Compartir

Bab 120: Racun

Autor: Duvessa
last update Última actualización: 2025-12-21 00:19:34
Ruangan laboratorium itu terlalu terang untuk kabar seburuk ini.

Arvendra berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, rahangnya mengeras sejak analis forensik meletakkan hasil uji di meja stainless.

Sankara berdiri di samping Arvendra, kali ini tidak bercanda, tidak menyela, hanya menatap layar monitor dengan sorot mata waspada.

Armand mengatur semuanya. Lab ini bukan sembarang lab. Ini mitra forensik yang biasa menangani kasus sensitif keluarga Pradipta.

“Ini sampel dari kue yang Anda bawa.
Duvessa

Kadang, di dunia nyata pun begitu. Ketika kita berbuat baik, gak selalu kebaikan itu kembali dengan cara yang sama :(

| 12
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (3)
goodnovel comment avatar
Ognindi Wingky
naah ini udh tau hujan bkn neduh... sisi keras kpl n ngeyel...
goodnovel comment avatar
Viva Fabiola Muammar
Sedih krn kecerobohan anin ...
goodnovel comment avatar
Memey
Tor seru di tunngu tambahan updatenya
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Thank you!

    Makasih banget buat kalian yang udah bertahan sampai halaman terakhir. Serius, kalian kuat. Soalnya plotnya kadang beloknya lebih tajam dari tikungan sinetron azab. Tapi kalian tetap di sini, tetap baca, tetap sabar. Jadi, kalau ada penghargaan pembaca paling tabah, itu harusnya kalian yang menang sih!Dan makasih sudah nemenin perjalanan Mas Duda (yang sekarang udah nggak duda lagi) dan Anin sampai akhirnya mereka benar-benar pulang satu sama lain.Jangan lupa baca karya aku yang terbaru judulnya “Dinikahi Bosku: Menjadi Cinderella Dua Tahun”.Boleh juga follow medsos aku @me.duvessa atau Tt @duskovduvessa kita ngobrol-ngobrol di sana ya :)

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 232: Berakhir di London

    “Samudra bersama Mami saja ya? Kita main sama Rose,” bujuk Ivelle lembut, berlutut agar sejajar dengan tinggi Samudra. Dia menunjuk ke arah Rose yang sedang duduk di karpet ruang tamu, sibuk mengatur boneka Barbie dengan aksen Inggris kecil yang lucu.Samudra melirik ke arah Anindya dan Arvendra bergantian. “Papa sama Miya mau ke mana?”“Keliling sebentar,” jawab Anindya, berusaha terdengar santai padahal jantungnya berdebar aneh. Entah kenapa, pergi berdua seperti ini terasa lama tidak dilakukan.Thomas ikut mendekat, menepuk bahu kecil Samudra. “Papa sama Miya mau kencan dulu sebelum pulang ke Indonesia.”Anindya langsung melirik suaminya. “Kencan katanya.”Arvendra mengangkat alis tipis. “Mas nggak nolak.”Samudra masih berdiri di tempat, wajahnya penuh kecurigaan kecil. “Kencan itu lama nggak?”“Nggak lama,” jawab Anindya cepat.Thomas menambahkan dengan nada konspiratif, “Paling cuma jalan, makan, terus pulang. Kamu malah dapat teman main baru.”Rose berlari kecil mendekat. “Sam,

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 231: London

    “Selamat datang di London,” sambut wanita bermata biru itu hangat sambil membuka pintu rumahnya lebar.Ivelle berdiri di ambang pintu. Rambut pirangnya digerai rapi, mata birunya tetap seterang dulu. Di tangannya tergenggam tangan seorang anak perempuan berambut cokelat terang, mungkin tujuh atau delapan tahun usianya. Wajahnya campuran Eropa yang lembut. Di belakang mereka berdiri Thomas, tinggi, rapi, dengan senyum yang lebih matang dari terakhir kali mereka bertemu.Perjalanan tujuh belas jam di udara akhirnya terbayar begitu udara dingin London menyentuh kulit. Kelelahan masih menempel di tubuh, tetapi suasana di depan pintu itu membuat semuanya terasa lebih ringan.“Mbak Ive, apa kabar?” sapa Anindya duluan dengan senyum hangat.“Baik,” jawab Ivelle sambil mendekat dan memeluk Anindya singkat. “Kamu makin cantik aja.”Anindya terkekeh kecil. “Mungkin karena ada donatur, Mbak. Kalau nggak ada, aku nggak bisa perawatan.”Arvendra yang berdiri di belakang Anindya mendengus pelan. “

