Share

Bab 6

Author: Ratih Larasati
Joycelin memang mengiyakan dengan mulutnya, tapi begitu Melly pergi, dia langsung memonyongkan bibir ke arah punggung wanita itu.

...

Elora menarik Jeffry untuk duduk di kursi makan. Pemandangan mereka duduk berdampingan terus terbayang di benak Shelly.

Seharusnya dia tidak melihat adegan itu.

Dalam perjalanan pulang, Shelly membiarkan angin dingin menerpa wajahnya hingga pikirannya perlahan jernih. Di tengah jalan, dia sempat berhenti untuk makan semangkuk bubur hangat sebelum pulang.

Beberapa hari berikutnya, berita tentang Jeffry dan Elora membanjiri media.

Dia menelepon Jeniati Zayin dari Departemen HRD, seseorang yang cukup dekat dengannya, untuk menanyakan hal itu.

Namun ternyata Jeniati sama sekali tidak tahu bahwa Shelly ingin mengundurkan diri.

Sebagai asisten manajer HRD, seharusnya proses pengunduran diri Shelly pasti melalui tangan Jeniati.

Fakta bahwa sampai sekarang masih belum ada kabar Shelly ingin mengundurkan diri berarti Jeffry belum menyetujuinya.

Shelly langsung menginjak pedal gas dan melaju menuju kantor pusat Grup Dominion.

Sayangnya, dia datang di waktu yang kurang tepat. Jeffry sedang rapat.

Karyawan di Departemen Sekretaris menyuruhnya menunggu di ruang rapat.

Sekitar setengah jam kemudian, Elora datang.

Di lengannya tergantung tas edisi terbatas musim ini, riasannya sempurna, wajahnya segar berseri. Dia berbincang santai dengan staf sekretaris, sikapnya seperti nyonya perusahaan.

Sebelum masuk ke kantor Jeffry, Elora sempat melirik Shelly yang duduk di ruang tamu.

Dia pun melambaikan tangan dan memanggil salah satu sekretaris yang paling muda, Livia Yunita.

“Ada apa itu?”

“Bu Shelly datang mencari Pak Jeffry, tapi tidak membuat janji temu, jadi harus menunggu.”

Livia tersenyum menjilat.

Elora memainkan kukunya, matanya berkilat licik, lalu berbisik memberi instruksi.

Tidak lama kemudian, Livia masuk ke ruang tamu.

“Bu Shelly, sebaiknya Anda pulang dulu. Pak Jeffry tidak punya waktu untuk menemui Anda.”

Shelly mengangkat kepala menatapnya. “Rapatnya masih belum selesai. Kalimat itu sepertinya bukan dari beliau.”

Livia langsung terdiam, tidak bisa menjawab.

Shelly pun mengerti situasinya.

“Nanti setelah Pak Jeffry selesai rapat, tolong sampaikan padanya saya hanya butuh lima menit.”

“Bu Shelly, memangnya urusan apa yang tidak bisa dibicarakan lewat telepon, kenapa sampai harus datang langsung ke kantor?” Livia mencoba menggali informasi.

“Telepon Pak Jeffry tidak bisa dihubungi.”

Kalau bukan karena itu, Shelly tidak akan repot-repot datang.

Livia menyampaikan kata-kata itu kepada Elora.

Elora sama sekali tidak percaya.

Kalau memang urusan mendesak, Shelly pasti tidak akan duduk diam menunggu. Fakta bahwa dia menunggu berarti bukan urusan pekerjaan, melainkan ingin bertemu Jeffry!

Selama setengah tahun ini Shelly selalu bersikap patuh, Elora bahkan sudah tidak menganggapnya sebagai ancaman.

Tapi sekarang, ketika dia dan Jeffry akan bertunangan, Shelly tiba-tiba muncul lagi.

Bagaimana mungkin Elora tidak waspada?

Livia bolak-balik di antara mereka, lalu kembali ke ruang rapat.

