Mag-log in"Panjang banget, Pak. 19,5 centi, emangnya muat kalau dimasukin ke punya saya yang masih sempit dan legit ini?"
Liona yang syok setelah mengukur panjang batangan tegang milik Kaisar, meneguk ludah dengan bersusah payah. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Kaisar yang tersenyum tipis. Gadis itu tak menyangka jika Kaisar yang bertubuh atletis dengan otot perut delapan kotak, memiliki panjang burung yang luar biasa untuk ukuran warga lokal. "Sempurna... muka ganteng kayak ayang Jongki, badan gede tinggi, perut kotak-kotak, dan ternyata burungnya ukuran jumbo," ucap Liona dalam hati. "Kenapa? Kamu takut, hmm!" tanya Kaisar dengan santai. Bibirnya masih saja tersenyum tipis. Kepala Liona menggeleng pelan. "Enggak, cuman kaget aja. Punya Bapak besar dan panjang, mirip sama punya cowok-cowok yang ada di film biru, hee!" celetuknya. Gadis nakal itu terkekeh, hingga Kaisar meringis di buatnya. "Jadi, kamu sering lihat film biru?" tanya Kaisar dengan santai sembari mengambil alih penggaris yang ada di tangan Liona, lalu membuangnya ke lantai. Ditanya, Liona menggeleng. "Enggak sering, cuman pernah aja!" jawabnya jujur. Bibirnya memang menanggapi pertanyaan Kaisar, tetapi tatapan matanya tak lepas dari batangan yang berdiri tegak seperti keadilan di hadapannya. Berulang kali gadis itu meneguk ludah. Rasanya ngeri bercampur penasaran pada benda tumpul milik Kaisar. "Gede banget, emangnya muat kalau dimasukin? Sakit gak sih rasanya? Jadi gak sabar pengen cobain sekarang!" ucap Liona dalam hati. "Kenapa bengong? Buruan dimainin!" titah Kaisar. Meminta Liona untuk menyentuh dan memainkan miliknya. Liona menggigit bibir bawahnya. Dengan gerakan pelan yang terlihat ragu-ragu ia memajukan tangannya dan menyentuh milik Kaisar. "Ah, sstt, Liona...." Kaisar mendesah seiring tubuhnya ikut menegang seperti batangnya di pijat oleh Liona. Namun, sentuhan pelan Liona tiba-tiba berubah menjadi gerakan mematikan. Gadis nakal itu mencubit kedua telur Kaisar dan memelintir batangnya. "Argh, apa yang kamu lakukan, Liona? Itu aset saya bukan batang ubi!" jerit Kaisar. Ia yang semula keenakan, kini dibuat syok dengan perbuatan kasar Liona. Batinnya, apakah ia salah menyangka? Gadis nakal itu memang benar-benar masih perawan dan amatir. "Ah, nyeri," jerit Kaisar dalam hati. "Sstt... Pak Kai diem aja!" Liona yang sedang memainkan milik Kaisar, memintanya untuk diam. Kaisar menggeleng pelan. "Jangan dibengkokin, Liona. Nanti gak bisa tegak lagi," katanya dengan suara tertahan. Pria itu meminta Liona untuk tidak menyentuh miliknya dengan kasar, apalagi memutar-mutar, menggerakkannya ke depan dan ke belakang seperti tuas persneling. Liona yang mengerti maksud Kaisar, menganggukkan kepalanya dan kembali melanjutkan permainannya. "I-i-iya, di situ, enak. Ah, kayak gitu, dimainin ke atas dan ke bawah, bukan di dorong dan di tarik kayak tadi, ah...." Kaisar mengerang, gerakan Liona yang memainkan miliknya ke atas dan ke bawah, membuatnya merasa gila. Liona yang bermain-main pada milik Kaisar, mengangkat wajahnya dan menoleh. Ia tersenyum menggoda dan menatap dengan tatapan matanya yang genit. Lalu, telunjuknya bergerak dan menempel ke bibir Kaisar sebelum akhirnya mendorong tubuh pria itu hingga jatuh dan berbaring di kasur yang empuk. "Gimana? Bapak suka!" Liona bertanya dengan