Share

Bab 89

Author: Ratih Larasati
Melihat sikap Shelly yang seolah sudah pasrah, Harrison mendecak pelan. “Aku janji nggak akan bilang ke siapa pun. Aku cuma akan menikmati pertunjukan ini!”

Dalam hati, dia yakin betul rahasia ini tidak mungkin bisa disembunyikan selamanya.

Namun dia berharap, setidaknya sampai anak itu lahir nanti, baru semuanya terbongkar.

Pewaris tunggal Keluarga Anderson, penguasa Grup Dominion, punya anak di luar nikah!

Betapa sensasionalnya kabar ini. Bahkan bisa menjadi satu-satunya kesempatan baginya unt
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 100

    Pintu lift perlahan tertutup.Di balik celah yang semakin menyempit itu, tatapan Jeffry yang dalam dan sulit ditebak masih terpaku pada sosok Shelly.Shelly berdiri tepat di tengah lift sambil memeluk kotak berisi barang-barangnya. Di balik ekspresinya yang datar, terselip jarak yang jelas.“Jadi memang hanya mutasi internal biasa dari Grup Dominion, ya. Kalau begitu, kami nggak akan ikut campur.”Fandy menyadari kejanggalannya. Dia merasa heran dengan Shelly yang begitu cepat menerima keputusan mutasi.Melihat wajah Jeffry yang tiba-tiba berubah muram, dia menduga Jeffry pasti merasa kehilangan muka di depan orang lain. Alhasil, dia segera mengajak istrinya untuk mengganti topik.“Sayang, bukannya kamu mau ajak Nona Elora ke showroom tas Clvg di Tavira? Kita masuk dan bicara di dalam saja.”Irene masih menatap ke arah lift yang sudah turun. Perasaan bersalah jelas terlihat di wajahnya.“Aku tahu soal showroom Clvg itu juga dari Bu Shelly.”Dia sengaja kembali membawa pembicaraan ke ar

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 99

    Dari sekretaris direktur menjadi staf logistik, perusahaan mana yang menyebut ini sebagai mutasi normal?“Aku nggak percaya,” ujar Irene, lalu menoleh ke arah suaminya.Dia memang tampak menoleh pada Fandy, tapi sebenarnya dia sedang menunggu jawaban dari Jeffry.Fandy hanya bisa memberi isyarat halus agar istrinya tenang, lalu berkata pada Jeffry, “Pak Jeffry, istriku memang agak blak-blakkan. Dia cukup menyukai Bu Shelly, mohon dimaklumi.”Jeffry berdiri di sana dengan ekspresi datar. “Nggak masalah.”Menyukai Bu Shelly?Senyum Elora hampir tak mampu dipertahankan.Sejak pagi dia sudah bersiap rapi untuk menjemput wanita yang membuatnya menjadi bahan pembicaraan publik.Namun begitu bertemu, Irene justru bertanya, “Bu Shelly nggak ikut?”Elora nyaris meledak saat itu juga.Sepanjang perjalanan, dia terus memaksakan senyum dan bersikap ramah. Kesabarannya sudah habis sejak lama.Siapa sangka, mereka malah bertemu lagi dengan Shelly di sini.Shelly pasti sengaja muncul di hadapan Irene

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 98

    Shelly sempat ragu sejenak. Namun akhirnya, dia keluar dari ruang rapat, kembali ke mejanya untuk mengambil tas, lalu berjalan menuju lift.Saat melewati Jeffry, pergelangan tanggannya tiba-tiba ditarik.Jari-jari Jeffry panjang dan tegas. Urat di punggung tangannya tampak jelas. Cengkeramannya begitu kuat hingga ujung jarinya memutih.“Setelah kamu dipindahkan, kamu nggak akan lagi punya nilai guna bagi Harrison. Menurutmu, bagaimana dia akan memperlakukanmu nanti?”Shelly bisa menebak jika Harrison tahu dia dipindahkan, Harrison pasti akan gelisah setengah mati.Tanpa dirinya di sisi Jeffry, Harrison akan kehilangan tontonan menariknya.Shelly mundur selangkah dari Jeffry.“Pak Jeffry nggak perlu repot-repot memikirkan hal ini. Bagaimana dia memperlakukanku, itu urusanku.”Dia menepis tangan Jeffry.Jari-jarinya yang lembut pun menyentuh punggung tangan Jeffry. Kehangatan samar seketika merambat melalui kulit.Dalam sekejap, rasa hangat itu justru terasa membakar dan langsung menjala

