Mag-log inLily duduk di kursi rotan milik Danu. Ia terlihat kosong, memainkan kakinya yang menggantung sejak tadi dan ia tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini.“Dek, kamu belum tidur?” Ainun menegurnya, karena memang hari sudah cukup malam.“Belum bisa tidur, Kak. Tadi sore, kak Susan traktir kopi. Sekalian tunggu Pakde, deh.” Lily menjawab tanpa menoleh.Ainun yang membawa susu itu lantas duduk di sebelahnya, dan ia tawarkan susu tersebut. Tapi, Lily menggeleng. Ainun sampai bingung, apa yang sebenarnya Lily fikirkan saat ini.“Lily kangen papa?” tanyanya langsung.“Salah satunya iya, tapi tidak sepenuhnya.”“Lily masih penasaran dengan wanita kemarin, ya?” Ainun membahasnya lagi, dan kali ini Lily menganggukkan kepala.Ainun menarik napas panjang dan kemudian meneguk susu di tangannya. “Ya, kakak tahu benar bagaimana rindunya kamu terhadap ibu yang nyaris tidak pernah kamu temui. Yang bahkan, kamu sendiri lupa dengan wajahnya.”“Iya, Kak. Dan sayangnya, kenapa pakde sangat setia sama ay
Danu tidak menyiakan kesempatan yang ada. Ia sudah menyerang leher Fatma dengan kecpupan kecupannnya yang menggoda, mencecap leher jenjang itu hingga nyaris meninggalkan warna.Kedua tangan pria itu sudah sejak tadi merayap di daerah favoritnya, menarik dua delima yang sejak tadi mengajaknya berduel.“Pak, langsung aja, yuk. Fatma udah nggak tahan!” rengek wanita itu padanya.“Kamu masih perawan, kan? Tidak bisa buru buru, nanti kamu akan sakit.” Danu berbisik tepat di telinga Fatma.Fatma mengangguk. Danu lebih paham, dan mau tak mau ia harus turuti apa yang ia katakan sesuai dengan pengalaman.Fatma ingat dengan berbagai cerita dari para sahabatnya, yang bahkan sampai tak bisa jalan. Apalagi, Fatma sudah melihat si Jawara berotot milik Danu yang super tebal dan panjang itu.Danu sibuk sekali menyesapi delima mengkal milik Fatma. Ia mainkan dengan lidah hingga membuat Fatma gelonjotan tak karuan dan sangat menikmati permainannya. Yang satu dihisap, dan yang satu dipelintir dengan j
“Loh, Ibu kenapa?” tanya Fatma yang dengan cepat datang dan menghampiri Diana di sofa.Ia cepat ikut sedih, ai raih tangan Diana dan ia genggam dengan erat sebagai bentuk dari empati sesama wanita. Entah kenapa, hati Fatma ikut pilu meski ia tak tahu masalahnya apa.“E-nggak papa, Bu Fatma. Maaf, saya tadi kecolok kuku sendiri sampai keluar airmata sangking sakitnya.”Mau percaya, tapi Fatma tidak bisa percaya begitu saja. Ia tatap Danu, tapi pria itu tak memberi konfirmasi apapun selain mengedikan bahu pura pura tak tahu.Tapi, Fatma juga tidak memiliki feeling buruk terhadap Danu. Apalagi tentang hal yang mungkin kurang baik diantara keduanya.“Yasudah, kalau gitu. Fatma dan Pak Danu, pulang dulu ya, Bu? Besok, kita ketemu lagi. Mungkin juga, akan lebih sering ketemu nanti, kalau proyek sudah deal.” Fatma tersenyum manis sekali.Diana mengangguk. Ia tak antar mereka ke depan, dan diwakilkan oleh asistennya.Tiba di mobil, Fatma rebut kunci yang ada di tangan Danu. “Biar saya yang n
Obrolan mulai serius pada pekerjaan, dan Danu juga terlihat fokus dengan semua presentasi serta ajakan kerjasama dari tim Maju Jaya.“Bagaimana, apakah kalian bisa pasok barang dari Pabrik? Kami tidak minta diskon terlalu besar yang mungkin akan memberatkan kalian. Beri saja harga normal.” Diana memulai pembicaraan.“Untuk ini, masih harus kami pertimbangkan, Bu. Tawarannya sangat menarik. Apalagi jika sudah mulai, Ibu pasti juga akan promokan barang kami untuk jangkauan yang lebih luas.” Danu menjawab dengan sangat bijak, karena semua keputusan itu bukan hal yang bisa diambil secara tiba tiba.“Oke, that’s right. Jadi, kira kira kapan, bisa kita ketemu lagi?” tanya wanita itu padanya.“Kita atur lagi ya, Bu? Pak Danu kita ini, termasuk salah satu orang kepercayaan Om Bondan. Jadi, memang beliau sedikit sibuk.” Fatma menyahut.“Wah, hebat. Padahal, yang saya dengar, Pak Danu belum lama masuk ke pabrik. Rupanya, sudah berhasil mencuri perhatian bos.” Diana mengangkat cangkir teh, memi
