LOGINTepat pukul tujuh pagi Dewa sudah berada di halte dekat gang rumahnya. Tak berapa lama kemudian mobil yang dikendarai Silvia berhenti di depan halte. Tanpa disuruh, Dewa segera masuk ke dalam mobil.
Dari kursi samping, Dewa terus memperhatikan cara Silvia menyetir. Diam-diam Dewa mengagumi Silvia. Bukan hanya cantik, tapi Silvia juga perempuan yang pintar, berwawasan luas, dan mandiri. Wanita itu terlihat semakin keren saat mengemudikan mobilnya.
Perjalanan menuju rumah sakit, diisi dengan perbincangan ringan. Dewa akhirnya tahu bahwa Silvia bekerja sebagai konsultan bisnis secara independen. Dia banyak mengenal orang penting di kota ini. Salah satunya adalah klien yang membutuhkan donor sperma dari Dewa.
Di usianya yang sudah mencapai 30 tahun, Silvia masih betah hidup melajang. Dia tidak percaya dengan pernikahan karena kedua orang tuanya bercerai saat dirinya masih kecil. Setelah itu, kedua orang tuanya kembali menikah, tetapi bercerai lagi.
Pengalaman pahit kedua orang tuanya membuat Silvia enggan untuk menikah. Dia menikmati kehidupannya sekarang yang bebas.
Tak terasa perjalanan mereka berakhir. mobil yang dikendarai Silvia berbelok memasuki pelataran parkir klinik kandungan paling elit di Jakarta. Bangunan klinik terdiri atas lima lantai. Warna catnya putih dan kesan elegan begitu terasa.
Klinik itu tidak memiliki papan nama besar. Hanya sebuah plat tembaga berkilau bertuliskan Claridge Women’s Medical Suite. Di sini, para istri pejabat, selebritas papan atas, dan pengusaha kelas atas melakukan pemeriksaan rutin tanpa harus khawatir tertangkap kamera paparazzi atau berdesakan di ruang tunggu publik.
Setelah memarkirkan mobilnya, Silvia segera keluar dari mobilnya. Dengan cepat Dewa menyusul dari belakang. Begitu masuk ke dalam gedung klinik, kesan privat langsung terasa. Silvia langsung menuju lantai dua, tempat ruang praktek dokter Mario berada.
Sesampainya di lantai dua, perawat yang bertugas membantu dokter Mario menyambut kedatangan Silvia. Perawat itu langsung membukakan ruang prakter sang dokter kandungan tersebut.
Tanpa basa-basi, Silvia langsung memperkenalkan Dewa kepada Mario. Dokter kandungan itu sudah sering menangani klien yang ingin melakukan inseminasi buatan.
Secara singkat, Mario mengatakan peneriksaan apa saja yang harus dijalani Dewa untuk menjadi pendonor sperma. Pria itu menjawab beberapa pertanyaan sebelum pemeriksaan dimulai.
“Pertanyaan terakhir, apa kamu pernah ejakulasi selama lima hari terakhir?”
“T-Tidak pernah,” jawab Dewa malu-malu. Wajahnya seketika memerah. Silvia tertawa pelan melihat reaksi Dewa yang terlihat menggemaskan di matanya.
“Bagus. Kalau begitu prosedurnya akan dilakukan sekarang. Suster Aini akan mengantarmu ke ruangan.”
Dewa segera bangun dari duduknya. Pria itu mengikuti seorang suster yang memandunya ke ruangan koleksi sperma. Perawat itu membukakan pintu dan mempersilakan Dewa masuk.
“Bapak bisa melakukannya di sini. Wadah untuk menampung sampel sperma ada di sini,” sang perawat membuka lemari kecil di atas wastafel. “Di sini juga ada bacaan dan video yang bisa ditonton untuk proses pengambilan sampel.”
Dewa melemparkan senyum kikuknya. Jujur saja, dia cukup malu berada di situasi seperti ini.
Setelah menjelaskan apa yang ada di dalam ruangan, sang suster segera meninggalkan ruangan tersebut. Sekarang tinggal Dewa yang masih bingung harus memulai dari mana.
Dewa mengambil wadah sampel dan tablet yang tersedia di sana lalu duduk di sofa. Pria itu membuka tablet. Di sana terdapat cukup banyak film dewasa yang sengaja disimpan untuk membantu mengeluarkan sampel.
Dewa memutar salah satu video. Sebuah adegan intim langsung tersaji di layar tablet. Saat sedang berkonsentrasi menonton adegan di layar, dia terkejut saat pintu ruangan terbuka. Silvia masuk ke dalamnya dan langsung mendekatinya.
“Apa yang kamu tonton?” tanya Silvia sambil melihat ke layar.
