LOGINRivan Djati, 27 tahun, yatim piatu, miskin. Pekerjaannya sebagai tukang bakso keliling di kampung kota Jatayu membuatnya sering direndahkan, ditindas, dan dihina. Hingga dia melihat buku aneh di pohon ketika hendak mengakhiri hidup, dan mendadak buku itu masuk ke dirinya. Semenjak itu, hidupnya berubah semakin mapan, dan baksonya menjadi 'obat ajaib' yang dicari-cari. Bagaimana cara dia menghadapi para wanita dari berbagai status yang mendamba dirinya? Kekuatan seperti apa saja yang menjadikannya kesayangan para wanita?
View More“Bakso… bakso…”
Ting! Ting! Ting!
Suara Rivan Djati, pemuda berusia 27 tahun yang berjualan bakso keliling kampung, mulai terdengar hingga seluruh gang.
“Sini, Van!” panggil seseorang.
Rivan menoleh dan mendapati ada beberapa pemuda duduk di pos ronda sore itu.
Dalam hatinya, dia membatin, ‘Aduh, mereka…’
“Lama banget, sih Van! Cepat sini!” panggil pemuda itu ke Rivan.
Meski enggan, Rivan tak punya pilihan dan mendorong gerobak baksonya ke pos ronda.
“Iya, Bang Tigor, Bang Ucup, Bang Ogi, dan Bang Amar.” Rivan mengangguk.
“Aku kayak biasanya, ya Van! Jangan kasi daun bawang!”
“Banyakin baksonya, Van! Saosnya juga!”
“Bakso gedenya kasi dua, Van! Sambelnya yang banyak!”
“Mie-ku yang putih aja, kasi yang banyak. Jangan terlalu pedas!”
Empat pemuda itu bergantian memesan sesuai keinginan mereka.
Rivan mengangguk dan mulai membuat pesanan mereka.
Setelah itu, dia antarkan satu demi satu mangkuk bakso ke empat pemuda itu.
Tigor, Ucup, Ogi, dan Amar menerima dengan wajah gembira, lalu memakannya dengan lahap.
‘Duh… kenapa mereka muncul sore ini? Biasanya kan malam.’ Rivan membatin di benaknya. ‘Padahal aku udah keliling lebih sore dari biasanya untuk menghindari mereka.’
Sembari duduk melamun di samping gerobaknya, Rivan merenungi nasib.
‘Untuk orang yatim piatu kayak aku… hidup emang kadang nggak adil. Udah berjualan bakso tiga tahun lebih, tapi masih aja belum bisa nabung untuk perbaikan ekonomi.’
Rivan menghela napas pelan.
‘Belum lagi punya rumah. Susah banget beli rumah di kota Jatayu ini. Meski di kampung, rumah harganya susah dijangkau untuk aku.’
Dia memandang kedua tangannya.
‘Apa aku harus cari pekerjaan lain? Tapi ijasahku cuma SMP.’
Saat sedang merenungi nasibnya, tiba-tiba dia mendengar namanya dipanggil.
“Oi, Van! Nih, ambil mangkuknya!” Suara Ogi mencapai telinganya.
Rivan langsung bangkit berdiri dari kursi plastik yang biasa dia bawa. Dia berjalan gontai ke empat pemuda di pos ronda dan memberesi mangkuk-mangkuk kosong.
Lalu dia berkata, “Udah, Bang? Semuanya tujuh puluh ribu rupiah, Bang.”
Seketika, mata keempat pemuda itu membelalak.
“Kamu nyuruh kami bayar baksomu?!” Ogi yang pertama bicara.
“Van, kamu beneran nyuruh kami bayar, nih?” Amar menyeringai, wajahnya terlihat tak enak dipandang.
“Tapi, Bang….” Rivan ingin bicara.
“Heh!” Ucup membentak. “Harusnya kamu bersyukur kami kasi kamu izin jualan di kampung ini. Kami udah baik nggak narik pajak ke kamu, ngerti?!”
Tubuh Rivan bergemetaran saat menatap keempat pemuda itu. Dia sudah tahu resikonya akan seperti ini jika menagih bayaran baksonya.
“Bang…” Suara pelan Rivan terdengar, wajahnya memelas. “Abang semua sering nggak bayar kalo beli bakso. Tapi kali ini aku butuh uang untuk bayar kontrakan, Bang. Tolong….”
