หน้าหลัก / Urban / Pejantan Tangguh / Bab 6 : Godaan Berdatangan

แชร์

Bab 6 : Godaan Berdatangan

ผู้เขียน: Mooncrest
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-16 09:28:31

 “Apa hasil tesku sudah keluar?” tanya Dewa tak sabar.

“Sudah. Sesuai prediksi, hasil tesmu baik. Kamu sehat dan tidak terdeteksi mengidap penyakit berbahaya.”

“Syukurlah,” jawab Dewa senang. Setelah menjalani dua pemeriksaan, akhirnya Dewa bisa menjadi pendonor sperma.

Sama seperti Dewa, Silvia juga senang mendengar hasil tesnya tidak mengecewakan. Bukan hanya Dewa yang akan mendapat bayaran sebagai pendonor  sperma, Silvia juga akan mendapat bayaran yang cukup besar.

“Kamu akan langsung tinggal di rumah Pak Hendri mulai hari ini,” ujar Silvia membuyarkan lamunan Dewa. “Sampai waktu inseminasi buatan terjadi, kamu akan tinggal di rumahnya. Dia ingin memastikan sendiri asupan gizimu terpenuhi dengan baik.”

“Apa tidak masalah kalau aku tinggal di rumahnya? Bagaimana kalau para tetangga tahu?”

Silvia tidak bisa menahan tawanya mendengar pertanyaan polos Dewa. “Kamu pikir tempat tinggal Pak Hendri sama seperti tempat tinggalmu? Nggak usah mengkhawatirkan hal yang tidak perlu.”

Dewa melemparkan cengiran seraya menggaruk kepalanya. Sesaat pria itu lupa bahwa kliennya adalah seorang konglomerat. Pasti dia tinggal di tempat elit yang terjaga privasinya.

Secara singkat, Silvia memang sudah menceritakan tentang klien yang akan menerima donor spermanya. Mereka adalah Hendri dan Lidya, pasangan suami istri dari kalangan atas. Hendri Bhalendra adalah calon pewaris Cakrawala Grup, sebuah perusahaan holding yang memiliki banyak anak perusahaan.

Hendri digadang-gadang menjadi pemimpin Cakrawala Grup selanjutnya. Selain sebagai anak sulung, pria itu juga dinilai paling kompeten untuk menjadi pemimpin perusahaan  besar tersebut.

Tak berapa lama kemudian, mobil yang dikemudikan Silvia berbelok dan memasuki pekarangan sebuah rumah mewah. Setelah memarkir mobilnya, Dewa keluar dari mobil. Matanya memandang takjub bangunan mewah dan megah di hadapannya.

Rumah mewah Elisa ternyata tidak ada apa-apanya dibanding rumah Hendri.

“Ayo,” ajak Silvia membuyarkan lamunan Dewa.

Kedatangan mereka disambut seorang wanita paruh baya yang merupakan kepala asisten rumah tangga di rumah ini. Wanita itu mengajak kedua orang itu menuju ruang tengah. Di sana, Hendri dan Lidya sudah menunggu.

“Dewa, kenalkan ini Pak Hendri, dan ini istrinya, Bu Lidya,” Silvia langsung memperkenalkan Dewa kepada kliennya.

Dengan sopan Dewa menyalami Hendri dan Lidya bergantian. Untuk sesaat Dewa terpana melihat Lidya yang ternyata sangat cantik. Kulit wajahnya mulus, putih, dan bersih bak porselen. Dewa menduga biaya perawatan wajahnya pasti tinggi.

Pantas saja Hendri tidak mengizinkan pria lain menyentuh istrinya.

“Saya sangat berterima kasih karena kamu menerima tawaran kami,” ujar Hendri.

“Saya yang harusnya berterima kasih, Pak,” jawab  Dewa canggung.

“Besok, istri saya akan melakukan pemeriksaan lagi. Jadwal inseminasi buatan baru ditentukan setelah pemeriksaan. Selama menunggu jadwal inseminasi buatan, kamu akan tinggal di sini. Saya harus memastikan kamu mendapat asupan gizi yang baik. Saya menginginkan anak laki-laki sebagai penerus perusahaan nantinya.”

“Tapi, bagaimana kalau nanti anaknya perempuan?” tanya Dewa hati-hati.

“Akan ada inseminasi buatan lagi nantinya. Makanya aku memutuskan kamu tinggal di sini. soal jenis kelamin bisa diusahakan dari jenis makanan yang dikonsumsi. Selain itu, dari pihak istriku, gen laki-laki dianggap lebih dominan. Begitu juga dari pihakmu, gen laki-laki dianggap lebih kuat. Jadi, peluang mendapat anak laki-laki cukup besar.”