Jantung Dewa berdegup tak karuan ketika tiba-tiba Silvia duduk di pangkuannya. “Santai aja, Dewa. Aku ke sini hanya ingin membantu agar prosesnya lebih cepat.”
Wangi parfum yang bercampur dengan aroma tubuh Silvia seketika membuat Dewa kehilangan akal sehat. Matanya terus tertuju pada bulatan kenyal Silvia yang masih tertutup rapat di balik blouse yang dikenakannya.
“Akh!” Tanpa sadar Dewa mengerang saat Silvia menggerakkan bokongnya di atas Dewa. Perlahan tapi pasti senjata pusakan Dewa mulai menunjukkan keperkasaannya.
Tahu pancingannya berhasil, Silvia segera bangkit. Sebelum pergi, dia mengecup pipi Dewa terlebih dahulu.
Begitu Silvia pergi, Dewa langsung mengeluarkan senjata pusakanya. Tangannya mulai melakukan gerakan naik-turun cantik sambil membayangkan Silvia.
Dua puluh menit kemudian pria itu mencapai puncaknya. Cukup banyak cairan kental yang keluar dan ditampung ke dalam wadah. Dewa segera membersihkan diri, lalu merapikan pakaiannya sebelum keluar dari ruang koleksi sampel.
Usai memberikan sampel, Dewa menjalani pemeriksaan darah. Silvia dengan setia terus menemaninya.
***
Hari pembacaan hasil pemeriksaan darah Dewa tiba. Tadi pagi, dia mendapat telepon dari Silvia. Wanita itu mengatakan hasil tes darahnya keluar hari ini. Silvia yang mengambil hasil tesnya dan akan mengabarinya.
Dewa juga diminta membawa pakaian dan barang-barang pribadinya. Jiwa hasil tesnya baik, dia akan langsung dibawa menemui klien dan tinggal bersama mereka.
Setelah mengikuti perkuliahan, Dewa akan menunggu Silvia dia depan gedung fakultas. Saat menunggu lift, telinga Dewa menangkap suara musik dari ponsel seorang mahasiswi yang berada di dekatnya. Lagu tersebut begitu familiar di telinganya. Pria itu beringsut mendekat seraya melirik ke layar ponsel.
Dewa terkejut saat mengetahui video menarinya kembali tersebar. Padahal dia sudah menghapusnya dua hari yang lalu. Pria itu bergegas menuju bangku kosong. Dia kembali mengeluarkan laptopnya. Dewa kembali menghapus videonya dan mencari sumber yang sudah mengunggahnya.
“Danti,” gumam Dewa pelan.
Pria itu yakin ada keterlibatan Elisa di belakang Danti. Elisa pasti masih ingin mempermalukannya. Jika video ini sampai ke pihak kampus, Dewa pasti akan terkena teguran. Dia bergegas menuju lift yang pintunya sudah terbuka.
Begitu tiba di lantai dasar, pandangan Dewa langsung tertuju kepada Danti. Dia segera mendekati teman sekelasnya itu. tanpa mengatakan apa pun, Dewa langsung menarik tangan Danti ke tempat yang sepi.
“Kamu kan yang udah mengunggah videoku?” tanya Dewa dengan mata berkilat penuh amarah.
“Emangnya kenapa?” tanya Danti santai. Dia malah menantang balik Dewa. Matanya asyik menelusuri wajah tampan Dewa dan berhenti di bagian bawah pria itu.
“Jangan mengujiku, Danti!”
Dewa mendorong Danti hingga punggungnya merapat ke tembok. Pria itu mencengkeran kedua tangan Danti lalu menariknya ke atas. Dewa mendekatkan bibirnya ke bibir Danti.
Danti menahan napasnya. Berada sedekat ini dengan Dewa justru memancing hasratnya. Wanita itu membusungkan dadanya, membuat kemeja yang dikenakannya mengetat. Kancing yang menahan kemeja seakan hendak terlepas karena desakan melon kembarnya yang berukuran cukup besar.
Perhatian Dewa langsung teralihkan melihat melon kembar Danti. Di saat itulah Danti mengambil kesempatan. Dia langsung melahap bibir Dewa. Memagut dan melumatnya dengan rakus.
Dewa yang terkejut, beberapa saat hanya terdiam. Namun desakan lidah Danti yang terus mengetuk bibirnya, tak ayal membuat Dewa membuka mulutnya. Wanita itu langsung menarik lidah Dewa lalu membelitnya. Terbawa permainan lidah Danti, Dewa pun membalas ciuman wanita itu, meski dengan gerakan kaku karena ini adalah ciuman pertamanya.
