LOGIN"Dulu kau membuangku seperti sampah. Kini, aku kembali untuk mengambil takhtamu." Dua puluh lima tahun lalu, Mirna Kusuma diusir dengan keji oleh keluarga konglomerat Winata. Hasil tes DNA kandungannya dirobek dan dibuang ke kubangan air di bawah guyuran hujan lebat. Antoni Winata, sang ayah biologis, memilih memalingkan wajah demi harta dan takhta. Kini, benih yang terlantar itu telah tumbuh menjadi pria sedingin es yang mematikan—Harlan Kusuma. Bukannya datang mengemis pengakuan, Harlan menyusup ke dalam Winata Group sebagai seorang satpam biasa. Namun, berkat ketangguhan dan kecerdasannya, dia dengan cepat merangkak naik menjadi bodyguard kepercayaan Brian Winata, putra sah Antoni yang arogan tapi bodoh. Di balik seragamnya, Harlan adalah dalang yang lihai. Dia menjadikan Brian boneka pribadinya, memanipulasi setiap keputusan, dan perlahan menghancurkan dinasti Winata dari dalam
View More“Lihat! Anak haram sok-sokan mau jadi pahlawan!” pekik seorang pedagang buah lain yang baru saja menampol seorang bocah pasar yang kedapatan mencuri buah, sekadar untuk makan.
“Dia hanya mengambil satu! Kalian tidak perlu sampai menghakiminya seperti itu! Kalau perlu kalian tinggal bawa dia ke kantor kepolisian!” pekik remaja pemberani bernama Harlan Kusuma, yang saat itu lebih banyak menghabiskan waktu di pasar membantu tetangganya jualan buah dan sayur.
“Sekali pencuri, tetaplah pencuri! Tak ada alasan!” pekik pedagang bernama Jaka.
“Dia mungkin berkomplot...” bisik kawan Jaka.
“Benar juga, bisa saja kau berkomplot dengan bocah itu, karena kau iri dengan dagangan buahku! Mengaku saja, anak haram keparat!
“Sudah aku bilang, aku bukan anak haram.”
Lalu semua orang yang mendukung Jaka nampak terkekeh-kekeh.
“Kau pikir orang-orang di pasar sini tidak tahu bagaimana kau lahir? Ibumu itu hanya seorang lonte! Serahkan bocah itu padaku...”
“Ya, serahkan dia!” pekik orang-orang di sekitar Jaka, yang sebagian besar pedagang lain.
“Jaka... tutup mulutmu... sekali kau mengatakan hal macam-macam soal ibuku, aku benar-benar akan ...”
“Akan apa, bocah haram! Itulah kenyataannya!” katanya dengan kekehan sinis. “Kenyataannya ibumu tak lebih dari sekadar wanita murahan!”
Tawa meledek pun mengepung Harlan. Maka makin mendidihlah Harlan.
“Tak usah dilawan, Bang,” gumam bocah bernama Robi yang kini hanya berlindung di balik tubuh jangkung Harlan.
“Tidak... sebaiknya kau larilah.”
“Tapi.”
“Lari!”
“Tapi, nanti Abang dikeroyok!”
Harlan mendorong Robi sampai tersungkur ke kubangan.
“Lari!”
“Sialan, dua bocah haram akan saling melarikan diri.”
“Tidak! Aku tidak akan melarikan diri... ayo! Sebaiknya kau lawan aku, Jaka! Mau mendapatkan bocah itu, kau lawan aku dulu!” pekik Harlan nyalang kepada Jaka.
“Bajingan juga bocah ini...”
“Satu lawan satu! Atau kau memang banci.”
“Bajingan! Aku terima tantanganmu.”
Dan begitulah, di sore yang ribut itu selanjutnya Harlan, yang sebetulnya terpaut jauh usianya dengan Jaka, lantas menerima terjangan Jaka. Dengan beringas lelaki itu menghantam Harlan bertubi-tubi, tanpa peduli yang dihadapinya lebih muda darinya.
Meski awalnya Harlan bisa menghalaunya dan memberikan beberapa tampolan keras ke pipi dan hidung Jaka, namun si Jaka justru melanggar aturan.
Tiga kawannya tanpa merasa malu lantas ikut menerjang Harlan, dan seketika itu juga lelaki yang dianggap anak haram itu pun mesti menghadapi banyak orang.
“Bajingaaaan!”
“Mampus kau anak haram!”
“Aku bukan anak haraaam!”
Enam belas tahun lalu, petir menyambar langit Jakarta, membelah malam yang pekat saat hujan deras mengguyur gerbang besi megah kediaman keluarga Winata yang serupa istana.