Dewa hanya mengangguk. Masalah anak laki-laki atau perempuan yang dihasilkan dari sperma yang disumbangkannya, Dewa tidak terlalu peduli. Yang penting dia akan mendapat bayaran besar dan membuat hidupnya menjadi lebih baik.

“Selain makan makanan bergizi, kamu juga harus berolahraga. Pokoknya tubuhmu harus sehat saat prosedur inseminasi dilakukan,” lanjut Hendri. “Sekarang lebih baik kamu istirahat dulu. Kalau kamu butuh sesuatu, bisa minta ke Bu Nuri. Dia kepala asisten rumah tangga di sini.”

“Baik, Pak,” jawab Dewa sambil mengangguk. Melihat sikap ramah Hendri dan Lidya membuat rasa canggungnya sedikit berkurang.

Hendri kemudian memanggil Nuri. Dia meminta kepala asisten rumah tangga itu mengantar Dewa ke kamar yang sudah disiapkan. Kamar untuk Dewa berada di lantai atas.

Begitu memasuki kamar yang disiapkan untuknya, Dewa kembali terkejut. Kamar ini lumayan besar, luasnya hampir setengah dari rumah yang ditinggalinya.  Kamar juga dilengkapi furnitur dan peralatan elektronik mahal. 

“Kalau butuh sesuatu, bilang saja padaku,” ujar Nuri sebelum meninggalkan kamar.

“Terima kasih, Bu,” jawab Dewa sambil tersenyum.

Sepeninggal Nuri, Dewa menjatuhkan bokongnya di atas kasur. Tangannya mengusap permukaan kasur mahal yang didudukinya. Permukaannya  terasa lembut dan empuk. Siapa saja yang berbaring di kasur ini pasti akan tidur nyenyak, apalagi jika tidak punya utang.

“Masa depan cerah sudah menantimu, Dewa,” gumam pria itu berbicara dengan dirinya sendiri.

***

Dewa terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba saja dia merasa haus. Lupa membawa air minum, Dewa memutuskan turun ke bawah untuk mengambilnya.

Rumah sudah gelap setelah Dewa keluar dari kamar. Pria itu langsung menuju dapur untuk mengambil minum. Saat menuang air ke gelas, Lidya masuk ke dapur.

“Kamu belum tidur?” tanya Lidya sambil mendekati Dewa.

“Belum, Bu,” jawab Dewa gugup. Pria itu grogi sendiri melihat penampilan Lidya yang mengenakan lingerie.

Dewa menahan napasnya saat Lidya melewatinya untuk mengambil gelas di belakang pria itu. Mata liar Dewa tanpa sengaja tertuju pada belahan dada lingerie yang begitu rendah. Pria itu dapat melihat melon kembar Lidya sedikit menyembul dari balik pakaian tidurnya.

“Sayang,” tiba-tiba terdengar suara Hendri. Dewa langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil beringsut menjauh.

“Lho, ada Dewa juga,”  ujar Hendri yang terkejut melihat pria itu berada di dapur bersama istrinya.

“I-Iya, Pak. Saya haus, mau minum. Saya permisi, Pak.”

Dewa bergegas meninggalkan dapur. Dia takut kalau Hendri mengetahui jika dirinya tadi sempat mengagumi tubuh istrinya.

Saat meninggalkan dapur, Dewa sempat melirik lagi ke sana. Tampak Hendri dan Lidya sedang berciuman dengan panasnya. Pria itu buru-buru menaiki tangga.

Kenapa tinggal di rumah Hendri, godaannya justru jadi lebih berat?

***

Selama tinggal di rumah Hendri, kehidupan Dewa benar-benar terjamin. Hendri bahkan menyewa ahli gizi untuk mengatur pola makan Dewa. Agar peluang memiliki anak laki-laki lebih tinggi, Dewa banyak diberi makanan yang memiliki kandungan kalium dan natrium yang tinggi.

Selain itu, pria itu juga harus tetap bugar. Setiap hari Dewa diharuskan berolahraga. Di rumah Hendri sudah tersedia fasilitas fitnes, jadi dia tidak perlu pergi keluar rumah. Apalagi jadwal kuliahnya sedang memasuki masa tenang sebelum ujian akhir.

Peluh sudah membasahi tubuh Dewa usai melakukan latihan di ruang fitnes. Seorang personal trainer sengaja didatangkan untuk melatih Dewa secara privat.

“Untuk ke depannya, sepertinya kamu sudah siap berlatih sendiri. Saya hanya membimbing kamu berlatih menggunakan peralatan yang ada. Lakukan sesuai latihan kita beberapa hari ini,” ujar Paul.

“Iya, Bang. Badan saya juga lebih bugar sekarang.”