Ponsel di saku celana Dewa bergetar membuat kesadaran Dewa kembali. Dia langsung mengakhiri ciuman lalu meninggalkan Danti begitu saja.
Sepeninggal Dewa, Danti ikut keluar. Wajahnya terlihat sumringah setelah berhasil mencuri ciuman dari Dewa. Sejak melihat Dewa menari, wanita itu menjadi tergila-gila kepada Dewa.
Sambil mengusap sisa saliva di bibirnya, Danti berjalan menuju Elisa yang sedang berada di depan gedung fakultas. Peristiwa tadi jangan sampai terdengar oleh Elisa, atau dia akan habis menjadi bulan-bulanan wanita itu.
Meski sering menghina Dewa, sebenarnya Elisa menyukai pria itu. Namun karena status sosial Dewa berada di bawahnya, membuat Elisa gengsi. Dia sengaja menghina Dewa untuk menyembunyikan rasa sukanya.
Tak lama kemudian, Dewa muncul. Silvia baru menghubunginya dan mengatakan dirinya sudah tiba di kampus.
Elisa terus mengikuti langkah Dewa yang semakin mendekatinya. Begitu Dewa sampai di dekatnya, belum sempat dia berkata apa-apa, sebuah mobil mewah berhenti di depan gedung fakultas.
Perlahan, kaca mobil bergerak turun. Dari balik kaca, muncul wajah cantik Silvia. “Masuk, Dewa!” seru Silvia.
Tanpa membuang waktu, Dewa langsung masuk ke dalam mobil. Silvia langsung melajukan mobilnya.
“Siapa perempuan itu?” gumam Elisa pelan. Hatinya panas melihat Dewa bersama perempuan lain. Tanpa sadar, tangannya mengepal erat.
“Jangan lupa buah dan camilannya dimakan,” ucapan Lidya membuyarkan lamunan Dewa. Pria itu menggeleng pelan. Tidak percaya bahwa tadi dia membayangkan hal mesum bersama Lidya.Tanpa menunggu jawaban dari Dewa, Lidya keluar dari kamar pria itu. Sepeninggal Lidya, Dewa menghempaskan bokongnya di kasur. Dia mengusap wajahnya kasar. Mengapa setiap berdekatan dengan Lidya dan Silvia, otak kotornya langsung bekerja?Apakah ini karena dirinya terlalu lama menjomblo?Untuk mengusir pikiran buruknya, Dewa melanjutkan pekerjaannya tadi sambil menikmati makanan yang disediakan wanita itu.Tak terasa, dua jam berlalu. Dewa menghentikan pekerjaannya lalu bersiap untuk ke kampus. Hari ini dia masih harus mengikuti ujian akhir di kampusnya.Dengan tergesa, Dewa menuruni tangga dengan tas ransel tersampir di bahunya. Di ruang tengah, dia berpapasan dengan Lidya. “Kamu mau ke mana?” tanya Lidya begitu melihat Dewa.“Aku mau ke kampus. Hari ini masih ada ujian.”“Kalau gitu biar diantar Pak Wawan,” uja
Belum hilang rasa terkejut Dewa karena Silvia muncul tiba-tiba, sekarang wanita itu sudah menempelkan bibirnya di bibir Dewa. Bibir kenyal Silvia mulai memagutnya dengan lembut.Untuk sesaat tubuh Dewa membeku. Dia masih tidak tahu harus melakukan apa. Namun, hebatnya permainan bibir Silvia tak ayal membuat Dewa membalas ciuman wanita itu. Karena Dewa membalas ciumannya, Silvia semakin memperdalam ciumannya.Tangan Dewa mulai bergerak dan berhenti di bokong Silvia. Dia meremas bokong itu layaknya squishy.Sadar bahwa apa yang mereka lakukan bisa berakhir di atas ranjang, Silvia segera mengakhiri ciumannya. Dia memeluk leher Dewa, kemudian berbisik pelan di telinga pria itu.“Aku sangat ingin membawamu ke ranjang. Tapi sampai kamu menjadi pendonor, kita tidak bisa melakukan itu. Aku akan menunggumu.”Silvia menggigit kecil telinga Dewa, membuat tubuh Dewa meremang.Setelah itu, Silvia berenang menuju tepian. Wanita itu segera keluar dari kolam. Dewa yang masih berada di tempatnya, mema