“Sialan!” Ogi memukul lantai pos ronda. Kemudian dia bangkit dengan mata melotot ganas. “Kamu minta mati, hah?!”
“Udah, udah…” Tigor sebagai yang paling dituakan di antara mereka, segera memegangi Ogi.
Dia berjalan ke depan Rivan yang masih memegangi baki berisi mangkuk-mangkuk kosong.
“Van, cepetan sana pergi.” Tigor berkata pelan tapi dengan suara rendah. “Mumpung kami masih good mood.”
“Bang Tigor, tolong kali ini bayar, Bang….” Rivan mencoba memelas. “Aku butuh untuk bayar kontrakan.”
Ogi dan yang lain sudah hampir bicara, tapi Tigor menahan mereka dan berkata, “Rivan, omongan Ucup benar. Harusnya kamu bayar pajak jualan ke kami, tapi kami bebasin kamu. Udah, sana buruan pergi sebelum kami makin kesal.”
“Bang…” Rivan sudah nyaris menangis.
Kalau dia gagal bayar kontrakan bulan depan, dia harus angkat kaki dari sana. Mau ke mana lagi?
“Kampret benar cecunguk satu ini!” Amar sudah dilingkupi emosi. “Batu banget kamu, ya!”
Tanpa aba-aba, Amar maju dan menendang Rivan.
Duakk! Prangg! Braakk!
Baki berisi mangkuk pun jatuh, bunyinya renyah saat menghantam aspal kampung, bersamaan dengan jatuhnya tubuh Rivan.
“Nggak usah sombong mentang-mentang punya kerjaan, Van!” Ogi ikut maju.
Bukk! Duaakk! Buaakk!
Ogi, Amar, dan Ucup bergantian memukuli Rivan yang masih terbaring di jalan.
“Bang, ampun! Ampun!” Rivan berteriak sambil menutupi kepalanya menggunakan dua lengan dan tubuhnya melengkung bagaikan udang.
Ogi masih tak puas dan menendang gerobak bakso Rivan beberapa kali sampai ada beberapa mangkuk yang pecah.
“Udah, Bang… ampun… ampuni aku…” Rivan terus berusaha bertahan di sela-sela pukulan dan tendangan Amar dan Ucup.
Tigor maju dan memegangi tangan Ucup dan Amar. “Udah, udah, stop. Nanti kalo dia mati, bisa berabe.”
Setelah Tigor turun tangan, Ucup dan Amar berhenti menyiksa Rivan. Ogi juga mundur meski napasnya masih memburu karena emosi.
Rivan masih meringkuk ketakutan. Ini pertama kalinya mereka memukuli dia separah demikian. Biasanya hanya sekedar menampar atau menendang gerobaknya jika ditagih.
“Sana buruan pergi sebelum mereka makin emosi liat kamu.” Menggunakan suara rendah dan penuh dengan ancaman, Tigor memerintah Rivan.
Bangkit dan agak tertatih, Rivan pun kembali ke gerobaknya dan mendorong pelan-pelan menjauh dari pos ronda di ujung gang.
“Lain kali jangan cari masalah ama kami, ngerti?!” Suara Amar masih terdengar di belakang Rivan.
Rasa sakit dan ngilu menjalar di seluruh bagian tubuhnya, dari atas sampai bawah.
‘Mereka selalu gitu, nggak mau bayar, maunya gratisan terus. Padahal aku butuh uang untuk hidup.’ Rivan menunduk sambil terus mendorong gerobak rusaknya.
Tiba di pertengahan gang lain, dia dihentikan seorang ibu yang sedang berkumpul dengan ibu lainnya di depan rumah.
“Van, beli!” Ibu itu memanggil.
Rivan mengarahkan gerobaknya ke dekat gerombolan ibu-ibu itu.
“Mukamu kenapa, Van?” tanya si ibu. “Kok babak belur?”
Rivan tak punya nyali menjawab dan hanya diam. Percuma.
“Makanya, Van… jangan suka berantem.” Ibu lainnya menasehati. “Jangan mentang-mentang masih muda, kamu nggak terkendali gitu. Fokus ke masa depan aja, Van.”
Tangan Rivan terkepal erat di samping tubuhnya.
“Apalagi kamu masih lajang, kan? Mendingan fokus cari duit, jangan berantem, biar nanti ada cewek yang mau ama kamu.” Ibu satunya ikut bicara.