“Bagus.  Tetap jaga pola makan. Otot kamu sudah mulai terbentuk, jadi pertahankan latihanmu.” Paul menepuk pelan lengan Dewa. “Kombinasikan juga dengan renang.”

“Siap,” jawab Dewa cepat.

Setelah membersihkan keringat di tubuhnya, Dewa akan melakukan kegiatan berikutnya, yakni renang.

Pria itu segera menuju kolam renang yang ada di bagian belakang rumah. Tubuh pria itu hanya terbalut celana renang ketat sebatas paha.

Setelah melakukan pemanasan sebentar, Dewa langsung masuk ke kolam renang.

Saat asyik berenang, Dewa merasakan kakinya disentuh seseorang. Refleks, pria itu langsung berbalik lalu melihat ke sekitar kolam.

Tiba-tiba saja di depannya muncul Silvia. Wanita itu langsung memeluk lehernya sambil merapatkan tubuh mereka. Dewa dapat merasakan melon kembar Silvia menekan dadanya. Tekanan itu terasa empuk dan perlahan membuat bandulan pria itu menggeliat.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pejantan Tangguh   Bab 10 : Balasan Untuk Pengkhianatan

    Dewa sama sekali tidak menghiraukan tuduhan Eliza. Dia langsung masuk ke dalam mobil bersama Silvia. Tak lama kemudian, mobil itu langsung melaju.Eliza menghentakkan kakinya dengan kesal. Dewa sudah berani mengabaikannya dan membuatnya malu. Diam-diam Danti tersenyum melihat perlakuan Dewa kepada Eliza. Meski berteman cukup dekat, sejatinya Danti tidak terlalu menyukai Eliza yang dinilainya terlalu arogan.Sementara itu, Dewa sudah dalam perjalanan pulang ke kediaman Hendri.“Siapa perempuan tadi?” tanya Silvia memecah keheningan di antara mereka.“Dia teman sekelasku. Namanya Eliza,” jawab Dewa dengan suara pelan.“Hanya teman biasa? Kurasa dia menyukaimu,” ujar Silvia sambil melirik Dewa.“Dia menyukaiku?” tanya Dewa sambil tertawa pelan. “Sepertinya dugaanmu salah. Dia tidak mungkin menyukaiku. Aku ini nggak selevel dengannya.”“Sebagai sesama perempuan, aku yakin kalau dia menyukaimu. Sepertinya dia cemburu kepadaku.”“Sepertinya kamu salah. Aku memang sempat menyukainya. Dia itu

  • Pejantan Tangguh   Bab 9 : Keributan

    Dewa sama sekali tidak menghiraukan tuduhan Eliza. Dia langsung masuk ke dalam mobil bersama Silvia. Tak lama kemudian, mobil itu langsung melaju.Eliza menghentakkan kakinya dengan kesal. Dewa sudah berani mengabaikannya dan membuatnya malu. Diam-diam Danti tersenyum melihat perlakuan Dewa kepada Eliza. Meski berteman cukup dekat, sejatinya Danti tidak terlalu menyukai Eliza yang dinilainya terlalu arogan.Sementara itu, Dewa sudah dalam perjalanan pulang ke kediaman Hendri.“Siapa perempuan tadi?” tanya Silvia memecah keheningan di antara mereka.“Dia teman sekelasku. Namanya Eliza,” jawab Dewa dengan suara pelan.“Hanya teman biasa? Kurasa dia menyukaimu,” ujar Silvia sambil melirik Dewa.“Dia menyukaiku?” tanya Dewa sambil tertawa pelan. “Sepertinya dugaanmu salah. Dia tidak mungkin menyukaiku. Aku ini nggak selevel dengannya.”“Sebagai sesama perempuan, aku yakin kalau dia menyukaimu. Sepertinya dia cemburu kepadaku.”“Sepertinya kamu salah. Aku memang sempat menyukainya. Dia itu

  • Pejantan Tangguh   Bab 8 : Cemburu

    “Jangan lupa buah dan camilannya dimakan,” ucapan Lidya membuyarkan lamunan Dewa. Pria itu menggeleng pelan. Tidak percaya bahwa tadi dia membayangkan hal mesum bersama Lidya.Tanpa menunggu jawaban dari Dewa, Lidya keluar dari kamar pria itu. Sepeninggal Lidya, Dewa menghempaskan bokongnya di kasur. Dia mengusap wajahnya kasar. Mengapa setiap berdekatan dengan Lidya dan Silvia, otak kotornya langsung bekerja?Apakah ini karena dirinya terlalu lama menjomblo?Untuk mengusir pikiran buruknya, Dewa melanjutkan pekerjaannya tadi sambil menikmati makanan yang disediakan wanita itu.Tak terasa, dua jam berlalu. Dewa menghentikan pekerjaannya lalu bersiap untuk ke kampus. Hari ini dia masih harus mengikuti ujian akhir di kampusnya.Dengan tergesa, Dewa menuruni tangga dengan tas ransel tersampir di bahunya. Di ruang tengah, dia berpapasan dengan Lidya. “Kamu mau ke mana?” tanya Lidya begitu melihat Dewa.“Aku mau ke kampus. Hari ini masih ada ujian.”“Kalau gitu biar diantar Pak Wawan,” uja