suaranya yang terdengar seperti desahan dan direspon dengan anggukan kepala oleh Kaisar. "Kalau gitu, Bapak diem, nikmatin permainan saya tanpa banyak protes!" Nada bicara Liona yang pelan, terdengar begitu seksi di telinga Kaisar, hingga membuatnya mengangguk patuh pada gadis nakal itu. "Mau lanjut?" tanya Liona, tepat di telinga Kaisar. Gluk! Kaisar meneguk ludah. Ia mengangguk pasrah, menurut pada Liona yang kini berada di atasnya. Melihat reaksi dan ekspresi yang diberikan Kaisar, Liona kembali tersenyum menggoda. Lalu mengecup pipi tirus pria itu. Setelah mengecup pipi Kaisar, Liona beralih pada bibir dan memagutnya dengan kasar. Batin Liona, "Gerakan gue udah mirip belum sih sama adegan di film kemaren? Jangan sampe gue bikin malu di depan Pak Kai." Gadis nakal itu berusaha melakukan yang terbaik. Ia ingin terlihat profesional dan liar seperti pemeran film biru yang kerap ditontonnya melalui situs ilegal yang ada di ponsel serta laptopnya. Merasa kehabisan oksigen, Liona menyudahi pagutannya. Ia mendongak, menatap wajah Kaisar yang memerah seperti tomat matang yang hampir busuk. "Apa bener dia masih perawan? Kok makin lama gerakannya makin liar? Apa jangan-jangan diawal tadi gerakan kakunya cuman pura-pura?" batin Kaisar bertanya-tanya. Ia yang belum pernah melakukan penyatuan sebelumnya dengan wanita manapun, merasa jika gerakan Liona saat ini cukup liar dan agresif. Hingga membuatnya heran dan penasaran, rasanya ingin cepat-cepat memastikan apakah Liona masih benar-benar perawan atau hanya membohonginya. "Sstt... sakit, Liona. Kenapa kamu gigit di sana? Kamu mau balas dendam ya, karena saya tadi sempet gigit punya kamu?" cetus Kaisar dengan suara beratnya yang tertahan. Kaisar yang sedang memikirkan perawan atau tidaknya gadis yang saat ini berada di atasnya, dibuat mendesis lantaran merasakan perih di salah satu pentil susu kecilnya. Bagaimana tidak? Liona yang sebelumnya bermain di area lehernya, berpindah dan menggigit pucuk susunya dengan keras. "Ma-ma-maaf, habisnya gemes, jadi pengen makan," kata Liona. Ia menyengir pada Kaisar yang meringis di bawahnya. "Kali ini mainnya pelan-pelan, Pak Kai pasti bakalan ketagihan dan minta di gigit lagi sama saya!" ujarnya. Gadis nakal itu kembali bermain di dada Kaisar, kali ini lebih terkontrol dan pelan. Hingga Kaisar kembali merem melek di buatnya, seolah melupakan sakitnya gigitan sebelumnya. "Sstt... terus, Liona. Turun ke bawah....." Kaisar meracau, meminta Liona bergerak turun ke bagian bawahnya yang sudah sangat tegang. Seperti yang diinginkan Kaisar, Liona bergerak ke bagian bawah pria itu dan hendak memulai pekerjaan intinya. Namun, Liona tiba-tiba berhenti. Ia beranjak dan memandang Kaisar yang sudah benar-benar bergairah. "Pak, ini gimana? Beneran saya yang disuruh masukin punya bapak yang jumbo ke punya saya? Bersambung....Keadaan rumah tahanan menjadi kacau. Ryuga yang nyaris sekarat pasca menegak racun mematikan, dibawa oleh petugas kepolisian menuju klinik terdekat. Keadaan pria itu saat ini benar-benar memprihatinkan. Tubuhnya membiru, wajahnya belepotan darah, serta kedua tangannya meremas erat perutnya sendiri. Saking eratnya remasan pria itu, urat-uratnya sampai menonjol dan terlihat dengan jelas. "Cepat, cepat bawa ke ruangan IGD!" Begitu turun dari mobil, tubuh Ryuga segera diangkat dan dipindahkan ke atas brankar. Lalu, perawat yang menyambutnya langsung mendorong brankar tersebut menuju ruangan IGD. Di atas brankar yang melaju dengan cepat, Ryuga yang masih sadar tetapi sudah tidak dapat melakukan apapun, tampak menitikkan air mata. Tatapan matanya begitu redup, menunjukkan jika saat ia benar-benar berada di ambang kematian. "Di kehidupan selanjutnya, aku gak mau lahir dan berada di tengah-tengah keluarga Prasetya lagi. Aku mau hadir dan besar di dalam keluarga utuh yang hangat dan
