Share

Bab 88

Penulis: Ratih Larasati
Di bawah cahaya redup, tatapan Shelly tampak goyah, tapi suaranya tetap tegas.

“Pak Harrison, Anda salah dengar. Tadi Bu Irene membicarakan program kehamilannya dengan suaminya.”

Seberkas cahaya jatuh tepat di matanya. Jernih seolah tak menyembunyikan apa pun.

Jika Harrison tidak mendengarnya sendiri, mungkin dia benar-benar akan tertipu.

“Kamu bohong. Ini pasti karena anak di perutmu benar-benar adalah anaknya Jeffry!”

Wajah Shelly perlahan mengeras.

Dalam urusan pekerjaan, kemampuan Harrison m
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
eas
LOL.... Sonson memang sulit diberi kepercayaan... semoga ngak bocor
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 430

    Shelly dan Saryna saling bertatapan. Keduanya sama-sama menangkap sesuatu dari tatapan satu sama lain.“Tahu.” Shelly menjawab dengan nada santai sambil menunduk dan memainkan ponselnya, seolah tidak terlalu peduli.Bibi Yanti sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan dan merendahkan suaranya. “Kalian sudah pernah berinteraksi dengan mereka?”Gerakan jari Shelly di layar ponsel langsung terhenti. Dia mengunci ponselnya, lalu menatap Bibi Yanti.“Kalau memang ada sesuatu, Bibi bisa langsung bilang saja.”“Kenapa bicara berputar-putar begitu?” Saryna akhirnya tidak bisa lagi menahan emosinya. “Memangnya kenapa? Bibi orang Keluarga Gunawan?”Bibi Yanti segera menggeleng. “Tentu saja bukan. Aku cuma mau ingatkan kalian untuk menjauhi orang-orang Keluarga Gunawan.”“Kenapa?” tanya Shelly singkat.“Nggak ada alasan. Memangnya aku akan mencelakakan kalian?”Wajah Bibi Yanti dipenuhi ekspresi seolah-olah dia benar-benar memikirkan kebaikan mereka. “Kalian berdua selalu begitu, dikasih tahu apa p

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 429

    Jeffry, “Kamu bertanya padaku?”Maxwell langsung terdiam.Sikap Keluarga Gunawan terhadap Shelly memang terlalu mencurigakan.Namun kalau memang ingin menyelidikinya, mereka tetap membutuhkan arah.Kalau tidak, mereka bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.Jeffry berkata pelan, “Selidiki semua kemungkinan yang pernah kamu pikirkan.”Satu kalimat singkat itu berisi tugas yang luar biasa besar terhadap Maxwell.Maxwell berkali-kali ingin memohon belas kasihan, tapi pada akhirnya dia hanya menelan semua keluhannya. Sebab, dia tahu tidak ada gunanya mengatakannya.Meski dirinya harus bekerja sampai kelelahan, Jeffry tetap tidak akan peduli.Apa yang Jeffry inginkan hanyalah hasil.“Baik, Pak.”Terdengar ketukan di pintu kantor. Jeffry mengakhiri panggilan telepon, lalu berkata singkat, “Masuk.”Tania membuka pintu. Ekspresinya tampak sedikit panik.“Pak Jeffry, Bu Melly datang.”“Siapa?” Jeffry mengernyit dan menoleh.Tania mengulanginya, “Bu Melly.”Belum sempat kata-katanya selesai, Me

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 428

    Shelly berganti mengenakan piyama, lalu melirik Saryna.“Kalau kamu diam-diam memesankan tempat itu tanpa sepengetahuanku, aku benar-benar akan marah.”Saryna langsung cemberut. “Sepertinya aku pernah melihat wanita tadi? Dia kelihatan sangat familiar.”“Waktu kita pertama kali datang melihat pusat perawatan pascamelahirkan itu, kita pernah bertemu dengannya.” Shelly mengingatkannya.Saryna baru teringat. “Oh, iya! Waktu itu kamu memang sengaja datang ke pusat perawatan itu karena ingin bertemu dengannya, ‘kan? Memangnya hubungan kalian dekat?”“Dia hanya seorang klien.” Shelly menggeleng. “Cuma … dia selalu membuatku merasa ada sesuatu yang aneh.”“Orang aneh di dunia ini memang banyak. Jangan terlalu dipikirkan. ” Saryna sama sekali tidak tertarik membahas tingkah Agnes. “Kamu mengerti maksud baikku, ‘kan?”Maksudnya, keinginannya membayari Shelly pusat perawatan pascamelahirkan yang lebih bagus.Shelly memutar bola matanya. “Aku nggak mau mengerti. Nggak mau pergi. Nggak mau membaha

