Home / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 18. Hanya Sapi Perah.

Share

18. Hanya Sapi Perah.

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-07-11 23:56:09
Tok! Tok! Tok!

Zea tersentak bangun saat pintu kamarnya diketuk keras.

“Zea! Sudah jam berapa ini? Kok kamu masih tidur? Kompetisi mulai pukul 09.00 loh!” suara Donna terdengar khawatir dari balik pintu.

Zea mengerjap dan melirik jam di nakas. Tepat pukul 08:45 pagi.

“Ya Tuhan …” gumamnya panik sambil buru-buru bangkit.

Tubuhnya terasa pegal, terutama dadanya yang masih agak sensitif. Ingatan tentang subuh tadi langsung membanjiri pikirannya.

Wajah Zea langsung terasa panas. Ia lantas bur
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   97. Menyatu Di Shower.

    Zea menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang. Ia mengangguk kecil, kedua tangannya mencengkeram bahu Marco lebih erat. “Aku siap. Masukin … pelan-pelan, ya.” Marco mendorong pinggulnya perlahan. Kepala kejantanannya masuk, dan Zea langsung menegang hebat. Desahan sakit langsung lolos dari bibirnya, kuku-kukunya mencengkeram punggung Marco. “Aahh—! Sakit .…” Marco berhenti total. Ia mencium kening Zea, pelipisnya, lalu bibirnya. “Tarik napas pelan-pelan.” Zea menggigit bibir dan memaksa tubuhnya rileks. Marco mendorong lagi dengan sangat pelan. Rasa penuh dan perih membuat Zea menangis pelan, tapi ia tidak meminta berhenti. Tangannya mencengkram punggung Marco semakin kuat, seolah bertahan lewat cengkeraman itu. Ketika seluruh batang Marco akhirnya masuk, keduanya terdiam. Hanya bernapas berat di bawah guyuran air. “Kamu … di dalam aku …” bisik Zea gemetar. “Penuh sekali … ahh …” Marco mengerang rendah. “Kamu … ketat sekali, Zea …. Kamu memelukku begitu erat.” Ia tidak lang

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   96. Aku Mau Kamu, Marco.

    Marco menunduk sedikit, wajahnya hampir menempel di pelipis Zea yang basah. “Kenapa takut?” tanyanya pelan, suaranya rendah dan dalam, hampir tenggelam di antara gemericik air. Zea terdiam lama. Tangannya masih mencengkram punggung Marco seolah takut pria itu akan menghilang. Napasnya bergetar. “Karena aku sering mikir …” ucapnya pelan, “kalau saja aku nggak mengalami semua ini. Kalau saja tubuhku normal seperti perempuan lain yang belum menikah dan belum punya anak, aku bisa jalanin hidup tanpa harus terus mikirin apa kata orang …” Napas Zea tercekat sejenak. “Tanpa harus sembunyi-sembunyi, tanpa takut ada yang tahu tentang tubuhku.” Ia menarik napas panjang, berusaha menahan air matanya. “Tapi … aku malah harus hadapin semua ini sendirian. Harus bohong sama Mama, sama Kak Zavian, bahkan sama orang-orang yang sebenarnya udah baik sama aku.” Marco tetap diam mendengarkan, tanpa memotong. “Aku cuma ingin hidup biasa, Marco,” lanjut Zea lirih. “Bisa pergi sama temen, kerja, ketaw

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   95. Mandi Bersama.

    Zea menegang seketika. Wajahnya memerah hebat hingga ke telinga, dan jantungnya berdegup kencang tak menentu. "Marco … kok tiba-tiba banget." Suaranya kecil dan bergetar, sambil menghindari tatapan pria itu. "Malu …." Ia mencoba menjauh tapi tangan Marco masih melingkar lembut di pinggangnya, tidak melepaskan meski tidak juga memaksa. Marco memandangnya diam sejenak. Sorot matanya begitu tenang dan serius. "Kamu pasti udah capek," ucapnya pelan. "Secara fisik, sama batin." Zea terdiam mendengar itu. Marco melanjutkan dengan suara lebih rendah. “Untung saja temenmu paham posisi kamu. Dia bahkan mau bantu kamu tadi pas ada video call dari Kakakmu, selama aku nggak ada di sini.” Ia mengusap pelan punggung tangan Zea dengan ibu jarinya. “Sekarang, giliran aku yang bener-bener rawat kamu, Zea.” Tidak ada nada menggoda di kalimat itu. Yang tersisa hanya ketulusan dan rasa tanggung jawab yang sudah lama tumbuh diam-diam di antara mereka. Zea menunduk. Ia sadar Marco benar. Tubuhnya le

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   94. Kepercayaan Baru.