"Kai, awas!" Srek! Jleb! Sepasang mata Tuan Reynald mendelik lebar, kedua tangannya terkepal erat kala punggungnya dihujam oleh senjata tajam yang ada di tangan Ryuga. Melihat Tuan Reynald menjadikan tubuhnya sebagai perisai untuk melindungi Kaisar, Ryuga tertawa terbahak-bahak. "Hahaha... mati kamu, tua bangka sialan!" Pria itu mencabut belati yang menancap di punggung Tuan Reynald, lalu kembali menusuknya sebanyak beberapa kali. Melihat keadaan semakin kacau, petugas kepolisian yang kecolongan segera bertindak. Mereka meringkus dan melumpuhkan Ryuga yang menggila tidak terkendali. Liona dan Bu Elyana spontan memekik dengan keras, syok melihat tindakan Ryuga yang amat kejam dan mengerikan. "Argh... Ryuga, kamu gila!" jerit Liona sembari menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. "Pa, bawa Liona pergi dari sini sekarang. Jangan biarin dia lihat semuanya!" kata Kaisar, meminta Pak Baskoro membawa Liona pergi dari tempat tersebut. Pak Baskoro mengangguk, lalu seger
"Hahaha... kalian semua harus mati, kalian harus mati! Aku bakal ngirim kalian ke neraka satu persatu, termasuk kamu, laki-laki brengsek yang udah membuat hidup ibuku menderita!" Ryuga tertawa dengan keras, sedangkan tangannya bergerak, mendorong kasar tubuh Tuan Reynald. Saking kerasnya membuat tubuh pria separuh baya itu membentur tembok. Melihat sikap kasar Ryuga secara langsung, semakin syok dan kaget Tuan Reynald dibuatnya. Benarkah putranya yang pendiam, terlihat lemah dan penurut selama ini ternyata begitu kejam? "Ryuga, kenapa kamu lakukan semua ini?" tanya Tuan Reynald dengan wajah memerah dan sepasang mata berair. Ryuga yang tertawa-tawa seperti orang gila, menatap tajam Tuan Reynald yang bertanya padanya. Pria itu menghentikan gelak tawanya, lalu mendekati Tuan Reynald dan mencengkeram erat bagian depan kemeja yang dipakainya. "Kenapa? Kamu tanya kenapa?" tanya Ryuga dengan suara tertahan. "Setelah kamu buat ibuku menderita dan mati dalam kesedihan, kamu masih berani
"Kamu benar! Setelah ini kamu memang harus keluar dari kediaman Prasetya, dan aku akan pastikan selamanya kamu akan mendekam di balik jeruji besi!" Suara datar dan dingin milik Kaisar yang terdengar lantang, spontan membuat sepasang mata Tuan Reynald melotot lebar. Begitu pula dengan Ryuga sendiri. "Kai, apa maksudnya semua ini?" kata Tuan Reynald. Bertanya pada Kaisar yang menatap tajam Ryuga. Kaisar tak menjawab pertanyaan Tuan Reynald. Ia justru memberikan perintah pada petugas kepolisian untuk segera meringkus Ryuga sebelum kembali membuat ulah. Petugas kepolisian melangkah maju, lalu menunjukkan surat penangkapan pada Ryuga. "Pak Ryuga, Anda resmi kami tahan atas kasus pembunuhan berencana terhadap Tuan Jayden!" Suara tegas milik petugas kepolisian, membuat sepasang mata Ryuga semakin melotot lebar. Saking lebarnya seperti mau melompat dari tempatnya berada. "Apa-apaan ini? Saya gak bersalah, gak gak ngerti maksud kalian!" kata Ryuga. Menolak saat hendak diringkus dan di
