MasukDonna yang berdiri di ambang pintu kamar langsung terkekeh geli melihat wajah kebingungan putrinya. Ia melirik Marco dengan sudut mata yang penuh godaan. "Itu kelakuan Kakakmu, Zea," bocor Donna tertawa pelan. "Tiga hari yang lalu Zavian sengaja panggil tukang besi buat pasang teralis di jendela kamarmu." Zea mengernyit. "Kenapa?" Donna menahan senyum geli. "Katanya ... 'Supaya Marco nggak perlu diam-diam manjat pohon dan masuk lewat jendela lagi malam-malam'." Mendengar penuturan jujur Donna, Zea seketika membeku. Pipinya kembali membakar merah padam akibat rasa canggung yang teramat sangat. Marco yang berdiri di dekat koper mendadak berdehem keras. Wajahnya yang biasa kaku kini tampak sedikit canggung. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit ke arah Donna, hendak menyampaikan permohonan maaf atas tindakan nekatnya di masa lalu. "Tante ... soal waktu itu, sekali lagi saya minta maaf—" "Tidak apa-apa, Marco," potong Donna cepat sambil tersenyum hangat, mengibaskan tangannya sant
Mobil mewah milik keluarga Yozefa yang dikemudikan Adrian berhenti perlahan setelah melewati pagar rumah Zea. Perasaan hangat dan nostalgia seketika membuncah di dadanya. Dari teras rumah, Donna yang sudah menunggu sejak tadi langsung melangkah turun menghampiri. Zavian mengekor di belakang ibunya, bersedekap dengan wajah datar namun raut matanya memancarkan rasa lega yang amat jelas melihat adiknya akhirnya kembali ke rumah. "Mama … Kak Zav, aku pulang," sapa Zea begitu turun dari mobil. Adrian dengan gerakan cekatan dan sangat sopan langsung merogoh bagasi belakang, menurunkan koper besar milik Zea, lalu membawakannya hingga ke dekat pintu ruang tamu. "Selamat pagi, Coach Zavian, Ibu Donna," panggil Adrian sopan. "Koper Nona Zea sudah saya letakkan di dekat pintu masuk." "Aduh, terima kasih banyak ya, Nak Adrian. Maaf jadi merepotkan," sahut Donna tulus. Ia lalu menoleh pada Marco yang baru turun dari mobil dan berdiri di samping Zea. Senyum Donna mengembang makin lebar.
Rafi yang mendadak ciut seketika gagap dan kaku di tempatnya. "E-eh ... bukan begitu ..." Kenji dengan cepat mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara, memasang wajah pasrah. "Bercanda, Marco! Sumpah, bercanda doang!" Zea yang melihat kelakuan posesif kekasihnya tak sanggup menahan tawa. Ia tertawa kecil, lalu menyenggol lengan Marco dengan sikunya, sengaja menggoda pria yang selalu memasang wajah datar itu. "Tuh kan, posesifnya kumat lagi," bisik Zea terkekeh manis di samping telinganya. "Biasa aja kali, Marco. Mereka cuma bercanda." Marco tidak menjawab dengan kata-kata. Sebagai respons atas godaan Zea, pria itu justru merengkuh pinggang Zea begitu protektif, lalu tanpa ragu mendaratkan sebuah kecupan hangat yang cukup lama di pelipis Zea, tepat di hadapan seluruh anggota meja makan. Pipi Zea seketika membakar merah padam. "M-Marco!" TAK! Suara sumpit yang dihantamkan ke atas meja kayu seketika memotong momen manis itu. Zavian duduk tegak dengan rahang terkatup rapat
Suasana di ruangan VIP yang tadinya dipenuhi gelak tawa mendadak hening begitu Moara meletakkan cangkir tehnya dengan ketukan pelan di atas meja. Nyonya Besar Yozefa itu menatap lurus ke arah Zavian yang duduk di seberang meja. "Zavian," buka Moara, suaranya mengalun tenang namun memancarkan wibawa yang tak bisa diabaikan. "Soal klub renang yang kamu pimpin ... Tante berniat menggelontorkan dana sponsor langsung secara pribadi, bersama satu relasi bisnis Tante yang juga tertarik untuk menyuntikkan dana investasi." Seketika, denting sumpit dan obrolan di meja VIP itu terhenti total. Zavian menghentikan gerakan tangannya yang hendak meraih gelas, matanya terbelalak kaget. Semua orang di ruangan itu, dari para atlet muda hingga Donna dan Feby pun terperangah mendengar pengajuan mendadak yang begitu fantastis. "Tante ... maksudnya?" tanya Zavian, suaranya sedikit tertahan karena terkejut. Moara tersenyum tipis, menatap sang kepala pelatih dengan penuh pemahaman. "Tante tahu betul
Lidah Zea seketika melilit kaku. Tubuhnya serasa kehilangan kekuatan, membuat lututnya hampir tak sanggup menopang berat badannya sendiri.Angin malam yang berhembus di balkon restoran terasa membekukan darahnya. Rahasia paling terlarang dan paling aneh yang selama ini selalu menghantuinya dengan rasa takut dan penolakan, kini telah telanjang bulat di hadapan Moara Yozefa.Yang membuat perut Zea semakin melilit hebat adalah sebuah kesadaran mengerikan yang baru saja menghantam pikirannya. Zea menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap ujung sepatunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Jemarinya meremas ujung kaosnya erat-erat, berusaha menahan getaran hebat di dadanya."K-kalau Tante sudah melihatnya waktu itu ..." suara Zea keluar berupa bisikan parau, penuh desakan rasa bersalah dan ketakutan yang dalam, "berarti Om Michael juga sudah lihat, kan, Tan? Saat konferensi pers itu?"Moara tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan, membenarkan tebakan itu dengan raut w
Suara denting sumpit dan tawa renyah Rafi yang sedang menceritakan kejadian di pusat pelatihan saat sesi duel time trial antara Marco dan Zavian pagi tadi membuat suasana ruangan VIP itu semakin hangat. Hidangan utama khas Jepang pun tertata cantik di atas meja, ditemani aroma teh hijau hangat yang menenangkan. Di sebelah Marco, Zea awalnya ikut tertawa kecil menikmati momen langka ini. Namun, di pertengahan makan malam, rasa tidak nyaman mulai menyusup di dadanya. Hormonnya kembali bergejolak. Rasa hangat yang ia kenal di dada berubah menjadi denyutan kencang, menegang, dan terasa teramat penuh. Sensasi yang sudah sangat ia hafal saat ASI-nya bereaksi dan harus segera dikeluarkan sebelum rasa nyeri menusuk atau cairan itu kembali merembes membasahi bajunya. Zea menggeser posisi duduknya dengan gelisah. Tangan kirinya refleks bergerak meremas paha Marco di bawah meja secara sembunyi-sembunyi. Marco yang sedang mendengarkan celetukan Kenji seketika menoleh. Sorot matanya langsun