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 230: Enam Tahun Berlalu

    “El, beneran mau kuliah di London?”Pertanyaan itu sudah Anindya ulang berkali-kali sejak seminggu terakhir, tapi tetap saja rasanya belum siap menerima jawaban yang sama.Di hadapannya sekarang duduk seorang pemuda tujuh belas tahun dengan bahu lebar dan sorot mata tenang. Anak yang dulu dia ajarkan matematika sambil ngambek karena salah hitung, sekarang sudah bicara soal visa, kampus, dan masa depan.Waktu memang tidak pernah pelan. Waktu selalu berlari, meninggalkan ibu-ibu yang belum selesai memeluk anaknya.Padahal sejak bulan lalu Elvio sudah resmi diterima di Brunel University London. Bahkan sudah mendaftar sekolah balap untuk mengejar mimpi lamanya, yaitu Formula 1. Mimpi yang dulu pernah Arvendra tolak mentah-mentah, lalu diam-diam dia dukung dari belakang.Tetap saja, mengetahui besok pagi anak itu benar-benar akan pergi, rasanya seperti ada bagian kecil di dada Anindya yang ikut dibawa.“Miya,” jawab Elvio sabar, nada suaranya sekarang jauh lebih dalam daripada dulu, “aku u

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 229: Malam Panjang

    Tangan Arvendra sudah sampai di punggung Anindya. Jemarinya menemukan kaitan bra itu tanpa kesulitan, seolah hafal letaknya bahkan tanpa melihat.Anindya menggigit bibir bawahnya, lalu mengangguk pelan.Klik. Kaitan itu terlepas hanya dengan satu tangan. Terlalu mudah, terlalu terbiasa.“Kalau nggak nyaman, bilang,” bisik Arvendra dekat sekali, bibirnya hampir menyentuh telinga istrinya.Anindya tersenyum kecil. “Aku lagi sama kamu, Mas. Nggak ada yang nggak nyaman.”Kalimat itu cukup untuk menjatuhkan sisa kendali. Ciuman mereka kembali bertaut. Lebih dalam, lebih rakus. Tangan Arvendra turun tanpa ragu, menjelajah lekuk tubuh istrinya dengan sentuhan yang sudah terlalu lama dia tahan. Telapak tangannya mencengkeram, mengusap, menegaskan rasa rindu yang selama ini hanya dia simpan di kepala.Seolah tubuh Anindya adalah jawaban atas semua penantian itu. Dan detik itu juga posisi mereka berbalik.Yang tadi menggodanya, kini justru terengah.“Mas …” Napas Anindya pecah saat ciuman terle

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 228: Sengaja Menggoda

    Dengan kemeja longgar dan celana pendek selutut, Arvendra duduk di sofa kamar sambil menatap tablet kerjanya. Stylus di tangannya bergerak, garis demi garis bangunan terbentuk rapi, presisi, terkendali.Samudra yang kini sudah berumur tiga bulan, telah tertidur di kamarnya. Begitu pula Elvio. Malam sudah cukup larut untuk membuat rumah itu akhirnya hening.Sejak Anindya melahirkan, hidup mereka berubah. Bukan rasa. Bukan pula kedekatan, tapi ritmenya. Yang dulu selalu berdua sekarang sering sengaja berjarak. Yang dulu terbiasa saling menyentuh sekarang harus saling menahan.Bukan karena tidak mau. Justru karena terlalu mau.Larangan Aryasena itu jelas. Arvendra bukan pria bodoh yang menukar kesehatan istrinya dengan keinginannya sendiri. Dia terbiasa menunggu. Masalahnya, tubuh tidak pernah diajari bersabar.Dan sialnya, setelah melahirkan, Anindya bukannya berubah biasa saja. Wanita itu makin menggoda.Setiap kali Anindya lewat, sesuatu di dalam dirinya langsung bangun. Naluri laki-l

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status