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 97

    Dada Shelly terasa sesak. Namun yang membuatnya heran, hatinya justru luar biasa tenang seakan hanya menunggu vonis dijatuhkan.Sabtu pagi pukul sepuluh, dia datang tepat waktu ke kantor.Para direksi sudah hadir lebih dulu. Tanpa ragu, Shelly langsung masuk ke ruang rapat, berdiri di samping kursi utama.Tatapan aneh dari semua orang seketika tertuju padanya.Jeffry mengenakan mantel wol hitam, duduk dengan rapi. Rambutnya disisir licin tanpa cela.Kakinya disilangkan dan di tangannya terdapat dokumen kerja sama proyek dengan Fandy.Ruangan sepenuhnya hening.Begitu sunyi hingga suara jarum jatuh pun mungkin bisa terdengar.Semua orang sudah hadir, tapi Jeffry tak kunjung menunjukkan reaksi apa pun.Pak Lando berdeham pelan, lalu berkata, “Semua sudah lengkap?”Seseorang menjawab, “Sudah.”Gerakan tangan Jeffry berhenti sejenak. Dia perlahan menoleh, melirik Shelly.Shelly mengenakan kemeja hitam rapi, berdiri di belakang dengan sepatu hak setinggi lima sentimeter.Kepalanya tertunduk

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 96

    “Nggak ada lagi,” jawab Shelly dengan nada tenang. Dia menundukkan pandangan, seolah tak menangkap sorot tajam di mata Jeffry.Maxwell masuk ke ruangan, lalu berbisik di samping Jeffry, “Pak Jeffry, barusan ada telepon dari Pak Lando. Katanya soal skandal ini akan dibahas saat rapat direksi hari Senin nanti. Beliau juga menegaskan bahwa Bu Shelly dianggap melakukan kelalaian serius dalam kejadian ini.”Alis Jeffry mengernyit, lalu pandangannya beralih pada Shelly.Shelly mengerutkan kening. Bibirnya terkatup rapat, tak mengucapkan sepatah kata pun.“Majukan rapat direksi ke besok,” perintah Jeffry dengan suara rendah.Maxwell mengangguk, lalu keluar. Sebelum pergi, dia sempat melirik Shelly dengan ekspresi ragu. Dia seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya tetap diam.Jeffry bangkit dan berjalan mendekati Shelly. Dia bersandar di tepi meja kerja dengan tubuh sedikit condong ke belakang.Meski begitu, dia tetap lebih tinggi setengah kepala dari Shelly. Dia pun menatap Shelly dari

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 95

    “Aku dengar latar belakang Irene nggak bagus. Mungkin dia hanya iri padamu. Elora, kamu ini calon menantuku. Kamu nggak perlu takut apa pun.”Kedua orang tua Elora tampak tidak senang atas masalah yang tiba-tiba menimpa putri mereka.Mereka duduk berdampingan dengan wajah muram.Namun setelah mendengar perkataan Melly, ekspresi Marina sedikit membaik.“Melly, sebenarnya aku nggak mau banyak bicara. Tapi sepenting apa pun pekerjaan, Jeffry nggak seharusnya mengabaikan perasaan Elora. Lihat saja bagaimana netizen membicarakannya. Memang Keluarga Laurent nggak sebanding dengan Keluarga Anderson, tapi Elora dan Jeffry tumbuh bersama sejak kecil ….”Elora duduk di samping Melly, memeluk bantal dengan muka sedih. Semakin dia mendengar, semakin dia merasa tersakiti. Air matanya terus mengalir. “Masalah ini pasti ulah Shelly! Tante, Tante harus bantu aku! Aku nggak mau melihat dia lagi!”“Shelly, Shelly ….” Melly menyebut nama Shelly dua kali. Kesabarannya mulai habis. “Tenang saja. Kali ini m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status