LOGINSinopsis Puluhan tahun sebelum dunia persilatan terpecah menjadi Sekte Putih dan Sekte Hitam, seluruh ketua perguruan terbesar di jianghu menghilang secara misterius setelah berangkat bersama menuju Pegunungan Barat Jauh untuk mencari sosok yang dijuluki Iblis Laut Utara. Tak seorang pun kembali. Tanpa mengetahui kebenaran, setiap perguruan saling menuduh sebagai dalang di balik peristiwa itu. Benih kebencian pun tumbuh, mengawali perpecahan yang mengubah sejarah jianghu. Di tengah kekacauan tersebut, Wu Keming, murid utama Perguruan Pedang Wu yang terkenal paling berbakat sekaligus paling bandel, menolak menjadi penerus perguruan setelah gurunya ikut menghilang. Ia menyerahkan kedudukan itu kepada adik seperguruannya, Wu Jian, lalu memilih mengembara demi mencari sang guru dan menemukan jalan baru bagi dunia persilatan yang semakin dipenuhi ambisi. Perjalanannya mempertemukannya dengan Borise, pria raksasa dari utara yang tidak memiliki Qi, tetapi mewarisi Jurus Iblis Laut Utara, sebuah ilmu legendaris yang hanya dapat dikuasai oleh orang tanpa tenaga dalam. Mereka kemudian bertemu Li Huatang, pewaris Perguruan Pedang Li yang terkenal dengan ilmu pedang anggun bagaikan tarian, serta seorang gadis tabib dari suku Miao, "Anak Kesayangan" yang memiliki bakat luar biasa dalam meracik obat dan racun. Empat pengembara dengan latar belakang yang berbeda itu awalnya hanya disatukan oleh kebetulan. Namun setiap jejak yang mereka ikuti membawa mereka semakin dekat pada rahasia terbesar jianghu. Di balik hilangnya para ketua perguruan ternyata tersembunyi sebuah kebenaran yang telah mengubah sejarah dan melahirkan permusuhan selama puluhan tahun. Saat seluruh dunia memilih berpihak pada putih atau hitam, empat orang yang tak pernah bercita-cita menjadi pahlawan justru harus menentukan masa depan jianghu sebelum perang yang lebih besar benar-benar tak dapat dihentikan.
View MoreAngin musim gugur bertiup pelan melewati lereng Gunung Naga Hijau.
Daun-daun kuning berputar di udara, jatuh memenuhi halaman luas Perguruan Pedang Wu. Biasanya, suara benturan pedang para murid akan menggema sejak matahari terbit. Hari itu tidak ada seorang pun berlatih. Yang terdengar hanyalah bisik-bisik. "...Apa benar Ketua Perguruan ikut menghilang?" "Aku mendengar bukan hanya Guru Wu." "Ketua Perguruan Li juga." "Perguruan Tombak Langit..." "Perguruan Pedang Selatan..." "Semuanya..." Suasana yang biasanya dipenuhi semangat kini berubah menjadi lautan kecemasan. Di aula utama, para tetua duduk saling berhadapan. Wajah mereka tegang. Sebuah gulungan surat terbuka di atas meja kayu cendana. Surat itu berasal dari seorang kurir yang berhasil kembali dari wilayah barat. Isinya singkat. "Rombongan para ketua perguruan memasuki Pegunungan Barat Jauh dua puluh tiga hari lalu. Sejak saat itu, tidak ada seorang pun yang terlihat keluar." Hening. Seorang tetua memukul meja. "Mustahil!" Tetua lainnya menggeleng pelan. "Kalau hanya Ketua Wu yang hilang, mungkin masih bisa diterima. Tetapi seluruh ketua perguruan?" "Itu berarti sesuatu telah terjadi." "Atau..." Seorang tetua berambut putih menyipitkan mata. "Mereka saling membunuh." Kalimat itu membuat ruangan semakin sunyi. Tak seorang pun ingin mempercayainya. Namun tak seorang pun mampu membantahnya. Di luar perguruan, keadaan ternyata jauh lebih buruk. Berita hilangnya para ketua perguruan menyebar secepat angin. Perguruan-perguruan kecil mulai memilih kubu. Bandit mulai menyerang desa-desa yang kehilangan perlindungan. Para pendekar bayaran menawarkan jasa mereka kepada siapa saja yang mampu membayar. Dunia jianghu yang selama puluhan tahun berdiri di atas