Share

7. Kebetulan Berulang

Penulis: VERARI
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-01 22:31:46

“Lihat kamarku, Mama. Aku sudah menata kamarku dengan sempurna.” 

Bocah tiga tahun itu membusungkan dada dengan bangga. Menunjukkan kamarnya di apartemen baru yang disiapkan Clara untuk Luna telah ditata dengan sempurna. Buku-buku cerita anak pun berjejer rapi dalam rak. Berbagai mainan dipajang di lemari, bederetan sejajar, tidak ada satu pun yang melenceng dari barisan, sangat sempurna, sampai Luna hampir lupa jika putranya masih tiga tahun.

“Bagus, Sayang.”

Carl tersenyum lebar mendengar pujian Luna. Ibunya tidak pernah menyuruhnya menjadi anak yang sempurna, tapi Carl tidak suka jika ada sesuatu yang tidak sesuai tempatnya. 

Di usia yang masih tiga tahun, Carl selalu menunjukkan keteraturan dan kesempurnaan. Bahkan cara bermain dan bicara Carl pun sudah seperti orang yang lebih dewasa dari usianya.

“Sekarang, temani aku bermain, Mama! Paman Harvey tadi memberiku robot baru!”

Namun, Carl tetap menunjukkan sosok anak kecil pada umumnya. Dia suka bermain dan sangat tertarik dengan robot-robot canggih dengan teknologi AI.

Carl menarik Luna duduk di karpet bulu putih, kemudian mengeluarkan robot dari lemari dan tidak lupa menutup pintu. Tatapan tajam Carl menjadi berbinar-binar melihat robot baru pemberian pamannya dapat bicara dan bergerak sesuai arahan.

“Kalau aku besar nanti, aku akan membuat robot yang lebih besar dari ini!” seru Carl.

“Mama sangat menantikannya,” balas Luna lembut, namun menyimpan tatapan miris.

Selama tinggal di rumah lama, Luna tidak pernah merisaukan kebiasaan Carl. Namun, sesampainya di kota ini, Luna baru menyadari kemiripan Carl dengan ayah kandungnya.

Jordan Reed adalah pria perfeksionis, bicara dengan intonasi jelas, dan memiliki tatapan tajam … sama persis dengan putranya. 

Di masa itu, Luna hampir tidak pernah berkomunikasi dengan Jordan, tapi dia bisa menilai dari kantor Jordan yang pernah sekali didatanginya. Tidak ada setitik debu dan semuanya tampak teratur. 

Luna ingat, Jordan gemar mengoleksi robot-robot canggih dan miniatur yang disimpan rapi pada salah satu lemari kaca di kantornya. Cara Jordan dan Carl memilah mainan-mainan itu pun sama, dari yang terkecil sampai terbesar, tertata dalam barisan seperti anak tangga. 

Mendadak, perasaan panik dan trauma kembali menghantamnya. Luna khawatir Carl akan tumbuh seperti ayahnya, pria yang dengan kejam merusak masa depan seseorang.

“Mama, kenapa melamun?”

Carl meninggalkan robot di lantai, kemudian berdiri sejajar dengan wajah Luna, memeluknya dengan erat. Dia mengira Luna masih takut pada kejadian siang tadi.

“Tidak apa-apa, Mama.” Carl menepuk-nepuk punggung Luna. “Aku akan melindungi Mama dari apa pun yang bisa menyakiti Mama dan mengusir siapa pun yang menakuti Mama.”

Rasa takut Luna berangsur menghilang begitu merasakan kehangatan dari pelukan dan kata-kata putranya. Senyuman Carl menepis perasaan buruk Luna. 

Benar. Carl berbeda dari Jordan Reed. Putranya menyimpan perasaan hangat dan kasih sayang, tidak seperti Jordan Reed yang seperti patung suci yang tidak bisa disentuh siapa pun.

“Maaf, Mama cuma gugup menghadiri rapat di kantor baru besok pagi.”

