Share

Bab 36: Pembelaan

Author: Duvessa
last update Last Updated: 2025-11-08 09:19:47
“Jangan, Kak. Aku beliin yang baru aja, asal jangan yang ini,” tolak Anindya, refleks menyentuh scarf biru di rambutnya.

“Nggak mau! Aku maunya yang itu. Kamu pelit banget sih!” seru Lidya sambil cemberut manja yang terdengar dibuat-buat.

“Kak, ini punya aku. Kalau Kakak mau, aku cariin yang mirip,” bujuk Anindya, masih berusaha sabar meski suaranya mulai goyah.

“Ibu lihat sendiri, ‘kan? Anin tuh pelit banget. Aku lagi hamil loh, masa ditolak?” rengek Lidya lagi yang membuat Anindya mengendus kesal.

“Anin, kamu nggak kasihan sama kakakmu? Dia ngidam katanya pengen scarf kamu. Lagipula, kamu, ‘kan, bisa beli lagi nanti,” bela Nani.

Anindya menatap keduanya. Ingin menjawab, tapi menahan napas. Matanya sekilas melirik ke arah Arvendra, seolah meminta restu, atau sekadar mencari pijakan, karena scarf itu adalah pemberiannya. Arvendra memperhatikan diam-diam, lalu tersenyum tipis.

“Wah, scarf Anin memang bagus sekali,” puji Arvendra. “Kelihatan sangat cocok. Sayang sekali kalau harus diberi
Duvessa

Siapa ya kira-kira?

| 10
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Azfar Nad
kapan ini kak mereka resmi pacaran.huhuhu gk sabaran aku
goodnovel comment avatar
Memey
Update tor
goodnovel comment avatar
Yuniw Zz
bapaknya anindya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 74: Satu Tahun Lagi?

    Anindya langsung kaku.Sudah dia bilang dia belum siap untuk memulai pernikahan. Namun, di dalam hati kecilnya dia tahu, bertahan dalam hubungan seperti ini pun jelas bukan keputusan tepat. Terlebih setelah kejadian semalam, dia tidak bisa pura-pura tidak terjadi apa-apa.“Mas …” Napas Anindya tersangkut.“Tapi saya siap ditolak.” Arvendra mengucapkannya datar, tanpa nada terluka, tanpa gurauan. Lebih seperti pria yang sudah terlalu sering menerima kenyataan pahit dan memutuskan untuk menanggungnya saja.“Mas, bukan begitu maksud aku.” Anindya buru-buru mencondongkan tubuh, panik melihat ekspresi pria itu yang terlalu tenang. “Tunggu, ya, satu tahun lagi?”“Satu tahun?” ulang Arvendra pelan. Terlalu pelan. Terlalu tenang untuk sesuatu yang jelas membuatnya panas.“Aku udah tanda tangan kontrak sama agency. Di sana peraturannya nggak boleh menikah dulu selama satu tahun,” jelas Anindya pelan.Tatapan hazel itu langsung berubah. Bukan marah, tapi kedewasaan seorang pria yang merasa gadi

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 73: Anak Burung Kesayangan

    Beep. Beep. Kode pintu ditekan dari luar.Anindya buru-buru menyeka air matanya, tapi percuma. Pintu sudah terbuka, dan Arvendra berdiri di ambang. Kaus hitam melekat di tubuhnya, rambut sedikit berantakan, napasnya masih tersengal tipis seolah dia berjalan cepat. Di tangannya ada plastik putih kecil.Begitu tatapannya turun pada mata Anindya yang basah, ekspresinya langsung berubah. Tanpa bertanya, tanpa kalimat pembuka, dia berjalan menghampiri.“Anin …” Tangan Arvendra meraih pinggangnya, menariknya ke dada keras itu dengan gerakan mantap tapi lembut.“Hei, hei. Kenapa nangis begini?” tanyanya. Tangan besarnya terangkat ke belakang kepala Anindya, membenamkannya ke pelukan hangatnya.Dan seketika itu juga, pertahanan Anindya runtuh. Dia mencengkeram bagian depan kaus Arvendra, tubuhnya gemetar, tangisnya pecah tanpa bisa ditahan.“Aku … aku nggak suka ditinggal kalau pagi …” Kalimat itu pecah, kecil, memalukan, tapi terasa seperti sesuatu yang tidak mungkin dia simpan sendiri.Arv

