Partager

07. Kesepakatan.

Auteur: Amaleo
last update Date de publication: 2026-07-06 13:17:43

Suara Dimas disusul suara klik pintu yang terbuka membuat Zea terperanjat kaget. Tubuhnya menegang hebat dan jantungnya hampir copot.

Marco masih menempel di dada Zea dengan mulutnya baru saja lepas dari puncak payudaranya dengan bunyi basah yang memalukan.

Zea lantas mendorong bahu Marco panik.

“M–Marco! Lepas! Lepas!” bisiknya ketakutan.

Marco berdecak kesal, tapi melepaskan diri. Ia menyapu sisa cairan di bibir dan dagunya dengan punggung tangannya sebelum berteriak tanpa menoleh ke arah pi
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   11. Aku Butuh Kamu Sekarang.

    Setelah wanita itu pergi meninggalkan gedung pelatihan dengan mobil mewahnya, Marco berjalan masuk dan mulai bergabung dengan para atlet lainnya.Kenji, Dimas, maupun Rafi mulai mengerumuni Marco dengan ekspresi penasaran dan senyum-senyum jahil yang sangat ketara.“Bro, tumben dianter Selena? Lagi sayang-sayangnya, ya?” tanya Kenji sambil merangkul Marco. “Jadi, kalian udah official?”Dimas tampak menyikut Kenji. “Kemarin main di loker sama adiknya Coach. Eh, sekarang kamu di anter sama Selena. Sisain dikit cewek buat kita dong, Marco.”Marco hanya melirik mereka sekilas dengan ekspresi acuh tak acuh. Ia melepas tas olahraga yang ia tenteng dan melemparnya ke bangku tanpa berkata apa-apa, seolah obrolan itu tidak menarik perhatiannya sama sekali.Kenji tidak menyerah, “Eh, jangan diem dong. Cerita dikit lah. Hubungan kalian udah sejauh mana, sih?”Marco hanya mendengus pelan, lalu tersenyum miring sambil melepaskan rangkulan tangan Kenji dari pundaknya. “Pik

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   10. Wanita Misterius.

    Mata Zea tak bisa lepas dari pesan Marco yang terpampang di layar. Apa pria itu sudah benar-benar gila?! Begitu berani dan bernafsu memintanya seolah pemberian ASI adalah kewajiban yang harus dituruti.Ia hendak mengetik balasan dengan tangan gemetar ketika ponselnya bergetar keras. Panggilan masuk dari nomor Marco.Sial! Tanpa sempat berpikir panjang, ia mengangkat telepon itu.“Apa lagi, Marco?” seru Zea, suaranya bergetar antara amarah dan kebingungan. “Aku sudah bilang berkali-kali, aku tidak pernah sepakat dengan permintaan gila kamu! Ini salah … ini benar-benar keterlaluan!”“Keterlaluan?” ulangnya. “Aku sudah berbaik hati membantu kamu meredakan nyeri di dada kamu. Harusnya kamu bilang ‘terima kasih’.”Zea menggenggam ponsel lebih erat. “Kamu nggak ngerti juga ya? Kalau Kak Zavian dan lainnya sampai tahu apa yang kita lakukan, kamu bisa kena sanksi! Bahkan bisa diberhentikan dari klub!”Zea memijat pangkal hidungnya sejenak. “Kamu atlet, Marc

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   09. Pesan Singkat dari Marco.

    Zea merasa wajahnya panas lagi. Ia menarik resleting jaket Marco lebih tinggi sambil berusaha menyembunyikan noda yang masih samar di kaus dalamnya.“Ini … aku cuma pinjem, Ma. Bajuku basah tadi pas bantu-bantu.”Donna mendekat dengan mata yang berbinar. “Wangi sih … wangi parfum maskulin. Siapa cowoknya? Ganteng?”Zavian yang baru masuk melirik Zea sekilas. “Itu punya Marco, Ma. Mama masih ingat Marco Yozefa, kan?”Donna langsung terperangah dan matanya membulat semangat.“Marco Yozefa? Yang dulu anak tetangga sebelah rumah kita itu?”Zea mengangguk kikuk. “I–iya ….”“Anak yang pendiam itu dan suka ngekorin kamu kemana-mana? Dulu kalian sering main bareng di kolam renang waktu Zavian les renang, kan?”“Mama ingat?” Zea mengerjap kaget.Donna tertawa kecil. “ Ingat, dong! Sayang banget setelah lulus SMP, dia ikut orang tuanya pindah keluar kota.”Zavian mengangguk. “Dia sudah pindah lagi ke kota ini sejak beberapa bulan lalu, akhirnya sek

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   08. Jaket Marco.