Carl melepas pelukan, lalu duduk bersila di depan Luna. Tangan kecilnya memegang kedua tangan Luna seolah memberi keyakinan.

“Haruskah aku menemani Mama? Aku bisa membantu Mama kalau Mama gugup nanti.”

Luna tertawa kecil melihat kelucuan putranya yang selalu bersikap dewasa.

“Apa Carl tidak ingat janji dengan Paman Harvey berkeliling kota besok siang?”

Carl bersedekap dada sambil memejamkan mata, tampak berpikir keras dan bimbang, tidak mau melanggar janji dengan pamannya. Dia adalah anak yang selalu menepati janji, tapi semua yang berhubungan dengan ibunya dengan mudah mengacaukan keputusannya.

“Mama akan mengajak Carl ke kantor lain kali saja, ya.”

“Baiklah, aku akan menepati janjiku kepada Paman. Tapi, Mama harus segera meneleponku kalau ada seseorang atau apa pun yang mengganggu Mama,” tegas Carl. “Aku dan Paman Harvey akan selalu menjadi pelindung Mama.”

Luna tersenyum kecil melihat kedewasaan putranya. 

Setelah bermain dengan Carl dan menidurkannya, Luna keluar sambil menghela napas.

Perasaan tak nyaman kembali melanda tatkala dia jauh dari putranya. Hanya Carl yang mampu membuat Luna tenang. Namun, ketenangan itu terusik ketika teringat bahwa Jordan Reed bisa saja mengetahui tentang Carl dan merampas putranya dari hidupnya.

“Kenapa wajahmu seperti itu?” tegur Harvey yang baru keluar dari kamar. Dia menebak samar apa yang menjadi kerisauan sepupunya. “Kemarilah.” Dia memeluk Luna sebentar.

“Kamu sekarang memiliki aku, Carl, dan keluarga besar kita yang akan selalu mendukungmu. Setidaknya, percayalah pada kemampuanku mengendalikan situasi. Tidak akan ada lagi orang yang berani menyakitimu,” ujar Harvey lembut, melepas pelukan dan memegang kedua lengan Luna. “Dengar, jika ini karena pria itu, itu hanya kebetulan. Veridian tidak sekecil itu. Kemungkinan kalian bertemu lagi sangat kecil.”

Luna tersenyum. Selain putranya, Harvey selalu mampu membuat perasaannya tenang dan bisa diandalkan. “Aku tahu. Aku hanya sedikit tegang karena besok pagi.” Luna tidak sepenuhnya berbohong.

Saat Luna mulai tenang, ponsel Luna berbunyi nyaring di dalam saku celananya, membuatnya tersentak kaget. Nama “Clara” tertera di layar.

Belum sempat Luna menyapa Clara, di seberang sana sudah lebih dulu berbicara dengan penuh semangat. “Luna! Aku punya berita luar biasa! Kamu tidak akan percaya ini!”

“Berita apa, Clar?”

“Reed Tech! Mereka baru saja mengirim email!” seru Clara. “Mereka sangat, sangat terkesan dengan proposal yang kamu siapkan dan mereka langsung menjadwalkan pertemuan dengan pimpinan tertinggi mereka!”

Jantung Luna mulai berdebar. Firasatnya mulai tidak enak. “Pimpinan… tertinggi?”

“IYA!” pekik Clara, kegembiraannya terdengar jelas. “Langsung dengan CEO Reed Group sendiri! Dan dia sangat spesifik, Lun. Dia mau bertemu langsung dengan otak di balik proyek ini,  sekaligus pemimpin perusahan cabang di Veridian. Itu kamu! Aku tidak mungkin kirim orang lain. Hanya kamu yang bisa menjawab semua pertanyaan strategisnya.”

Dunia Luna seakan runtuh untuk kedua kalinya dalam satu hari. Ponsel terasa licin di tangannya yang mulai berkeringat. 

