Home / Romansa / Pelan-Pelan, Mas Kaisar! / 70. Setuhan Liar Di Ranjang Pasien!

Share

70. Setuhan Liar Di Ranjang Pasien!

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-03-10 09:26:56

"Mendingan Tante ajakin Om Haris periksa ke dokter, soalnya kan udah lima tahun menikah tapi gak punya anak. Takutnya salah satu dari kalian mandul!"

Duar!

Terkena mental Bella dibuatnya. Perkataan Liona yang selalu menyindir mandul, membuat wajah wanita itu semakin memerah. Ia merasa dipermalukan oleh keponakannya.

"Kamu, kamu!" tunjuk Bella pada wajah keponakannya.

"Apa? Tante mau ngomong apa? Udah cukup ya, selama ini aku sabar sama sikap Tante! Jadi kalau Tante masih mau numpang tinggal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   117. Feeling Kaisar!

    Tap, tap, tap! Dengan langkahnya yang santai, Kaisar menyusuri lorong rumah sakit yang sepi dan agak gelap di malam hari itu. Tanpa menoleh ke kiri dan kanan, pria itu menuju ruangan VIP di mana Tuan Jayden di rawat. Tiba di depan ruangan VIP yang dituju, Kaisar menghentikan langkahnya lantaran mendengar obrolan dari dalam ruangan tersebut. "Kurang baik apa aku selama ini? Anak itu udah ditampung, diberi tempat tinggal dan kehidupan layak! Ingat, Rey, Adam itu anakmu, cucu sah keluarga Prasetya!" Mendengar perkataan Tuan Jayden yang ternyata sudah siuman, Kaisar mendongak, menatap langit-langit rumah sakit itu. Pria itu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, berusaha mengatur napas dan mengurangi rasa sesak di dadanya. "Ryuga juga anakku dan cucu Papa, dia dan Kai—" "Kamu terlalu berat sebelah, Rey!" tukas Tuan Jayden. "Pokoknya keputusanku udah bulat dan gak bisa diganggu gugat. Aku akan tetap menyerahkan aset perusahaan ke cucuku!" Di dala

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   116. Bujukan Liona

    "Sayang, kenapa berdiri di sini? Dingin loh, yuk kita masuk!" Kaisar yang berdiri di balkon kamar, menoleh dan menatap Liona yang melangkah mendekat. Namun tatapan hanya sesaat, selanjutnya ia kembali berbalik dan memandangi langit gelap tanpa bintang di malam hari itu. Gelap langit malam itu, tak dapat mengalahkan gelap hatinya yang menyimpan kebencian pada keluarga papanya. Bayangan kematian adik dan ibunya, tak pernah bisa dilupakan. Dia saksi, saksi kematian adiknya yang meninggal karena sakit, juga saksi kematian ibunya yang mengalami depresi. Dan— semua itu terjadi karena papanya, pria egois yang tidak memiliki perasaan. "Sayang, aku tahu kamu pasti lagi mikirin mendiang mama dan adik kamu. Aku gak ngelarang kamu buat nginget mereka, tapi aku mohon jangan abaikan kesehatan kamu. Kalau kamu sakit, gimana sama aku dan calon anak kita?" Liona yang melangkah mendekat, melingkarkan tangannya ke perut Kaisar dan menempelkan kepalanya di punggung sang suami. Ia berbicara pelan,

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   115. Tidak Peduli!

    "Ibumu pelacur, jalang sialan! Kamu dan ibumu adalah penyebab kematian ibu dan adikku! Sampai kapanpun, aku gak akan pernah memaafkan kalian!" Dihina ibunya oleh Kaisar, Ryuga yang semula berusaha membujuk dan menenangkan, kini menatap tajam. Wajahnya memerah sedangkan kedua tangannya terkepal erat. Pria itu memepet tubuh Kaisar dan mendorongnya dengan kasar. Bruk! Tubuh Kaisar yang masih lemah pasca koma, terdorong dan membentur tembok lorong rumah sakit. "Mas Kai!" kata Liona. Kaget melihat suaminya di dorong oleh Ryuga. "Ibuku bukan pelacur, ibuku bukan perempuan jalang. Kamu boleh benci dan hina aku anak haram, tapi jangan pernah sebut ibuku sebagai pelacur!" kata Ryuga dengan suaranya yang keras dan lantang. Mendengar perkataan Ryuga, Kaisar yang dibantu berdiri oleh Liona itu pun tertawa dengan keras. Menertawakan Ryuga yang sepertinya sudah tidak bisa berpura-pura baik lagi. "Haha... sampai kapanpun kebenaran gak akan berubah, Ryu. Ibumu tetaplah pelacur dan perempuan j

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   114. Kamu Dan Pelacur Itu Pembunuh!