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 72: Memuja Tubuhnya

    “Sejauh yang Mas mau,” bisik Anindya.Arvendra tertawa kecil. Bukan tawa manis. Namun, tawa pria yang baru saja diberi izin untuk kehilangan kendali, dan tahu persis konsekuensinya.“Good. Karena saya juga sudah terlalu lama menahan ini.” Arvendra menunduk, mencium pusat dada Anindya, lalu turun perlahan. Tidak terburu-buru, tetapi tiap inci seolah dihitung, dipelajari, diingat. Tangan besarnya mengusap naik turun sisi pinggulnya, menggenggamnya sekali, cukup untuk membuat Anindya melengkung.“Relax, Sayang.” Pria itu mencium perut bawah Anindya. “Biar saya yang kerja malam ini.”Anindya menggigit bibir, kedua pahanya menegang refleks.Arvendra merasakan itu. Tangan Arvendra menahan kedua paha itu, membukanya sedikit, ibu jarinya mengusap bagian dalam paha Anindya dengan tekanan yang nyaris malas, tapi sangat … sangat niat.“Kamu gemeteran,” gumam Arvendra sebelum mencium bagian dalam paha kiri, lembut dan dalam sekaligus.“Mmm …” Anindya tidak bisa membentuk kata. Yang keluar hanya na

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 71: Mau Sejauh Apa?

    Arvendra membalas ciuman itu tidak terburu-buru, tapi juga tidak ragu. Bibirnya menekan balik dengan kendali seorang pria yang sudah terlalu lama menahan diri, kendali yang sejak tadi hanya tinggal satu tarikan napas untuk pecah.Tangan besarnya melingkar di pinggang Anindya, menarik tubuh gadis itu naik sepenuhnya ke pangkuannya. Gerakan itu tegas, seperti dia akhirnya mengambil apa yang sudah terus menerus menggoda batas sabarnya.Anindya terkejut, tapi tubuhnya justru merapat. Tangannya naik ke bahu Arvendra, meremas kemeja hitam itu begitu erat seolah kalau dia melepaskan genggaman sedikit saja, gravitasi akan menyeretnya jauh lebih dalam.Ciuman itu berubah. Dari impulsif, menjadi haus. Dari haus, berubah menjadi kebutuhan yang tidak peduli siapa yang akan terbakar duluan.“Anin,” suara Arvendra pecah di sela napas mereka, bibirnya masih menyisir bibir gadis itu.Anindya hanya mengeluarkan gumaman tanpa bentuk, tubuhnya terasa terlalu panas untuk memproduksi kalimat yang waras.Ar

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 70: Jangan Lari!

    “Mas jangan tiba-tiba gitu,” gumam Anindya lirih sambil meraih pegangan dashboard.“Saya serius,” lanjut Arvendra, matanya mengikuti setiap gerakan Anindya. “Lutut kamu berdarah. Mas nggak suka lihat kamu luka.”“Mas sendiri tangannya masih berdarah,” balas Anindya, pelan namun tetap dengan upaya mempertahankan wibawanya sendiri.“Tangan saya sudah kamu obati. Sekarang giliran kamu,” ucap Arvendra lembut, tapi tegas dengan cara yang sulit dibantah.Dengan jemari yang akhirnya tidak lagi gemetar, Anindya membuka laci dashboard dan mengambil kotak P3K.“Nih,” ucap Anindya pendek sambil menyerahkannya.Arvendra mengambilnya perlahan, lalu menahan ujung jemari Anindya dengan ibu jarinya. Hanya sekejap. Namun, cukup untuk membuat suhu di dalam mobil terasa berubah.“Good girl,” gumam Arvendra, nyaris seperti refleks.“Mas!!” Anindya tersentak. “Apa?” Arvendra menahan senyum kecil, sudut bibirnya naik seperti menahan godaan untuk tertawa.“Jangan ngomong begitu!” protes Anindya cepat, pipin

  • Pelajaran Panas Dengan Ayah Muridku   Bab 69: Egonya Runtuh

    “Hati-hati kalau mau ke tempat seperti ini,” bisik Arvendra tepat di belakang telinga Anindya. Nada rendah itu menggetarkan kulit lehernya. Meremangkan seluruh tubuhnya.“Oh, sorry.” Wira menaikkan kedua tangan sedikit. Senyumnya tetap sopan, tapi ada kilatan menilai di matanya. “Saya kira dia masih single. Have a great night.”Wira akhirnya mundur menuju meja VIP-nya. Namun sebelum benar-benar menghilang, tatapannya kembali menyapu Anindya, meninggalkan isyarat bahwa dia belum berhenti tertarik.Begitu Wira menjauh, Anindya langsung mendesis pelan, “Mas tahu dari mana aku di sini?”Nada kesalnya jelas. Sudah jelas Anindya datang ke club ini untuk menghindari Arvendra, bukan untuk dipergoki seperti anak SMA kabur malam mingguan.“Jeane yang kasih tahu,” jawab Arvendra datar. Tatapannya tidak berubah, masih setajam beberapa detik lalu.Anindya menoleh ke floor. Jeane sedang menari sambil melambai-lambaikan tangan, entah sadar atau pura-pura tidak sadar telah menjual informasi dengan san

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status