Danu berangkat lagi ke pabrik, dan di sana Fatma sudah menunggu dengan dressnya setelan yang sangat rapi serta anggun. Kecantikannya jelas sudah tidak diragukan lagi.“Bu Fatma sudah siap? Saya kelamaan, ya?” tanya Danu, tak enak hati.“Enggak, Pak. Saya aja kayaknya, yang nggak sabaran buat pergi sama Bapak.” Gadis itu langsung menggandeng tangannya dan pergi ke mobil pak Bondan yang di pabrik.“Tapi, nanti mampir ke POM dulu, ya? Bensinnya abis,” pinta Fatma.Danu mengangguk dan segera nyalakan mobil itu ke satu persatu tempat yang mereka tuju.Pertama adalah pom bensin. Sedang tidak terlalu ramai, dan Danu mendapat posisi paling depan saat kosong. Ia turun, sementara Fatma duduk anteng di tempatnya sembari memesan.“Full ya, Mbak. Ini uangnya,” ucap gadis itu, memberikan beberapa lembar merah pada petugas yang sedang bekerja.Danu membuka tangki, dan ia berdiri dengan santai sandaran mobil mewah itu. Hingga beberapa detik kemudian, ia mendengar suara familiar yang memanggilnya.“Pa
“Ketemuan sama orang dari PT Maju Jaya, Pak. Ada Bu Diana dan suaminya, pak Jaya Pratama.”Deg!Degup jantung Danu mendadak menguat ketika mendengar nama itu disebut, dan ia memejamkan mata dengan rasa kecewa.Ini memang takdir, ia akui itu. Tapi, bisakah datang tidak beruntun seperti ini dan ia selesaikan masalahnya satu persatu dulu. Ia lelah.“Pak, kok diem?” tanya Fatma yang menaruh tangan di pahanya.“Ya, Bu? Maju Jaya, ya? Memangnya, dia bergerak di bidang apa?” tanya Danu padanya.“Oh, mereka itu bidang Developer. Kabarnya sekarang mereka sedang membangun sebuah perumahan di sebuah perkampungan. Sudah banyak yang boking malah. Jadi, mereka mau kerjasama sama kita buat isi bahan.”Danu tidak bisa abai. Kerjasama ini adalah jangka panjang dan mereka akan sering bertemu setelahnya. Tidak mungkin juga ditolak hanya karena kepentingan pribadi Danu, karena ini sangat berpengaruh pada pabrik keramik yang ia masuki.“Jam… berapa? Sore lagi, kah?” tanyanya dengan nada ragu.Fatma mengan
Ting!Ting!Suara notifikasi pesan di Hp itu membangunkan Danu yang pada akhirnya bisa tidur jam tiga pagi. Saat dicek, ia terkejut karena banyak sekali isi chat di grup kost Melati.Rupanya kabar kemarin sudah cepat menyebar di antara mereka semua hingga menjadi hot topic sejak semalam. Tampak jug
“Pakde, Lily tahu bahwa ini berat. Pakde sabar, ya? Pasti semua akan menemukan titik terang, dan Pakde lebih tahu bagaimana seharusnya nanti.” Lily terus berusaha menghiburnya agar tetap tenang, walau ia tahu bahwa sebenarnya itu sangatlah sulit.Danu hanya diam, meratapi nasibnya yang malang.Lily
Danu mengangkat kedua tangannya saat itu, berusaha untuk tak balik memeluk Amy yang tengah ketakutan. Ia menarik napas beberapa kali sembari terus melirik kanan kiri.Entah bagaimana Danu harus menyikapi hal ini. Harusnya ia sedih, tapi justru mendapat rejeki nomplok. Bergemuruh di hati Danu. Takut
“Pakde, kami berangkat kerja dulu, ya!” Dua gadis cantik lewat dengan motornya, berboncengan, yang seketika membuat suasana warkop jadi heboh.Silvy dan Amidya. Gadis manis itu sama-sama merantau cukup jauh dari Daerah asal, dan orang tua mereka bahkan sempat datangi Danu untuk menitipkan keduanya