“Apa hasil tesku sudah keluar?” tanya Dewa tak sabar.“Sudah. Sesuai prediksi, hasil tesmu baik. Kamu sehat dan tidak terdeteksi mengidap penyakit berbahaya.”“Syukurlah,” jawab Dewa senang. Setelah menjalani dua pemeriksaan, akhirnya Dewa bisa menjadi pendonor sperma.Sama seperti Dewa, Silvia juga senang mendengar hasil tesnya tidak mengecewakan. Bukan hanya Dewa yang akan mendapat bayaran sebagai pendonor sperma, Silvia juga akan mendapat bayaran yang cukup besar.“Kamu akan langsung tinggal di rumah Pak Hendri mulai hari ini,” ujar Silvia membuyarkan lamunan Dewa. “Sampai waktu inseminasi buatan terjadi, kamu akan tinggal di rumahnya. Dia ingin memastikan sendiri asupan gizimu terpenuhi dengan baik.”“Apa tidak masalah kalau aku tinggal di rumahnya? Bagaimana kalau para tetangga tahu?”Silvia tidak bisa menahan tawanya mendengar pertanyaan polos Dewa. “Kamu pikir tempat tinggal Pak Hendri sama seperti tempat tinggalmu? Nggak usah mengkhawatirkan hal yang tidak perlu.”Dewa melem
Tepat pukul tujuh pagi Dewa sudah berada di halte dekat gang rumahnya. Tak berapa lama kemudian mobil yang dikendarai Silvia berhenti di depan halte. Tanpa disuruh, Dewa segera masuk ke dalam mobil.Dari kursi samping, Dewa terus memperhatikan cara Silvia menyetir. Diam-diam Dewa mengagumi Silvia. Bukan hanya cantik, tapi Silvia juga perempuan yang pintar, berwawasan luas, dan mandiri. Wanita itu terlihat semakin keren saat mengemudikan mobilnya.Perjalanan menuju rumah sakit, diisi dengan perbincangan ringan. Dewa akhirnya tahu bahwa Silvia bekerja sebagai konsultan bisnis secara independen. Dia banyak mengenal orang penting di kota ini. Salah satunya adalah klien yang membutuhkan donor sperma dari Dewa.Di usianya yang sudah mencapai 30 tahun, Silvia masih betah hidup melajang. Dia tidak percaya dengan pernikahan karena kedua orang tuanya bercerai saat dirinya masih kecil. Setelah itu, kedua orang tuanya kembali menikah, tetapi bercerai lagi.Pengalaman pahit kedua orang tuanya memb
Untuk sesaat, Dewa tidak fokus. Aroma parfum Elisa bulatan kenyalnya yang menempel ke dadanya membuat pria itu terdiam sesaat. Namun dia berhasil menguasai dirinya lagi.“Pulang,” jawab Dewa cepat. Mengingat kejadian semalam, Dewa enggan berurusan lagi dengan Elisa. Apalagi wanita itu bermaksud menyebarkan video semalam ke media sosial.“Malam ini ada pesta lagi. Lo datang ya!” Elisa sengaja meninggikan suaranya agar terdengar oleh yang lain.“Maaf, aku nggak bisa,” tolak Dewa tanpa basa-basi.“Sok nolak lagi? Yakin? Nanti ujung-ujungnya lo telepon gue lagi dan terima tawaran gue,” jawab Elisa dengan tatapan meledek.Tanpa sengaja, Dewa melihat salah satu dosennya melintas. Secepatnya dia keluar dari kelas. Pria itu mendorong tubuh Elisa dengan bahunya dan hampir membuatnya terjatuh. “Dewa!” sentak Elisa. Namun diabaikan begitu saja oleh Dewa. Dengan langkah tergesa, dia menyusul Bisma.“Brengsek!” maki Elisa sambil mengepalkan kedua tangannya.Dewa terus berjalan berusaha menyusul
“Mana uang yang kamujanjikan?!”Dewa mengembuskannapas kasar. Pagi-pagi begini penagih utang sudah datang ke rumahnya. Dewasegera mengambil tas lalu mengeluarkan uang dari dalamnya. Dia merapikan duluuang tersebut.Dari hasil saweranElisa dan teman-temannya, Dewa berhasil mendapatkan uang sebanyak dua jutalebih. Cukup untuk membayar tagihan hari ini. Bergegas pria itu keluar darikamarnya. Dia langsung menemui tiga orang penagih yang menunggu di depan rumah.Tubuh Nela menegangketika melihat anaknya keluar. Dia takut para penagih akan memukuli Dewa jikaanaknya tidak bisa memberikan uang yang dijanjikan.“Bayarkan utang yangtertunggak beserta bunga dan biaya keterlambatannya. Total semua satu jutasembilan ratus lima puluh ribu!” seru pria bertubuh gempal pada Dewa.Tanpa mengatakan apapun, Dewa langsung menyerahkan uang di tangannya.Pria bertubuh gempalitu segera menghitung uang dalam amplop. Jumlahnya pas seperti yang disebutkantadi. Dia tersenyum puas lalu mengajak anak







