Inicio / Pendekar / Para Pendekar dari Sungai Kembar / Ketika Rencana Mulai Runtuh

Compartir

Ketika Rencana Mulai Runtuh

Autor: Ocyobot
last update Fecha de publicación: 2026-09-27 10:57:16

Beberapa hari berlalu.

Perubahan mulai terlihat di kota-kota yang sebelumnya dipenuhi kecemasan.

Obat yang dibuat Zhushu ternyata bekerja.

Terutama di wilayah pinggiran yang sebelumnya hampir tidak mendapatkan pertolongan.

Para tabib mulai mengikuti petunjuk Zhushu dan menggunakan persediaan obat yang telah dibagikan. Warga yang sebelumnya hanya bisa menunggu dalam ketakutan mulai pulih.

Batuk berkurang.

Demam mereda.

Orang-orang
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Jaring Matahari Barat

    Ketua Duan tidak membuang waktu setelah mengetahui Zhushu dibawa pergi.Ia mengangkat dua jari ke bibir, lalu meniup peluit pendek dengan nada berurutan. Para murid Partai Matahari Barat yang tersebar di sekitar desa segera menerima isyarat itu.“Cari jejak empat orang utara! Jangan menyerang jika mereka tidak membahayakan penduduk, tetapi jangan biarkan mereka membawa Zhushu semakin jauh!”Di atas pepohonan, beberapa kelabang terlatih milik Lembah Hantu Merah mulai bergerak. Mereka membawa tanda dan pesan menuju pos-pos murid yang menjaga jalur hutan.Tidak lama kemudian, kabar itu sampai kepada Hong Liangyau, Ketua Lembah Hantu Merah, dan Hao Huma, Ketua Golok Harimau.Hong sedang menghalau sekelompok bandit yang mengganggu desa-desa di wilayah barat. Hao sendiri tengah mengamankan jalur perdagangan bersama murid-muridnya.Begitu menerima pesan, keduanya langsung bergerak.“Zhushu diculik?” Hong menyipitkan mata. “Siapa yang cukup berani melakukan hal bodoh itu?”Hao mengangkat golo

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Empat Pendekar Utara dan Dua Lawan yang Kewalahan

    “Putri, kita harus pergi sekarang!”Saran mengamati Ketua Duan yang berdiri dengan golok hitamnya, sementara Huang Liang telah mengambil posisi di sampingnya.Altani masih bersikeras. “Aku tidak akan pulang tanpa Zhushu!”Zhushu yang berdiri di belakang mereka mulai kehilangan kesabaran.“Putri, kau sudah sembuh, tetapi rupanya kepalamu belum benar-benar pulih. Siapa yang mengajarimu menculik orang setelah diselamatkan?”“Aku tidak menculikmu! Aku hanya ingin membawamu ke utara!”“Itu namanya menculik!”Ketika Zhushu hendak melangkah maju, Altani tiba-tiba mendekat dan menepuk tengkuknya.Zhushu langsung terkulai.“Putri!” seru Batu.Altani menangkap tubuh kecil itu sebelum jatuh, lalu menyerahkannya kepada Batu.“Pegang baik-baik. Jangan sampai kepalanya terbentur.”Batu menerima Zhushu dengan wajah pucat.“Putri, kalau dia bangun nanti, kita semua mati.”“Kalau begitu, jangan biarkan dia bangun dulu!”Ketua Duan mengernyit. “Kalian benar-benar mencari masalah.”Altani menghunus peda

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Putri Utara yang Nekat Menculik Tabib

    Pagi di Desa Miao terasa cerah.Di halaman latihan, Altani sedang beradu jurus dengan ketiga panglimanya. Setelah pengobatan Zhushu, tubuhnya pulih sepenuhnya. Gerakannya kembali lincah, tusukan pedangnya tajam, bahkan Batu yang bertubuh besar harus mundur beberapa langkah untuk menghindari serangannya.“Bagus! Putri sudah kembali seperti semula!” seru Batu.Altani memutar pedangnya dengan bangga. “Tentu saja! Berkat Zhushu!”Ketiga panglimanya saling pandang. Mereka sudah mendengar nama tabib kecil itu puluhan kali sejak sang putri sembuh.Sementara itu, Zhushu mengamati mereka dari beranda rumah pengobatan. Setelah memeriksa denyut nadi Altani sekali lagi, ia tersenyum puas.“Sudah sehat. Kalian bisa bersiap pulang besok pagi.”Altani langsung menghentikan gerakannya.“Pulang?”“Ya. Kau sudah sembuh. Bukankah ada urusan yang harus kalian selesaikan di utara?”Altani menatap Zhushu dengan wajah muram.“Aku tidak mau pulang.”Zhushu mengangkat alis. “Apa?”“Aku ingin tinggal di sini!”

