar ponsel. Kegelapan kembali menyelimuti kamar.Dia terus berguling ke kanan dan kiri sebelum akhirnya perlahan tertidur.…Keesokan paginya, Shelly terbangun karena dering telepon.Bahkan matanya belum sempat terbuka. Dia meraih ponsel dari bawah bantal lalu mengangkatnya."Selamat pagi, apakah ini Ibu Shelly?""Ya, benar. Dengan siapa?""Saya dari Pusat Perawatan Pascapersalinan Waver. Kami ingin mengonfirmasi data pemesanan Anda. Perkiraan tanggal persalinan Anda adalah 28 Agustus. Kami akan mulai mempersiapkan proses check-in dua minggu sebelumnya. Anda juga bisa membawa tas persalinan lebih awal ...."Suara wanita di sebera
"Ayo pulang." Herman menepuk bahu Jeffry. "Kalau kita masih di sini, sebentar lagi wartawan pasti datang."Sebagai penanggung jawab Grup Dominion. Sekaligus pewaris Keluarga Anderson.Salah satu identitas itu saja sudah cukup menarik perhatian. Apalagi jika seorang tokoh seperti Jeffry minum-minum di tepi laut hingga membuat polisi turun tangan.Media pasti bisa mengarang berbagai macam berita sensasional.Jeffry berdiri. Kemeja hitamnya menggelembung diterpa angin laut.Saat dia melangkah melawan arah angin, kain itu kembali menempel erat pada pinggangnya yang ramping."Terima kasih atas kerja kerasmu. Aku pulang dulu."Dia berbalik dan berjalan menuju daratan tanpa menoleh lagi.Di tempat itu memang tidak ada taksi.Para polisi yang sudah terlanjur membantu akhirnya mengantar Jeffry dan Herman pulang.Setelah turun dari mobil polisi, Jeffry mengenakan kembali jasnya, lalu langsung berjalan masuk ke dalam vila tanpa menoleh sedikit pun.Herman mengikutinya dari belakang. Tiba-tiba dia
"Kalau Dokter Herman merasa nggak nyaman mengabarkan ke saya bahwa beliau baik-baik saja, nggak apa-apa. Pak Jeffry sudah dewasa. Apa pun yang terjadi padanya juga bukan tanggung jawab gadis muda itu."Shelly tidak ingat sudah berapa kali Herman mengujinya dengan cara seperti ini.Begitu selesai berbicara, dia langsung menutup telepon.Herman terpaku sejenak sambil menunduk dan menatap ponselnya.Sebuah kaleng bir tiba-tiba melayang dan menghantam kepalanya. Kaleng itu masih ada sisa sedikit minuman yang memuncrat dan membasahi kemejanya.Herman menoleh pasrah ke arah Jeffry."Kenapa banyak sekali omong?" Wajah Jeffry tampak semakin suram. "Kirim pesan padanya. Bilang aku sangat amat baik."Orang yang tengah malam duduk sendirian di tepi jembatan diterpa angin laut, bahkan menelepon menyuruhnya membawa minuman, memangnya bisa disebut baik-baik saja?Herman memahami kenyataannya, tetapi tidak membongkarnya. Dia mengambil beberapa langkah, lalu duduk di samping Jeffry."Pernikahanmu dan
Harrison kepanasan hingga langsung melompat berdiri. Dia mengelilingi meja dua putaran sebelum akhirnya menemukan tempat sampah untuk memuntahkan tahu itu.Namun, bibirnya sudah memerah karena kepanasan, bahkan lidahnya terasa seperti mulai melepuh."Kamu ... dasar wanita kejam!""Aku masih kalah kejam dibanding mulutmu."Saryna benar-benar tidak bisa membayangkan, bagaimana mungkin Nana yang menggemaskan ini memiliki ayah kandung seperti yang dikatakan Harrison?Harrison mengambil segelas air dingin dan meneguknya beberapa kali. Barulah rasa panas di mulutnya sedikit mereda."Donor sperma itu juga melalui proses seleksi. Bukan cuma kondisi fisik, tapi latar belakangnya juga diperiksa. Semua harus bersih sebelum lolos."Shelly berkata kepada Harrsion, "Rumah sakit yang dipilih Saryna adalah rumah sakit paling resmi dan paling ketat di negara ini. Nggak akan ada masalah.""Aku cuma asal ngomong. Perlu marah segitunya?"Harrison menggeser kursinya menjauh dari Saryna sebelum kembali dudu
Begitu Elora masuk ke kantor, dia melihat Maxwell sedang memesan tiket.Dia langsung bertanya, “Kak Jeffry di mana? Kenapa kamu pesan tiket?”“Di ruang istirahat. Ada masalah mendadak di cabang, Pak Jeffry harus ke sana.”Belum sempat Maxwell selesai bicara, Elora sudah mengeluarkan kartu identitas
Shelly adalah anak paling berprestasi di panti asuhan. Karena nilai akademisnya sangat baik, dia diterima di universitas top dalam negeri dengan beasiswa penuh.Di sanalah dia bertemu Jeffry.Di antara begitu banyak pria dari kalangan elit, Jeffry begitu menonjol, langsung menarik pandangannya.Awal
Napas Shelly seketika tertahan. Dia segera menjelaskan, “Saya merasa urusan pernikahan Anda dengan Nona Elora jauh lebih penting.”Sebagai sekretaris Jeffry, dia memang memiliki wewenang untuk menyesuaikan jadwal kerja secara wajar.Selama ini Jeffry tidak pernah mempermasalahkannya.Namun kali ini
Tengah malam, Shelly Malvis mengunggah sebuah foto bayi yang baru lahir, lengkap dengan keterangan: [Naik pangkat jadi Ibu! Putra sulungku!]Belum satu jam, pintu rumahnya sudah diketuk oleh mantan suami yang telah bercerai dengannya selama setengah tahun.Begitu pintu dibuka, wajah muram Jeffry lan







