Share

Bab 5

Author: Ratih Larasati
Shelly tanpa sadar menarik jaket tebalnya sedikit ke depan, menutupi perutnya yang masih rata.

“Aku masuk kerja. Mungkin karena umurku sudah bertambah, tahun ini aku jadi lebih gampang kedinginan.”

Dia berjalan mendekat lalu duduk, sengaja mengalihkan topik.

“Perlu pakai laptopku? Kalau iya, aku ambil dulu di mobil.”

“Pakai punyaku saja.”

Jeffry mendorong laptopnya ke depan Shelly.

Foto layar kuncinya adalah foto lama, hanya tampak punggung seorang pria dan seorang wanita.

Sekali lihat, Shelly langsung tahu pria itu adalah Jeffry. Sedangkan sosok wanitanya … bentuk tubuhnya mirip Elora.

Shelly memaksa dirinya tetap tenang. Dia membuka dokumen dan mulai mengetik notulen rapat dengan gerakan yang nyaris mekanis.

Dalam urusan kerja, Shelly dan Jeffry memang selalu sangat selaras.

Hanya dari satu tatapan Jeffry, dia tahu bagian mana yang harus ditandai merah untuk diperhatikan nanti.

Hanya dari satu gerakan tangan Jeffry, dia tahu kapan harus menghentikan orang yang sedang presentasi dan mempersilakan orang berikutnya.

Meski sudah setengah tahun tidak bekerja di sisinya, kecocokan itu masih ada.

Kerutan di dahi Jeffry perlahan mengendur.

Tanpa dia sadari, perhatiannya mulai berpindah dari rapat … ke Shelly.

Setelah melepas pakaian kerja yang kaku dan formal, wajah Shelly terlihat begitu memukau, muda dan cantik.

Jari-jarinya ramping, pucat dan lembut.

Dulu, jari-jari itu pernah mencengkeram seprai tipis dengan erat ….

Ruangan itu hangat, tapi Shelly tidak melepas jaketnya. Di dahinya mulai muncul lapisan tipis keringat.

Pipinya memerah. Bulu matanya yang lentik berkedip pelan setiap kali dia menatap layar.

Shelly adalah tipe wanita yang tidak hanya cantik saat dilihat sekilas, tapi juga tetap menawan saat diperhatikan lama-lama.

Tanpa sadar, Jeffry sampai terpaku.

Orang di seberang layar rapat sudah selesai bicara, namun Jeffry masih tidak bereaksi.

Jari Shelly masih mengetuk keyboard. Dengan tergesa dia melirik Jeffry dan langsung bertemu dengan tatapan pria itu.

Dadanya menegang.

Dia segera menundukkan mata.

Setelah menyelesaikan beberapa kata terakhir, dia membetulkan bajunya pelan.

“Kalau kepanasan, lepas saja. Rapatnya masih lama.”

Jeffry memperhatikan gerakannya, mengeluarkan dua kalimat itu, lalu kembali fokus ke rapat.

Karena gugup, Shelly tidak berani melepas jaketnya.

“Tidak perlu. Aku tidak panas.”

Jeffry meliriknya lagi.

Lampu ruangan memantul di dahinya. Lapisan keringat tipis itu bahkan sudah berkilau.

“Lanjut,” katanya singkat, tanpa memaksa.

Keringat di dahi Shelly lama-lama berubah jadi butiran yang mengalir di pipinya, sampai membasahi rambutnya.

Dia merasa panas, lapar, dan semakin tidak nyaman.

Perutnya juga mulai terasa asam, seperti ada cairan pahit yang naik dari lambung.

Entah sudah berapa lama berlalu, rapat itu akhirnya selesai.

Shelly langsung berdiri dan mengambil tasnya.

“Pak Jeffry, notulen rapatnya sudah aku simpan semua. Kalau tidak ada hal lain, aku pamit dulu.”

Tanpa menunggu jawaban, dia sudah keluar dari ruang kerja.

Di ujung lorong, jendela terbuka sedikit. Angin dingin masuk dan membuat tubuhnya agak lebih nyaman.