“Iya, Bu.” Rivan sudah hafal dengan nasehat mereka.
Mereka hanya melihat apa yang terpampang tanpa mau tahu kejadian sebenarnya.
“Baksoku kayak biasanya, jangan kasi sambal atau saos. Ini buat anakku.” Ibu itu bicara.
“Aku juga, Van. Banyakin mie putihnya sama bakso kecilnya. Anakku suka.” Ibu lainnya menyambung.
“Punyaku kasi sambel yang banyak, Van!” Ada juga ibu lain yang ikut memesan.
Setelah Rivan memberikan semua pesanan mereka, masing-masing dari ibu-ibu itu menyodorkan uang ke Rivan.
Rivan memandang uang yang diangsurkan padanya dan berkata, “Bu, maaf… ini kurang.”
“Kok kurang?” Ibu itu protes. “Biasanya kan sepuluh ribu semangkuk.”
“Sekarang harga bahan-bahannya naik, Bu. Udah seminggu ini.” Rivan berkata. “Semangkuk sekarang dua belas ribu.”
“Halah, Van! Pakai harga lama dulu, lah!” Ibu itu ngotot. “Lagipula kamu nggak kasi tau dari awal. Itu salahmu.”
Kepala Rivan mengangguk. Kali ini memang kekeliruannya yang tidak menginformasikan dari awal.
Lalu pandangannya beralih ke ibu lain yang menyodorkan uang.
“Bu, bakso pesanan Ibu harganya lima belas ribu karena tadi minta mie dan bakso kecilnya lebih banyak.” Rivan mengingatkan.
“Aisshh! Udah segitu dulu, lah Van!” Ibu itu mendebat. “Suamiku belum kasi uang.”
Dengan berat hati, Rivan menerimanya.
“Van, aku utang dulu kali ini, ya!” Ibu satunya langsung berkata saat Rivan beralih menatap dia.
Rivan menutup mata, sekuat tenaga menahan amarah.
Tadi sudah dirugikan gerombolan Tigor, sekarang ibu-ibu ini pun sama saja.
“Bu, tolong bayar. Aku butuh bayar kontrakan biar nggak diusir.” Suara Rivan memohon.
Siapa tahu, naluri keibuan mereka akan melembutkan hati dan membayar.
“Hadeh, Rivan! Aku baru ini utang baksomu, loh! Uangku udah kepakai untuk bayar les anakku. Besok aja kalo udah ada uang!” Ibu itu makin galak menjawab Rivan.
Tidak ingin memperpanjang perkara, Rivan pun menerima kerugian itu dan berlalu dari sana.
Rivan menelan semuanya dan memilih pergi tanpa menghiraukan mereka.
Petang pun tiba. Dia ada di ujung kampung yang sepi.
Dia duduk sambil menumpahkan tangisnya, merasa tak berguna.
Yatim piatu, tak bisa membayar kontrakan, tak punya tabungan, gerobak rusak, bahkan sering direndahkan, dan menerima hinaan hanya karena miskin dan jelek.
“Mendingan aku mati aja daripada hidup macam begini…” Rivan membulatkan tekad.
Dia mencari seutas tali dari dalam gerobaknya dan membawanya sambil mencari pohon besar.
Setelah menemukannya, dia memanjat pelan-pelan.
Tapi ketika tiba di atas dahan besar, dia tertegun.
“Itu… buku siapa?” herannya saat melihat buku lusuh terjepit di antara ranting.
Penasaran, tangannya menjangkau buku tersebut, dan…
Zaapp!
Mendadak saja buku itu melesat dan masuk ke dahinya.
“Ahh!”
