Accueil / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 19. Kemenangan Berkat Zea.

Partager

19. Kemenangan Berkat Zea.

Auteur: Amaleo
last update Date de publication: 2026-07-11 23:57:50
Zavian berjalan mendekati Zea. Pelatih itu tidak ikut bersorak seperti yang lain. Wajahnya datar, tapi matanya tajam memperhatikan adiknya yang berdiri agak jauh dari kerumunan.

“Zea,” panggil Zavian pelan saat sudah berada di sampingnya.

Zea tersentak kecil. Ia buru-buru mengusap sudut matanya yang basah dengan punggung tangan dan memaksakan senyum sambil tertawa gugup.

“Gapapa, Kak. Cuma mata agak perih aja. Debu kali.”

Zavian tidak langsung percaya. Ia menyipitkan mata, menatap wajah adi
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   140. Kebingungan Dimas.

    Beberapa menit kemudian, mobil akhirnya berhenti tepat di depan UGD. Dimas bergerak cepat, turun lebih dulu untuk membuka pintu dan membantu menggendong Zea masuk, tanpa banyak bicara. Suasana UGD yang terang dan steril terasa kontras tajam dengan kekacauan yang baru saja mereka tinggalkan di venue. Seorang perawat segera mendekat begitu melihat kondisi Zea, membawa brankar dan mendorongnya cepat menuju ruang periksa. "Dokter Nancy," Donna berseru, mengikuti di samping brankar. "Tolong, panggilkan Dokter Nancy. Dia yang biasa menangani anak saya." Sebelum pintu ruang periksa tertutup, mata Zea sempat menangkap sosok Dimas yang berdiri mematung di lorong. Matanya menatap Zea dengan sorot yang sulit dibaca. Antara khawatir, syok, dan sesuatu yang belum sepenuhnya ia mengerti. Pintu tertutup, memisahkan Zea dari dunia luar untuk sementara. Dokter Nancy bersama perawatnya datang tidak lama kemudian. Begitu meliha

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   139. Giliran Dimas yang Menolong.

    Zavian terdiam sesaat mendengar ancaman Selena. Napasnya masih memburu, tapi tatapannya perlahan berubah. Dari amarah membara, menjadi sorot mata yang lebih dingin dan menusuk.Ia tertawa pendek dan sinis, tanpa sedikit pun humor di dalamnya.“Jadi begitu, ya, Selena?" ucapnya, suaranya rendah. "Selama ini, setiap kali adik saya berhadapan sama kamu, selalu berakhir seperti ini.”Ia menatap wanita itu lekat, seolah baru benar-benar melihatnya untuk pertama kali.“Sekarang saya mulai ngerti,” lanjut Zavian dingin. “Kamu pintar sekali bermain kata-kata. Seolah semua kesalahan ini murni milik adik saya.”Ingatan tentang ucapan Selena yang sempat mengomentari fisik Zea yang ‘molek’ di depan banyak orang tiba-tiba melintas jelas di kepalanya. Dulu ia hanya merasa risih. Sekarang, ia paham betul apa yang sebenarnya sedang terjadi.Zavian mengalihkan tatapannya ke Marco yang masih berdiri babak belur, lalu kembali ke Selena."J

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   138. Kekacauan Setelah Pertandingan.

    Selena menoleh dengan tubuhnya masih gemetar. “Ah … Marco, aku nggak apa-apain dia. D–dia yang tiba-tiba—”Marco tidak menjawab. Ia berjalan cepat mendekati Zea, mengabaikan Selena sepenuhnya. Tatapannya yang menggelap dan rahangnya yang mengeras menyampaikan lebih banyak daripada kata-kata apa pun.Selena menegang dan mundur lagi tanpa sadar, seolah aura di sekeliling Marco cukup untuk membuatnya gentar.Tubuh Zea tiba-tiba limbung. Marco menangkapnya tepat waktu, lalu buru-buru melepas jaketnya dan membalutkannya menutupi tubuh Zea yang basah di dada.Saat menyentuh pelan pipi gadis itu, matanya menangkap sesuatu. Pipi Zea bengkak. Jelas bekas tamparan.Marco langsung menoleh tajam ke Selena. “Jadi kamu yang tampar dia?”Selena terbata, dengan wajah memucat. “A–aku … dia yang duluan—”Marco tak menunggu respons Selena, dan kembali menatap gadis itu yang kini pingsan.“Zea.” Marco mengelus pelan pipi gadis itu,

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   137. Selena Murka.

