Inicio / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 256. Batas Kesabaran Donna & Vonis Dokter.

Compartir

256. Batas Kesabaran Donna & Vonis Dokter.

Autor: Amaleo
last update Fecha de publicación: 2026-10-03 14:33:16

Donna tertegun kaku di ambang pintu. Tatapannya menatap wajah putra sulungnya dengan rasa tak percaya yang mendalam. Nada suara Zavian terdengar begitu asing, dingin, dan sarat akan penolakan yang membentenginya dari segala bujukan.

Namun, jauh di dalam hatinya, Donna sudah menduga reaksi ini. Ia paham betul betapa keras kepalanya putra sulungnya jika sudah menyangkut luka trauma masa lalu dan rasa protektifnya pada sang adik.

Donna menarik napas panjang sebelum berjalan masuk ke dalam kamar Za
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   261. Batalkan Lamaran!

    Suasana di halaman depan rumah seketika hening total begitu ultimatum Zavian menggema di udara. Angin malam yang berhembus pelan seolah ikut membeku, menyisakan keheningan mencekam di antara mereka.Zea terperangah dengan mata membelalak lebar. Bibirnya sedikit terbuka dengan napas tercekat di tenggorokan karena sama sekali tidak menyangka kakaknya akan melontarkan syarat seekstrem itu."K-Kak ..." cicit Zea dengan suara bergetar parau, menatap wajah Zavian tak percaya. "Kakak ... serius sama ucapan Kakak?"Zavian tak mengindahkan pertanyaan adiknya sama sekali. Sepasang matanya yang tajam tidak bergeser satu milimeter pun dari wajah Marco, memantau setiap inci reaksi pria di hadapannya yang masih berdiri tegap dengan raut wajah datar tanpa celah.Pak RT dan beberapa bapak-bapak tetangga saling pandang sejenak. Menyadari arah pembicaraan yang sudah berpindah mutlak menjadi urusan komitmen dan masa depan keluarga, Pak RT memberi isyarat pelan dengan tangannya. Mereka sepakat melangkah

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   260. Syarat: Nikahkan Zea!

    "MARCO!" jerit Zea dan Donna histeris secara bersamaan. Zavian tersungkur menabrak dinding teras sebelum jatuh terjerembab ke lantai. Sudut bibirnya seketika robek, menyisakan lelehan darah segar yang menetes ke lantai keramik. Namun, Zavian bukanlah pria lemah yang mudah ditumbangkan begitu saja. Sebagai mantan atlet renang profesional bertubuh kekar, refleks bertahannya meledak seketika. Dengan napas memburu dan mata menyipit tajam penuh amarah yang tersengat, Zavian bangkit dengan cepat. Ia mengerang keras, melompat maju dan menghentak kedua tangannya lurus ke dada Marco sambil mendorong tubuh tegapnya, hingga terpental mundur menabrak tiang teras. “Brengsek kamu, Marco!” umpat Zavian murka, suaranya menggelegar memecah keheningan malam. “Berani-beraninya kamu melayangkan tinju di rumah saya sendiri?!” Tanpa memberi jeda, Zavian melayangkan pukulan balasan yang menghantam pipi kiri Marco. BUGH! Pukulan sang pelatih cukup keras hingga membuat tubuh Marco terdorong ke s

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   259. Penyesalan Marco.

    Deru mesin mobil sport merah yang berhenti mendadak di depan pagar rumah membelah keheningan malam kompleks pemukiman. Klakson yang berbunyi tajam membuat beberapa lampu teras rumah tetangga menyala satu per satu. Beberapa warga mulai melongok dari balik jendela dan pagar rumah masing-masing."Ada apa sih malam-malam begini? Kok ada mobil mewah berhenti sembarangan?" bisik seorang pria paruh baya dari seberang jalan."Itu ... bukannya Marco Yozefa yang waktu itu di TV? Waduh, ada keributan apa lagi ini di rumah Ibu Donna?" sahut tetangga sebelahnya dengan nada cemas bercampur penasaran.Zea menerobos pintu depan lebih cepat dari Donna. Langkah kakinya berlari tergesa-gesa menyeberangi halaman depan, membuka gerbang pagar yang terkunci pelan. Begitu pintu pagar terbuka, sosok Marco sudah berdiri tegap di samping pintu mobilnya.Kemeja kasual hitam yang membungkus tubuh kokohnya memancarkan pendar bahaya yang begitu pekat. Sorot matanya dingin, tajam, dan penuh intimidasi yang tak ter

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   258. Waktunya Kasih Perhitungan!