“Namanya…” lanjut Clara, tidak menyadari keheningan dari Luna. “Ah, ya! Jordan Reed! Bukankah ini luar biasa, Lun?! Ini kesempatan sekali seumur hidup untuk Aura Tech!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Paman, Berhenti Mengejar Mama!   124. Baru Permulaan

    Setelah percakapan selesai, mereka kembali diam canggung. Luna sudah menunjukkan sedikit perhatian untuk memancing rasa ingin tahu orang-orang, serta berencana menunggu Olivia datang. Di sela waktu itu, dia tidak tahu harus berbuat apa.Sesekali dia mengubah posisi duduknya. Jordan masih memperhatikannya tanpa mengalihkan pandangan, membuat Luna seolah sedang ditelanjangi.“Sebentar lagi wanita itu akan datang. Apa kamu sengaja menunggunya dan membuat keributan?” Jordan berhenti bicara sebelum akhirnya melanjutkan, “Sebaiknya urungkan niatmu itu. Membuat orang-orang curiga sudah cukup untuk saat ini. Jangan memprovokasi wanita itu terlalu jauh.”Kata-kata Jordan benar. Luna menjadi semakin tak sabar setelah mimpi buruknya semalam. Dia pun memutuskan untuk pergi lebih cepat sebelum Olivia datang.Namun, ketika dia bangkit dari kursi yang didudukinya, pintu kamar itu terbuka lebar. Luna menatap ke arah pintu, mendapati Olivia yang berhenti mendadak dengan mulut sedikit terbuka, terkejut

  • Paman, Berhenti Mengejar Mama!   123. Perhatian Penuh Sandiwara

    “Asal kamu tahu. Papa sudah mulai merasakan ada sesuatu yang mencurigakan tentang penyakitku. Dia mungkin mempekerjakan beberapa karyawan rumah sakit untuk mengamati keseharianku, mungkin menaruh kamera pengawas di beberapa tempat di luar jendela yang bisa menunjukkan posisi kita saat ini.”“Jangan tanggung-tanggung kalau kamu sedang merencanakan sesuatu,” imbuh Jordan, menatap Luna penuh arti. “Lakukan saja sesuai rencanamu itu agar orang suruhan papa bisa memantau pergerakan kita dengan jelas.”Sulit mengelabui mata tajam Jordan yang mudah membaca niat orang lain. Luna tertegun sejenak ketika Jordan mengatakan tujuannya tepat sasaran. Namun, Luna mengelak tanpa keraguan, “Apa yang kamu bicarakan? Niatku hanya membantu papa dari putraku. Tidak ada maksud lain.”Di saat yang sama, tangan Jordan mendarat di kancing baju rumah sakit yang dikenakannya, melepas satu persatu dengan gerakan pelan. “Jadi, kamu sudah mengakui kalau aku ayah kandung Carl.”Luna berpaling ketika kancing terakh

  • Paman, Berhenti Mengejar Mama!   122. Hubungan Terlarang

    Jordan tertegun sejenak. Luna Blackwood selalu memberinya kejutan yang tak disangka-sangka.Wanita yang dulu pendiam dan selalu menghindari keramaian itu, tiba-tiba muncul kembali dengan penampilan penuh percaya diri, seperti kucing liar yang sulit dikendalikan. Begitu Jordan memberi sesuatu yang disukainya, Luna pelan-pelan menerima uluran tangannya, namun masih menunjukkan kewaspadaan tinggi.Dan saat ini, dia tiba-tiba muncul dengan sikap yang berbeda lagi. Menantang dan memprovokasi dari sudut yang berbeda, seperti bukan Luna yang dikenalnya.Cara bicara yang menggoda dan lirikan manis itu seperti bukan Luna yang dia kenal. Apa lagi yang Luna inginkan darinya?“Apa kamu tidak mau menjawabku?” tanya Luna lembut, namun dengan bibir sedikit mengerucut seakan tak suka diabaikan Jordan.Setelah semalaman Luna memikirkan kata-kata Rose, dia pun akhirnya meyakinkan diri akan mendapatkan Jordan Reed dengan cara apa pun. Keputusannya semakin bulat ketika dia memimpikan kenangan buruk yang