“Bu Shelly, tolong pindah ke ruang rapat di sebelah timur. Ruangan ini akan dipakai sebentar lagi.”

Shelly pun berdiri, mengambil tasnya, lalu pergi tanpa banyak bicara.

Ruang rapat di sebelah timur berada di sudut kantor, Jeffry tidak akan melewati sana saat kembali ke kantornya.

Artinya, dia tidak akan terlihat.

Shelly duduk, lalu mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan.

[Tania, segera kabari aku kalau Pak Jeffry kembali ke kantor.]

Tania Putri dan Livia masuk kerja di Departemen Sekretaris pada waktu yang sama.

Kepribadian mereka sangat berbeda. Livia suka mencari muka, dulu sering mendekati Shelly, tapi Shelly selalu bersikap dingin.

Sebaliknya, dia lebih menyukai Tania yang pekerja keras dan tulus.

Tidak lama kemudian, Tania membalas dengan emotikon, “OK”.

Karena masih banyak urusan cabang perusahaan yang harus ditangani, Shelly mulai bekerja.

Tanpa terasa, waktu sudah lewat tengah hari.

Pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka, Tania berlari masuk dengan wajah penuh rasa bersalah.

“Kak Shelly, Pak Jeffry sudah pergi makan siang di lantai enam bersama Nona Elora. Waktu dia selesai rapat, aku kebetulan tidak di tempat, jadi tidak melihatnya.”

Shelly menutup laptopnya, memasukkannya ke dalam tas, lalu berdiri.

“Tidak apa-apa, aku masih sempat ke sana sekarang.”

“Maaf ya, Kak Shelly, aku benar-benar tidak memperhatikan kapan Pak Jeffry kembali.”

Shelly tidak menyalahkannya.

Dia juga terlalu fokus bekerja hingga lupa bertanya.

Dia naik lift turun ke bawah. Begitu pintu lift terbuka, lift khusus presiden di seberangnya juga terbuka perlahan.

“Aku sudah menambah satu area makanan barat di restoran, kokinya didatangkan langsung dari luar negeri. Coba lihat cocok tidak dengan seleramu.”

Suara lembut Jeffry terdengar, tubuhnya tegap dalam setelan jas hitam.

Elora mengenakan sweater putih-pink dan rok kulit hitam, berdiri manja di sampingnya.

“Kalau yang ini masih tidak cocok, kamu harus ke luar negeri dan bawa langsung kokinya ke sini.”

Jeffry tersenyum tidak berdaya.

“Semua kamu yang atur aja.”

Elora tersenyum manis, lalu berjalan keluar.

Jeffry mengangkat tangannya menahan pintu lift agar Elora keluar lebih dulu.

Saat melihat Shelly berdiri di luar, senyum Elora langsung memudar.

“Pak Jeffry, bolehkah saya meminta beberapa menit waktu Anda? Ada hal yang ingin saya bicarakan.”

Shelly berjalan mendekat, menundukkan pandangan.

Dari sudut matanya, dia melihat Elora langsung merangkul lengan Jeffry.

Jeffry terdiam sejenak, lalu berkata pada Elora, “Makanan barat kalau dingin tidak enak. Kamu masuk dulu, aku segera menyusul.”

“Baik, tapi jangan lama ya,” kata Elora manja, lalu dengan enggan melepaskan tangannya dan berjalan menuju ke restoran.

“Ikut aku.”

Suara Jeffry langsung menjadi dingin. Dia berjalan menuju area istirahat.

Shelly mengikutinya.

Jeffry menyalakan sebatang rokok, lalu melirik jam di pergelangan tangannya.

“Lima menit.”

“Maaf mengganggu waktu makan Anda. Bisakah Anda segera menyetujui surat pengunduran diri saya?”

Shelly langsung ke inti pembicaraan.

Alis Jeffry sedikit berkerut. Dia pun menurunkan rokok dari bibirnya.