Tapi rasa mual di perutnya masih belum hilang.

Dia pun mempercepat langkah.

Ruang makan letaknya agak jauh dari pintu masuk, jadi dia berniat diam-diam pergi tanpa ketahuan orang.

Namun saat melewati ruang tamu, aroma masakan dari arah ruang makan menguar.

Dulu, dia paling suka sup ikan.

Tapi entah kenapa, hari ini baru mencium aroma sup ikan yang familiar itu, perutnya langsung bergejolak.

“Sudah selesai rapatnya? Shelly, makan dulu sebelum pulang!”

Joycelin adalah orang pertama yang melihatnya, dia langsung berdiri dan menghampiri.

Shelly menggeleng.

Namun begitu dia menggelengkan kepala, rasa asam di perutnya langsung naik deras.

Dia pun berlari ke toilet di sebelah kanan dan tidak mampu menahan diri untuk muntah kering.

Suara Jeffry terdengar di tengah langkah kaki yang ramai.

“Bibi Sari, ambilkan obat lambung.”

Sejak kecil, karena di panti asuhan Shelly sering makan sisa makanan dingin dan hidup dengan pola makan yang tidak teratur, dia memang punya penyakit lambung cukup parah. Semua orang Keluarga Anderson tahu hal itu.

Dulu, Kakek Yanto yang paham pengobatan pernah meresepkan beberapa obat untuknya, dan sejak itu kondisinya membaik. Biasanya kalau kambuh, cukup minum dua tablet obat lambung.

Tapi kali ini berbeda.

Ini bukan kambuh lambung.

Ini muntah karena hamil.

Dan kalau hamil … dia tidak boleh sembarangan minum obat lambung.

Shelly cepat-cepat berkumur. Dia hendak bilang tidak perlu, tapi begitu menoleh, aroma amis sup ikan kembali menusuk hidungnya.

Dia langsung berjongkok lagi dan muntah kering.

Nenek Mina juga bangkit dari kursinya, lalu berjalan mendekat sambil menepuk punggung Shelly pelan.

“Apa karena kamu kelamaan tidak makan? Nanti setelah minum obat lambung, minum sedikit sup ikan hangat sebelum pulang.”

“Minum air dulu!” Joycelin datang membawa segelas air hangat.

Shelly menerimanya, berkumur lagi, lalu meneguk sedikit untuk menekan rasa mualnya.

“Maaf sudah mengganggu makan malam kalian. Aku hanya masuk angin biasa, bukan sakit lambung. Di rumah ada obat, nanti aku minum sendiri.”

Orang-orang di ruang makan menoleh ke arah mereka.

Di antara semua tatapan itu, tatapan tidak senang dari Melly paling jelas terlihat.

Elora berdiri di samping Jeffry, menggandeng lengannya, lalu ikut memandang Shelly bersama pria itu.

Joycelin menambahkan, “Mana ada masuk angin sampai muntah? Wajahmu juga pucat dan kuning begitu. Biar kakek periksa nadimu dulu!”

Jantung Shelly langsung menegang.

Kalau Kakek Yanto memeriksanya, kehamilannya pasti ketahuan.

Dia cepat-cepat menunduk sedikit, nada bicaranya pun makin sopan.

“Aku tidak ingin merepotkan kakek lagi. Aku benar-benar tidak apa-apa.”

Dia tidak ingin merusak suasana makan malam Keluarga Anderson.

Terlebih lagi … Elora juga ada di sana.

Nenek Mina sebenarnya mengerti.

Namun setelah dua tahun berhubungan dekat, dia sudah menganggap Shelly seperti keluarga sendiri. Mana mungkin dia tega membiarkan Shelly pulang dalam keadaan tidak enak badan?

“Dengar ya, biar kakek periksa sebentar. Anggap saja supaya nenek tenang, boleh?”

Diam-diam Shelly menggeleng pada nenek.

Bahkan seandainya dia tidak hamil pun, dia tetap tidak boleh merebut perhatian Elora di rumah Keluarga Anderson.

