FAZER LOGINZea menahan batang keras Marco dengan satu tangan, lalu menurunkan pinggulnya sangat perlahan. Kepala kejantanan Marco masuk dan meregangkan dinding dalamnya yang sempit. Rasa panas dan penuh langsung memenuhi tubuhnya. “Ahhh … nngghh…” Zea mendesah panjang sembari punggungnya refleks melengkung oleh sensasi yang kenikmatan yang menyelimutinya. “Kamu besar … penuh sekali .…” Marco menggeram rendah, tangan kirinya mencengkeram seprai erat-erat agar tidak bergerak. “Zea … kamu masih saja sempit sekali,” bisiknya serak. Zea tidak menjawab. Ia hanya menarik napas dalam-dalam, lalu menurunkan pinggulnya lebih dalam lagi namun perlahan. Setiap gerakan itu membuatnya merasakan tekanan yang hangat dan keras di dalam, hingga seluruh batang Marco tertanam sempurna. “Hahhh … ahh … Marco …” desah Zea dengan suara bergetar. “Kamu … di dalamku … penuh banget …” Zea diam sejenak sambil membiarkan tubuhnya menyesuaikan diri dengan rasa penuh itu. Kemudian dengan gerakan yang sangat pelan,
Zea yang semula sudah bersandar lemas di pangkuannya mendadak menegang. Matanya yang sayu sedikit membelalak. Ia segera menoleh dan menatap bahu kanan Marco yang masih terbungkus penyangga kaku. Dalam sekejap, hasrat yang membara di dalam dirinya digantikan oleh rasa khawatir yang tajam. “Tapi Marco …” bisik Zea, suaranya serak tapi penuh kehati-hatian. Ia menahan pinggulnya yang sempat bergeser. “Bahumu … kamu nggak bisa bergerak bebas.” Marco menggeram lirih, rahangnya mengeras menahan kekesalan pada dirinya sendiri. Tangan kirinya yang masih melingkar di pinggang Zea sempat mengerat, seolah enggan melepaskan wanita itu dari pelukannya. “Sial,” desisnya nyaris tak terdengar. “Aku benci harus menahan diri seperti ini.” Zea berkedip pelan, lalu menangkup wajah Marco dengan kedua tangannya. Ibu jarinya mengusap pelipis pria itu dengan lembut. “Ssst ... jangan bilang begitu,” bisiknya menenangkan. “Aku nggak mau kamu memaksakan diri. Bahumu masih rentan.” Marco menatapnya dalam-da
Marco terdiam di tempatnya, menatap sosok Zea di hadapannya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ia benar-benar tak habis pikir oleh sikap berani yang ditunjukkan wanita itu malam ini. Pria itu masih ingat betul awal pertama kali mereka bertemu di pusat pelatihan. Zea dulu tampak begitu pemalu, polos, dan menjaga jarak. Dulu, wanita itu selalu memberontak setiap kali dirinya berusaha menyentuhnya atau sekadar memeluknya. Sudut bibir Marco refleks terangkat tipis. Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan karena melihat betapa besarnya perubahan Zea yang dulu dengan Zea yang berada di depannya sekarang. "Kamu serius?" tanya Marco serak, tatapannya menyipit geli. Wajah Zea seketika berubah. Bibirnya langsung maju mengerucut karena rasa malu dan sebal yang mendadak membakar dadanya. “Ya sudah, kalau kamu nggak mau,” cetus Zea bersungut-sungut. “Aku buang ASI ini ke wastafel saja!” Baru saja Zea hendak bangkit dari tepi ranjang, Marco cepat-cepat memotong pergerakannya dengan
Mendengar pertanyaan itu, Zea seketika membelalak pelan. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat tanpa ragu sedikit pun. “Tentu saja nggak, Marco!” tegas Zea cepat, suaranya mengalun mantap dengan binar mata yang jujur. “Untuk apa aku menemui pria itu lagi? Dia sudah menghancurkan kepercayaan Kak Zavian, memanipulasi kita semua, dan yang paling parah ... dia sudah bikin bahumu sakit seperti ini.” Zea memajukan tubuhnya kembali, merengkuh leher Marco rapat-rapat hingga tak bersisa jarak di antara mereka. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu, meresapi detak jantung Marco yang kuat dan menenangkan. “Nggak mau ... pokoknya aku nggak akan pernah sudi ketemu dia lagi,” bisik Zea penuh kepasrahan yang manis. “Aku maunya cuma di sini. Di sampingmu, dan jagain kamu terus sampai bahumu bener-bener sembuh.” Sudut bibir Marco yang semula kaku mendadak terangkat tipis. Raut dingin di wajahnya luruh seketika, berganti dengan kehangatan murni yang amat dalam. Tangan kirinya
Suasana di ruang tengah penthouse seketika berubah hening dan kaku. Usapan tangan kiri Marco di betis Zea terhenti perlahan. Sorot mata pria itu mendadak meredup, berganti dengan kilat dingin nan pekat saat ingatan di lorong darurat stadium kembali berputar tajam di kepalanya. Rahang tegasnya sempat terkatup rapat sejenak, menahan gemuruh emosi yang sebenarnya sudah berusaha ia kubur. Zea membisu di tempatnya. Mangkuk es krim di pangkuannya terasa makin dingin di jemarinya, namun tatapannya tak bergeser sedikit pun dari wajah Marco. Ia menunggu dengan sabar, siap mendengar setiap kebenaran di balik pukulan fatal yang menghancurkan bahu kekasihnya itu. “Masalahnya bukan cuma soal provokasi, Zea,” ujar Marco tenang, membuka penjelasannya dengan suara bariton yang rendah. “Waktu Kakakmu memojokkannya di lorong, Vincent sama sekali nggak terlihat takut atau menyesal. Dia justru tertawa sinis, dan mulai memuntahkan semua kata-kata busuknya." Marco menarik napas panjang, la
Esok harinya, menjelang meninggalkan rumah sakit, Dokter Edo terlebih dahulu memberikan penjelasan pada Moara di depan Zea, Marco dan Donna mengenai perawatan yang harus dijalani selama masa pemulihan di ruang rawat VIP.“Untuk beberapa minggu ke depan, bahu kanan Marco harus tetap ditopang dengan shoulder immobilizer ini,” jelas Dokter Edo. “Penyangga ini berfungsi membatasi pergerakan bahu agar cedera tidak semakin parah.”Ia kemudian melanjutkan, “Untuk fisioterapi, Marco perlu menjalani sesi dua sampai tiga kali seminggu, tergantung perkembangan kondisinya. Jenis latihan dan rentang gerak bahunya akan disesuaikan secara bertahap berdasarkan hasil evaluasi medis.”“Peralatan rehabilitasi dasar juga sudah disiapkan di penthouse agar perawatan bisa dilanjutkan di sana. Namun, setiap latihan tetap harus mengikuti arahan fisioterapis. Untuk sementara, hindari gerakan yang membebani bahu kanannya.”“Baik, Edo. Kami mengerti. Terima kasih banyak atas penjelasannya,” sahut Moara sambil men







