ログインSejak keributan yang terjadi antara dirinya dan Kaisar semalam, Liona terlihat murung dan cenderung pendiam. Ia yang biasanya ceria dan selalu bertingkah aneh, kini terlihat diam dan tidak banyak bicara. Wanita hamil itu rindu, rindu pada Kaisar yang selalu memanjakannya dan tidak pernah marah karena hal-hal sepele. Namun, kini Kaisar berubah, membuatnya merasa tidak nyaman berada di sisi pria itu. "Hei, kenapa duduk di sini?" Liona yang duduk sendirian di pinggiran kolam renang, melihat pada cup ice cream yang disodorkan ke hadapan wajahnya. Selanjutnya, ia pun mendongak, menatap Ryuga yang berdiri di belakangnya dengan tubuh sedikit condong ke depan. "Bang Ryuga, kok udah pulang? Mas Kai mana?" Ditanya, Liona bukannya menjawab. Tetapi justru balik bertanya, bahkan menanyakan keberadaan Kaisar, hingga Ryuga menghela napas dibuatnya. "Gak ada kerjaan di kantor, jadi pulang lebih awal," jawab Ryuga dengan suaranya yang teduh dan menenangkan. Mendengar perkataan Ryuga, Liona a
Ryuga yang membawa sebotol air mineral di tangannya, gegas pergi menuju kamar. Tak lupa, ia mengunci pintunya. "Huh...." Di dalam kamar, Ryuga menyandarkan punggungnya pada pintu. Ia memejamkan matanya sesaat, lalu menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar. "Kalau kayak gini terus, lama-lama aku bisa gila," kata Ryuga dengan suaranya yang berat. Tangan pria itu bergerak perlahan menuju selangkangannya. Lalu menyentuh miliknya yang mengembung di bawah sana. "Sstt... kenapa harus bangun sih?" gerutu Ryuga. Berkali-kali menyaksikan Kaisar bergumul dan bercocok tanam bersama Liona. Kegiatan sejoli itu membuatnya merasa gila. Bahkan, sekarang hasratnya mudah sekali memuncak dan membuatnya tersiksa. Ingin sekali rasanya ia berada di posisi Kaisar, menikmati tubuh indah Liona dan menuntaskan hasratnya. "Seandainya aku yang berada di posisi Kaisar, aku pasti akan melakukan yang terbaik untuk Liona dan gak akan pernah memarahinya seperti yang sering dilakukan Kaisar," kata
"Kalau Mas Haris tetap mau pisah, aku bakal bunuh diri!"Haris yang duduk di sofa seberang meja, menghela napas panjang. Lalu, ia beranjak dari duduknya dan melangkah menuju koper pakaiannya berada. "Terserah kamu mau ngelakuin apapun, aku gak bakal perduli. Pokoknya keputusanku udah bulat, aku mau cerai!" kata Haris dengan tegas. Setelah menanggapi ancaman Bella, pria itu mendekati Pak Baskoro dan Bu Elyana. Lalu berpamitan untuk pergi dari kediaman keluarga Antareksa. "Mas, Mbak, aku pamit. Maaf kalau selama ini sering bikin kalian susah... demi Tuhan, semua yang aku lakukan selama ini atas perintah Bella. Aku cuman berusaha buat memenuhi keinginan dia," kata Haris dengan pelan. "Sekali lagi, tolong maafkan semua kesalahanku. Aku harap, Mas Bas dan Mbak Ely gak mempersulit proses perceraian kami!" Mendengar perkataan Haris, Pak Baskoro hanya menganggukkan kepalanya. Begitu pula dengan Bu Elyana yang sejak tadi diam tanpa ikut campur masalah adik iparnya. Setelah meminta maaf da
"Mungkin gak sih kalau Bang Ryu bukan anak angkat tapi anak kandungnya papa?" Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Liona, mendelik mata sipit Ryuga di buatnya. Heran, kenapa iparnya bisa bertanya seperti itu? "Anak kandung?" tanya Ryuga dengan nada bicaranya yang sedikit meninggi. Wajah pria itu terlihat memerah. Bahkan, sepasang matanya masih saja melotot. Jelas jika ia benar-benar kaget. Liona mengangguk sembari menyengir kuda. "Hee! Iya, soalnya kalau dilihat-lihat, Bang Ryu agak mirip sama papa," katanya. Setelah mendengar perkataan Liona, Ryuga yang semula terlihat tegang dan kaget, kini memaksakan senyumannya. Ia meletakan pot tanaman yang ada di tangannya ke atas rak, lalu mendaratkan bokongnya di kursi kayu. Ryuga menghela napas pelan. Lalu, mendongak, menatap Liona yang berdiri dengan ekspresi salah tingkah di hadapannya. "Mana mungkin aku anak kandungnya papa. Jangan ngomong dan mikir aneh-aneh, nanti Kaisar salah paham," kata Ryuga seraya tersenyum. Liona ke