"Jangan pukul lagi, Kai. Aku bener-bener minta maaf...." "Kaisar, apalagi yang mau kamu lakukan?!" Suara keras dan lantang milik Tuan Reynald yang berasal dari ujung lorong rumah sakit itu, membuat Kaisar seketika memejamkan matanya seraya menghela napas kasar. Wajah pria itu semakin memerah. Jelas jika ia sangat kesal saat ini, Ryuga benar-benar membuatnya muak. Sedangkan Ryuga sendiri, menyunggingkan sudut bibirnya. Ia tersenyum puas karena berhasil membuat Kaisar terlihat semakin buruk di hadapan ayahnya. "Hegh, jangan pikir bisa ngalahin aku, Kai. Aku bakalan ngerebut apapun yang kamu miliki, termasuk Liona dan bayinya," kata Ryuga dengan suaranya yang pelan dan terdengar lembut. Mulut pria munafik itu benar-benar beracun. Pintar sekali berakting dan berbohong di hadapan banyak orang, bahkan sangat cocok diberi julukan raja acting dan juga mendapatkan penghargaan piala oscar. Tak suka nama Liona dan calon anaknya disebut, Kaisar yang semakin tersulut emosi itu pun mengangka
"Segera lakukan autopsi, Dokter. Siapapun yang berani menghalangi, akan menjadi musuhku!"Mendengar perkataan Kaisar, Dokter menganggukkan kepalanya. Seperti yang diperintahkan, pemakaman Tuan Jayden akan ditunda dan akan segera dilakukan autopsi menyeluruh pada jasadnya.Tuan Reynald menghela napas panjang. Pusing menghadapi sifat Kaisar yang begitu keras kepala dan selalu bersikap semaunya sendiri. Sedangkan Ryuga, diam-diam mengepalkan kedua tangannya dengan erat di sisi tubuh. Kepalanya tertunduk, bersikap seolah ia sangat sedih dan terpukul atas kepergian sang kakek."Sial, lagi-lagi dia mengacaukan semuanya. Kayaknya aku harus mempercepat rencana." Kaisar yang berdiri di samping istri dan mertuanya, diam-diam mengamati gelagat Ryuga. Bahkan perhatiannya tak lepas dari anak selingkuhan ayahnya itu. "Kaisar harus mati, aku bakal menyingkirkan dia secepatnya supaya gak ada lagi orang yang bisa menghalangi tujuanku," gumam Ryuga. Di saat dokter dan tim sibuk mengurus jenazah Tua
"Egh, ketemu Liona di sini. Sama siapa kamu?" Diana, dosen Liona di kampus yang menyukai Kaisar, menenteng barang belanjaannya mendekati Liona yang berdiri di depan sebuah toko pakaian. Melihat Diana mendekat ke arahnya dengan gaya genit dan centil yang dibuat-buat, Liona memutar bola matanya mal
"Saya berubah pikiran, Pak. Uang 15 juta itu Bapak simpen aja, sebagai gantinya Bapak harus jadi pacar saya!"Wajah Kaisar menegang dan memerah. Sedangkan sepasang matanya menatap Liona yang berbicara. "Jadi pacar kamu?" Kaisar bertanya dengan suaranya yang terdengar pelan dan tertahan. Pikirnya,
"Khusus buat aku, Sayang? Yang bener aja!"Sayangnya, kalimat itu hanya mampu diucapkan Kaisar dalam hati. Matanya menatap sepiring nasi goreng dan telur ceplok menghitam di atasnya, lalu beralih pada Liona yang tersenyum merekah di hadapannya. "Buruan dicoba, Sayang!" kata Liona. Meminta Kaisar u
"Ngapain berdiri di sana? Terus, siapa yang masuk IGD?" Kaisar yang berdiri di depan wastafel, segera mencuci mulutnya dan berbalik. Menatap Liona yang berdiri dengan kedua tangan dilipat di dada. "Kok balik lagi?" tanya balik Kaisar tanpa menjawab pertanyaan sang kekasih lebih dulu. Liona yang