    Feby yang duduk di tepi ranjang langsung menghela napas panjang, lalu tertawa kecil. Lebih karena masih shock daripada geli sungguhan. "Untung aja kamu baru balik, Marco. Tadi Kak Zavian sama Mamanya Zea video call mendadak. Terus aku sempet mikir cepet, atur posisi kita berdua di ranjang biar keliatan kayak lagi di kamarku." Marco tersentak. "Video call? Mereka lihat—" "Nggak," potong Zea cepat, buru-buru menenangkan. "Feby atur kameranya bagus banget. Cuma keliatan tembok kosong sama kita berdua. Nggak ada yang curiga.” Marco menghembuskan napas panjang, bahunya sedikit turun, meski matanya masih menyorotkan sisa ketegangan. Ia menatap Feby lama, seolah baru benar-benar memperhatikan perempuan itu untuk pertama kalinya. "Makasih," ucapnya akhirnya, singkat tapi tulus. "Kalau bukan karena kamu—" "Iya, iya, aku tahu, aku udah selamatin kalian," potong Feby sambil menyeringai, mencoba mencairkan suasana. Marco tidak langsung tertawa. Ia malah menoleh ke arah Zea sambil alisnya

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   93. Bantuan dari Teman.

    "Feb,” panggil Zea lirih, sekaligus gemetar, “ja–jangan diangkat dulu! Kita di hotel—" "Zea." Feby memotong cepat, suaranya tenang meski matanya menyorotkan keseriusan. "Kamu keluar rumah pakai alasan ketemu aku, kan?" Zea terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan, rasa bersalah langsung menghantam dadanya. "Maaf, Feb," bisiknya lirih. "Aku ... udah nggak tahu lagi harus pakai alasan apa biar bisa keluar rumah. Jadi aku pakai nama kamu.” Feby tidak menjawab dengan kemarahan seperti yang Zea takutkan. Ia justru mengangguk mantap, seolah semua ini sudah bisa ia duga sejak awal. "Udah kuduga," gumamnya singkat. Lalu tanpa aba-aba, ia menarik tangan Zea. "Ayo, tiduran di ranjang." Zea tersentak kaget, matanya membulat. "M–mau ngapain, Feb?" "Nolongin kamu, lah," jawab Feby cepat sambil menyeret Zea mendekati ranjang. "Apalagi coba? Biar keliatan meyakinkan kalau kamu beneran di rumahku.” Belum sempat Zea mencerna sepenuhnya, Feby sudah menariknya berbaring di atas ranjang.

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   92. Video Call dari Zavian

    Wajah Zea memerah hebat saat pertanyaan itu terlontar dari bibir Feby. Ia menunduk dalam, tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban. Mata Feby membelalak. Bibirnya terbuka sedikit, namun tak ada suara yang keluar. Ia mengusap dahinya pelan, seolah berusaha mencerna pengakuan yang baru saja ia lihat. “Ya ampun …” gumamnya lirih. Pandangannya sempat melirik ke arah pintu, teringat Marco yang baru saja meninggalkan kamar. “Pantas saja …” desisnya pelan, masih sulit percaya. “Pantas dari tadi dia kelihatan sangat protektif sama kamu, Zea!” Ia terdiam sejenak, lalu menatap Zea dengan raut serius. “Dan kamu sudah benar-benar pastiin ke dokter?” tanyanya hati-hati. “Maksudku … soal penanganan itu. Dokter memang bilang cara itu bisa bantu kondisi kamu?” Zea mengangguk pelan. “Iya. Aku sudah bertanya langsung. Menurut beliau, cara itu memang lebih efektif untuk kurangi tekanan kalau pompa saja sudah tidak cukup.” Feby mengangguk pelan, ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status