"Gak mungkin, semua ini gak mungkin. Aku gak mungkin mandul!" Bella yang keluar dari ruangan dokter bersama Haris, menangis histeris dengan tangan menggenggam erat surat hasil pemeriksaan. Selama ini, wanita itu selalu menghina Haris dan mengatakan jika suaminya mandul. Namun, hasil pemeriksaan dokter justru menamparnya. Ternyata bukan Haris yang mandul, tetapi kesehatan dan kesuburannya yang bermasalah. "Aku gak mungkin mandul...." Bella menyandarkan punggungnya di tembok koridor rumah sakit. Ia syok, tak mau menerima kenyataan yang ada di depan mata. Sedangkan Haris yang berdiri di hadapan Bella, terlihat begitu puas dan lega. Ia merasa senang melihat keadaan istrinya saat ini. Selama ini, wanita itu selalu berbicara kasar dan bersikap seenaknya. Dan kini, ia mendapatkan karma dari Tuhan. "Hasil pemeriksaan ini pasti salah, aku gak mungkin mandul, Mas. Gak mungkin!" kata Bella. Berbicara pada Haris yang tersenyum tipis di hadapannya. "Salah?" tanya Haris. "Hitung, berapa ka
"Kamu jangan lupa, Rey! Ryuga bertahan di rumah ini karena Adam kehilangan ingatan masa lalunya. Dan, semua itu terjadi atas campur tangan Papa! Jadi, jangan menuntut apapun lagi, karena sampai kapan pun Ryuga gak akan pernah mendapatkan status yang sah!" Tubuh Liona menegang. Ia yang tak sengaja menguping pembicaraan serius antara Tuan Jayden dan Tuan Reynald itu pun terkejut. Bahkan, wajahnya yang putih kini berubah menjadi pucat. Perkataan yang di dengarnya, membuatnya syok. Ia tak menyangka jika Ryuga bukanlah anak angkat keluarga Prasetya. "Ja-ja-jadi, Bang Ryuga beneran adiknya Pak Kai, bukan adik angkat," gumam Liona sembari melangkah mundur dari posisinya berada.Prang! Tak sengaja, wanita yang tengah hamil muda itu menyenggol sebuah guci yang berada di atas meja di dekat pintu. Hingga membuat guci itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping."Siapa?" Mendengar suara teriakan Tuan Reynald, Liona menutup rapat mulutnya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, bahkan r
"Egh, ketemu Liona di sini. Sama siapa kamu?" Diana, dosen Liona di kampus yang menyukai Kaisar, menenteng barang belanjaannya mendekati Liona yang berdiri di depan sebuah toko pakaian. Melihat Diana mendekat ke arahnya dengan gaya genit dan centil yang dibuat-buat, Liona memutar bola matanya mal
"Sayang, gimana? Udah belum belanjanya? Kalau gak ada yang cocok, kita cari ke toko lain!" Suara yang terdengar familiar di telinga, membuat Diana langsung menoleh. Matanya membeliak kala melihat Kaisar mendekat ke arahnya dan Liona. Sedangkan Liona yang juga menoleh, memasang senyuman lebar pada
Kaisar yang turun dari lantai atas, menghampiri Tuan Jayden, Tuan Reynald dan juga Ryuga yang sudah menunggu di ruang makan. Dengan ekspresinya yang terlihat tidak senang, Kaisar menarik kursi kosong dan mendaratkan bokongnya di sana. Selanjutnya, meraih piring dan mengisinya dengan makanan. "Ad
"Terima kasih untuk semuanya, Liona. Saya janji gak akan pernah meninggalkan kamu." Liona yang tiba-tiba dipeluk erat oleh Kaisar, seketika meredam tangisannya. Tubuhnya membeku dengan mata melotot. Ia tak menyangka jika Kaisar hanya berpura-pura kesakitan dan pingsan. Setelah diam beberapa saat,