    Klik. Sambungan telepon itu diputus sepihak oleh Marco dari seberang sana. Nada bip panjang terdengar samar di telinga Zea sebelum akhirnya lenyap, menyisakan keheningan yang mencekam. Zea terpaku menatap layar ponselnya yang mendadak gelap. Dadanya bergemuruh hebat oleh kepanikan yang sama sekali tidak ia duga. ‘Gawat!’ batin Zea panik setengah mati. Ia dengan cepat menekan tombol panggil ulang, menempelkan ponsel itu ke telinganya dengan napas memburu. Namun, hanya nada dering panjang yang bergema tanpa jawaban hingga terputus otomatis. Ia sempat mengira dengan menceritakan trauma masa lalu Zavian, sekaligus latar belakang keluarganya yang sebenarnya, Marco akan melunak dan memahami alasan di balik sikap protektif kakaknya. Namun, Zea lupa akan satu hal. Ia sedang berhadapan dengan Marco Yozefa. Bagi pria itu, tidak ada alasan apa pun di dunia ini yang dapat membenarkan wanita yang dicintainya sampai menangis, dibentak, atau bahkan diusir. "Marco ... kamu nekat banget ..." cic

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   257. Kesabaran Marco Habis.

    ​​Mendengar vonis tersebut, rahang Zavian seketika mengeras kaku. Harapan besar yang sempat membubung di dadanya runtuh seketika. "M-Menopause, Dok?! Tapi Zea bahkan belum berusia dua puluh lima tahun!" ​"Saya tahu, Zavian," potong Dokter Nancy lembut. "Karena itulah satu-satunya penawar alami untuk Zea saat ini sangat bergantung pada lingkungan sekitarnya. Jangan pernah biarkan Zea mengalami tekanan pikiran atau stres berat.” ​Donna yang berdiri di samping Zavian dengan sigap merebut ponsel dari tangan putranya. Jemarinya menekan ikon pengeras suara, membiarkan suara Dokter Nancy memenuhi kamar yang hening. ​"Dokter Nancy, ini Mamanya Zea, Donna," pangkas Donna dengan nada cemas yang tak ditutupi. "Saya mau tanya. Bagaimana kalau luapan ASI itu tidak bisa keluar maksimal saat pumping, Dok? Apalagi kalau kondisi fisik Zea mendadak demam tinggi dan lemah seperti kemarin?" ​Ada keheningan sejenak di seberang telepon sebelum Dokter Nancy menjawab dengan nada tenang dan profesional.

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   256. Batas Kesabaran Donna & Vonis Dokter.

    Donna tertegun kaku di ambang pintu. Tatapannya menatap wajah putra sulungnya dengan rasa tak percaya yang mendalam. Nada suara Zavian terdengar begitu asing, dingin, dan sarat akan penolakan yang membentenginya dari segala bujukan.Namun, jauh di dalam hatinya, Donna sudah menduga reaksi ini. Ia paham betul betapa keras kepalanya putra sulungnya jika sudah menyangkut luka trauma masa lalu dan rasa protektifnya pada sang adik.Donna menarik napas panjang sebelum berjalan masuk ke dalam kamar Zavian dan menutup pintu di belakangnya. Ia menatap Zavian dengan sorot mata lembut seorang ibu yang mencoba meruntuhkan tembok tebal pertahanan putranya."Mama nggak bermaksud membela Zea, Zav," tutur Donna pelan, suaranya mengalun tenang. "Tapi kamu harus sadar ... Zea itu sudah besar. Dia sudah jadi wanita dewasa yang berhak dan bisa memutuskan sendiri arah hidup serta dengan siapa dia menaruh hatinya."Zavian mendengus sinis, membuang mukanya ke samping. "Bukan soal Zea yang sudah besar atau b

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status