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 427

    Shelly lebih dulu membuka suara. Dia kembali mengangguk sopan kepada Agnes. “Bu Agnes, kami nggak mengganggu waktu Anda lagi. Kami pamit dulu.”“Sebentar lagi sudah jam makan siang. Bagaimana kalau kita makan bersama?”Agnes melihat jam tangannya sekilas, lalu mengajak dengan hangat. “Kebetulan, aku juga masih ingin membicarakan sedikit soal Shanen denganmu.”Nada bicaranya terdengar begitu akrab, seolah-olah mereka sudah saling mengenal selama bertahun-tahun. Ketika kebetulan bertemu, makan bersama adalah hal yang wajar.“Maaf, Bu Agnes. Kami masih ada urusan.” Shelly mengulang penolakannya.Barulah Agnes tersadar.“Oh, iya. Aku sampai nggak memperhatikan. Kalau begitu, silakan lanjutkan urusanmu. Lain kali kalau ada waktu, kita makan bersama.”Shelly mengangguk pelan, kemudian berbalik dan mendorong Saryna kembali ke arah mobil.Namun, Saryna tampaknya masih belum mau menyerah.Shelly akhirnya mendorongnya sampai duduk di kursi penumpang depan, sementara dia sendiri berjalan memutar

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 426

    Dua jam kemudian, mobil mereka berhenti di depan Pusat Perawatan Pascapersalinan Waver.Shelly tertidur selama perjalanan dan baru terbangun saat Saryna memanggilnya.Dia membuka mata dan memandang sekeliling. Tempat itu terasa agak familiar. Butuh beberapa saat hingga akhirnya dia teringat di mana mereka berada.“Kenapa kamu membawaku ke sini?”Saryna mengeluarkan sebuah kartu dari dalam tasnya, lalu mengibaskannya di depan Shelly sambil mengangkat alis. “Aku sudah siapkan uangnya. Masa nifasmu nanti dijalani di sini saja!”Dia turun dari mobil, berjalan memutar ke sisi Shelly, lalu membukakan pintu. “Ayo turun. Kita masuk dan langsung bayar.”“Nggak.” Shelly tetap duduk di dalam mobil. “Nggak perlu habiskan uang sebanyak itu.”Saryna menghentakkan kaki pelan. “Aku melakukan ini demi kebaikanmu. Tempat ini dekat dengan rumah sakit. Setelah melahirkan, ibu yang sedang menjalani masa nifas bisa mengalami kondisi darurat kapan saja. Kalau sampai terjadi sesuatu, nanti sudah terlambat ….”

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 425

    Shelly menggeleng. “Nggak usah. Terlalu mahal. Aku sudah menemukan tempat yang menurutku cocok.”“Benarkah?” Saryna memutar bola matanya sambil bertanya, “Kisaran harganya berapa?”“Aku lihat ada satu pusat perawatan pascapersalinan yang biayanya 60 juta.”Selama dua hari terakhir, perhatian Shelly sepenuhnya tertuju pada bayinya.Tanpa perlu keluar rumah, hampir semua persiapan untuk melahirkan sudah dia selesaikan.Kalau ada yang belum bisa dilakukan, dia akan mencari informasi sedetail mungkin.Pusat perawatan pascapersalinan itu adalah pilihan yang dia putuskan setelah berkali-kali membandingkan berbagai tempat.Saryna mengendus pelan.“Kalau begitu, nanti kita pergi lihat dulu. Sekalian aku tunjukkan hadiah besar yang sudah aku siapkan buatmu.”“Hadiah besar?” Shelly yang sedang mengunyah potongan nanas langsung berhenti. Dia segera menelan buah itu. “Apa hadiahnya?”“Nanti juga kamu tahu.” Saryna mengedipkan mata sambil tersenyum jahil. “Tapi jangan sampai terlalu terharu, ya. A

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 6

    Joycelin memang mengiyakan dengan mulutnya, tapi begitu Melly pergi, dia langsung memonyongkan bibir ke arah punggung wanita itu....Elora menarik Jeffry untuk duduk di kursi makan. Pemandangan mereka duduk berdampingan terus terbayang di benak Shelly.Seharusnya dia tidak melihat adegan itu.Dalam

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 5

    Shelly tanpa sadar menarik jaket tebalnya sedikit ke depan, menutupi perutnya yang masih rata.“Aku masuk kerja. Mungkin karena umurku sudah bertambah, tahun ini aku jadi lebih gampang kedinginan.”Dia berjalan mendekat lalu duduk, sengaja mengalihkan topik.“Perlu pakai laptopku? Kalau iya, aku amb

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 4

    Sebelum orang-orang di ruang tamu sempat bereaksi, terdengar langkah kaki dari lantai atas.Ibu Jeffry, Melly Luwiana buru-buru turun.Meski hampir berusia lima puluh tahun, tubuhnya masih terawat seperti wanita usia tiga puluhan.Dia hanya mengenakan selendang merah, sama sekali tidak takut pada su

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 3

    Begitu Elora masuk ke kantor, dia melihat Maxwell sedang memesan tiket.Dia langsung bertanya, “Kak Jeffry di mana? Kenapa kamu pesan tiket?”“Di ruang istirahat. Ada masalah mendadak di cabang, Pak Jeffry harus ke sana.”Belum sempat Maxwell selesai bicara, Elora sudah mengeluarkan kartu identitas

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status