MasukAnya menyalakan ponselnya, hanya untuk melihat jam.Matanya langsung membulat sempurna.Pukul sepuluh malam.“Aku harus apa sekarang?” tanya Anya pada dirinya sendiri.Untuk berdiri saja ia sudah tidak mampu. Kakinya sakit, tangannya pun begitu. Kepalanya juga masih ditempeli sedikit perban.“Aku kayak korban tabrak lari, deh,” ucapnya sambil memandangi kedua kakinya.Lutut kirinya diperban. Siku kirinya pun begitu.Dan sekarang, ia baru sadar kalau kacamatanya tidak ada.Anya membuka aplikasi hijau di ponselnya.Sejujurnya, saat ini ia tidak tahu harus menghubungi siapa.Ia ingin memberitahu kakaknya, tetapi pasti orang tuanya juga akan tahu. Dan itu akan menjadi masalah besar.Anya memikirkan satu nama yang pasti saat ini sedang pusing mencarinya.Bibi War.Anya langsung menelepon bibi kesayangannya itu.Tidak butuh waktu lama, teleponnya diangkat.“Halo, Bi.”“Non! Ya ampun, ke mana aja, Non? Bibi cariin kamu. Tadi Bibi telepon, tapi nomor kamu nggak aktif. Non baik-baik aja, kan?
“Gimana menurut kalian rencana aku?” tanya Chelsea dengan semangat. Saat ini, ia bersama Tres dan Clara sedang duduk di dalam kelas. Kebetulan, siswa yang lain sedang istirahat sehingga hanya mereka bertiga yang berada di kelas. Chelsea baru saja memberitahukan rencana busuknya terhadap Anya. “Tapi, Chels... nggak terlalu berisiko, kah?” Tres merasa berat hati. Masalahnya, rencana ini sudah seperti tindakan kriminal. Awalnya, ia memang hanya ikut-ikutan Chelsea dan Clara untuk membully Anya. Namun, ia tidak pernah berniat sampai membuang Anya ke hutan belantara. Chelsea berencana membuat Anya tersesat di hutan. Minimal satu atau dua hari, baru mereka akan memulangkannya kembali. Sungguh sangat kejam. “Gimana kalau ada orang yang jahatin dia, Chels?” Tres masih tidak setuju dengan rencana gila Chelsea. “Ya udah sih, berarti itu hari sialnya dia. Ngapain juga gue peduli?” balas Chelsea sambil menyodorkan kuku-kuku barunya. Chelsea sebenarnya sengaja memamerkan kuku-kuku barunya
Terhitung sudah dua hari setelah acara ulang tahun Tres, dan baik Tian, Chelsea, maupun kawan-kawannya tidak ada yang pernah sedikit pun mengganggu Anya.Apa mereka udah nggak marah lagi, ya, sama aku?“Aneh banget,” ucap Anya lagi dengan kening mengerut.Saat ini, ia tengah menikmati susu stroberinya di bawah pohon mangga, seperti biasanya.Tapi bagus deh kalau mereka udah nggak niat ganggu aku lagi. Jadi hidup aku bisa tenang kayak dulu lagi.Namun, sepertinya Anya terlalu berharap.Ponselnya tiba-tiba bergetar. Ia membukanya dan melihat pesan yang berasal dari Tian.Ke ruang olahraga. Ada tas hitam. Lo anter ke alamat ini. Ojek online-nya udah tunggu di depan gerbang. Sekarang!Itu adalah pesan yang dikirimkan Tian.“Ish, emang harus banget sekarang, ya? Tapi ini masih ada satu mata pelajaran lagi,” gerutu Anya.Maaf, Tian. Boleh pulang sekolah dulu nggak? Ini aku masih ada satu pelajaran lagi.Anya membalas pesan Tian.Ia tidak bisa seenaknya membolos pelajaran. Orang tuanya pasti
Anya memandangi susu stroberi yang sejak tadi mengganggu pikirannya.Ini siapa yang taruh di meja aku, sih?Masa tiba-tiba ada susu stroberi di meja aku?Apa kemarin aku yang kelupaan, ya?Kayaknya enggak deh. Aku kan selalu minum ini pas udah di bawah pohon mangga.Anya terus berperang dengan pikirannya sendiri.Tadi pagi, saat masuk kelas, ia melihat susu stroberi itu sudah ada di mejanya.Ia tidak berani mengambilnya karena takut susu itu milik orang lain.Akhirnya, ia menggesernya sedikit ke sudut meja agar tidak terus mengganggu pikirannya.Namun, tindakan itu sedari tadi diperhatikan oleh seorang siswi.Tres.“Lo ngeliatin apa sih dari tadi? Serius amat,” ucap Clara yang tiba-tiba mengagetkan Tres.“Eh, enggak kok. Lagi ngelamun aja,” balas Tres dengan salah tingkah, seperti baru saja ketahuan melakukan sesuatu.Tres membuka bukunya. Sengaja ia mengalihkan pandangan ke buku tersebut, padahal pikirannya sedang tidak berada di sana.Ia kembali teringat kejadian semalam.“Mama kete
Brian masih memantau interaksi yang terjadi di antara tiga orang di sana. Ia melihat bagaimana Anya hanya menunduk sejak tadi.Chelsea dan Tian berdiri di antara Anya. Tangan Chelsea memegang pergelangan tangan Anya. Dan saat tangan Tian hendak memegang leher bagian belakang Anya, Brian buru-buru menghampiri mereka.“Permisi?!”Brian berhasil mengagetkan mereka.Tian buru-buru menarik tangannya, begitu pula dengan Chelsea.Perasaan belum lima menit dia pergi, kok udah balik lagi, sih? Ganggu banget! batin Chelsea.Sementara itu, Tian sedang memutar otaknya, mencari alasan yang tepat untuk menjelaskan situasi ini kepada Brian.“Eh, Pak Brian. Tadi saya dan Chelsea lihat cewek ini sama Bapak, jadi kami mau kenalan aja,” ucap Tian dengan yakin.“Oh, hahaha... begitu, ya.” Brian tersenyum. “Maaf, ya. Teman saya ini tidak suka diganggu.”Brian menekankan setiap katanya, seolah-olah itu merupakan sebuah peringatan.Tian dan Chelsea hanya mengangguk, lalu buru-buru pergi dari sana.“Nya, kam
“Chelsea?!” ucap Anya tertahan.Ia langsung menghentikan langkahnya ketika melihat Chelsea dan Tian sedang duduk bermesraan, sedikit jauh dari tempat ia berdiri.Brian yang menyadari Anya tiba-tiba diam pun lantas bertanya.“Anya? Ada apa?”Namun, tidak ada jawaban dari Anya.Brian pun mengikuti arah pandangan Anya yang tertuju pada sepasang kekasih yang sedang romantis-romantisnya.Brian mengenali cowok itu.Yah, siapa yang tidak mengenal putra tunggal dari keluarga terpandang, kan?Tapi, kenapa Anya bereaksi seperti ini saat melihat mereka? batin Brian.Apa mereka saling kenal?Bisa aja kan? Mereka kan teman sekolah. Batin Tian.“ANYA!”Karena mereka sudah cukup lama terdiam tanpa ada pergerakan apa pun, akhirnya Brian sedikit berteriak untuk menyadarkan Anya.Dan sepertinya itu berhasil. Tapi panggilan ketiga barulah panggilannya direspon.Seketika Anya menoleh ke arahnya.“Kamu baik-baik aja?” tanya Brian langsung setelah Anya mendapatkan kembali kesadarannya.“Emm... i-iya, Kak.







