Compartir

318. Donna Bertanya.

Autor: Amaleo
last update Fecha de publicación: 2026-10-23 13:16:38

“Michael! Zea!” panggil Moara dengan napas memburu, matanya membelalak mencari keberadaan putranya.

Lalu, Donna langsung menghampiri Zea. Melihat putri bungsunya berdiri gemetar dengan wajah pucat dan mata sembab penuh air mata, naluri keibuannya seketika membuncah.

​Donna melangkah cepat, lalu merengkuh Zea ke dalam pelukan hangat nan erat.

​“Kamu nggak apa-apa, kan, Nak?” bisik Donna lembut, mengusap punggung Zea yang naik-turun karena napas yang sesak. “Aduh, Sayang ... tenang, ya. Jangan p
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   324. Nih, Minum Sayang!

    Mendengar pertanyaan itu, Zea seketika membelalak pelan. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat tanpa ragu sedikit pun. ​“Tentu saja nggak, Marco!” tegas Zea cepat, suaranya mengalun mantap dengan binar mata yang jujur. “Untuk apa aku menemui pria itu lagi? Dia sudah menghancurkan kepercayaan Kak Zavian, memanipulasi kita semua, dan yang paling parah ... dia sudah bikin bahumu sakit seperti ini.” ​Zea memajukan tubuhnya kembali, merengkuh leher Marco rapat-rapat hingga tak bersisa jarak di antara mereka. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu, meresapi detak jantung Marco yang kuat dan menenangkan. ​“Nggak mau ... pokoknya aku nggak akan pernah sudi ketemu dia lagi,” bisik Zea penuh kepasrahan yang manis. “Aku maunya cuma di sini. Di sampingmu, dan jagain kamu terus sampai bahumu bener-bener sembuh.” ​Sudut bibir Marco yang semula kaku mendadak terangkat tipis. Raut dingin di wajahnya luruh seketika, berganti dengan kehangatan murni yang amat dalam. ​Tangan kirinya

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   323. Penghinaan Vincent Saat Itu.

    ​Suasana di ruang tengah penthouse seketika berubah hening dan kaku. Usapan tangan kiri Marco di betis Zea terhenti perlahan. Sorot mata pria itu mendadak meredup, berganti dengan kilat dingin nan pekat saat ingatan di lorong darurat stadium kembali berputar tajam di kepalanya. Rahang tegasnya sempat terkatup rapat sejenak, menahan gemuruh emosi yang sebenarnya sudah berusaha ia kubur. Zea membisu di tempatnya. Mangkuk es krim di pangkuannya terasa makin dingin di jemarinya, namun tatapannya tak bergeser sedikit pun dari wajah Marco. Ia menunggu dengan sabar, siap mendengar setiap kebenaran di balik pukulan fatal yang menghancurkan bahu kekasihnya itu. “Masalahnya bukan cuma soal provokasi, Zea,” ujar Marco tenang, membuka penjelasannya dengan suara bariton yang rendah. “Waktu Kakakmu memojokkannya di lorong, Vincent sama sekali nggak terlihat takut atau menyesal. Dia justru tertawa sinis, dan mulai memuntahkan semua kata-kata busuknya." Marco menarik napas panjang, la

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   322. Pulang ke Penthouse.

    Esok harinya, menjelang meninggalkan rumah sakit, Dokter Edo terlebih dahulu memberikan penjelasan pada Moara di depan Zea, Marco dan Donna mengenai perawatan yang harus dijalani selama masa pemulihan di ruang rawat VIP.“Untuk beberapa minggu ke depan, bahu kanan Marco harus tetap ditopang dengan shoulder immobilizer ini,” jelas Dokter Edo. “Penyangga ini berfungsi membatasi pergerakan bahu agar cedera tidak semakin parah.”Ia kemudian melanjutkan, “Untuk fisioterapi, Marco perlu menjalani sesi dua sampai tiga kali seminggu, tergantung perkembangan kondisinya. Jenis latihan dan rentang gerak bahunya akan disesuaikan secara bertahap berdasarkan hasil evaluasi medis.”“Peralatan rehabilitasi dasar juga sudah disiapkan di penthouse agar perawatan bisa dilanjutkan di sana. Namun, setiap latihan tetap harus mengikuti arahan fisioterapis. Untuk sementara, hindari gerakan yang membebani bahu kanannya.”“Baik, Edo. Kami mengerti. Terima kasih banyak atas penjelasannya,” sahut Moara sambil men

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   321. Medali Emas untuk Marco.