“Ehh? Untuk Pak Joni?” Rivan sempat mematung beberapa detik di balik meja dagangannya.Apa dia tidak salah dengar?Tangannya yang sedang memegang jepitan mie mendadak berhenti di udara.Dia tentu saja terkejut melihat Bu Ida, istri dari pria yang kemarin merendahkan harga dirinya di depan umum, kini berdiri di depannya dengan napas tersengal-sengal dan wajah yang tampak sangat terdesak."Tolong, Van... buruan bikinin, ya? Aku butuh cepat," ratap Bu Ida dengan mata berkaca-kaca, menyodorkan mangkok besarnya ke atas meja.Kerumunan warga yang sejak tadi menonton di luar pagar tidak bisa lagi menahan rasa penasaran mereka.Jeng Ratih, ibu yang anaknya pertama kali sembuh dari demam, melangkah maju mendekati pagar kontrakan Rivan."Loh, Bu Ida? Sampeyan ini gimana, toh?" tanya Jeng Ratih dengan nada menyindir yang cukup kentara. "Kemarin sore suamimu teriak-teriak ngelarang kami beli baksonya Rivan. Katanya nanti mati keracunan, katanya ilegal, pakai penglaris. Kok sekarang malah sampeyan
‘Astaga, belum apa-apa udah ada biang masalah gini.’ Rivan menarik napas panjang, memperluas lautan kesabarannya.Kemudian dia menatap Pak Joni dengan tenang.Tidak ada riak ketakutan di wajahnya, meskipun Pak Joni mencoba menekannya di depan sisa-sisa warga yang masih berada di teras."Kalo emang itu yang Bapak khawatirkan," Rivan bersuara dengan nada tegas namun tetap tenang, "setelah ini saya sendiri yang bakalan datang ke dinas kesehatan untuk meriksain kandungan bakso saya dan mendaftarkannya."Mendengar jawaban Rivan, Pak Joni justru meledak dalam tawa mengejek.Dia berbalik, menghadap ke arah beberapa warga yang masih berkumpul di dekat teras Bu Fazia."Hahaha! Dengar itu, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu!" Pak Joni berteriak lantang, sengaja memprovokasi. "Dia baru mau daftarin baksonya sekarang! Berarti selama ini kalian dijadiin kelinci percobaan!”Ucapan provokatif Pak Joni membuat banyak warga yang hendak membeli bakso Rivan jadi mengurungkan niat.Mereka saling berbisik satu sama lai
Matahari baru saja menampakkan semburat kuning muda nan cerah, tetapi teras rumah kontrakan Rivan sudah tidak lagi sepi.“Ya ampun mereka…” Dari balik jendela, Rivan bisa melihat kerumunan ibu-ibu ada di depan rumah kontrakannya. “Mau apa mereka? Ini kan masih jam 6.”Belasan ibu-ibu sudah berdiri mengerumuni halaman kecilnya.Bahkan beberapa dari mereka masih memakai daster dan memegang mangkok kosong."Van! Rivan! Udah buka belum?" teriak salah satu ibu sambil mengetuk pagar kayu."Iya nih, Van! Anakku batuk pileknya makin parah dari semalam, aku mau beli baksomu!" sahut yang lain tak sabar.Rivan yang baru saja selesai mandi, menatap mereka dengan rasa terkejut sekaligus takjub.Rupanya, efek keajaiban baksonya kemarin benar-benar memicu gelombang pelanggan yang lebih besar dari sebelumnya."Umm... maaf, Ibu-ibu semuanya," ucap Rivan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Bahan-bahannya belum siap. Tolong beri aku waktu bentar untuk belanja cepat ke pasar dan mengolahnya, y
Esok paginya….“Aku yakin seribu persen, Jeng!” suara seorang ibu terdengar di kerumunan. “Mencret suamiku langsung berhenti. Padahal dari kemarin nggak ada tanda-tanda sembuh meski udah minum macam-macam obat. Malah hampir aku bawa ke rumah sakit!”Tukang sayur keliling yang dikerubungi cuma bisa menjadi pendengar sambil meladeni pelanggannya.“Itu… karena baksonya Rivan?” tanya ibu lain.“Yang benar?” Ada yang masih sangsi.“Tanya aja ke Jeng Ima! Kemarin dia beli untuk anaknya yang flu berat, kan?” Ibu itu tak mau kalah.Pucuk dicinta, ulam tiba. Jeng Ima keluar dari rumahnya dan berjalan ke arah kerumunan ibu-ibu yang sedang membeli sayur.“Jeng Ima! Akhirnya muncul juga!” Seorang ibu langsung menarik tangan Jeng Ima.“Ada apa, nih?” Jeng Ima bingung.“Jeng Ima, gimana kondisi anakmu?” tanya ibu yang menarik tangannya.Seketika, wajah Jeng Ima berubah cerah.“Woaahh! Anakku semalam udah sembuh total! Flu beratnya langsung hilang!” Jeng Ima menjelaskan dengan antusias.“Gara-gara m
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.