Di besi pagar yang dingin, Mirna Kusuma berdiri dengan tubuh gemetar, kedua tangannya mendekap erat perutnya yang membuncit besar.
Dengan sisa tenaga yang ada, dia mencengkeram selembar amplop putih berisi hasil tes DNA, bukti otentik yang menjadi harapan terakhirnya.
"Antoni! Keluar, Antoni! Ini anakmu! Kau sudah janji! Kita sudah melalui hubungan yang lama hampir tujuh tahun ini! Keluar!" teriak Mirna, suaranya parau menembus deru angin malam yang kencang.
Gerbang besar itu akhirnya berderit terbuka, namun bukan sosok lelaki yang dinantinya yang muncul dari balik payung hitam besar.
Rinka Septiani berdiri dengan anggun di bawah lindungan payung yang dipegang pelayan, menatap Mirna dengan pandangan seolah melihat sebungkus keresek sampah yang mengotori halaman rumahnya.
"Berani sekali wanita murahan seperti kau mengotori gerbang rumahku," desis Rinka, bibirnya yang merah menyala melengkung sinis.
"Aku tidak ada urusan denganmu, Rinka! Aku ingin bertemu Antoni, dia harus melihat hasil tes ini!" Mirna menyodorkan amplop putih yang mulai basah itu dengan tangan gemetar.
Rinka merebut amplop itu dengan kasar, membukanya sekilas, lalu tertawa mengejek sebelum merobek kertas di dalamnya menjadi serpihan kecil.
"Hasil tes palsu ini tidak akan mengubah apa pun, jalang," ucap Rinka dingin sambil melempar serpihan kertas itu ke dalam genangan air berlumpur di bawah kaki mereka. “Kau tentu sudah tahu keluarga Mas Anton tidak merestui kalian, karena kau hanyalah anak seorang mantan narapidana! Mau ditaruh mana muka keluarga Winata, hah?!”
Mirna terisak, menjatuhkan lututnya di atas aspal yang dingin demi memungut potongan kertas yang kini hancur menyatu dengan tanah.
Dari balik jendela kaca besar di lantai dua, Antoni Winata berdiri mematung menyaksikan kekejaman yang menimpa wanita yang pernah amat dicintainya.
Padahal ia tahu, Mirna adalah kekasih yang menemani hari-hari sulitnya dulu, wanita yang telah dia janjikan sebuah pernikahan suci di masa depan.
Namun, ketika roda bisnis keluarganya terancam runtuh, Antoni tidak punya pilihan selain tunduk pada perintah sang ayah untuk menikahi Rinka, putri dari keluarga konglomerat yang setara.
Mirna mendongak, matanya yang sembap menangkap bayangan Antoni di lantai atas, berharap lelaki itu akan berlari turun dan melindunginya.
Namun, Antoni justru memalingkan wajahnya dengan dingin, lalu menarik tirai tebal untuk menutup rapat pandangannya dari kenyataan pahit di luar sana.
Hati Mirna patah seketika, menyadari bahwa janji manis yang pernah diucapkan lelaki itu telah menguap bersama ambisi kekayaan. Ya, janji manis yang terucap ketika ia memberikan benih dalam perutnya di malam yang dingin, ketika keduanya masyuk dalam panasnya asmara di sebuah kamar hotel murah.
"Pelayan, ambil air selang dan siram wanita ini, bersihkan gerbang ini dari kotoran! Dasar wanita tidak tahu diuntung! " perintah Rinka kejam sebelum berbalik masuk ke dalam kehangatan rumahnya.
“Padahal kami sudah menawarkan uang padamu, tapi kau malah menolak dan lancang meminta Mas Antoni mengakui anakmu! Ingat, Mas Antoni sudah jadi suami sahku! Seenaknya datang mengatakan benih di perutmu anaknya!” lanjut Rinkar terus mencerocos.
Semburan air dingin mengenai tubuh Mirna, mengusirnya dari pelataran mewah itu tanpa menyisakan sedikit pun rasa kemanusiaan.
Malam itu menjadi titik awal dari penderitaan panjang yang harus dijalani Mirna di sebuah rumah kontrakan sempit di pinggiran kota.
Ketika waktu persalinan tiba, dia harus merangkak sendirian mencari bantuan menuju rumah sakit daerah dengan sisa uang yang tidak seberapa.
"Ibu harus segera dioperasi, tetapi administrasinya harus dilunasi terlebih dahulu," ujar perawat dengan wajah datar malam itu.