“Surat pengunduran diri apa?”

Shelly menatapnya.

“Yang saya titipkan lewat Maxwell hari itu.”

Baru saat itu Jeffry teringat amplop tersebut.

Dia belum sempat membacanya karena mendapat telepon mendadak dan harus ke luar negeri. Setelah kembali, dokumen itu sudah hilang dan dia pun lupa.

“Anda belum melihatnya?” Shelly mulai merasa ada yang tidak beres.

Jeffry menghembuskan asap rokok, terdiam beberapa detik.

“Alasan mengundurkan diri?”

Mata Shelly bergetar.

“Posisi sebagai manajer umum cabang tidak terlalu cocok untuk saya. Setelah setengah tahun, saya masih belum bisa beradaptasi.”

“Kalau begitu, pindah kembali.”

Jeffry hanya mengucapkan empat kata itu dengan tenang, lalu menatapnya.

“Kalau ada apa-apa, langsung bicarakan. Jangan berputar sana-sini.”

“Itu bukan maksud saya ....” Shelly panik.

Namun sebelum dia selesai bicara ….

Pintu restoran terus terbuka-tutup, bau minyak masakan menyengat keluar.

Rasa mual tiba-tiba menyerangnya.

Dia segera menutup mulut, berbalik dan masuk ke toilet di samping.

Usia kehamilannya belum sampai dua bulan, masa mualnya sedang parah.

Biasanya tidak sampai benar-benar muntah, tapi rasanya sangat tidak nyaman.

Shelly cepat-cepat menenangkan diri, lalu keluar dari toilet.

Namun Jeffry sudah tidak ada.

“Bu Shelly, kamu sudah keluar?”

Maxwell berdiri di tempat Jeffry tadi, sedang mengirim pesan.

“Aku sudah mengatur HRD untuk memindahkanmu kembali. Manfaatkan jam makan siang untuk mengambil barang dari cabang. Sore ini kamu sudah bisa mulai kerja normal.”

Jantung Shelly berdegup kencang.

Dia tidak menyangka Jeffry sudah langsung memberi perintah.

“Tunggu dulu, jangan diatur! Saya belum selesai bicara dengan Pak Jeffry!”

Dia langsung berbalik menuju restoran.

Maxwell menghentikan gerakannya sejenak.

“Pak Jeffry tidak ada di restoran. Nona Elora bilang masakan di restoran ini kurang cocok, jadi Pak Jeffry membawanya keluar untuk makan. Dan ... semuanya sudah saya atur.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 329

    Ryan melirik Wesley.Wesley kemudian menatap Chandra.Wajah Chandra yang sudah sangat jelek hingga sulit dipandang perlahan berubah karena marah.“Shelly, kamu seperti seekor anjing di sisi Jeffry ….”“Pak Chandra, sekarang aku memintamu pergi. Kalau kamu tetap tidak tahu diri, aku akan memanggil petugas keamanan.”Begitu Shelly mengatakan itu, Kepala Departemen Keamanan langsung menundukkan kepala dalam-dalam.Wesley mencibir. “Bu Shelly benar-benar berkuasa. Anda sudah membawa masalah sebesar ini kepada perusahaan, tapi sekarang tidak mengizinkan orang lain ikut campur? Jangan kira hanya karena Pak Jeffry melindungi Anda, Anda bisa bertindak sesuka hati. Pak Hansen sengaja meminta Pak Chandra datang untuk mengawasi!”“Apakah Grup Dominion sudah berganti menjadi milik Keluarga Antonius?” Shelly balik bertanya. “Kalau Pak Chandra benar-benar dikirim oleh Pak Hansen, berarti Pak Hansen sudah melewati wewenang Pak Jeffry dan mengambil keputusan sendiri. Biar aku menelepon Pak Jeffry untu

