INICIAR SESIÓNBegitu melihat Zea berdiri di teras, Marco akhirnya bisa bernapas lega. Matanya menyapu tubuh Zea dari atas sampai bawah, memastikan Zea benar-benar ada dan utuh, setelah ia terus memikirkan keadaan gadis itu berhari-hari."Zea ..." panggilnya sambil melangkah mendekat.Namun Zea justru mundur satu langkah. Napasnya memburu. Wajahnya menegang, jelas terkejut sekaligus marah melihat Marco berdiri di hadapannya.Marco berhenti di tempatnya. Kelegaan di wajahnya perlahan luntur, digantikan kebingungan begitu menyadari sorot mata Zea yang ketakutan bercampur amarah.Tatapannya berpindah tajam ke arah Dimas. "Ngapain kamu bawa bajingan ini ke sini?!"Dimas tersentak dan matanya terbelalak. "Zea, tunggu dulu. Aku nggak ajak Marco. Dia yang maksa—""BOHONG!”Teriakan itu menggema di halaman kecil rumah Feby. Dimas langsung bungkam, tak menyangka reaksi seperti itu akan datang dari Zea.Dari dalam rumah, Henny yang dudu
Sore itu, dapur kecil rumah Feby dipenuhi aroma harum mentega dan vanila dari spikoe yang sedang dipanggang. Zea berdiri di depan meja dapur, memperhatikan adonan di dalam mangkuk besar dengan ekspresi serius, seolah sedang menghadapi sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar membuat kue. Di sampingnya, Henny duduk di kursi roda sambil memperhatikan setiap gerakan Zea.“Pelan-pelan aja ngaduknya, Zea,” ucap Henny sambil terkekeh. “Kalau terlalu semangat, adonannya malah bisa berantakan.”Zea tertawa kecil dan memperlambat gerakan tangannya. “Maaf, Tante. Aku memang nggak jago baking.”“Namanya juga belajar. Dulu Tante juga nggak langsung bisa.” Henny tersenyum. “Yang penting jangan takut gagal.”Zea mengangguk, lalu kembali mengaduk adonan dengan lebih hati-hati. “Aku pengin coba bikin spikoe sendiri. Kelihatannya gampang kalau lihat orang lain, ternyata pas bikin sendiri ...” Ia melirik adonan di depannya dengan wajah rag
Selena menatap layar ponselnya lama. Senyum tipis di wajahnya perlahan menghilang. Jempolnya berhenti di atas layar tanpa membalas."Kenapa, Sel?" Steve menoleh sekilas, masih dengan nada santai seperti tadi. "Ada masalah?""Nggak," jawab Selena cepat, meletakkan ponsel di pangkuannya dengan gerakan yang terlalu hati-hati untuk terlihat biasa saja. "Cuma pesan dari asisten Marco."Ia bangkit dari sofa dan berjalan menuju jendela besar ruang kerja papanya. Kota di bawah sana terlihat ramai seperti biasa, tapi Selena tidak benar-benar melihatnya. Pikirannya masih tertahan pada satu kalimat singkat yang baru saja ia baca.‘Marco menolak hadir.’Bukan yang pertama kali. Tapi entah kenapa, kali ini terasa berbeda. Lebih menyakitkan, meski ia sudah berlatih bertahun-tahun untuk tidak menunjukkan apa pun di wajahnya.Sejak kecil, Selena sudah terbiasa mendapatkan apapun yang ia inginkan. Sekolah terbaik, barang-barang bermerek, perhatia
Siang itu, sinar matahari jatuh melalui jendela kaca besar ruang kerja Yozefa’s Cooperation, menerangi ruangan yang luas dan elegan. Steve Yansen duduk santai di balik meja kerjanya, menempati kursi CEO, sambil menyesap kopi hitam dan menatap layar tablet di mejanya. Senyum puas tak pernah lepas dari wajahnya sejak pagi. Sementara putrinya, Selena Yurika Yansen duduk di sofa seberang dengan penampilan elegan. Gaun berpotongan rapi membalut tubuhnya, dipadukan dengan aksesori sederhana yang tetap terlihat berkelas. Kakinya bersilang, sementara ibu jarinya santai menggulir layar ponsel. Sesekali ia berhenti untuk membaca komentar-komentar yang bermunculan di bawah unggahan tentang dirinya. [Kasian banget Selena, udah gitu tunangannya masih aja deket sama cewek lain.] [Selena strong banget bisa tetep senyum di depan publik.] [Team Selena! Justru dia yang paling pantas dikasihani dalam skandal ini.] Ia tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya sejak skandal itu meledak, ia merasa be
"Berhenti!”Suara Anton meledak begitu Marco menyentuh dinding finis kolam. Beberapa atlet yang masih berada di dalam kolam langsung menoleh.Marco mengangkat wajah dengan napas yang masih memburu.Anton berjalan mendekat dengan rahang mengeras. “Kamu sebut itu time trial?”Marco tidak menjawab.“Catatan waktu kamu anjlok, Marco!” bentaknya. “Anjlok! Saya kasih kamu kesempatan berkali-kali, tapi dari tadi yang saya lihat cuma satu orang yang tubuhnya ada di sini, tapi pikirannya nggak fokus!”Marco mengusap air dari wajahnya, masih berusaha mengatur napas.“Kalau kamu datang ke sini cuma buat menyelesaikan kewajiban, lebih baik keluar dari kolam sekarang!” Anton menunjuk papan catatan waktu dengan geram. “Saya nggak butuh atlet yang cuma punya nama besar tapi nggak bisa memberikan performa terbaiknya!”Suasana di sekitar kolam mendadak senyap.Anton menata
Marco terbangun pagi harinya setelah hanya tidur beberapa jam. Kantung hitam samar terlihat di bawah kedua matanya, tanda ia sudah beberapa hari terakhir tidak benar-benar bisa tidur nyenyak sejak skandal itu meledak di media. Beberapa lebam masih tampak di wajahnya, meninggalkan jejak jelas dari kekerasan yang sudah ia terima beberapa kali. Pikirannya terus kembali pada Zea, teman pertamanya sejak kecil, anak tetangga yang sudah dikenalnya hampir sepanjang hidupnya. Bagaimana keadaannya sekarang? Apa demamnya kembali? Apa dadanya masih terasa penuh dan nyeri sampai membuat kepalanya ikut sakit? Bahkan suara Zea dalam percakapan terakhir mereka masih terngiang di kepalanya, sebelum gadis itu akhirnya memblokir semua kontaknya. Amarah dan kekecewaan dalam suara Zea masih jelas ia ingat ketika gadis itu mengatakan bahwa ia sudah diusir dari rumahnya sendiri. Marco menghembuskan napas berat. Dadanya terasa sesak. Ia frustasi karena tidak tahu harus berbuat apa, selama ia dikurung