Mirna terpaksa memohon dan menandatangani surat utang berbobot besar demi membiarkan putranya, Harlan Kusuma, melihat dunia untuk pertama kali.
Tahun-tahun berikutnya adalah perjuangan fisik dan mental yang menguras habis masa muda Mirna yang malang.
Dia bekerja serabutan dari pagi hingga malam, mencuci baju dari rumah ke rumah demi menutup utang rumah sakit dan membeli susu formula.
Meski dikhianati, adakalanya Mirna berjalan jauh hanya untuk berdiri di seberang jalan, mengintip rumah mewah Antoni yang kini semakin megah.
Dia juga sering memaksakan diri membeli kebutuhan pokok di toko retail milik Winata Group, sekadar untuk meyakinkan dirinya bahwa ayah dari anaknya adalah orang yang berkuasa.
“Ingat... suatu waktu nanti kamu harus tahu siapa ayahmu...” katanya pada Harlan yang masih bayi.
Suatu sore, usai keributan di pasar, Harlan pulang ke kontrakan dengan sudut bibir yang berdarah dan baju kaosnya yang robek di bagian bahu.
Mirna yang sedang melipat pakaian tetangga langsung menjatuhkan pekerjaannya, berlari memeluk putranya dengan cemas.
"Astaga, Harlan! Kamu berkelahi lagi? Kenapa wajahmu sampai seperti ini, Nak?" tanya Mirna dengan mata berkaca-kaca.
Harlan mengepalkan tinjunya erat-erat, menolak untuk menangis meski rasa sakit menjalar di sekujur tubuh kecilnya.
"Mereka bilang aku anak haram, Bu. Mereka bilang Ibu bekerja di tempat tidak benar karena kita tidak punya uang," ujar Harlan dengan suara bergetar menahan amarah.
Mendengar penuturan itu, air mata yang sejak lama ditahan Mirna akhirnya tumpah membasahi bahu putranya.
Dia menangkup wajah Harlan, menatap lurus ke dalam bola mata bocah itu yang memancarkan api kemarahan yang besar, sekaligus pendar basah yang tak lagi bisa tertahankan.
"Dengarkan Ibu, Harlan. Kamu bukan anak haram, dan Ibu tidak pernah melakukan hal menjijikkan seperti yang mereka katakan," bisik Mirna dengan suara tegas. “Ibu masih punya harga diri! Masih punya keterampilan, dan tidak akan pernah jadi wanita malas yang hanya mau terima uang panas dari bisnis buruk seperti itu!”
Harlan menatap ibunya dengan bingung, menuntut penjelasan yang selama bertahun-tahun ini selalu disembunyikan darinya.
Mirna bangkit, berjalan menuju lemari kayu tua yang lapuk, lalu mengambil sebuah kotak kaleng kecil yang tersembunyi di bawah tumpukan baju.
Dari dalam kotak itu, dia mengeluarkan selembar foto usang Antoni Winata dan sisa robekan kertas DNA yang warnanya sudah menguning.
"Lelaki di foto ini adalah ayah kandungmu, namanya Antoni Winata, pemilik dari perusahaan raksasa yang logonya sering kau lihat di kota," ucap Mirna.
Harlan menerima foto itu, mengamati wajah pria berjas rapi yang tampak begitu asing namun memiliki garis rahang yang mirip dengannya.
"Jika dia kaya, kenapa dia membiarkan kita hidup seperti tikus di tempat ini?" tanya Harlan, nadanya mendadak berubah sedingin es.
Mirna mengelus rambut Harlan dengan lembut, menceritakan bagaimana malam jahanam itu merenggut seluruh hak dan harga diri mereka sebagai manusia.
Dia menceritakan tentang Rinka yang merobek bukti darah dagingnya, dan tentang Antoni yang memilih memalingkan wajah demi mempertahankan takhta bisnisnya.
"Jangan pernah mengemis pada mereka, Harlan. Ibu memberi tahu ini agar kau tahu dari mana darahmu berasal," tutur Mirna dengan sisa ketegarannya.
Harlan tidak menjawab, tetapi jemari kecilnya mencengkeram foto Antoni hingga kertas usang itu berkerut parah di tangan kuatnya.
Di dalam hati bocah yang baru beranjak remaja itu, sebuah benih dendam yang kelam telah tertanam dan mulai berakar dengan sangat kuat.
Dia bersumpah, suatu hari nanti dia akan menginjak-injak kesombongan keluarga Winata dan memaksa sang ayah berlutut di hadapan ibunya.
