แชร์

40. Manipulasi Selena.

ผู้เขียน: Amaleo
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-19 23:57:11
"Oh, iya, boleh," jawab Zea, sedikit terkejut. “Mau ngrobrolin apa?”

Selena tersenyum manis. “Aku mau minta maaf, waktu itu aku kira kamu asisten dari panitia penyelenggara atau dari venue, jadi aku minta tolong cuciin handuk itu.”

Raut wajah Selena tampak menyesal, ia meraih kedua tangan Zea dengan gestur yang tulus. “Ternyata kamu adik Coach Zavian. Aku baru tahu setelahnya. Aku minta maaf, ya.”

Zea tersenyum kikuk. Tidak enak membuat perhatian orang-orang teralih padanya. Ia mengangguk. “I
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   132. Setelah Malam Panas, Menuju Hari Pertandingan!

    Zea ragu sejenak, tapi tetap menurut. Ia menempatkan diri di atas Marco sambil memandu kejantanan yang masih setengah tegang itu masuk kembali. Rasa penuh di dalam tubuhnya membuat Zea menggigit bibir. Marco memegang pinggangnya. “Gerak perlahan dulu.” Zea mulai bergerak naik-turun. Awalnya kaku dan malu, tapi semakin lama semakin berani. Marco menopang payudaranya, menghisap bergantian sambil menyaksikan cairan putih di puting Zea menetes ke dadanya. “Ahhn … Marco …” desah Zea pelan, dengan suara tercekat. Setiap kali Zea turun lebih dalam, Marco mengerang rendah. “Zea… terus … gerakan ....” Zea menungganginya dengan gerakan yang perlahan semakin cepat, tangan menutup mulut sendiri setiap kali desahan hampir lolos. “Hah … ahh … ngghh .…” Marco menahan pinggangnya posesif, sesekali menariknya turun lebih dalam. Matanya gelap oleh nafsu sekaligus kekhawatiran. “Fuck … Zea … kamu masih saja begitu ketat ….” Meski ini sudah ronde kedua, tubuh Zea masih terasa sangat keta

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   131. Dua Ronde XXX.

    Marco menatapnya sejenak, lalu mengangguk. “Baik, aku akan minum langsung.” Ia mendorong Zea pelan hingga duduk di tepi ranjang, dan ia berlutut di depannya. Baju tidur Zea disingkap ke atas, lalu bra ditarik turun. Kedua payudara yang penuh dan memerah langsung terpapar di udara dingin kamar. Marco tidak menunggu lagi. Ia menunduk dan langsung menghisap puting kanan dengan dalam dan rakus, jauh lebih intens dari biasanya. Seolah tubuhnya sudah terlalu lama menahan lapar akan rasa itu. “Ahhh…” Zea mendesah tertahan, jari-jarinya langsung mencengkeram bahu Marco. Cairan putih mengalir deras ke mulut pria itu. Marco menelan dan menghisap lebih kuat. Lidahnya berputar dan menekan, memaksa keluar sebanyak mungkin. Ia berpindah ke sisi kiri tanpa melepas hisapan sepenuhnya. Tangan besarnya meremas payudara yang satunya sambil memijat, agar cairan putihnya terus mengalir keluar. Suara hisapan basah memenuhi keheningan kamar. Zea menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha menahan sua

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   130. Malam Sebelum Pertandingan.

    Marco terdiam sejenak di ujung telepon. "Kamu yakin, Zea? Nanti Mama dan Kakakmu—" "Udah, cepetan datang!" potong Zea, suaranya panik tapi tegas. "Sebelum aku berubah pikiran! Aku nggak mau besok kamu gagal, Marco!" Marco terdiam sejenak, lalu menjawab singkat. "Oke." Zea menarik napas cepat, lalu menambahkan peringatan yang sejak tadi mengganjal pikirannya. "Pastikan kamu nggak pakai parfum atau wewangian apa pun! Jangan sampai besok kamu ninggalin jejak di kamarku kayak biasanya." "Oke. Aku ke sana." Sambungan telepon pun putus. Zea duduk di tepi ranjang dengan jantungnya yang masih berdegup kencang. Jari-jarinya bergerak cepat mengetik pesan ke Feby, lantaran ia teringat undangan Zavian di kamarnya tadi. Zea: [Besok kamu senggang, nggak?] Balasan datang cukup cepat. Feby: [Nggak, ada apaan?] Zea: [Mau ikut nonton pertandingan semi final bareng, nggak? Sama aku dan Mama?] Beberapa menit kemudian, Feby membalas dengan semangat. Feby: [Aku mau ikut! Besok aku je

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   129. Zea Nekat.

