Share

Bab 38. Murka

Author: Anggun_sari
last update Last Updated: 2025-10-12 16:55:56

“Akkhh….”

Zoe memekik keras kala Xavier melemparkannya secara kasar di atas kasur. Mulut pria itu tertutup rapat sejak membawanya keluar dari cafe. Mata Zoe menatap takut-takut pada sosok xavier yang terlihat murka. Pria itu menggulung lengan kemejanya hingga siku serta melonggarkan dasi yang dipakainya. Dia tidak tau apa alasan Xavier terlihat marah dan tidak senang. Bukankah seharusnya dia yang marah?!

“Apa kamu tidak punya mulut! Tidak bisakah kamu menjawab dengan benar setiap kata-kata yang diucapkan oleh mamahku!” sungut Xavier berapi-api.

Zoe bersingut. Tubuhnya meringkuk di atas kasur dengan tatapan takut. Meski tidak sepenuhnya baik, tapi ini kali pertamanya melihat Xavier berteriak seperti ini kepadanya. Bukan berteriak, suara pria itu pelan. Namun, menyiratkan kemarahan.

“Ingin meninggalkanku dan menerima cek dari mamahku. Iya…?” kata-kata Xavier semakin tajam dan menusuk. Membuat Zoe hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Xavier melepaskan dasi yang terasa semakin mencekik le
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 188. Marah

    “Apa kamu tahu kalau aku mencintaimu?” sambung Adam.Zoe terdiam. Matanya menatap lekat Xavier yang tengah menatapnya dengan tatapan jengah. Tangan pria itu terulur, mengambil alih ponsel Zoe yang masih menempel di telinganya.Jantung Zoe berdebar keras, matanya bergerak gelisah kala Xavier menempelkan ponsel itu di telinganya.“Aku tahu mungkin ini sangat sulit bagimu, tapi untuk terakhir kalinya aku ingin mengetahui apakah kamu tahu bahwa aku mencintaimu?” ulang Adam.Xavier tersenyum sinis. Matanya menyipit semakin tajam. Mata itu menatap lekat dan dalam Zoe, seolah wanita itu adalah target buruannya. Wajah Xavier juga terlihat mengeras. Tidak ada kelembutan di sana. Entah apa yang didengar pria itu. Melihat itu semua, hati Zoe semakin dibuat gelisah.“Jika tahu, memang apa untungnya untukmu. Zoe adalah milikku, sekeras apapun kamu mencoba untuk mendekatinya, usahamu akan berakhir sia-sia!” tegas Xavier. Suaranya dingin dan menusuk.Adam terkejut. Pupilnya melebar saat mendengar su

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 187. Mengungkapkan rasa

    “Aku….”Zoe langsung mematikan sambungan teleponnya ketika mata indahnya menangkap sosok Xavier yang baru saja masuk ke ruang makan. Pria itu tersenyum saat melihat Zoe. Langkah tegap Xavier mendekati sosok yang sudah mengisi hari-harinya itu. Sebuah kecupan singkat mendarat begitu saja di dahi Zoe.“Kenapa dimatikan? Ku lihat tadi kamu begitu serius saat sedang berbicara di telepon,” tanya Xavier. Ia mengaitkan tangannya dengan tangan Zoe, mengajak wanitanya untuk duduk.Zoe tersenyum tipis. Hatinya berdebar kencang seolah dirinya tertangkap basah tengah berselingkuh, padahal dia hanya menerima panggilan telepon dari Adam–pria yang paling dibenci oleh Xavier.“Sofia menghubungiku dan mengajakku untuk pergi berbelanja,” sahut Zoe berbohong.Debaran jantungnya semakin cepat. Tatapan mata Xavier yang menatapnya dalam dan tajam membuatnya gugup. Ini adalah kebohongan yang dilakukannya secara terang-terangan untuk kali pertama. Entah bagaimana reaksi Xavier jika tahu bahwa yang menghubun

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 186. Pertanyaan terpendam

    Zoe tertunduk. “Maaf…,” lirihnya.Xavier menghela napasnya. “Kamu tahukan aku tidak akan merubah pendirianku. Jadi percuma kamu memohon padaku.”Zoe mesih tertunduk. Tangannya saling meremat, gelisah. “Aku hanya mencoba membantunya. Aku tahu kamu tidak akan merubah pendirianmu, tapi….”“Tapi apa?" potong Xavier. " Jika kamu tahu kamu harusnya menolak dengan tegas permintaan Adam.”Xavier menatap Zoe. Ada rasa kecewa sekaligus cemburu dalam tatapannya. “Kita sudah bersama lama, Angel. Harusnya kamu tahu bagaimana aku." Ada rasa bersalah dalam diri Zoe. Wajahnya sendu menatap takut-takut Xavier. Pria itu terlihat marah dan juga kecewa.Mungkin ini memang salahnya. Harusnya sejak awal dia tidak menerima permintaan Adam. Sekarang dia dilema sendiri antara memohon atau mengerti keadaan Xavier." Kamu tahu, jika aku datang maka hal itu tidak akan menjadi pertemuan pertama dan terakhir untuk Aluna. Wanita itu pasti mencari cara untuk membuatku kembali lagi. Apa kamu rela aku terus datang da