Melly akhirnya tidak tahan lagi. Dia bangkit dan berjalan ke arah mereka.

“Ini sebenarnya masih mau makan malam atau tidak?”

Di meja makan, hanya Kakek Yanto dan ayah Jeffry yang masih duduk di tempat.

Dengan suasana seperti ini, bagaimana mungkin makan malam bisa lanjut dengan tenang?

Dan orang yang dianggap merusak makan malam keluarga itu adalah Shelly.

Melihat Shelly benar-benar serba salah, Nenek Mina akhirnya mengalah.

“Kamu benar-benar tidak apa-apa?”

“Benar-benar tidak apa-apa.”

Wajah kecil Shelly yang pucat tampak sedikit kekuningan. Dia memaksakan senyum untuk nenek.

“Kalau begitu pulanglah. Hati-hati di jalan.”

Nenek tidak ingin Shelly terus tinggal di sana hanya untuk dipersulit oleh Melly.

Shelly pun berbalik dan pergi.

Begitu keluar dari vila, udara dingin langsung menyapu wajahnya. Keringat tipis di dahinya seketika terasa dingin membeku.

Jeffry berdiri di dalam rumah, menatap punggung Shelly dari balik jendela.

Seluruh taman rumah yang terang benderang menyelimuti sosoknya.

Tapi dia tetap pergi tanpa menoleh sedikit pun, berjalan menjauh ke luar halaman yang dingin dan gelap.

Langkahnya begitu cepat, seolah-olah ada sesuatu yang seram sedang mengejarnya dari belakang.

“Kak Jeffry, ayo kita makan.”

Elora kembali menggandeng lengan Jeffry dan menariknya ke ruang makan.

Jeffry pun menarik kembali pandangannya, lalu duduk bersamanya.

Melly mendengus dingin. Setelah kembali ke meja makan, dia langsung melanjutkan obrolan hangat dengan Elora seolah tidak terjadi apa-apa.

Setelah makan malam selesai, Jeffry mengantar Elora pulang.

Melly lalu sengaja naik ke lantai atas menemui Joycelin.

“Mulai sekarang, jangan berhubungan lagi dengan Shelly!”

Joycelin pura-pura tidak mengerti.

“Kenapa? Aku tidak boleh berteman dengannya?”

Melly langsung kesal.

“Kenapa? Kakakmu dan Elora sebentar lagi akan bertunangan. Shelly itu sudah jadi pantangan di keluarga kita.”

Joycelin yang semula duduk santai langsung menegakkan badan.

“Jadi kakakku benar-benar mau bertunangan dengan Elora?”

“Mereka itu teman masa kecil. Cepat atau lambat pasti bertunangan. Kalau kamu masih berani tidak dengar kata-kataku, awas kamu.” Melly menegur Joycelin dengan keras.

Melly memang tidak bisa mengatur Kakek dan Nenek.

Tapi Joycelin … harus masih bisa dia kendalikan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Fahimah
Mawar layu di musim dingin kedua
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 540

    Sambil berkata begitu, Kak Ratih pergi ke ruang makan mengambil ponsel Shelly, lalu menyelipkannya ke tangan Shelly.“Telepon sendiri.”Setelah itu Kak Ratih berbalik masuk ke dapur dan kembali sibuk.Layar ponsel yang gelap memantulkan raut wajah Shelly yang rumit.Setelah lama terdiam, dia menarik napas dalam-dalam lalu berjalan ke balkon.Shelly menelepon Saryna. Belum sampai dua kali berdering, panggilannya sudah diangkat.“Siapa ini?” Suara yang terdengar dari seberang bukan suara Saryna, melainkan seorang anak laki-laki.“Aku mau bicara dengan Saryna.”Di seberang sana hening beberapa detik, lalu terdengar suara anak itu yang tidak senang. “Aku tahu kamu. Kamu satu-satunya teman kakakku, tapi ayah dan ibuku nggak mengizinkan kakakku main sama kamu.”Untuk sesaat Shelly tidak tahu harus mengatakan apa.“Kakakku nggak bakal main sama kamu. Mulai sekarang jangan telepon dia lagi.”Setelah melontarkan kalimat itu, anak laki-laki itu langsung menutup telepon.“Eh ….” Shelly belum semp

