LOGIN"Bau vanila?" ulang Zea pelan sebelum menyunggingkan senyum tipis yang sealami mungkin, berusaha menutupi desiran cemas di dadanya. Ia memutar tubuhnya sedikit, merapikan tali tas jinjing di tangannya agar posisi pouch pendingin di dalamnya tertutup sempurna dari jangkauan pandangan Vincent."Oh ... ini aroma sabun cair mandi yang kupakai tadi pagi, Vin," terang Zea santai dengan nada bicara yang amat tenang. "Mungkin aromanya masih menempel sedikit."Vincent mengerjap pelan di balik kacamatanya. "Ah ... begitu. Pantas saja aromanya wangi dan manis sekali.” Ia mengangguk-angguk paham, terkekeh renyah untuk mencairkan suasana. “Maaf ya kalau tebakanku tadi bikin kamu bingung.""Nggak apa-apa kok," sahut Zea cepat, menghembuskan napas lega yang tersembunyi. "Yuk, kita ke ruang makan.”Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor sepi menuju ruang makan utama. Suasana ruang makan saat jam istirahat siang terasa relatif lengang, hanya ada beberapa staf administrasi yang menikmati
Suasana di sekitar arena kolam renang hari itu terasa dingin dan mencekam. Peluit yang menggantung di leher Zavian tidak lagi terdengar sebagai penanda ritme latihan, melainkan seolah menjadi pertanda bahwa amarahnya bisa meledak kapan saja.PLAK!"Rafi! Kayuhan kamu kendor di sepuluh meter terakhir! Mau jadi santapan lawan di Final, hah?!" bentak Zavian keras dari tepi kolam. Suaranya memantul galak di dinding-dinding gedung. "Ulangi lima set lagi!"Rafi yang masih mengapung di air hanya bisa mengangguk pasrah dengan napas terengah-engah. Begitu Zavian berbalik membelakangi mereka, Rafi buru-buru mendekati lintasan Kenji dan Dimas, berbisik lirik dengan raut wajah meringis."Sumpah ... Coach hari ini lagi kesetanan apa?" bisik Rafi frustasi sambil mengusap air di wajahnya. "Salah dikit disemprot, gerak lambat dikit disuruh nambah set. Ada apaan sih sebenarnya hari ini?"Kenji menggeleng-gelengkan kepala, meringis prihatin. “Dari sebelum latihan di mulai, mood-nya lagi hancur parah.
"Bagus, ya ... Baru kemarin sore diizinkan pergi kencan, semalam langsung berani nggak pulang ke rumah?!”Suara berat Zavian menggelegar, memecah keheningan koridor pusat pelatihan renang yang masih sepi di pagi hari.Zavian berdiri tegap dengan kedua tangan berkacak pinggang di dekat gerbang masuk kolam. Wajah sang kepala pelatih tampak sangat tegang, matanya menatap tajam dua orang yang baru saja tiba dari apartemen.Zea refleks melangkah mundur, bersembunyi rapat di belakang tubuh tegap Marco. Tangannya mencengkeram erat bagian belakang kaos polo yang dikenakan pria itu.Marco sama sekali tidak gentar. Pria itu mendekat satu langkah, menutupi tubuh Zea sepenuhnya dan pasang badan berhadapan langsung dengan Zavian."Coach, dengarkan dulu penjelasan saya," ucap Marco tenang dan datar. "Semalam kondisi fisik Zea lemah lagi. Dadanya kumat lagi dan luapan ASI-nya keluar di tengah jalan."Mendengar penuturan Marco, raut wajah Zavian seketika membeku. Ia terdiam sejenak, menatap Zea
“Masuk,” ucap Marco pelan. “Pelan-pelan.” Zea mengangguk. Kepalanya masih sedikit pusing, tetapi jauh lebih baik dibandingkan tadi. Ia melepaskan handuk lalu masuk ke dalam air hangat di bathtub. Seketika, rasa hangat dari air itu membuat tubuhnya terasa lebih rileks. Marco yang sudah duduk lebih dulu di dalam air, menarik Zea hingga duduk di antara kedua kakinya. Punggung Zea bersandar pada dada bidangnya. Tangan kekarnya meraih gayung kecil, menyiramkan air hangat secara perlahan ke bahu dan leher Zea. Air hangat memenuhi bathtub hingga hampir penuh. Uap tipis naik perlahan, membuat kaca kamar mandi sedikit berkabut. Lampu redup hanya menyisakan cahaya kuning lembut dari dinding. "Gimana kepalamu? Masih pusing?" tanya Marco rendah. Suara baritonnya bergema halus tepat di samping telinga Zea. Zea menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Marco, matanya terpejam menikmati usapan lembut jemari pria itu di bilasan rambutnya. "Masih agak keliyengan sedikit ... tapi udah jauh lebih ba
"Kalau Zea nggak bisa pulang, Tante izinkan dia tinggal di apartemen keluargamu malam ini."Mendengar kalimat izin yang meluncur begitu mudah dari ibunya lewat pengeras suara ponsel Marco, Zea tersentak kaget. Ia refleks memaksakan tubuhnya untuk bangkit dari posisi berbaring.Melihat gerakan Zea yang tiba-tiba itu, Marco dengan cepat merengkuh kedua bahu Zea, menahannya dengan lembut namun cekatan agar wanita yang masih lemas itu tidak mendadak duduk dan membuat kepalanya kembali melayang."M-Ma ..." cicit Zea pelan ke arah ponsel Marco, matanya menatap Marco dengan raut cemas yang membuncah. "T-tapi ... Kak Zavian gimana? Kalau Kakak tahu aku nggak pulang, nanti Kakak makin ngamuk lagi sama Marco besok di tempat latihan ..."Suara kekehan renyah Donna terdengar samar dari seberang telepon."Kalau Zavian, biar Mama yang urus, Zea," potong Donna menenangkan.Lalu ada jeda beberapa detik sebelum Donna melanjutkan dengan nada mengomel khas seorang ibu. "Lagian, kenapa kamu nggak
Deru mesin mobil sport merah milik Marco membelah keheningan malam dengan kecepatan di atas rata-rata. Di dalam kabin yang sepi, napas Zea terdengar halus namun sedikit tersendat. Kedua tangannya mencengkram erat sabuk pengaman, sementara matanya terpejam menahan sensasi kencang dan nyeri yang kian bergejolak di dadanya. Setiap goncangan halus mobil membuat rasa penuh kedua dadanya kian menyiksa. Di kursi kemudi, rahang Marco terkatup rapat. Sebelah tangannya menggenggam erat jemari Zea yang dingin di atas paha, membagikan kehangatan sembari memberikan tekanan lembut yang menenangkan. Pria itu memangkas jarak tempuh yang biasanya memakan waktu puluhan menit, menembus kelonggaran jalanan kota hingga akhirnya mobil itu meluncur masuk ke area parkir privat basement gedung apartemen. Mobil berhenti sempurna di slot parkir khusus VIP yang langsung terhubung dengan akses lift pribadi. Tanpa membuang waktu, Marco mematikan mesin, melangkah turun, dan membukakan pintu kursi penumpa







