Mag-log inSetelah hampir seharian Marco di rumah Zea, malam ini Zea berbaring telentang di atas ranjang kamarnya dengan tubuh yang benar-benar polos. Rambutnya tergerai indah di bantal dengan dada naik-turun pelan. Di layar ponsel yang digenggam Zea, wajah Marco terlihat jelas. Cahaya temaram di sisi sana menerangi garis rahangnya yang tegas dan mata gelap yang seolah bisa menembus layar.Marco pun hanya mengenakan celana dalam. Ia duduk bersandar di headboard ranjang besar di kamar mansion-nya. Otot dada dan perutnya menegang setiap kali ia menarik napas. Matanya tidak pernah lepas dari layar.Pintu kamar Zea terkunci rapat. Tirai jendela yang sudah berteralis besi sudah tertutup rapat, menyisakan kamar dalam kesunyian yang hanya dipecah oleh napasnya sendiri. Cahaya lampu tidur redup hanya menyisakan bayangan lembut di dinding dan di kulit telanjangnya.“Aku mungkin nggak akan bisa tidur malam ini,” ucap Marco rendah, suaranya serak tapi tetap tenang. “Kalau kamu nggak ada di pelukanku.”Zea
"Jangan bilang ... itu Vincent, Kak?" Mata Zea melebar seketika, mulutnya sedikit menganga tak percaya. Nama itu terlontar begitu saja dari bibirnya sebelum ia sempat menyaringnya. Zavian mengangguk tegas, sudut bibirnya terangkat penuh kebanggaan. "Iya, Vincent Ardhana. Dia baru saja menyelesaikan program magister untuk spesialis kedokteran olahraga dan fisioterapi di Inggris lewat jalur beasiswa." Donna yang duduk di sofa menyunggingkan senyum hangat. "Wah, Vincent hebat ya sekarang. Anak itu memang sejak awal terlihat cerdas." "Benar, Ma," lanjut Zavian, suaranya dipenuhi rasa puas. "Begitu pulang minggu lalu, dia langsung menghubungi aku dan menawarkan diri buat bergabung di klub. Dia bilang mau bantu memegang divisi fisiologi dan pemulihan fisik para atlet kita menjelang Final." Zavian menyandarkan punggungnya di sofa, bersedekap dengan binar mata yang amat lega. "Tentu aku terima tanpa pikir panjang. Selain karena latar belakang akademisnya yang luar biasa, ayahnya itu oran
Donna yang berdiri di ambang pintu kamar langsung terkekeh geli melihat wajah kebingungan putrinya. Ia melirik Marco dengan sudut mata yang penuh godaan. "Itu kelakuan Kakakmu, Zea," bocor Donna tertawa pelan. "Tiga hari yang lalu Zavian sengaja panggil tukang besi buat pasang teralis di jendela kamarmu." Zea mengernyit. "Kenapa?" Donna menahan senyum geli. "Katanya ... 'Supaya Marco nggak perlu diam-diam manjat pohon dan masuk lewat jendela lagi malam-malam'." Mendengar penuturan jujur Donna, Zea seketika membeku. Pipinya kembali membakar merah padam akibat rasa canggung yang teramat sangat. Marco yang berdiri di dekat koper mendadak berdehem keras. Wajahnya yang biasa kaku kini tampak sedikit canggung. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit ke arah Donna, hendak menyampaikan permohonan maaf atas tindakan nekatnya di masa lalu. "Tante ... soal waktu itu, sekali lagi saya minta maaf—" "Tidak apa-apa, Marco," potong Donna cepat sambil tersenyum hangat, mengibaskan tangannya sant
Mobil mewah milik keluarga Yozefa yang dikemudikan Adrian berhenti perlahan setelah melewati pagar rumah Zea. Perasaan hangat dan nostalgia seketika membuncah di dadanya. Dari teras rumah, Donna yang sudah menunggu sejak tadi langsung melangkah turun menghampiri. Zavian mengekor di belakang ibunya, bersedekap dengan wajah datar namun raut matanya memancarkan rasa lega yang amat jelas melihat adiknya akhirnya kembali ke rumah. "Mama … Kak Zav, aku pulang," sapa Zea begitu turun dari mobil. Adrian dengan gerakan cekatan dan sangat sopan langsung merogoh bagasi belakang, menurunkan koper besar milik Zea, lalu membawakannya hingga ke dekat pintu ruang tamu. "Selamat pagi, Coach Zavian, Ibu Donna," panggil Adrian sopan. "Koper Nona Zea sudah saya letakkan di dekat pintu masuk." "Aduh, terima kasih banyak ya, Nak Adrian. Maaf jadi merepotkan," sahut Donna tulus. Ia lalu menoleh pada Marco yang baru turun dari mobil dan berdiri di samping Zea. Senyum Donna mengembang makin lebar.
Rafi yang mendadak ciut seketika gagap dan kaku di tempatnya. "E-eh ... bukan begitu ..." Kenji dengan cepat mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara, memasang wajah pasrah. "Bercanda, Marco! Sumpah, bercanda doang!" Zea yang melihat kelakuan posesif kekasihnya tak sanggup menahan tawa. Ia tertawa kecil, lalu menyenggol lengan Marco dengan sikunya, sengaja menggoda pria yang selalu memasang wajah datar itu. "Tuh kan, posesifnya kumat lagi," bisik Zea terkekeh manis di samping telinganya. "Biasa aja kali, Marco. Mereka cuma bercanda." Marco tidak menjawab dengan kata-kata. Sebagai respons atas godaan Zea, pria itu justru merengkuh pinggang Zea begitu protektif, lalu tanpa ragu mendaratkan sebuah kecupan hangat yang cukup lama di pelipis Zea, tepat di hadapan seluruh anggota meja makan. Pipi Zea seketika membakar merah padam. "M-Marco!" TAK! Suara sumpit yang dihantamkan ke atas meja kayu seketika memotong momen manis itu. Zavian duduk tegak dengan rahang terkatup rapat
Suasana di ruangan VIP yang tadinya dipenuhi gelak tawa mendadak hening begitu Moara meletakkan cangkir tehnya dengan ketukan pelan di atas meja. Nyonya Besar Yozefa itu menatap lurus ke arah Zavian yang duduk di seberang meja. "Zavian," buka Moara, suaranya mengalun tenang namun memancarkan wibawa yang tak bisa diabaikan. "Soal klub renang yang kamu pimpin ... Tante berniat menggelontorkan dana sponsor langsung secara pribadi, bersama satu relasi bisnis Tante yang juga tertarik untuk menyuntikkan dana investasi." Seketika, denting sumpit dan obrolan di meja VIP itu terhenti total. Zavian menghentikan gerakan tangannya yang hendak meraih gelas, matanya terbelalak kaget. Semua orang di ruangan itu, dari para atlet muda hingga Donna dan Feby pun terperangah mendengar pengajuan mendadak yang begitu fantastis. "Tante ... maksudnya?" tanya Zavian, suaranya sedikit tertahan karena terkejut. Moara tersenyum tipis, menatap sang kepala pelatih dengan penuh pemahaman. "Tante tahu betul