    Zea duduk terpaku dengan mata berkaca-kaca. Mendengar pengakuan jujur kakaknya di layar televisi, kehangatan dan rasa haru memenuhi dadanya. Ia tak pernah menyangka Zavian akan mengungkapkan penghargaan sedalam itu kepada Marco, kekasih yang begitu dicintainya. Akhirnya ... semua masalah dan kesalahpahaman di antara mereka telah usai. ​Donna pun tak sanggup lagi menahan rasa harunya. Wanita paruh baya itu langsung merengkuh Zea ke dalam pelukan hangat nan erat. “Kamu dengar sendiri, kan, Sayang? Kakakmu benar-benar bangga sama Marco. Semuanya sudah jelas sekarang,” bisik Donna lembut sembari mengusap punggung Zea yang bergetar menahan tangis kelegaan. ​Di sisi lain ranjang, Moara bergerak cepat mendekati putranya. Mata anggunnya berkaca-kaca saat ia membungkuk dan memeluk Marco erat-erat dari sisi kiri, sambil menjaga agar tidak menyentuh bahu kanan pria itu yang masih terpasang penyangga kaku. ​“Mama bangga banget sama kamu, Marco. Tapi tolong, jangan pernah bikin Mama seranga

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   320. Pengakuan Mutlak dari Sang Pelatih.

    Zea terdiam. Matanya berkaca-kaca mendengar kepercayaan yang kini diberikan Michael kepadanya. Ia masih ingat bagaimana pria itu sempat menyalakan dirinya, sehingga perubahan sikap ini terasa begitu berarti. “Pasti, Om. Aku akan terus mendampingi Marco,” jawab Zea lirih sambil mengangguk pelan. Dadanya menghangat oleh haru. Marco menatap papa kandungnya sejenak, lalu mengangguk kecil. Wajahnya tetap tenang, tanpa banyak menunjukkan emosi, meski ia memahami alasan di balik keputusan Michael. “Terima kasih,” ucapnya singkat. Tatapannya kemudian beralih kepada Zea yang masih berdiri di sisinya. “Dengan begitu, Zea nggak perlu bolak-balik ke rumah sakit untuk menemani saya.” Sudut bibir Michael terangkat tipis sejenak sebelum pria itu melanjutkan. “Demi kenyamanan kalian berdua dan menghindari gangguan media,” pangkas Michael mantap, “seluruh tim dokter dan fasilitas alat-alat rehabilitasi medis terbaik akan langsung diboyong dan disiagakan penuh di penthouse mulai besok.” “Pengamana

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   319. Zea Kembali Dapat Kepercayaan.

    Zea terpaku. Matanya refleks menunduk, menatap wadah botol di pangkuannya yang kini telah terisi penuh oleh cairan putih miliknya. Merasa tekanan berat dan rasa nyeri di dadanya sudah jauh lebih ringan, Zea mematikan mesin pompa ASI. Ia mengemas seluruh peralatan medis portabel tersebut dan menyimpan botol ASI itu di dalam pouch pendingin khusus. Setelah merapikan kembali pakaian dan menutup resleting jaket timnya, Zea menarik napas panjang. Ia memberanikan diri mendongak, kembali menatap sang ibu yang sejak tadi memperhatikannya dengan sorot mata teduh dan penuh kesabaran. Zea menimbang-nimbang kata yang tepat, menyusun kejujuran yang selama ini tersimpan rapat. “Aku sebenarnya dari awal nggak nyangka kalau ASI-ku ini bisa berpengaruh besar ke stamina dan fokus Marco di kolam, Ma,” tutur Zea pelan, suaranya mengalun parau. “Dan aku juga sampai sekarang masih nggak habis pikir ... kenapa ini juga bisa mempengaruhi percepatan pemulihan bahu Marco, walau sifatnya cuma sementa

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status