LOGINSelama memperbaiki kaki ranjang, pikiran Pram menjalar kemana-mana.
Ia benar-benar tidak bisa fokus. Pasalnya, Sisil mondar-mandir di belakangnya sambil sesekali mengecek pekerjaan Pram. Wanita itu menunduk dan mendekatkan tubuhnya hingga menempel pada lengan Pram. “Gimana, Mas? Bisa nggak?” tanya Sisil. Pram menangkapnya seperti sebuah bisikan. “B-bisa, Bu, sebentar,” jawab Pram terbata. Pram melirik Sisil sejenak, pandangan wanita itu fokus kepada kaki ranjang yang tengah dibetulkan Pram. Sisil lalu mengangguk. Untuk sesaat, Pram lega karena tidak ada ucapan apa-apa lagi dari Sisil yang bisa membuatnya berpikir macam-macam. Namun, ia salah. Tangan Sisil tiba-tiba mengelus lengan bagian atas milik Pram sebelum beranjak pergi. Bulu-bulu di tubuh Pram naik seketika. Perkakas di tangan Pram juga lepas begitu saja karena terkejut. “Eh- aduh!” “Kenapa, Mas?” Sisil berseru. “Nggak, Bu!” katanya. Tangannya yang berkeringat terasa semakin basah karena gugup. Setelah beberapa lama, Pram menoleh ke luar kamar. Ia mendapati Sisil tengah duduk di ruang tamu lantai dua. Hanya kaki jenjangnya yang sedang diayunkan yang terlihat. Seolah terbaca, Sisil tiba-tiba ikut menoleh. “Kenapa, Mas?” ia berseru. Pram langsung salah tingkah. Ia cepat-cepat menggeleng. “Ini sudah selesai, Bu!” Pram mengetuk-ngetuk kaki ranjang yang baru dibetulkan. Ia meyakini Sisil bahwa pekerjaannya beres dengan sempurna. “Sudah kokoh sekarang,” lanjut Pram lagi. Sisil menghampiri Pram, lalu menunduk untuk melihat hasil kerja Pram. Wanita itu mengangguk puas. “Betul, sudah kokoh!” sahutnya. “Apa ada lagi yang ingin diperbaiki, Bu?” tanya Pram sambil berjalan ke luar kamar tidur tersebut. Sisil memindai seluruh ruangan. Ia menggoyangkan pintu, mengetuk-ngetuk lemari, dan melihat retakan tembok. Namun sepertinya, belum ada yang harus diurus hari itu. Maka Sisil menggeleng. “Kayaknya belum ada, Mas.” Pram mengangguk mengerti. “Kalau begitu, saya boleh pamit pulang, Bu?” tanya Pram dengan hati-hati. Sisil tersenyum. “Boleh, Mas, sudah sore ini.” Sisil mengantar Pram ke pintu depan. Pram ingin berpamitan ketika salah satu tangan Sisil mendarat di atas punggung Pram. Refleks, Pram terperanjat dan menghindar. “B-bu, maaf, saya keringetan…” “Lho, memang kenapa?” tanya Sisil, wajahnya terlihat bingung. Melihat itu, Pram justru ikut bingung. Kenapa? Bukankah seharusnya ia jijik karena keringat yang menempel!? “Nanti tangan Bu Sisil jadi kotor,” jelas Pram. Sisil menggeleng, lalu menempelkan tangannya lagi di atas punggung Pram. “Ah, nggak apa-apa! Jangan berlebihan, Mas Pram.” Sisil lalu mengelus pelan punggung Pram beberapa kali. “B-bu…” Pram berdiri kaku di sana. “Kerja bagus hari ini, Mas Pram,” katanya sambil menepuk-nepuk punggung Pram. “Besok datang, langsung cari aku, ya? Biar aku kasih tugas.” “I-iya, Bu. Saya pamit dulu,” kata Pram canggung. Ia menarik diri dari sentuhan Sisil, menunduk tanda pamit, lalu berjalan ke luar. Langkahnya ia percepat, secepat jantungnya yang berdebar. Kali ini, ia tidak menoleh lagi. Namun, ketika berbelok ke rumahnya, dari sudut mata, Pram melihat Sisil masih berdiri di ambang pintu. Sesampainya di rumah, Pram buru-buru mandi air hangat untuk menenangkan pikirannya sekaligus membuat tubuhnya rileks. Dengan wajah memerah, Pram bergumam frustasi. “Aku sepertinya mulai gila…” — 'Kira-kira kejutan apalagi ya yang bakal dikasih Bu Sisil hari ini?' gumam Pram sendirian saat ia baru saja membuka mata dan meregangkan otot-otot tubuhnya yang masih terasa sedikit lelah. Pram segera bangkit, mandi secepat kilat untuk menyegarkan badan, lalu melangkah keluar dari rumah kecilnya menuju gerbang samping rumah utama keluarga Sisil. Suasana pagi itu terasa sangat hening, tidak seperti biasanya yang riuh dengan suara anak-anak angkat Sisil yang bersiap berangkat. Saat melewati garasi, Pram mengamati deretan mobil mewah di sana. Hampir semuanya sudah tidak ada di tempat, menandakan Mugi, Dara, Intan, Tari, dan Bunga sudah pergi dengan urusan masing-masing. Hanya tersisa satu unit mobil milik Sisil yang terparkir rapi. Pram melangkah masuk ke dalam rumah, namun ia tak mendapati siapa pun di ruang tengah maupun dapur. Bahkan Bi Surti yang biasanya sudah sibuk dengan sapu dan kain pel pun tidak nampak batang hidungnya. Karena penasaran, Pram melangkah ke area belakang