MasukAksi suamiku itu memicu simpati dari orang-orang di sekitar.Mereka semua mengira aku punya kecenderungan melakukan kekerasan, bahkan mendukung penuh agar aku dimasukkan ke penjara.Aku hanya tersenyum tipis, lalu mengangkat tangan dan berkata, “Aku juga punya bukti!”Begitu kalimat itu terucap, semua orang yang hadir tersentak kaget.“Bukti apa yang kamu punya? Jelas-jelas kamu yang memukul orang, masih mau memutarbalikkan fakta?”“Benar, seorang wanita main tangan itu benar-benar memalukan kaumnya sendiri.”….Orang-orang di sekitar mulai mencaciku, kata-kata yang keluar semakin lama semakin tidak pantas didengar.Bahkan suamiku pun berkata dengan angkuh, “Bukti apa yang bisa kamu tunjukkan? Dengarkan baik-baik, meski malaikat datang sekalipun hari ini, kamu nggak akan bisa lolos.”Aku hanya tersenyum tanpa menjawab.Aku hanya memberi isyarat agar mereka melihat ke layar besar di ruang sidang.Isi di layar tersebut menunjukkan momen saat suamiku menyeretku ke kamar dan melakukan ak
Suamiku memasukkan tangannya ke dalam baju seorang gadis muda, sementara mulutnya sedang asik berciuman dengan gadis di sebelahnya.Jika ini terjadi di masa lalu, aku pasti akan sangat marah.Namun sekarang, yang tersisa hanyalah perasaan lega.Mungkin dengan cara ini, aku bisa bercerai tanpa perlu merasa bersalah sedikit pun.Setelah minum cukup banyak bersama Calvin, kepalaku terasa pening dan berat.Aku menunggu sampai suamiku selesai bermain dan pulang, baru kemudian aku pergi.Calvin mengikutiku dan berkata,“Sudah larut malam, biar aku yang mengantarmu pulang saja.”Melihat ketulusan di matanya, aku pun setuju.“Boleh, antarkan aku pulang saja.”Sesampainya di bawah apartemen, Calvin pamit pulang.Aku naik ke atas dan masuk ke dalam rumah.Suamiku terbaring di ranjang dengan bau alkohol yang menyengat. Melihatku datang, dia bertingkah layaknya tuan dan langsung melepas celananya.“Sini, jilat ini.”Menjijikkan sekali.Aku tak mengatakan sepatah kata pun, hanya diam-diam pergi man
Keesokan harinya, aku mencoba menenangkan perasaanku dan berangkat kerja.Sikap profesional saat bekerja membuatku tak punya waktu untuk memikirkan keretakan rumah tangga dan yang mengejutkannya, aku malah mendapatkan ketenangan batin.Waktu berlalu cepat, tibalah jam pulang kerja.Sesuai janji, aku pun pergi ke tempat gym.Melihat Calvin, aku merasakan kepuasan tersendiri di dalam hati.Dia meletakkan peralatan yang sedang dipegangnya dan begitu melihatku datang, dia menyapa dengan ramah.“Eh Melinda, sudah datang, ya.”Aku mengangguk.“Kok rasanya suasana hatimu lagi nggak baik hari ini?”Aku tak menjawab, karena aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus mengungkapkannya.Calvin juga tak bertanya lebih jauh dan melanjutkan latihan bersamaku.Dia lagi-lagi menempel di belakangku. Aku merasa seluruh gairahku bangkit kembali.Namun bedanya, kali ini ada sedikit perasaan kasih sayang yang terselip di dalam hati.Cinta memang bumbu terbaik untuk gairah.Aku hampir tak bisa menahannya lag
Aku pun tertidur di sampingnya dengan perasaan yang hampa.Keesokan paginya, aku bangun pagi-pagi sekali untuk pergi bekerja.Pekerjaan di kantor hari ini sangat menumpuk, aku sibuk tanpa henti.Sangking sibuknya, aku bahkan tidak sempat meminum seteguk air seharian.Saat jam pulang kerja tiba, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.Seharusnya malam ini aku pergi ke tempat gym untuk berlatih, tapi tubuhku benar-benar sudah terlalu lelah.Akhirnya, aku mengirim pesan pada Calvin.“Kak, aku nggak latihan dulu malam ini, boleh? Aku sibuk seharian dan benar-benar lelah, sekarang juga baru saja pulang kerja.”Calvin segera membalas pesanku.“Nggak apa-apa. Kalau kamu merasa lelah, pulang dan istirahat saja. Kita bisa latihan lagi besok.”Pesannya diikuti dengan sebuah emoji yang lucu.Meskipun aku belum lama mengenal Calvin, dari detail kecil seperti ini, aku bisa merasakan betapa lembutnya dia padaku.Dia selalu memedulikan perasaanku.Aku turun dari kereta bawah tanah dan kembali k
Aku tersentak kaget, lalu segera mengeratkan seluruh otot tubuhku.Aku menahannya agar dia tak bisa bergerak lebih jauh.Melihat reaksiku, pelatih tidak lagi memaksa. Dia malah membantuku merapikan celanaku kembali.“Itu… jangan dimasukkan ke hati, ya. Aku hanya melihat celanamu sudah basah, jadi berniat membantumu tadi.”Pelatih itu mencoba menjelaskan dengan nada yang agak canggung.Namun, aku malah tidak marah sama sekali. Sebaliknya, ada sedikit rasa kecewa di dalam hatiku.Kenapa pelatih tak bisa sedikit lebih berani, sedikit lebih kuat lagi?Aku begitu mendamba untuk dipaksa masuk olehnya, karena dengan begitu, aku tidak akan merasa terlalu bersalah pada suamiku.“Oh, nggak apa-apa. Tadi aku hanya agak gugup dan takut saja.”Melihat aku tidak menyalahkannya, pelatih itu pun tampak lega.“Nggak masalah, namanya juga pertama kali. Wajar saja kalau gugup. Nanti juga akan terbiasa.”Entah apa yang dimaksud dengan pertama kali olehnya, pertama kali dipaksa oleh pria atau pertama kali
“Nah, bagus! Turun perlahan, rasakan tulang belakangmu menarik otot bokongmu. Busungkan bokongmu ke belakang sekuat tenaga, perhatikan ritme napasmu!”Pelatih membantuku dari belakang.Dia menggenggam kedua tanganku dan seiring gerakanku yang merendah, dia pun ikut berjongkok perlahan.Harus kuakui, pelatih ini memang ahli. Kali ini, aku berhasil melakukan squat dengan mulus. Pijakanku kokoh, sama sekali tidak goyah.Namun, tiba-tiba….Aku merasakan sesuatu yang keras mulai menyelinap masuk ke celah bokongku!Saat berjongkok, rokku tersingkap dan benda itu langsung menekan celana dalam tipis yang kupakai!Jika yang pertama tadi bisa disebut tidak sengaja, maka yang kali ini benar-benar pelecehan yang nyata!Pelatih ini sungguh nekat.Di sekitar gym ini masih ada orang lain, tapi dia melakukannya begitu terang-terangan.Namun, sensasi itu membuatku seolah sulit untuk berhenti.Biasanya saat bersama suamiku, dia selalu cepat selesai hanya dalam beberapa gerakan, sama sekali tak bisa memu







