Short
Gadis Pecandu di Rumah Sakit

Gadis Pecandu di Rumah Sakit

Oleh:  RichyTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
7Bab
8Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

"Nggak ... jangan, bagian bawahku sudah nggak muat lagi, huhuhu!" Di atas ranjang pasien, aku menunggingkan bokongku yang putih bersih. Dokter sedang membantuku memeriksa masalah gangguan gairah parah yang kuderita. Namun, dia seolah sedang mempermainkanku. Telapak tangannya tak henti meremas bokong kencangku, bahkan memasukkan jarinya ke dalam. Semakin aku memohon ampun, dia tampak semakin bergairah. Tak tahan lagi, aku menoleh ke belakang. Siapa sangka, dia bukan dokter! Bukankah dia itu dosenku? Detik berikutnya, dia mendesak maju ke arahku dengan kasar!

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Namaku Lidia Yerdi. Sejak kecil, aku tersiksa oleh gangguan gairah tubuh.

Orang-orang selalu menganggapku gadis baik-baik, padahal hanya aku yang tahu betapa kuatnya hasratku terhadap pria.

Hanya dengan melihat pria bertubuh kekar, celanaku bisa mendadak basah tak tertahankan.

Sejak kuliah, gangguan ini semakin tidak terkendali.

Terkadang, gesekan saat berjalan saja bisa membuatku "klimaks" tanpa sengaja.

Orang lain mungkin mengira aku mengompol.

Penyakit ini benar-benar mengganggu kehidupanku sehari-hari.

Aku pun menceritakan keluhanku pada dosenku, dan dia menyarankan agar aku memeriksakan diri ke rumah sakit.

Hari ini, aku datang ke rumah sakit ginekologi. Setelah mendaftar, aku pun berbaring di ranjang periksa.

Melihat ruangan yang kosong dan mencium aroma hormon maskulin yang memenuhi udara, aku mulai merasa gatal lagi.

Di antara kedua kakiku rasanya seperti ada semut yang merayap masuk. Isi kepalaku penuh dengan bayangan pria.

Rasanya menyiksa sekali ....

Mumpung tidak ada orang, aku tak tahan untuk tidak memasukkan tangan ke balik rok.

Aku memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang berkembang dengan sangat seksi.

Kaki-kakiku jenjang dan ramping, terutama sepasang "bukit" ini. Bahkan saat berbaring pun rasanya hampir meledakkan pakaianku.

Sungguh sangat cantik, tapi malah punya penyakit seperti ini.

Tepat saat itu, pintu kamar rawat terbuka.

Seorang pria mengenakan jas putih dokter masuk. Dia menunduk, sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Aku segera menarik tanganku, jemariku masih bersimbah noda lengket.

Sejujurnya, sangat memalukan jika penyakit ini sampai diketahui orang lain.

Bahkan di depan dokter pun, aku masih merasa sungkan.

"Berbaring, tengkurap dan nunggingkan bokongmu. Aku akan memeriksa bagian bawahmu," perintah dokter itu.

Aku berbalik dan tengkurap di ranjang, mengangkat pinggulku tinggi-tinggi.

Pose ini membuatku semakin malu, karena aku belum pernah melakukannya di depan lawan jenis.

Area di antara kedua kakiku sudah sedikit basah.

Yang lebih membuatku tersipu adalah saat dokter tiba-tiba menarik celanaku dan menyentaknya ke bawah dengan kuat.

Seketika, dua belah bokong yang putih dan bulat pun terpampang nyata.

"Ah ... apa harus buka celana juga?"

Mungkin karena merasa lucu dengan pertanyaanku, dokter itu terkekeh.

"Bagaimana aku bisa memeriksa kalau kamu nggak buka celana?"

"Tapi, tapi ...." Melihat bagian bawahku terekspos sepenuhnya di depan lawan jenis, aku merasa merinding di sekujur tubuh.

Lebih gawat lagi, rasa candu itu mulai kumat dengan hebat. Tubuhku didera rasa gatal yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Aku takut tiba-tiba akan "menyemprot".

"Jangan khawatir. Dokter punya etika medis. Ini memang pekerjaan kami, jadi nggak akan berpikiran macam-macam padamu."

Mendengar hal itu, aku sedikit tenang. Menjadi dokter adalah panggilan suci, mungkin aku saja yang terlalu sensitif.

Aku pun menahan rasa gatal yang menyiksa itu dan tetap menungging tinggi-tinggi untuk diperiksa.

Detik berikutnya, kedua telapak tangannya yang kasar menyentuh bokong kencangku.

Dia ternyata tidak memakai sarung tangan!

Biasanya dokter memakai sarung tangan putih saat memeriksa pasien, tapi tangan besar yang kasar dan hangat ini justru mengelusku. Seketika, aku merasa hampir tidak tahan lagi.

Tubuhku yang memang sudah gatal, kini terasa seperti gunung berapi yang siap meletus. Seluruh organ tubuhku rasanya seperti terbakar.

"Dokter, uh ... kenapa Anda nggak pakai sarung tangan?"

"Oh, ini agar bisa memeriksamu dengan lebih baik dan membantumu pulih."

Demi kesembuhan, aku terpaksa membiarkan dokter itu memeriksa bokongku. Aku hanya perlu bersabar sebentar lagi agar bisa terbebas dari penderitaan ini.

Memikirkan hal itu, aku mengatupkan gigi rapat-rapat, berusaha melawan rasa gatal yang menusuk.

Namun, teknik dokter ini benar-benar aneh.

Ini tidak terlihat seperti pemeriksaan medis.

Malahan terlihat seperti ... pelecehan?

Telapak tangannya sedikit menekan, menggosok kedua belah bokongku dengan gerakan melingkar yang lembut.

Tangan kasarnya yang menyapu kulit halusku, justru memberiku rasa nyaman yang unik.

"Uh ... emm ...." Aku tak sengaja mengerang lirih. Hasrat dalam tubuhku semakin menggebu.

Tak cukup sampai di situ, dokter itu meremas bokongku dengan kuat. Bokongku yang kenyal, berubah bentuk di bawah remasannya.

Bahkan, terdengar suara decak kagum dari mulut dokter itu.

"Kencang sekali, sangat lembut ... enak sekali dipegang."

Seketika, seluruh tulangku terasa lemas dan nikmat. Tanpa sadar, aku mengangkat pinggulku lebih tinggi.

Aliran hangat pun mengalir keluar tak tertahankan.

Mengapa ini bukannya menyembuhkanku, tapi malah membuatku makin tersiksa?

"Dokter, teknik Anda ... kenapa aneh sekali? Rasanya seperti sedang ... merabaku."

Dokter itu baru tersadar dan berkata padaku, "Ini adalah tahap awal pengobatan. Aku sedang memancing keluar hasrat di tubuhmu. Setelah semua hasratmu tercurahkan, baru kita bisa mengobatinya sampai ke akar."

Meski kata-katanya terdengar janggal, dia tetaplah seorang dokter, jadi aku terpaksa mempercayainya untuk sementara.

Kemudian, dokter itu menekuk satu jarinya dan mulai menyusuri belahan bokongku perlahan.

Rasanya seperti ada aliran listrik kuat yang menjalar dari tulang ekor, membuat seluruh tulang belakangku kesemutan nikmat.

Detik berikutnya, jari dokter itu sudah sampai di ....

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
7 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status