keseimbangan perlahan mulai retak. --- Sementara semua orang sibuk memikirkan masa depan dunia... Di anak tangga batu gerbang Perguruan Pedang Wu, seorang pemuda justru duduk bersila dengan santai. Sebuah kendi arak berada di tangan kirinya. Di sampingnya tergeletak sebuah pedang panjang bersarung hitam kebiruan. Ukiran naga dan burung phoenix saling melilit di gagangnya, seolah hidup. Di pangkuannya terdapat sebuah kitab tua yang dibungkus kain kuning kusam. Pemuda itu menenggak seteguk arak, lalu menghela napas panjang. "Ah..." "Kalau Guru benar-benar hilang..." "...siapa yang nanti membayar utang arakku?" Ia menggaruk kepalanya sendiri. Beberapa murid yang melintas langsung memandang tajam. "Kakak Senior Wu masih sempat bercanda?" "Memalukan." "Guru belum tentu selamat." "Dia malah minum." Wu Keming hanya melirik sekilas. "Bukankah orang yang sedang sedih justru lebih cocok minum?" Tak ada yang menjawab. Para murid pergi sambil menggerutu. Wu Keming kembali menatap langit. Awan bergerak perlahan. Sudah tiga hari. Tiga hari sejak kabar itu tiba. Dan entah mengapa... hatinya terus merasa tidak tenang. Ia menepuk perlahan gagang Pedang Naga Phoenix di sampingnya. Pedang itu dingin. Tetapi setiap kali menyentuhnya, wajah gurunya selalu terbayang. Wu Keming tersenyum tipis. "Guru..." "Apa yang sebenarnya Guru cari di ujung dunia sana?" Angin kembali berembus. Seolah menjadi satu-satunya jawaban yang mampu diberikan langit. Tak lama kemudian terdengar langkah kaki berlari menaiki anak tangga. "Kakak Senior!" "Kakak Senior Wu!" Wu Keming bahkan tidak menoleh. "Aku sedang pura-pura menghilang." "Kalau kau memanggilku, berarti penyamaranku gagal." Suara itu semakin mendekat. Seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun berhenti sambil terengah-engah. Jubah putih Perguruan Pedang Wu yang dikenakannya dipenuhi debu. Dialah Wu Jian. Adik seperguruan yang sejak kecil selalu mengikuti Wu Keming ke mana pun. Wu Jian memegangi lututnya sambil mengatur napas. "Kakak Senior..." "Aku mencari ke dapur..." "...ke gudang arak..." "...ke sungai..." "...bahkan ke pohon persik tempat Kakak pernah tidur semalaman." Wu Keming mengangguk puas. "Bagus." "Itu berarti kau sudah hafal semua tempat persembunyianku." Wu Jian menghela napas panjang. "Seluruh perguruan sedang kacau." "Para tetua mencarimu ke mana-mana." Wu Keming kembali meneguk araknya. "Kalau mereka berhasil menemukanku, berarti mereka kurang sibuk." Wu Jian memijat dahinya. Sejak kecil, berbicara dengan kakak seperguruannya memang lebih melelahkan daripada berlatih pedang seharian. Namun kali ini... senyum Wu Keming tidak mampu menutupi kesedihan yang tersimpan jauh di balik matanya. Wu Jian menatap Wu Keming cukup lama. Semakin lama, semakin sulit ia menahan amarah yang selama tiga hari terakhir dipendamnya. "Kakak Senior..." Wu Keming masih menenggak araknya. "Hm?" "Aku marah padamu." Wu Keming mengangguk santai. "Wajar." Wu Jian mengernyit. "Hanya begitu?" "Kalau kau marah, berarti kau masih sehat." Wu Jian mengepalkan kedua tangannya. "Kakak Senior tahu kenapa aku marah?" Wu Keming memandang kendi araknya. "Mungkin karena kau lapar." "Bukan!" "Mungkin karena para tetua cerewet." "Bukan!" Wu Keming berpikir sejenak. "Oh... jangan-jangan kau diam-diam jatuh cinta pada murid Perguruan Pedang Li?"Pertarungan di Shuanghe semakin kacau.Di halaman rumah kecil di lereng, Borise masih berdiri dengan kedua tangan kosong.Di sekelilingnya, puluhan orang telah bergelimpangan.Sebagian duduk sambil memegangi perut.Sebagian terbaring kelelahan.Beberapa bahkan tertidur.Namun anehnya, tidak seorang pun mengalami luka serius.Zhushu berjalan di antara mereka sambil membawa keranjang obat.Ia memeriksa satu per satu.