  • Paman, Berhenti Mengejar Mama!   121. Sesuatu yang Berbeda

    Jordan merasa ada yang tidak beres dari situasi saat ini. Suasananya terlalu tenang sampai dia mau tidak mau harus curiga.Beberapa menit lalu, Luna datang membesuk sebelum jadwal kunjungan dibuka. Dokter James mengantar Luna ke kamar Jordan secara pribadi, dan hal tersebut membuat dokter lain dan para perawat bertanya-tanya, siapa sosok wanita yang mengunjungi Jordan itu. Begitu pula Jordan yang sedikit penasaran alasan Luna tiba-tiba datang. Setelah dokter James meninggalkan mereka, Luna tidak bicara ataupun menyapa Jordan. Dia menaruh bunga matahari besar pada vas di atas lemari samping ranjang perawatan Jordan. Setelah itu, Luna duduk di samping ranjang Jordan sambil mengupas buah apel merah sambil sesekali melirik padanya. Jordan baru saja bangun tidur dan masih tampak bingung. Sedangkan Luna terlihat santai melakukan sesuatu yang tidak biasa itu, namun ada sedikit reaksi membingungkan yang tidak Jordan pahami.“Permisi, Tuan.” Suara seorang perawat wanita beserta ketukan setel

  • Paman, Berhenti Mengejar Mama!   120. Akan Melakukannya

    “Nenek!” seru Harvey. Meski Luna belum mengatakan secara langsung pada Rose jika Jordan adalah pria yang menghamili Luna, tetapi Harvey yakin bahwa Rose telah mengetahuinya. Rose diam hanya untuk menghormati Luna yang enggan mengungkit masa lalu itu.Menyuruh Luna untuk merebut Jordan dari Olivia, putri Nancy, demi sebuah balas dendam bukan pilihan yang tepat di mata Harvey. Luna yang akan terluka dalam prosesnya. Karena itu, Harvey marah pada neneknya yang mengorbankan Luna demi menghancurkan Nancy.“Kita tidak pernah membahas masalah ini dengan benar,” ucap Nancy tenang, mengabaikan tatapan tajam Harvey yang penuh amarah. “Aku tahu bahwa Jordan adalah pria itu, Lun. Kamu tidak perlu menyembunyikannya lagi.”Luna menunduk dengan kedua tangan saling meremas di atas paha. Dia malu sekaligus takut dengan anggapan Rose padanya, tak mau kehilangan kepercayaan neneknya karena telah melakukan kesalahan besar dengan mengandung anak dari adik iparnya.Rose pindah duduk di sebelah Luna, meng

  • Paman, Berhenti Mengejar Mama!   119. Merebut Jordan

    “Kenapa kamu pulang di jam kerja, Lun?” tanya Rose begitu melihat kedatangan Luna.“Harvey menyuruhku menemani Nenek. Kami tidak tahu kalau Nenek akan datang,” cicit Luna.Rose akan mengatakan sesuatu, tetapi Carl justru melompat-lompat kegirangan di antara Rose dan Luna. “Mama pasti libur hari ini! Ayo, kita naik perahu di danau bersama nenek buyut!”Carl sejak tadi ingin bermain di danau, namun pengasuhnya tidak mengizinkan Carl bermain di sana sekarang karena cuaca sedang mendung dan seperti akan hujan. Melihat ibunya pulang, pengasuh itu tidak akan berani melarangnya naik perahu di danau.“Kita temani Carl bermain dulu.” Rose menatap Luna seakan mengatakan jika mereka harus bicara setelahnya.Luna mengangguk, menggandeng Carl dengan senyuman lebar, lalu melirik pada wanita yang selalu mengikuti Carl. “Kenapa kamu tidak bermain dengan bibi pengasuh?”“Maaf, Nona, Tuan Jordan memerintahkan saya untuk mencegah Tuan Muda Carl melakukan apa pun yang berbahaya. Hari ini sepertinya akan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status