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 539

    Dibanding kabar Rendy menemukan putrinya, media jauh lebih tertarik pada satu hal. Siapa sebenarnya dalang di balik semua ini, orang yang memanipulasi dari balik layar hingga membuat Rendy terpisah dari darah dagingnya sendiri selama lebih dari dua puluh tahun.Berita datang bertubi-tubi dari segala arah. Di antara begitu banyak spekulasi, terang-terangan maupun tersirat, semuanya mengarah pada Johan.“Coba tebak, langkah Johan berikutnya apa?”Ujung jari Jeffry mengetuk pelan tepi meja, sekali demi sekali.Shelly meletakkan koran pagi di tangannya. Setelah terdiam sejenak, dia berkata, “Menjadikan dirinya juga sebagai korban. Bilang kalau dia juga pernah kehilangan seorang putri.”“Begitu berita seperti itu menyebar, langkah berikutnya Johan pasti membawa banyak orang ikut mencari putrinya, lalu menemukanmu di depan semua mata.”Alis Jeffry sedikit terangkat. “Nanti, apa rencanamu?”Saryna lebih dulu mengakui hubungan keluarga dengan Rendy. Sebanyak apa pun, tetap akan ada banyak oran

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 538

    Alis Herman terangkat sedikit. “Benarkah?”Melihat ada tanda-tanda pria itu mulai melunak, Elora akhirnya mengembuskan napas lega. Dia mengangkat tiga jari dan berkata, “Aku janji. Kalau kamu bantu aku melewati kesulitan kali ini, kamu suruh aku melakukan apa pun juga aku mau. Kalau nggak, biarkan aku mati mengenaskan!”Sumpah itu cukup kejam. Terlalu kejam, sampai terdengar sangat meyakinkan.“Kalau begitu …” ujar Herman santai. “Bagaimana kalau aku minta kamu menjauh dari Jeffry?”Mata Elora membelalak. Dia mencengkeram tepi ranjang dan langsung duduk tegak. “Jadi benar kamu masih mengincar Jeffry? Herman, kamu benar-benar nggak tahu malu! Jeffry bukan orang yang bisa kamu khayalkan seenaknya. Jangan mimpi!”Sudut bibir Herman terangkat membentuk lengkung penuh ejekan.Pintu ruang pemeriksaan didorong terbuka. Terdengar suara Melly. “Nanti setelah aku pulang baru kita bicarakan.”Dia menutup telepon lalu menutup pintu. “Sudah selesai?”Elora sudah duduk tegak. Cairan bening di perutn

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 537

    “Bukan.”Shelly membantah.Raut di antara alis Jeffry pun melonggar, sudut bibirnya terangkat tipis.“Ini cuma saling mengambil yang dibutuhkan,” jelas Shelly.Lengkungan di bibir Jeffry langsung lenyap. Tatapannya seketika menjadi jauh lebih gelap. “Saling mengambil yang dibutuhkan? Memangnya apa yang aku butuhkan darimu?”Shelly menatapnya. “Mana aku tahu?”“Banyak hal yang memang kamu nggak tahu.” Jeffry meliriknya dengan kesal, lalu berbalik pergi.Pintu kamar tidak ditutup. Shelly juga malas turun dari ranjang, jadi dia rebah lagi dan mencoba tidur.Setelah keributan barusan, rasa kantuknya malah hilang. Dia berguling ke sana kemari, dan baru menjelang paruh malam bisa tertidur pelan-pelan.…Keesokan paginya, di rumah sakit Kota Sentara.Pintu ruang kerja Herman didorong terbuka.Dia menoleh ke arah orang yang datang, lalu berdiri dan keluar dari balik meja. “Tante Melly.”“Iya.” Melly mengangguk tipis, sekadar memberi salam.Di belakangnya, Elora masuk dengan gaun abu-abu muda.