  • Pejantan Tangguh   Bab 7 : Peluang Tak Terduga

    Belum hilang rasa terkejut Dewa karena Silvia muncul tiba-tiba, sekarang wanita itu sudah menempelkan bibirnya di bibir Dewa. Bibir kenyal Silvia mulai memagutnya dengan lembut.Untuk sesaat tubuh Dewa membeku. Dia masih tidak tahu harus melakukan apa. Namun, hebatnya permainan bibir Silvia tak ayal membuat Dewa membalas ciuman wanita itu. Karena Dewa membalas ciumannya, Silvia semakin memperdalam ciumannya.Tangan Dewa mulai bergerak dan berhenti di bokong Silvia. Dia meremas bokong itu layaknya squishy.Sadar bahwa apa yang mereka lakukan bisa berakhir di atas ranjang, Silvia segera mengakhiri ciumannya. Dia memeluk leher Dewa, kemudian berbisik pelan di telinga pria itu.“Aku sangat ingin membawamu ke ranjang. Tapi sampai kamu menjadi pendonor, kita tidak bisa melakukan itu. Aku akan menunggumu.”Silvia menggigit kecil telinga Dewa, membuat tubuh Dewa meremang.Setelah itu, Silvia berenang menuju tepian. Wanita itu segera keluar dari kolam. Dewa yang masih berada di tempatnya, mema

  • Pejantan Tangguh   Bab 6 : Godaan Berdatangan

    “Apa hasil tesku sudah keluar?” tanya Dewa tak sabar.“Sudah. Sesuai prediksi, hasil tesmu baik. Kamu sehat dan tidak terdeteksi mengidap penyakit berbahaya.”“Syukurlah,” jawab Dewa senang. Setelah menjalani dua pemeriksaan, akhirnya Dewa bisa menjadi pendonor sperma.Sama seperti Dewa, Silvia juga senang mendengar hasil tesnya tidak mengecewakan. Bukan hanya Dewa yang akan mendapat bayaran sebagai pendonor sperma, Silvia juga akan mendapat bayaran yang cukup besar.“Kamu akan langsung tinggal di rumah Pak Hendri mulai hari ini,” ujar Silvia membuyarkan lamunan Dewa. “Sampai waktu inseminasi buatan terjadi, kamu akan tinggal di rumahnya. Dia ingin memastikan sendiri asupan gizimu terpenuhi dengan baik.”“Apa tidak masalah kalau aku tinggal di rumahnya? Bagaimana kalau para tetangga tahu?”Silvia tidak bisa menahan tawanya mendengar pertanyaan polos Dewa. “Kamu pikir tempat tinggal Pak Hendri sama seperti tempat tinggalmu? Nggak usah mengkhawatirkan hal yang tidak perlu.”Dewa melem

  • Pejantan Tangguh   Bab 5 : Ciuman yang Dicuri

    Tepat pukul tujuh pagi Dewa sudah berada di halte dekat gang rumahnya. Tak berapa lama kemudian mobil yang dikendarai Silvia berhenti di depan halte. Tanpa disuruh, Dewa segera masuk ke dalam mobil.Dari kursi samping, Dewa terus memperhatikan cara Silvia menyetir. Diam-diam Dewa mengagumi Silvia. Bukan hanya cantik, tapi Silvia juga perempuan yang pintar, berwawasan luas, dan mandiri. Wanita itu terlihat semakin keren saat mengemudikan mobilnya.Perjalanan menuju rumah sakit, diisi dengan perbincangan ringan. Dewa akhirnya tahu bahwa Silvia bekerja sebagai konsultan bisnis secara independen. Dia banyak mengenal orang penting di kota ini. Salah satunya adalah klien yang membutuhkan donor sperma dari Dewa.Di usianya yang sudah mencapai 30 tahun, Silvia masih betah hidup melajang. Dia tidak percaya dengan pernikahan karena kedua orang tuanya bercerai saat dirinya masih kecil. Setelah itu, kedua orang tuanya kembali menikah, tetapi bercerai lagi.Pengalaman pahit kedua orang tuanya memb

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status