    "Sayang, kamu beneran mau ikut pulang ke rumah papa dan mama?" Liona yang saat ini duduk di kursi, bertanya pada Kaisar yang bersandar di kepala ranjang pasiennya. Ditanya, Kaisar menganggukkan kepalanya. "Kalau orang tua kamu gak keberatan! Kalau mereka keberatan aku tinggal di sana, kita balik ke apartemen aja." Pria yang baru sadar dari koma dan sedang dalam tahap pemulihan itu menimpali perkataan istrinya dengan santai, tetapi bernada serius. Mendengar perkataan Kaisar yang negatif thinking, Liona menghela napas pelan. Sejak bangun dari koma, suaminya itu begitu sensitif dan mudah sekali marah. "Mama dan papa gak mungkin keberatan, Mas. Aku nanya gitu karena takut kamu berubah pikiran," kata Liona dengan pelan. "Aku gak akan berubah pikiran. Tinggal di mana pun bagiku sama aja, yang penting gak tinggal di kediaman keluarga Prasetya," kata Kaisar. Sorot matanya menunjukkan kebencian. Jika mengingat seperti apa masa lalunya di keluarga Prasetya dan seperti apa penderitaan ibu

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   113. Aku Hanya Ingin Diakui!

    "Kenapa? Takut gak bisa melindungi anak sialan dan cucu haram Kakek lagi kalau ingatanku pulih?" Duar! Perkataan yang dilontarkan oleh Kaisar membuat wajah Tuan Reynald memucat, bahkan tubuhnya seketika menegang. Sepertinya, ingatan putranya sudah benar-benar pulih sepenuhnya. Sedangkan Tuan Jayden yang berdiri di samping ranjang pasien itu, menatap sendu pada cucunya. Niatnya menghapuskan ingatan Kaisar di masa lalu bukan semata-mata untuk melindungi Tuan Reynald dan Ryuga, tetapi juga demi kebaikan Kaisar agar tidak hidup di dalam bayang-bayang buruk kematian ibu dan adiknya. "Kenapa, kenapa Kakek diam? Bener kan, Kakek takut ingatanku pulih?" lanjut Kaisar, berbicara dengan nada bicaranya yang mulai rendah. Sedangkan sepasang matanya yang memerah, kini mulai berkaca-kaca. Ditanya oleh cucunya, Tuan Jayden yang diam membisu, menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Kakek gak bermaksud begitu, Dam. Kakek melakukan semua itu demi kamu, demi kebaikan mental dan kewarasanmu...." kat

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   112. Menyesal?

    "Makan yang banyak biar cepet sehat dan bisa cepet pulang!" Liona yang sedang menyuapi Kaisar, berbicara dengan pelan seraya tersenyum kecil. "Aaa, buka mulutnya!" titah Liona. Dipinta membuka mulut, Kaisar yang duduk bersandar pada kepala ranjang itu mengangguk. Ia yang kondisi tubuhnya masih lemas pasca koma beberapa hari terakhir, menurut dan patuh pada istrinya. "Mau minum?" tawar Liona sembari menatap wajah pucat sang suami. Kaisar kembali mengangguk.Sejak sadar dari koma beberapa jam yang lalu, Kaisar tak banyak bicara. Bahkan, wajah pucatnya terlihat datar dan tanpa ekspresi. Dengan perlahan dan penuh perhatian, Liona membantu Kaisar minum. Meskipun lelah lantaran kurang istirahat, tetapi Liona tetap merawat suaminya. Bahkan, tak mengizinkan orang lain merawat Kaisar, kecuali dokter yang selama ini bertugas memeriksa dan memantau keadaan sang suami. "Dari tadi kamu sibuk nyuapin aku, tapi kamu sendiri gak sempet makan," kata Kaisar dengan suaranya yang terdengar lemas.

  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   24. Kabar Buruk

    Di kontrakan Ceci, di sanalah kini Liona berada. Seperti perkataan Kaisar semalam jika ia tidak boleh tinggal di apartemen, jadi ia yang pergi dari rumah, tinggal untuk sementara waktu di kontrakan sahabatnya. Tekadnya sudah bulat, tak akan pulang jika tantenya masih berada di rumahnya. Namun, di

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   25. Pergi

    "Pak Kai!" Melihat Kaisar keluar dari kelas tempatnya mengajar dengan begitu tergesa-gesa, Liona memanggilnya dan hendak mengejar langkahnya. Namun, Kaisar yang sedang terburu-buru, tak mendengarkan panggilan Liona. Bahkan, pria itu semakin mempercepat langkahnya menuju ruangan dosen berada. Lio

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   19. Burungnya Cuman Segede Jempol Kaki!

    "Habis digigit vampire mana tuh? Leher sampe merah-merah kayak gitu!" Kaisar yang baru saja duduk di kursi samping Aryo, seketika menyentuh lehernya. Sedangkan kedua matanya melotot.Dengan cepat ia menyambar ponsel Aryo dan melihat lehernya melalui kamera depan ponsel temannya itu. "Ah, astaga,

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Pelan-Pelan, Mas Kaisar!   21. Aku Benci Papa!

    Jam menunjukkan pada pukul setengah tujuh malam, Liona yang berada di dalam kamarnya, berbaring di atas ranjang dengan posisi tengkurap.Ponsel yang menyala di hadapannya, menunjukkan wajah tampan Kaisar. Yang artinya, ia sedang melangsungkan video call dengan sang kekasih. "[Kenapa gak keluar kam

    last updateLast Updated : 2026-03-20
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status