    Semua kepala langsung menoleh ke arah Zea yang berdiri terpaku. Rafi, Dimas, Kenji, bahkan Zavian menatapnya dengan ekspresi berbeda.Zea merasa ingin mati sekarang juga. Jaket Marco yang kebesaran masih menempel di tubuhnya, menutupi noda basah di kausnya. Aroma pria itu terlalu kuat, seolah menandai kepemilikan.“Wah wah wah,” Dimas nyengir lebar. “Kalian berdua tadi di loker lama banget. Jaketnya sampe dipake segala?”Kenji menimpali sambil tertawa. “Tadi juga bau vanila kemana-mana. Ada yang lagi nyemil apa di situ?”Zea merasa wajahnya panas seperti terbakar. Jaket Marco yang kebesaran menutupi noda basah di kausnya, tapi aroma pria itu justru semakin kuat menyelimuti tubuhnya.Zavian mengerutkan kening dalam. Tatapannya berpindah tajam dari Zea ke Marco.“Marco,” suaranya datar tapi penuh wibawa. “Kenapa adik saya pakai jaketmu?”Marco menjawab dengan tenang, tanpa ada keraguan. “Bajunya basah kena air. Jadi saya pinjami jaket dulu, Coach.”Zavian menyipitkan mata. Ia memanggil

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   07. Kesepakatan.

    Suara Dimas disusul suara klik pintu yang terbuka membuat Zea terperanjat kaget. Tubuhnya menegang hebat dan jantungnya hampir copot.Marco masih menempel di dada Zea dengan mulutnya baru saja lepas dari puncak payudaranya dengan bunyi basah yang memalukan. Zea lantas mendorong bahu Marco panik.“M–Marco! Lepas! Lepas!” bisiknya ketakutan.Marco berdecak kesal, tapi melepaskan diri. Ia menyapu sisa cairan di bibir dan dagunya dengan punggung tangannya sebelum berteriak tanpa menoleh ke arah pintu.“Tunggu di sana!”Dimas yang masih mengintip dari celah pintu nyengir lebar. “Wah, lagi ngapain kalian berdua? Aromanya enak banget sih dari tadi. Ada yang lagi nyemil vanila?”“Keluar, Dimas,” desis Marco dingin.Dimas tertawa kecil sambil mundur. “Iya iya, aku nggak liat apa-apa. Buruan keluar, Coach udah ngomel-ngomel.”Pintu kembali tertutup, disusul suara langkah Dimas menjauh.Zea langsung buru-buru menarik sport bra-nya ke posisi semula. Tangannya gemetar saat menurunkan kaus yang ba

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   06. Marco, Tolong Bantu Aku.

    Dunia Zea langsung jungkir balik.“M-maksud kamu …?” suaranya pecah, hampir tidak keluar.Marco tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap dada Zea yang masih basah dengan tatapan lapar yang tidak ditutup-tutupi sambil tangan besarnya perlahan bergerak naik ke bawah dada dengan gerakan pelan yang sengaja.“Sudah merembes terus dari tadi,” gumamnya serak. “Bau vanilanya semakin kuat. Kamu nggak tahan, kan?”Ya Tuhan, pria ini ... bagaimana bisa mengucapkan hal sememalukan itu dengan wajah setenang itu?!Zea menggigit bibir bawahnya keras sampai terasa sakit. Putingnya mengeras hebat di bawah kain basah, bahkan cairan hangat terus merembes pelan, membuat bajunya semakin transparan di bagian itu.“Ma-Marco, kamu udah gila ya?” bisik Zea gemetar sambil mendorong dada Marco agar menjauh. “Kamu nggak boleh sembarangan begitu …”“Tapi aku sudah minum ASI-mu,” balas Marco dengan suara rendah yang menggoda. “Dan jujur, rasanya nggak buruk.”Ia malah menarik Zea lebih dekat hingga dada g

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status