“Yang ini hanya kelelahan.”Ia pindah ke orang berikutnya.“Yang ini terlalu banyak memaksakan tenaga.”Kemudian ia mengangkat kepala.“Borise, yang tadi kau dorong terlalu keras.”Borise mengangguk.“Maaf.”Qiu Hui yang sedang bertarung tidak jauh dari sana tiba-tiba menoleh.“Apa yang kalian lakukan?!”Borise menjawab santai.“Mereka kelelahan.”“Memangnya aku peduli?!”Borise memandang orang-orang yang tergeletak.“Mereka mungkin haus.”Ia mengambil beberapa wadah air dan mulai membagikannya.“Minumlah.”Salah seorang prajurit kerajaan memandangnya dengan bingung.“Kau…
Malam di Shuanghe berubah menjadi medan pertempuran.Puluhan bayangan hitam menerobos dari berbagai arah. Tidak ada lambang perguruan pada pakaian mereka. Wajah mereka tertutup kain hitam sehingga tidak seorang pun dapat mengetahui siapa mereka sebenarnya.Sebagian adalah murid Sekte Bangau Hijau.Sebagian lainnya merupakan orang-orang yang didatangkan dari luar.Bahkan beberapa di antara mereka menggunakan perlengkapan militer yang menunjukkan bahwa ada tangan lain yang ikut bermain dalam serangan ini.Namun bagi Borise, semuanya sama saja.Musuh.Pria besar itu berdiri di tengah halaman dengan tangan kosong.Tidak ada pedang.Tidak ada tombak.Tidak ada kecapi.Hanya kedua telapak tangannya.Seorang penyerang mengayunkan pedang.Borise menggeser tubuh.Tangannya menangkap pergelangan lawan.Putar.Bruk!Orang itu jatuh ke tanah.Dua orang lainnya datang bersamaan.Borise menunduk.Satu pukulan melewati kepalanya.Ia kemudian mendorong dada orang pertama dengan telapak tangan.Buk!T
Hari-hari berlalu, dan Pegunungan Dua Sungai perlahan berubah. Rumah-rumah penduduk yang sebelumnya rusak mulai diperbaiki. Ladang kembali ditanami. Jalan setapak dibersihkan dari semak dan perangkap. Anak-anak yang dahulu hanya berani mengintip dari balik pintu kini berlarian bebas di antara rumah-rumah. Orang-orang mulai menyebut tempat itu dengan nama Shuanghe. Keempat orang yang awalnya datang hanya untuk menjalankan tugas dari Ketua Perguruan Pedang Li, Li Dihua, kini hampir seperti bagian dari kehidupan penduduk. Borise membantu membuat pagar, gerbang, gudang, bahkan mengajari para pemuda berburu dan mengenali jejak binatang. Zhushu membuat kebun obat dan mengajari penduduk tumbuhan mana yang dapat digunakan sebagai obat. Wu Keming lebih sering terlihat bermain bersama anak-anak. Sedangkan Li Huatang membantu hampir semua pekerjaan yang bisa dilakukannya. Sore itu, Li Huatang duduk di depan rumah sambil menulis surat. Ia melaporkan kepada Li Dihua mengenai keadaan Shuan
Beberapa hari setelah para bandit di lereng Pegunungan Dua Sungai dilumpuhkan oleh ramuan Zhushu, keadaan perlahan berubah.Bandit-bandit yang masih bersembunyi di gunung satu demi satu ditangkap, diusir, atau melarikan diri setelah mendengar bahwa sekelompok pendekar telah mengambil alih wilayah itu.Namun keempat orang itu tidak segera pergi.Mereka justru membangun rumah.Rumah itu sederhana. Dindingnya dari papan kayu, atapnya dari bambu dan jerami, sementara bagian depannya menghadap ke lembah tempat dua sungai bertemu.Wu Keming tentu saja mengaku sebagai tukang bangunan.Sayangnya, Li Huatang tidak percaya.“Itu miring.”Wu Keming memandangi tiang yang baru dipasangnya.“Sedikit.”“Bukan sedikit.”Wu Keming mencabutnya.“Kalau begitu kita pasang lagi.”Tidak jauh dari sana, Borise sedang membawa sebatang kayu besar yang bahkan harus diangkat dua orang penduduk.“Ke kanan!” teriak Zhushu.Borise berjalan ke kiri.“Bukan! Kanan!”Borise berhenti.“Ini kananku.”Zhushu memijat dah






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.