    Zea mundur lagi, tapi punggungnya sudah mentok ke dinding. Tidak ada lagi ruang untuk melarikan diri.“Selena, dengerin aku dulu,” ucapnya cepat, suaranya gemetar. “Itu bukan seperti yang kamu pikirkan. Beritanya nggak benar—”“Nggak benar?” Selena tertawa getir, tanpa sedikit pun humor di dalamnya. “Kamu mau bilang itu bukan kamu di foto itu? Bukan kamu yang keluar dari lift bareng Marco?”Zea tidak bisa menjawab. Setiap kata yang ingin diucapkan terasa tercekat di tenggorokan.Melihat keheningan itu, Selena mendengus sinis. Ia berjalan mendekat dan mencengkram kedua bahu Zea dengan kuat, menahannya di tempat.“Lepasin aku!” Zea meronta, tapi cengkeraman itu tidak melonggar sedikit pun.Selena menatapnya dari jarak dekat, jari-jarinya menekan keras di bahu Zea. “Kamu pikir bisa kabur begitu saja setelah semua yang kamu lakukan? Aku sudah dengar semuanya, Zea. Ada saksi yang lihat kalian berdua keluar dari lift. Bahkan dia bilang

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   136. Viral. (pt. 2)

    Di tepi kolam, Marco masih basah kuyup, menerima tepukan di bahu dari beberapa rekan tim yang mengucapkan selamat. Senyum kecil masih tersungging di wajahnya, meski pikirannya sudah mulai teralihkan sejak beberapa menit lalu. Ia melirik ke arah tribun keluarganya. Kursi Papanya kosong, membuat alisnya berkerut dalam. Sejak kapan? Ia baru saja hendak bertanya pada salah satu staf ketika matanya menangkap sosok Moara yang masih duduk di tempatnya, tapi raut wajah wanita itu sudah jauh berbeda dari kebanggaan yang tadi ia tunjukkan. Wajah cemas, khawatir, dan sesuatu yang menyerupai kekecewaan bercampur jadi satu, tergambar jelas di wajahnya. Moara menggenggam ponselnya erat-erat. Beberapa kali ia melirik ke arah Marco, seolah ingin memanggil, tapi tidak tahu harus memulai dari mana. Marco makin merasa ada yang salah. Ia mulai berjalan mendekat ke arah tribun VIP, mengabaikan tepukan-tepukan sel

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   135. Viral. (pt. 1)

    Zea terdiam. Matanya terpaku pada layar ponsel, membaca satu per satu judul yang bermunculan. Wajahnya perlahan kehilangan warna.Ia tidak tahu harus bereaksi apa. Jarinya yang semula sibuk menggulir layar kini berhenti di tempat. Dadanya terasa sesak, sementara pikirannya seperti kosong.Untuk beberapa detik, Zea hanya bisa menatap layar dalam diam. Lidahnya kelu, bahkan untuk sekadar memanggil nama seseorang pun ia tidak sanggup.Ponsel Feby pun bergetar tanpa henti sejak beberapa menit lalu, tapi ia baru sempat mengeceknya sekarang, di sela-sela kesibukan membereskan tas.Ia menggeser layar, membuka salah satu notifikasi dari grup teman kuliahnya. Alisnya berkerut, lalu jarinya bergerak cepat men-scroll ke bawah.Kolom komentar di bawah unggahan berita itu sudah dipenuhi ratusan komentar dalam hitungan menit. Sebagian menuduh perselingkuhan, sebagian lain menyebut nama Selena dengan nada iba. Dan beberapa yang lain mulai berhasil mengi

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status