    Zea mengernyit, berusaha terlihat sepolos mungkin. “Kok malah nanya aku, Kak? Aku kan udah nggak di pusat pelatihan.” Zavian menghela napas berat sambil jarinya mengetuk-ngetuk meja. “Karena sejak status kamu ditangguhkan, performa Marco langsung anjlok balik ke titik awal. Kayak waktu dia pertama masuk klub.” Ia menatap layar laptopnya sekali lagi, seolah masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat sendiri. “Dia jadi sering gelisah. Belakang ini Kakak perhatiin dia bolak-balik ke lounge, kayak nyari sesuatu. Terus keluar lagi dengan muka putus asa. Kakak nggak tahu dia nyari apa.” Zavian menggeleng pelan. "Padahal waktu kamu masih ada, dia selalu tenang dan fokus. Performanya juga stabil, bahkan sering mecahin rekornya sendiri.” Zea terkekeh kikuk, berusaha menormalkan suaranya. "Ya … mungkin dia lagi nervous aja, Kak. Ini kan semi final. Kenapa harus disangkut-pautin sama aku?" Zavian terdiam sebentar, menatapnya lama. "Aku juga perhatiin," lanjut Zea, mencoba mengalihkan, "K

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   128. Performa Marco Anjlok Sejak Zea Tidak Ada.

    Begitu nama Marco disebut, Zea langsung menunduk. Bahunya sedikit turun, karena kali ini ia tidak bisa lagi mencari alasan untuk membantah. Donna terdiam sebentar, sebelum akhirnya mengangguk mengerti. Pantas saja Zavian begitu marah besar malam itu. Bukan cuma karena curiga, tapi karena ia sudah melihat sendiri sesuatu yang selama ini Zea sembunyikan di balik kerah baju tinggi yang Zea selalu kenakan belakangan ini. “Mama sudah tahu, Nak,” ucap Donna pelan sambil menggenggam jemari Zea. “Mama cuma ingin dengar dari kamu sendiri.” Zea tetap diam. Donna menatap Zea dalam-dalam. “Dan itu artinya, waktu kalian buat nutupin semua ini … udah makin sempit, Zea. Kapan kalian akan mengaku sebelum masalah ini makin parah?” Zea menghela napas panjang sebelum menjawab. “Marco sudah punya rencana, Ma. Dia mau ngomong jujur sama Kak Zavian, tapi setelah semifinal selesai, dan setelah urusan sponsor juga sudah jelas.” Donna mengerutkan kening. “Kenapa harus nunggu sampai selama itu?”

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   127. Sarapan Canggung.

    Pagi itu, Feby sudah rapi mengenakan blazer kerja yang sempat ia bawa dari rumah sebelum mampir ke tempat Zea semalam. Rambutnya diikat rapi, wangi parfum masih tercium samar saat ia sudah bersiap-siap setelah dandan. "Yuk, turun," ajak Zea sambil merapikan poninya di depan cermin sebentar. "Udah jam segini, kamu nanti telat." Mereka berdua menuruni tangga bersama. Begitu sampai di ruang makan, langkah Zea sedikit melambat. Zavian sudah duduk di kursinya, mengenakan kemeja olahraga klub, dan secangkir kopi di tangan. Ia tidak menoleh saat mendengar langkah kaki mereka, hanya meneguk kopinya sekali lagi. Suasana di ruang makan terasa berat. Zea dan Feby berdiri sejenak di ambang pintu, ragu untuk masuk lebih jauh. Zavian meletakkan cangkirnya, lalu mulai bergerak seolah hendak beranjak dari kursi. "Nasi goreng udah siap!" Suara Donna tiba-tiba muncul dari arah dapur, membawa piring besar berisi nasi goreng yang masih mengepul, disusul piring telur dadar dan kerupuk yang ia t

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status