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 185. Berhenti menyembunyika sesuatu dariku

    “Aluna…?” lirih Zoe yang berdiri di belakang Adam.Adam menoleh menata Zoe. “Lihatlah, dia begitu mengenaskan bukan. Wajah cantiknya kini hilang entah kemana. Sekarang kakakku hanya bisa menangis dan berteriak. Sesekali bibirnya memanggil nama Pak Xavier.”Zoe menggigit bibirnya kuat-kuat. Air matanya hampir menetes melihat kondisi Aluna yang tampak memprihatinkan. Wanita itu benar-benar terlihat seperti orang gila. Sesekali Aluna terlihat tertawa, sesekali wanita itu berteriak kencang.“Aku ingin sekali membawa kakakku berobat, tapi kedua orang tuaku menghalanginya.” Adam menatap Zoe sendu.“Jika Pak Xavier tetap tidak mau bertemu dengan kakakku, mungkin aku akan membawa kakakku ke luar negeri untuk berobat di sana tak ada yang mengenal kami,” terang Adam.“Boleh aku mengambil video kakakmu?" Taya Zoe. "Aku akan menunjukkannya kepada Pak Xavier nanti. Mungkin dengan melihat video yang aku ambil, Pak xavier menjadi iba,” ujar Zoe.Adam mengangguk. Ia mempersilahkan Zoe untuk mengamb

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 184. Tak bisa menolak

    “Aku tidak bisa menjanjikannya. Kamu tahu sendiri bagaimana sikap Pak Xavier. Dia akan tetap berkata tidak untuk sesuatu yang tidak diinginkannya," jawab Zoe."Aku tahu betul tentang itu, tapi aku mohon sekali ini saja. Kakakku bisa mencelakai dirinya sendiri lama-lam, Zoe.”Adam masih berlutut, memohon sesuatu yang sudah tahu akan bagaimana hasilnya. Namun ia masih mencoba melakukannya. Hatinya benar-benar hancur saat melihat kakaknya terpuruk seperti ini.“Atau kamu mau melihat sendiri bagaimana keadaannya? Mungkin dengan begitu hatimu akan terketuk,” kata Adam masih berusaha memohon pada Zoe.Zoe menggigit bibirnya. Perasaannya mulai bimbang. Dia tahu betul bagaimana keadaan Aluna saat itu. Wanita yang dulu selalu terlihat cantik dan mempesona itu kini sudah berubah menjadi wanita yang tidak lagi memperhatikan dirinya.Zoe menatap mata Adam, jelas sekali terlihat bahwa pria itu sangat putus asa.“Aku mohon….”Goyangan di tangannya membuat Zoe tersadar dari lamunannya. Kepalanya men

  • Pelan-Pelan, Pak Dosen!    Bab 183. Memohon

    “Hati-hati dijalan. Semoga liburanmu kali ini menyenangkan,” ucap Xavier. Ia memeluk tubuh mamanya sebelum wanita itu benar-benar pergi. Kemarin setelah pergi bertiga dan menikmati waktu bersama, sore harinya Xavier dan Zoe mengantarkan Nora ke bandara. Nora menganguk. “Kalian juga hati-hati, jangan sering bertengkar. Hubungi Tante jika Xavier berani menyakitimu,” kata Nora berpesan.Zoe mengulas senyumnya. Ia bergantian memeluk tubuh Nora. Kali ini Nora ingin berlibur ke Jepang.Hangat, itu yang dirasakan Zoe setiap kali ia berpelukan dengan Nora. Ia bahkan tak ingat lagi bagaimana rasanya pelukan ibunya. Sudah hampir puluhan tahun ibunya pergi tanpa pesan.“Iya Tante. Nanti saya akan langsung menghubungi Tante jika Xavier berani macam-macam.” Canda Zoe. Ia tersenyum lebar meski matanya hampir mengeluarkan air mata.“Jangan menangis, Tante pasti kembali. Tante juga harus menghadiri sidang perceraian Tante kan,” ucap Nora saat melihat air mata Zoe hampir jatuh.Zoe mengangguk. Sekal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status