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 536

    Si kecil ini ternyata cukup berani. Meski sempat kaget, dia cepat tenang lagi. Dibawa ke tempat asing pun dia tidak takut, mata hitam bulatnya berputar ke sana-sini, sibuk mengamati semuanya.Sejak tadi hati Shelly terus tegang. Sebenarnya dia tidak berselera makan, bahkan sama sekali tidak ingin menyentuh makanan. Dia hanya ingin mengalihkan topik.Demi Jery agar tidak kelaparan, dia memaksa diri makan lumayan banyak.Setelah makan malam, tanpa menunggu Jeffry pulang, dia langsung membawa Jery kembali ke kamar untuk beristirahat.Kurang lebih lewat pukul sepuluh, Jery akhirnya tertidur.Terlalu banyak hal terjadi siang tadi. Pikiran Shelly masih kacau. Begitu berbaring, kesadarannya langsung mengambang, samar seperti sedang bermimpi.Sampai sebuah suara rendah yang begitu familiar menembus telinganya dan seketika membuatnya sadar penuh.“Kalau mau pergi, kamu sendiri yang bawa dia pergi. Aku nggak ada waktu ....”Nada kesal Jeffry bercampur dengan suara langkah kaki. Dia berhenti di u

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 535

    Telepon tersambung dan suara Saryna terdengar dari seberang sana.“Sebenarnya ada apa sih! Kenapa Shelly ikut Jeffry pergi?”Harrison begitu gelisah sampai hampir meledak. “Menurutmu, apa Shelly bakal diapa-apain sama Jeffry?”“Dia ikut Jeffry pergi?” Nada suara Saryna terdengar rumit. “Harrison, kamu sudah dikasih kesempatan malah nggak dipakai. Tinggal di lantai bawah pun masih bisa kalah cepat dari orang lain.”Harrison mengacak rambutnya yang berantakan. “Aku ... ketiduran.”“Kamu jelas-jelas tahu Keluarga Gunawan lagi mengincarnya, Shelly juga sedang dalam bahaya, tapi kamu masih bisa tidur?”Saryna merasa menyesal, tapi sama sekali tidak iba. “Benar saja, kamu memang nggak seteliti Jeffry. Shelly pergi sama dia juga bagus. Semoga ... nanti Shelly nggak membenciku.”Harrison mengumpat, “Sial! Masa aku harus kalah terus sama Jeffry? Cuma Keluarga Gunawan doang, aku nggak percaya ....”Sambil terus mengomel, dia menutup telepon.…Royal Haven Residence.Menghadap laut, bersandar pad

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 2

    Shelly adalah anak paling berprestasi di panti asuhan. Karena nilai akademisnya sangat baik, dia diterima di universitas top dalam negeri dengan beasiswa penuh.Di sanalah dia bertemu Jeffry.Di antara begitu banyak pria dari kalangan elit, Jeffry begitu menonjol, langsung menarik pandangannya.Awal

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 1

    Tengah malam, Shelly Malvis mengunggah sebuah foto bayi yang baru lahir, lengkap dengan keterangan: [Naik pangkat jadi Ibu! Putra sulungku!]Belum satu jam, pintu rumahnya sudah diketuk oleh mantan suami yang telah bercerai dengannya selama setengah tahun.Begitu pintu dibuka, wajah muram Jeffry lan

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 47

    Awalnya, Shelly masih mempertimbangkan apakah dia perlu meminta bantuan Harrison. Namun sekarang, dia tidak perlu berharap lagi, jalan itu telah tertutup.Pagi itu, Shelly tampak diliputi banyak pikiran. Wajahnya terlihat pucat dan tidak bersemangat.“Kak Shelly.”Tania memanfaatkan kesempatan saat

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 20

    “Pak, apakah Anda keluarga pasien?”Setelah suara bising mereda, suara perawat kecil terdengar jelas dari seberang telepon.“Pasien pingsan saat sedang infus di rumah sakit. Bisa datang sebentar?”Keluarga pasien?Jeffry langsung memposisikan Shelly sebagai “pasien”, tapi dia sendiri tidak bisa meng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status