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 328

    “Apa yang perlu ditakutkan? Apapun yang terjadi, kita hadapi saja.”Shelly memberi tatapan menenangkan kepada Tania.Di sisi lain, Ryan berjalan mendekat sambil memegangi pinggangnya dan melotot ke arah Tania.“Bu Shelly, Pak Wesley dan Pak Hansen sedang menunggu Anda.”Nada bicaranya memang tidak buruk, tetapi kata-katanya jelas seperti pesuruh yang datang menyampaikan pesan.Tania memutar bola mata.Setelah beberapa hari bergaul, ketertarikannya kepada Ryan saat pertama kali bertemu hampir habis sepenuhnya.“Aku sudah memberi tahu Bu Shelly. Minggir, jangan menghalangi jalan.”Dia kembali mendorong Ryan.Ryan menegakkan tubuh dan berdiri diam di tempat.Tania mengangkat kaki, lalu menginjak punggung kaki Ryan dengan keras.“Aduh ….”Ryan kesakitan sampai memegangi kakinya sambil melompat. “Kalian wanita dari selatan benar-benar kasar dan barbar!”Tania mengawal Shelly masuk ke dalam perusahaan.Saat itu, seluruh perusahaan sedang diliputi kepanikan.Kemarin, para petinggi berkumpul u

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 327

    Kakek Yanto berbicara beberapa kalimat dengan Jeffry. Mengenai pernikahan dengan Keluarga Laurent, semuanya diserahkan kepada Jeffry untuk memutuskan sendiri.Dia kembali masuk ke dalam dan menyerahkan ponsel kepada Joycelin.“Mulai sekarang, tidak ada seorang pun yang boleh ikut campur dalam urusan Jeffry. Biar dia selesaikan sendiri.”Karena Kakek Yanto sudah bicara, Melly pun mengurungkan niatnya untuk menelepon Jeffry dan menanyainya habis-habisan.…Kota Sentara.Pengasuh bayi baru akan datang besok. Malam itu, Saryna membawa Nana kembali tidur di tempat Shelly.Menjelang tengah malam, suara Saryna terdengar dari lantai atas.“Shelly, kenapa kamu terus membolak-balikkan badan?”Suara napas Shelly yang sengaja dipelankan perlahan kembali normal.Dia duduk dan menatap ke lantai atas dengan bantuan cahaya bulan.“Entah kenapa, aku merasa tidak tenang.”“Apa yang membuatmu tidak tenang?” Saryna berdiri sambil berpegangan pada pagar, turun tanpa alas kaki, lalu langsung naik ke tempat

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 326

    Di sisi lain, Elora dan Marina saling bertukar pandang.Tidak lama kemudian, Marina berdiri. “Karena Jeffry ingin menyampaikan sesuatu secara pribadi, biarkan mereka bicara. Aku ingin bicara beberapa hal denganmu.”Dia berjalan ke sisi Melly dan mendorongnya agar duduk di sofa.Melly menepis tangannya. “Bukankah semua yang perlu kita bicarakan sudah selesai tadi?”“Jangan marah. Tadi aku bicara terlalu terbawa emosi. Jangan sampai hubungan kita rusak hanya karena masalah anak-anak muda. Bagaimanapun, selain Jeffry, kamu masih punya Joycelin. Sedangkan aku hanya punya satu anak perempuan, Elora. Aku menyayanginya, jadi jangan marah kepadaku ….”Marina kembali mulai membujuknya dengan kata-kata manis....Di sisi lain, Vincent mengikuti Maxwell keluar dari ruang tamu.Maxwell menyampaikan perkataan Jeffry apa adanya, lalu memberikan beberapa kartu nama kepada Vincent.“Maksudnya apa?” Vincent tidak mengerti.“Pak Vincent, kalau Anda tidak mengerti, Anda bisa bertanya kepada Nona Elora.”

