LOGINZea mundur lagi, tapi punggungnya sudah mentok ke dinding. Tidak ada lagi ruang untuk melarikan diri.
“Selena, dengerin aku dulu,” ucapnya cepat, suaranya gemetar. “Itu bukan seperti yang kamu pikirkan. Beritanya nggak benar—”“Nggak benar?” Selena tertawa getir, tanpa sedikit pun humor di dalamnya. “Kamu mau bilang itu bukan kamu di foto itu? Bukan kamu yang keluar dari lift bareng Marco?”Zea tidak bisa menjawab. Setiap kata yang ingin diucapkan terasa tercekat diZea mundur lagi, tapi punggungnya sudah mentok ke dinding. Tidak ada lagi ruang untuk melarikan diri.“Selena, dengerin aku dulu,” ucapnya cepat, suaranya gemetar. “Itu bukan seperti yang kamu pikirkan. Beritanya nggak benar—”“Nggak benar?” Selena tertawa getir, tanpa sedikit pun humor di dalamnya. “Kamu mau bilang itu bukan kamu di foto itu? Bukan kamu yang keluar dari lift bareng Marco?”Zea tidak bisa menjawab. Setiap kata yang ingin diucapkan terasa tercekat di tenggorokan.Melihat keheningan itu, Selena mendengus sinis. Ia berjalan mendekat dan mencengkram kedua bahu Zea dengan kuat, menahannya di tempat.“Lepasin aku!” Zea meronta, tapi cengkeraman itu tidak melonggar sedikit pun.Selena menatapnya dari jarak dekat, jari-jarinya menekan keras di bahu Zea. “Kamu pikir bisa kabur begitu saja setelah semua yang kamu lakukan? Aku sudah dengar semuanya, Zea. Ada saksi yang lihat kalian berdua keluar dari lift. Bahkan dia bilang
Di tepi kolam, Marco masih basah kuyup, menerima tepukan di bahu dari beberapa rekan tim yang mengucapkan selamat. Senyum kecil masih tersungging di wajahnya, meski pikirannya sudah mulai teralihkan sejak beberapa menit lalu. Ia melirik ke arah tribun keluarganya. Kursi Papanya kosong, membuat alisnya berkerut dalam. Sejak kapan? Ia baru saja hendak bertanya pada salah satu staf ketika matanya menangkap sosok Moara yang masih duduk di tempatnya, tapi raut wajah wanita itu sudah jauh berbeda dari kebanggaan yang tadi ia tunjukkan. Wajah cemas, khawatir, dan sesuatu yang menyerupai kekecewaan bercampur jadi satu, tergambar jelas di wajahnya. Moara menggenggam ponselnya erat-erat. Beberapa kali ia melirik ke arah Marco, seolah ingin memanggil, tapi tidak tahu harus memulai dari mana. Marco makin merasa ada yang salah. Ia mulai berjalan mendekat ke arah tribun VIP, mengabaikan tepukan-tepukan sel
Zea terdiam. Matanya terpaku pada layar ponsel, membaca satu per satu judul yang bermunculan. Wajahnya perlahan kehilangan warna.Ia tidak tahu harus bereaksi apa. Jarinya yang semula sibuk menggulir layar kini berhenti di tempat. Dadanya terasa sesak, sementara pikirannya seperti kosong.Untuk beberapa detik, Zea hanya bisa menatap layar dalam diam. Lidahnya kelu, bahkan untuk sekadar memanggil nama seseorang pun ia tidak sanggup.Ponsel Feby pun bergetar tanpa henti sejak beberapa menit lalu, tapi ia baru sempat mengeceknya sekarang, di sela-sela kesibukan membereskan tas.Ia menggeser layar, membuka salah satu notifikasi dari grup teman kuliahnya. Alisnya berkerut, lalu jarinya bergerak cepat men-scroll ke bawah.Kolom komentar di bawah unggahan berita itu sudah dipenuhi ratusan komentar dalam hitungan menit. Sebagian menuduh perselingkuhan, sebagian lain menyebut nama Selena dengan nada iba. Dan beberapa yang lain mulai berhasil mengi
Marco menyentuh dinding kolam lebih dulu. Angka di papan skor langsung menyala. Catatan waktu yang muncul jauh lebih cepat dari performa ‘anjlok’ beberapa hari terakhir, bahkan rekor pribadi baru. Sorak-sorai penonton langsung pecah serentak. Di tepi kolam, Zavian hampir melompat sambil mengepalkan tangan di udara. Wajahnya penuh kelegaan yang jarang sekali terlihat. Sementara di tribun, Donna langsung berdiri. “Ya Tuhan! Marco menang, Zea!” jeritnya sambil bertepuk tangan histeris. Feby ikut melompat-lompat kecil dan merangkul Zea erat. “Marco tadi berenangnya kayak dikejar setan! Gila!” Zea tersenyum lebar. Untuk sesaat, semua rasa bersalah dan kelelahan semalam terasa terbayar. Usahanya tidak sia-sia. Di kejauhan, tepatnya di deretan VIP, Michael Yozefa berdiri tegak. Tepuk tangannya terdengar formal, tetapi ada kebanggaan yang jarang ia tunjukkan di wajahnya. Keha
Venue kolam renang indoor itu sudah dipenuhi ratusan penonton sejak pagi. Suara riuh obrolan bercampur pengumuman dari pengeras suara memenuhi udara, sementara aroma klorin yang khas menyapu setiap sudut venue. Zea, Donna, dan Feby baru saja sampai di lokasi dan duduk berdampingan di tribun penonton, tepat di baris ketiga dari tepi kolam. "Ya ampun, rame banget!" seru Feby sambil celingukan, matanya berbinar menatap sekeliling. "Aku baru tahu kalau semifinal renang bisa seramai ini.” Donna mengangguk, matanya sibuk menyapu deretan atlet yang sedang pemanasan di tepi kolam. "Iya, apalagi ini semifinal penting. Ada sponsor besar yang nonton juga." "Itu Marco, kan?" Feby menunjuk kecil ke arah salah satu atlet berkaos klub biru tua yang sedang melakukan peregangan. "Ya ampun, keliatan makin gagah kalau lagi serius gini.” Zea hanya tersenyum tipis sambil tangannya diam-diam meremas ujung baju di pangkuannya. Jant
Zea ragu sejenak, tapi tetap menurut. Ia menempatkan diri di atas Marco sambil memandu kejantanan yang masih setengah tegang itu masuk kembali. Rasa penuh di dalam tubuhnya membuat Zea menggigit bibir. Marco memegang pinggangnya. “Gerak perlahan dulu.” Zea mulai bergerak naik-turun. Awalnya kaku dan malu, tapi semakin lama semakin berani. Marco menopang payudaranya, menghisap bergantian sambil menyaksikan cairan putih di puting Zea menetes ke dadanya. “Ahhn … Marco …” desah Zea pelan, dengan suara tercekat. Setiap kali Zea turun lebih dalam, Marco mengerang rendah. “Zea… terus … gerakan ....” Zea menungganginya dengan gerakan yang perlahan semakin cepat, tangan menutup mulut sendiri setiap kali desahan hampir lolos. “Hah … ahh … ngghh .…” Marco menahan pinggangnya posesif, sesekali menariknya turun lebih dalam. Matanya gelap oleh nafsu sekaligus kekhawatiran. “Fuck … Zea … kamu masih saja begitu ketat ….” Meski ini sudah ronde kedua, tubuh Zea masih terasa sangat keta