Harlan memutus sambungan radio taktisnya tanpa memedulikan tatapan menyelidik dari Agnes Tanujaya yang masih berdiri di hadapannya. Detak jantungnya yang biasa konstan kini berpacu liar setelah mendengar jeritan panik Randy tentang kondisi Clara yang terjebak di dalam ruang bawah tanah.Pria itu berbalik dengan gerakan kilat, mengabaikan dokumen pembatalan penggusuran yang sempat disodorkan Agnes ke arah dadanya beberapa detik lalu.Dia berlari menyusuri koridor belakang gedung komisi wilayah, menembus pintu darurat dengan kecepatan yang tidak menyisakan ruang untuk basa-basi."Harlan! Kau mau ke mana?! Urusan kita belum selesai!" teriak Agnes dari arah belakang, namun suaranya langsung teredam oleh dentum pintu besi yang tertutup rapat.“Telat! Preman-preman itu datang mau membakar toko!”“Apa?!”Harlan melompati pagar pembatas parkir VIP, langsung menaiki motor sport hitamnya dan menyalakan mesin hingga raungannya menggema membelah pelataran gedung.Dia memutar tuas gas secara maksi
Harlan memacu motor sport hitamnya membelah rintik hujan malam menuju kawasan pertokoan tua di sudut kota, tempat toko cokelat milik Clara berdiri.Laporan kilat dari informan jalanan mengenai pergerakan sekelompok preman bayaran di area tersebut memaksa pria itu melupakan sejenak jadwal tugasnya sebagai pengawal pribadi Harlan.Suara teriakan kasar dan benturan benda keras langsung menyambut kedatangan Harlan begitu dia menghentikan motornya di pelataran parkir yang gelap.Di dalam toko, beberapa pria berbadan kekar berpakaian preman tampak mengacak-acak etalase kaca dan melempar kursi-kursi kayu ke lantai dengan brutal."Keluar dari tempat ini sekarang juga sebelum kami membakar seluruh bangunan sialan ini!" bentak salah satu preman berambut cepak sambil mengacungkan balok kayu ke arah para pegawai.Clara berdiri di barisan paling depan dengan tubuh gemetar, mencoba melindungi seorang pegawai junior yang sudah menangis ketakutan di balik meja kasir.Gadis itu menatap papan pengumuma
Matahari pagi belum sepenuhnya tinggi ketika mobil sport yang dikemudikan Brian memasuki gerbang besi tempa raksasa menuju kawasan mansion utama keluarga Winata.Harlan duduk di kursi penumpang dengan pandangan lurus ke depan, memperhatikan deretan pohon palem raja yang berjejer rapi menyambut kedatangan sang putra mahkota."Mulai hari ini kau tinggal di paviliun belakang, Harlan. Aku sudah menyuruh pelayan menyiapkan kamar terbaik untukmu," kata Brian sambil memarkirkan kendaraannya tepat di depan pilar-pilar beton bergaya Eropa klasik.Harlan mengangguk tenang seraya melangkah turun, merapikan setelan jas hitam barunya yang pas membungkus tubuh tegapnya. Begitu dia melangkah melewati pintu utama yang dilapisi ukiran emas mewah, memori masa kecil tentang tangisan ibunya langsung berputar liar di kepala.Langkah kaki mereka menggema di atas lantai marmer impor yang berkilau, menuju ruang keluarga utama yang luasnya menyamai lobi hotel berbintang.Di sana, Rinka sedang duduk di sofa be
Mobil sport itu akhirnya berhenti di depan sebuah klinik 24 jam yang sepi di pinggiran kota. Dokter jaga dengan cekatan membersihkan luka di pelipis Harlan, memberikan beberapa jahitan tanpa banyak bertanya melihat setelan seragam satpam yang dikenakannya.Brian setia menunggu di ruang tunggu, mondar-mandir dengan gelisah seolah dirinya sendiri yang sedang berada di ambang maut. Begitu Harlan keluar dengan perban menempel di pelipisnya, Brian langsung menghampiri dan mencengkeram kedua bahu pria itu dengan erat."Harlan, aku tidak bisa membiarkanmu kembali ke pos satpam lobi bawah setelah semua yang terjadi malam ini," ujar Brian, matanya memancarkan kecemasan sekaligus ambisi besar."Saya hanya menjalankan tugas saya, Pak Brian, tidak perlu merasa terbebani," sahut Harlan, suaranya tetap datar walau kepalanya berdenyut menyengat."Tidak, dengarkan aku dulu. Mulai besok pagi, kau resmi menjadi kepala pengawal pribadiku dengan gaji lima kali lipat dari apa yang diberikan Winata Group u












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.