LOGINSetelah Luna mematikan sambungan telepon, Harvey segera bertanya, “Ada apa? Mengapa kamu menyebut nama Jordan?” Tadi, Harvey sempat mendengar Luna menyebut nama Jordan Reed dalam panggilannya bersama Clara.
Luna masih terdiam dengan tatapan kosong. Maniknya bergerak gelisah.
“Clara bilang, aku … harus bertemu dengannya … besok.”
Harvey menghela napas. Dia bisa menebak jika perusahan Jordan ingin bekerja sama dengan Aura Tech. “Kamu tidak perlu memaksakan diri kalau tidak sanggup menghadapi pria itu, Luna. Mari kita kembali dan aku akan menjelaskan situasinya kepada Clara.”
Luna menatap Harvey beberapa detik sebelum akhirnya menggeleng pelan. “Tidak. Aku akan melakukannya.”
Clara sudah banyak membantu Luna selama ini, menerima dirinya dan menemaninya beradaptasi dengan keluarga kaya lama yang sangat berbeda dengan keluarganya di sini. Hanya karena ketakutan dan trauma masa lalunya, Luna harus berbalik pergi dari sini setelah semua yang sudah mereka lalui?
Tidak. Luna tak mau mengecewakan sahabatnya.
Harvey kembali menghela kecil. “Kalau kamu bersikeras, aku akan membantumu. Jangan menunjukkan ekspresi seperti ini di depan Jordan.”
Lalu berikutnya di malam ini, Harvey membantu Luna berlatih supaya dapat menunjukkan citra profesional di depan klien, tanpa menunjukkan perasaan apa pun.
Dengan tekad Luna, dia pada akhirnya dapat menunjukkan sikap yang lebih stabil … setidaknya selama latihan.
Namun, sesampainya di gedung kantor Reed Group pada keesokan harinya, debaran kuat jantung Luna sampai terdengar di telinganya. Tangannya gemetar tatkala elevator membawa dirinya naik ke kantor Jordan.
Luna menarik napas dan menghela berulang-ulang untuk menenangkan diri dan mengumpulkan keyakinan. Dia bisa melakukannya, pikirnya berulang kali.
DING!
Suara pintu elevator yang terbuka justru menambah kegugupan. Seorang pria menyambut Luna dengan senyuman … namun, senyuman itu menghilang dalam sekejap.
Liam mengerutkan kening menatap wanita cantik familier di depannya yang auranya berbeda.
Luna Carter?
Mustahil ….
Liam melirik arloji di pergelangan tangannya. Ini adalah waktu temu antara Jordan dengan pimpinan Aura Tech, tetapi mengapa wanita ini yang muncul?
Atau jangan-jangan …
Setelah empat tahun menghilang, kini Luna muncul sebagai pimpinan Aura Tech? Tetapi bagaimana … bisa?
Keterkejutan Liam tidak berlangsung lama, karena suara ponsel menyadarkan dirinya.
“Maaf, Nona, saya harus turun ke bawah sekarang. Ada masalah kecil yang harus saya tangani. Kantor Tuan Reed ada di pintu paling ujung.” Liam menunjukkan kantor Jordan dengan sopan, kemudian pamit undur diri.
Sebelum menutup pintu elevator, Liam sekali lagi memandang punggung Luna yang berjalan menuju ruang kerja Jordan.
Koridor sepi yang menghubungkan kantor Jordan tampak lebih panjang dari yang sebenarnya. Langkah Luna terasa begitu berat hingga akhirnya berhenti sepenuhnya.
Mendadak, pintu kantor Jordan terbuka. Jordan keluar sambil menerima panggilan telepon, memunggungi Luna.
Jarak mereka hanya selisih dua meter, membuat dada Luna terasa semakin sesak. Dia bahkan tanpa sadar menahan napas agar Jordan tidak menyadari keberadaannya.
Semua persiapan mental Luna runtuh hanya melihat punggung Jordan. Kenangan malam itu seperti momok yang tidak bisa terlepas dari benaknya, menghantui pikirannya.
Tanpa sadar kakinya berbalik pelan, keinginan meninggalkan tempat itu terasa lebih besar daripada melawan ketakutannya. Namun, sebelum sempat dia melarikan diri, Luna mendengar suara sesuatu yang jatuh.
Karena terkejut, Luna refleks berbalik. Melihat di hadapannya, mata Luna melebar dan jantungnya berdetak keras.
Jordan jatuh tidak sadarkan diri.
Dia ragu mendekati Jordan, masih takut kepada pria itu. Namun, melihat pria itu tergeletak, rasa takutnya kini bercampur dengan kebingungan.
“J-Jordan …” tetapi menyebut nama itu saja sudah membuat lidahnya terasa kelu.
Setelah beberapa detik berlalu yang terasa seperti berjam-jam itu, Jordan masih dalam posisi yang sama, tergeletak miring dengan posisi yang tak nyaman.
Akhirnya Luna mendekat pelan, melangkah dengan kaki gemetar. Tangannya yang terasa dingin mengguncang lengan Jordan, tapi Jordan bergeming.