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Sepuluh Kali Lipat, Puluhan Kali Lipat

    “Mao Ming, berhenti!”Teriakan Wu Keming tenggelam di tengah ledakan qi.Mao Ming berdiri dengan tombak terangkat. Matanya memerah, urat-urat di lehernya menegang, dan qi yang mengalir dari tubuhnya terus meningkat. Jurus Tombak Tak Terkalahkan yang sebelumnya sudah mampu melipatgandakan tenaga dalamnya hingga sepuluh kali lipat kini berkembang jauh melampaui batas itu.Dua puluh kali lipat.Tiga puluh kali lipat.Bahkan lebih!Tanah di bawah kakinya mulai retak. Angin yang berputar di sekitar tombaknya membuat para murid Perguruan Tombak Langit terpaksa mundur.Namun, ada sesuatu yang salah.Mao Ming tidak lagi mendengar suara orang-orang di sekitarnya. Tatapannya kosong, seolah seluruh pikirannya telah ditelan oleh qi yang terus membesar. Ia tidak lagi mengendalikan kekuatannya.Sebaliknya, kekuatan itulah yang mulai menguasainya.Wu Keming segera menyadarinya.“Borise! Serap qi-nya sebelum dia kehilangan kesadaran sepenuhnya!”Borise, yang baru saja memastikan Mao Da masih bernapas

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Kuncian Iblis Laut Utara

    Halaman Perguruan Tombak Langit dipenuhi suara benturan senjata dan ledakan qi.Mao Da semakin berhati-hati. Tombaknya menusuk dari kejauhan, lalu segera ditarik sebelum Borise sempat menyentuhnya. Setiap kali tubuh besar Borise mendekat, Mao Da langsung mundur dengan wajah tegang.Ia tidak takut pada kekuatan telapak tangan Borise semata.Ia takut terkunci.Dan lebih dari itu, ia takut tenaga dalam yang telah dilatihnya selama puluhan tahun akan diserap oleh Jurus Dewa Laut Utara.Borise menyadari semuanya.Ia menghindari sebuah tusukan, lalu mendadak berhenti. Kedua kakinya terbuka selebar bahu, lututnya sedikit ditekuk, sementara kedua tangannya terangkat di depan dada.Sikap tubuhnya berbeda dari sebelumnya.Wu Keming, yang sedang berhadapan dengan Mao Ming, sempat melirik.Ia mengenal banyak gaya bertarung Borise, tetapi kali ini sahabatnya itu mengambil kuda-kuda yang menyerupai ilmu gulat dari negeri utara, dengan tumpuan tubuh rendah dan posisi tangan yang siap menangkap serta

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Bayi Nakal, Putri Penasaran, dan Tiga Korban

    Pagi di Gunung Li seharusnya tenang.Sayangnya, Li Huatang sudah tidak percaya lagi pada kata tenang sejak ia ditinggalkan sendirian bersama Xianhua.“Xianhua, jangan tarik rambut Ibu.”Bayi itu menatapnya dengan mata bulat, lalu menarik lebih kuat.Li Huatang menarik napas panjang.“Baiklah. Rambut ini milikmu untuk sementara.”Di seberang ruangan, Ketua Li Dihua sedang duduk menikmati teh. Melihat muridnya yang biasanya tenang kini berjuang menghadapi seorang bayi, sudut bibirnya terangkat.“Guru,” panggil Li Huatang dengan senyum yang terlalu dipaksakan. “Bisakah Guru membantu saya sebentar?”Li Dihua mengangkat cangkirnya.“Tentu. Aku akan mengambil teh lagi.”“Cangkir Guru masih penuh.”“Kalau begitu, aku akan memeriksa halaman.”“Halaman sudah diperiksa pagi tadi.”“Benarkah? Kalau begitu, aku baru ingat ada urusan penting di luar.”Li Dihua berdiri dengan gerakan anggun.Li Huatang langsung menggendong Xianhua dan menghadang pintu.“Guru, murid hanya meminta bantuan menjaga ana

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status