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 325

    Begitu Marina selesai bicara, Elora langsung menggeleng kuat ke arahnya.Semua yang dilakukannya selama ini hanya demi menikah dengan Jeffry.Bagaimana boleh pernikahan mereka dibatalkan!Marina memanfaatkan posisinya yang sedang memeluk Elora untuk menutupi gerakannya.“Sembrono!”Melly benar-benar marah. “Kamu kira Keluarga Anderson nggak bisa mendapatkan menantu yang lebih baik? Setelah berurusan dengan Keluarga Laurent, satu demi satu masalah terus bermunculan. Pernikahan ini sudah diketahui semua orang, sekarang kalian malah bilang nggak jadi menikah? Marina Kusuma, sebaiknya kamu cari tahu masalah Elora sendiri. Jangan menggunakan ancaman ini untuk menekanku!”Joycelin terkejut mendengar bentakan mereka. Tubuhnya tersentak dan dia segera mendekat ke sisi Nenek Mina.Nenek Mina memejamkan mata. Entah karena tidak ingin melihat keributan itu atau karena tidak sanggup menyaksikan mereka saling bermusuhan.“Pernikahan sampai menjadi kacau seperti ini hanya akan menjadi bahan tertawaa

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 324

    “Ini ….”Maxwell merasa sangat serba salah. “Ini urusan keluarga Anda. Kalau saya ikut campur, apa nggak kurang pantas?”Maksud Jeffry sebenarnya bisa disampaikan melalui Keluarga Anderson.Sebagai seorang bawahan, jika Maxwell harus menyampaikan maksud Jeffry di hadapan anggota Keluarga Anderson, rasanya benar-benar ….“Kalau aku suruh pergi, pergi saja.” Bibir tipis Jeffry sedikit terbuka. “Dia nggak akan mempersulitmu.”Maxwell hanya bisa menurut, lalu menutup telepon.Jeffry memasukkan ponselnya kembali ke saku. Seolah teringat sesuatu, dia berhenti dan menoleh ke arah Herman.Herman mengikuti di belakangnya sambil menarik satu koper di masing-masing tangan. “Berikan ponselmu.”Begitu Jeffry berkata demikian, Herman langsung meletakkan kedua koper, mengeluarkan ponsel dari saku, lalu menyerahkannya.Jeffry mengambil ponsel itu, mencabut kartu SIM di dalam, membuangnya, lalu memasukkan kartu SIM baru.“Di dalam ini ada nomorku. Kalau ada masalah, hubungi aku. Sekarang pergi dari sin

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 205

    “Karena kamu yang pandai mengungkapkan perasaan, urusan itu biar kamu saja yang mengurusnya.”Melihat dirinya tidak berhasil membujuk Melly, Nenek Mina pun berbalik sambil memanggil Kakek Yanto.“Ayo, kita naik dan tidur.”Kakek Yanto merapikan satu per satu bidak gomoku di papan, lalu bangkit mengi

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 161

    Jeffry berdiri tegak di sana.Meski tinggi badan hampir sama, aura kuat yang dipancarkan Jeffry menekan Kevin habis-habisan.“Asal Pak Hartono mau, aku nggak keberatan.”Mereka pun masuk ke ruang VIP yang sudah Jeffry pesan.Meja persegi untuk enam orang.Shelly duduk di sebelah Jeffry, sementara Ke

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 92

    “Baiklah.” Suara Harrison kembali santai. “Kali ini, aku benar-benar percaya padamu.”Shelly tertegun. “Maksudmu?”Harrison terkekeh ringan. “Maksudku, aku nggak akan membayarkan 4 miliar untuk penalti kontrakmu, tapi ….”Klik.Shelly langsung menutup telepon dan melempar ponselnya ke samping.Di wa

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 72

    “Bagaimana kalau aku yang tinggal di sini saja?”Shelly masih mencoba menawar. “Aku juga belum sembuh total, kalau sampai .…”Tatapan Jeffry tajam dan menekan, seolah membakar. “Tidak ada ‘kalau sampai’.”Nada suaranya tidak memberi ruang untuk dibantah. Di antara alisnya bahkan tampak sedikit amara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status