Apa yang terjadi dengannya? Pria yang selalu sempurna itu, kini tampak tak berdaya.
Tanpa memikirkan ambulans, Luna langsung bertindak berdasarkan insting untuk menyeret pria itu masuk. Dia mencengkeram lengan Jordan dan menariknya dengan sekuat tenaga. Namun, erangan pelan dari bibir Jordan menghentikan gerakannya seketika.
Hawa dingin menjalar dari tangan mereka yang bersentuhan, hingga membawa satu perintah yang jelas di benaknya. Luna melepaskan Jordan dan berbalik, menjauh sebelum pria itu membuka matanya.
Sampai di lantai satu, Luna berpapasan dengan pria yang tadi menyambutnya di depan elevator lantai ruangan Jordan. “Tuan … Tuan Reed pingsan … sebaiknya saya datang lagi jika keadaannya sudah membaik.”
Tanpa menunggu jawaban, Luna berjalan cepat meninggalkan gedung kantor Reed Group. Udara panas di luar justru membuat Luna bisa bernapas lega, rasa sesak di dalam dadanya berangsur-angsur menghilang.
Dia sekilas melihat dinding kaca gedung Reed Group sebelum pergi, melihat pria tadi itu tampak terburu-buru menekan tombol elevator.
Aroma bunga mawar putih memenuhi setiap sudut ruangan, menciptakan atmosfer yang begitu khidmat sekaligus menyesakkan. Luna berdiri di depan cermin besar setinggi langit-langit, menatap bayangannya sendiri yang hampir tidak dia kenali. Gaun pengantin berwarna putih dengan potongan off-shoulder itu melekat sempurna di tubuhnya. Dihiasi sulaman tangan yang rumit dan ribuan manik-manik kecil yang berkilau setiap kali dia bergerak. Tangan Luna gemetar saat dia menyentuh kalung mutiara di lehernya. Hari yang dia pikir akan dia lalui dengan kepala dingin sebagai transaksi kontrak, nyatanya justru membuat jantungnya seolah ingin melompat keluar dari tulang rusuk. Pintu kamar pengantin terbuka pelan. Bukan sosok pria dewasa yang muncul, melainkan Carl. Anak itu berdiri di sana dengan setelan jas paling rapi. Matanya yang cerdas menatap sang ibu tanpa berkedip. “Mama.” Suara Carl memecah keheningan. Dia melangkah mendekat, menggenggam tangan Luna yang dingin. “Ayo. Papa sudah menung
Kesimpulan Jordan tidak meleset. Meski Robert kini mengetahui kekejaman Nancy terhadap Liana di masa lalu, cintanya pada Nancy ternyata lebih besar daripada rasa keadilannya. Dan Olivia? Wanita itu akan tetap menjadi putri kesayangan yang suci di matanya, terlepas dari semua perbuatan jahatnya.Kenyataan bahwa Robert sendiri yang memutuskan bermain api di belakang Liana dia lakukan penuh kesadaran. Dia mencintai Liana, tapi tidak bisa membendung keinginan besar untuk memiliki Nancy.Seperti yang pernah dikatakan Rose, Robert punya seribu kesempatan untuk menyelidiki kejanggalan kematian Liana, tapi dia memilih menutup mata. Dia terlalu takut menghadapi kenyataan jika Nancy bersalah, maka dia akan kehilangan wanita terakhir yang ada di sisinya.Luna selalu mengingatkannya pada Liana. Dari sikapnya, caranya bicara, bahkan tatapan matanya yang tajam namun terluka. Robert tidak membenci Luna. Dia hanya tidak sanggup menatap mata itu terlalu lama, karena setiap detik yang dia habiskan
Langkah kaki Jordan bergema pelan di koridor rumah sakit yang dingin. Dia akhirnya memutuskan untuk menjenguk Robert seorang diri. Di parkiran bawah, Luna bersikeras tetap di mobil. Sorot matanya yang kosong sudah cukup menjelaskan bahwa luka di hatinya belum mengizinkannya untuk menghirup udara yang sama dengan sang ayah.Saat pintu kamar bangsal terbuka, bunyi ritmis monitor menyambut Jordan. Kondisi Robert tampak mengenaskan. Tubuh yang dulunya gagah itu kini terlihat rapuh, terimpit di antara selang oksigen dan berbagai kabel medis yang menempel di dadanya.Robert menoleh pelan. Matanya yang sayu membelalak saat mendapati sosok Jordan berdiri di ambang pintu. Sejak siuman, ruangannya sunyi dari kehadiran keluarga. Hanya ada beberapa penyidik berpakaian sipil yang datang silih berganti, melontarkan pertanyaan yang menguras energi.Pihak rumah sakit sengaja menyembunyikan kabar mengenai persidangan Olivia dan Nancy untuk menjaga stabilitas jantungnya. Namun, Robert tidak bodoh. In
Olivia tidak tahu jika harapan mendapatkan kebebasan dari pengadilan telah tertutup rapat. Untuk mencegah pengacara Olivia menggunakan trik gangguan kejiwaan, Jordan dan Harvey mengutus orang kepercayaan mereka untuk ‘berbincang’ dengan David.Proses persidangan pun dilakukan lebih cepat atas tekanan Harper dan Rose. Selagi mempersiapkan pernikahan, Luna dan Jordan harus menghadiri sidang untuk menjadi saksi.Olivia tidak berkutik di depan hakim yang telah mengubah statusnya menjadi terdakwa. Setelah beberapa kali persidangan, hakim akhirnya membacakan hukuman.“Setelah Majelis Hakim menimbang seluruh fakta di persidangan, memperhatikan kekejaman Terdakwa yang meracuni suaminya selama empat tahun, serta tipu muslihat Terdakwa dalam merugikan mitra bisnis dan perusahaan, maka dengan ini Majelis Hakim memutuskan untuk menjatuhkan pidana penjara seumur hidup kepada Terdakwa Olivia Carter.”Berbanding dengan Luna dan Jordan yang bertatapan sambil tersenyum lega, Olivia m
“Apa …?” Air mata Olivia semakin deras mengalir. “... apa maksudmu? Kenapa mama bisa dirawat di rumah sakit kepolisian?”“Terjadi kecelakaan saat Nyonya Nancy hendak menjenguk Tuan Robert. Dan pihak Tuan Jordan telah memasukkan bukti-bukti tentang kejahatan Nyonya Nancy di masa lalu sehingga statusnya sekarang menjadi tersangka.”Nyawa Olivia seakan keluar dari tubuhnya. Tenaganya seperti terkuras habis. Hanya Nancy yang bisa dia andalkan walaupun dia sempat kecewa karena sang ibu justru mencari jalan keluar untuk dirinya sendiri sebelumnya. “Lalu … bagaimana denganku? Aku butuh pengacara yang lebih baik darimu!”Pengacara yang bernama David itu masih tenang meski Olivia sering meremehkannya. “Berkat status kehamilan Anda, saya bisa mengusahakan Anda menempati klinik rumah tahanan dan tidak bercampur di blok khusus wanita.”Olivia meneriaki David tepat di depan wajah pria itu, memaki dengan seluruh tenaga sampai suaranya serak. Dua orang polisi masuk setelah men
Luna sontak mendorong Jordan walau dia sendiri yang terhuyung mundur. Jordan menangkap pinggangnya agar tidak terjatuh.“Kami tidak melakukan apa pun. Hanya membicarakan masalah …”Derapan langkah kecil Carl begitu mantap saat mendekat. Dia bersedekap penuh penghakiman.“... orang dewasa,” imbuh Luna. Carl tidak akan percaya lagi dengan alasan sepele. Tetapi, seperti kata Jordan, Carl tidak boleh ikut campur urusan mereka. Lebih baik Carl marah karena menyangka mereka sedang bermesraan.“Paman tidak boleh mencium Mama sebelum menikah!”“Aku tidak–”“Dan setelah menikah, kalian tetap dilarang berciuman,” potong Carl tegas.Jordan tertawa tanggung. Dia menginginkan Luna seutuhnya, menciumnya setiap saat. Dan kini, Carl menuntut pengecualian yang bisa membuatnya menderita seumur hidup.“Katamu tadi, kamu mau menuruti semua permintaanku, ‘kan? Aku tidak mau punya adik. Aku mau jadi satu-satunya anak Mama.”Semua pemikiran itu karena hasutan Harvey. Sang paman pernah menakuti bahwa Carl a
“Ini kamarku, Carl. Aku tidak tahu kalau ada orang lain tidur di kamarku” Luna menunjukkan dirinya seakan benar-benar sedang bingung agar Carl percaya padanya.“Apa Mama tidak bisa melihat orang sebesar ini tidur di ranjangmu?” Carl masih belum bisa menerima alasan Luna. Dia benar-benar takut ibuny
Carl semakin menaikkan selimut sampai ke dagu Jordan. Wajah Jordan hampir sepenuhnya tertutup karena handuk basah mengompres sebagian besar wajahnya sampai sampai dia tidak bisa melihat apa pun. Kain itu menutupi dahi sampai batas bawah hidung mancungnya.“Kamar mama adalah yang paling nyaman di ru
Akhir pekan ini cuaca masih mendung, namun Luna sudah bangun pagi-pagi dan bersiap pergi. Setelah selesai berdandan rapi, dia pergi ke kamar Carl, membangunkan putra kecilnya.Carl rupanya sudah bangun. Anak itu masih ingat janji Luna semalam yang akan mengajaknya pergi ke rumah pemilik rumah kaca
Setelah percakapan selesai, mereka kembali diam canggung. Luna sudah menunjukkan sedikit perhatian untuk memancing rasa ingin tahu orang-orang, serta berencana menunggu Olivia datang. Di sela waktu itu, dia tidak tahu harus berbuat apa.Sesekali dia mengubah posisi duduknya. Jordan masih memperhati