rumah, menuju tempat jemuran yang berada di dekat taman belakang dan kolam renang. Begitu sampai di sana, langkah Pram mendadak terhenti. Matanya membelalak menatap pemandangan di depannya. Bukan pemandangan taman belakang rumah yang indah, bukan pula kolam renang yang airnya terlihat jernih. Pemandangan ini jauh lebih indah dibanding semua keindahan landscape area belakang rumah. Sisil, sang nyonya majikan yang biasanya selalu tampil anggun dengan gaun bermerek, kini sedang berdiri membelakanginya sambil sibuk menjereng pakaian di jemuran besi. Bukan sekadar menjemur biasa! Ia hanya mengenakan daster kaos berwarna kuning cerah yang sangat tipis dan minimalis. Potongan bawah daster itu benar-benar sangat minim, tingginya hampir menyentuh pangkal paha, memperlihatkan betis dan paha belakang yang putih mulus tanpa cela. Kain daster yang ketat itu nampak mencetak jelas bentuk bantalan belakang Sisil yang sangat bulat dan berisi, bergoyang pelan setiap kali tangannya terangkat ke atas. Tampilan Sisil yang seperti itu terlihat bagai sebuah patung mahakarya yang terdampar di dekat tiang jemuran. Pram segera mendekat, mencoba menetralkan degup jantungnya. "Lho, Bu Sisil? Kok malah Bu Sisil sendiri yang jemur pakaian begini? Sini, biar saya aja yang kerjain, Bu.""Aku belum puas, Mas! Jangan pikir bisa lolos secepat itu setelah kamu bikin hatiku berantakan!" desis Dara dengan napas yang memburu, matanya memerah menatap Pram yang masih terikat tak berdaya.Dara tidak menunggu jawaban. Ia kembali naik ke atas ranjang dengan gerakan yang sangat kasar.Ia memposisikan dirinya tepat di atas pangkal paha Pram yang masih menegang akibat stimulasi paksa tadi. Dengan satu sentakan pinggul yang kuat, ia mengarahkan pedang pusaka Pram tepat di mulut relung curamnya.Blas!Pedang pusaka itu melesak masuk sepenuhnya, menembus lorong labirin Dara yang sudah banjir oleh cairan gairah dan sisa-sisa pelepasan sebelumnya. Dara langsung menggoyang pinggulnya dengan sangat cepat dan ritmis, persis seperti seorang penunggang kuda yang sedang memacu hewan tunggangannya di lintasan balap.Tubuh Dara meliuk-liuk liar di atas tubuh Pram. Ia menjambak rambutnya sendiri, mendongakkan kepala ke
"Rasain ini, Mas! Jangan harap bisa lolos gitu aja setelah bikin aku kesel di depan Tante Sonya tadi!" desis Dara dengan mata berkilat, tangannya semakin kencang mengocok mercusuar Pram yang sudah berada di titik nadir ketahanannya.Pram hanya bisa mengerang sangat panjang di balik penyumpal mulutnya. Tubuhnya yang terikat kencang pada sandaran ranjang mendadak menegang kaku seperti ditarik kawat baja. Sedetik kemudian, semburan dahsyat dari senapan runduknya memancar keluar dengan tekanan hebat, memenuhi rongga mulut Dara yang masih setia mengulum puncaknya.“Ahummm, mmmmm!“ teriakan Pram tertahan penyumpal mulut.Dara tidak melepaskan hisapannya sedikit pun. Dengan gerakan tenggorokan yang terlihat jelas, ia menelan seluruh cairan panas dan kental itu dalam satu tegukan rakus tanpa sisa. Setelah memastikan milik Pram benar-benar bersih, ia baru melepasnya dan menyeka bibirnya dengan punggung tangan, lalu tersenyum
"Ada apa lagi, Dara? Masih ada tugas lain? Aku lagi tanggung nih nyuci mobil kamu tadi," tanya Pram sesaat setelah pintu kayu jati kamar Dara terbuka sedikit dari dalam.Dara tidak langsung menjawab. Wajah cantiknya nampak sangat datar, matanya menatap Pram dengan tatapan yang sulit diartikan—dingin namun menyimpan bara yang siap meledak. Ia hanya memberikan perintah singkat dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Masuk!"Pram melangkah masuk dengan ragu. Begitu kakinya melewati ambang pintu, Dara segera menutup pintu itu dengan keras dan memutar kunci dua kali. Clak!Clak!Pram berdiri mematung di tengah ruangan yang harum aroma mawar itu, menanti apa yang akan dilakukan oleh putri sulung Sisil tersebut.Dara berjalan dengan langkah tegas menuju lemari pakaian mewahnya. Amarah yang ia rasakan sejak di bangunan milik Sonya tadi nampaknya belum surut sama sekali. Ia membuka laci rahasia di b
Clak! “Toiletnya bersih banget, Tante. Airnya juga kenceng, pas banget buat kenyamanan pelanggan nanti," ujar Dara sambil melangkah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang nampak segar setelah membasuh muka.Pembicaraan rahasia antara Pram dan Sonya seketika terhenti. Pram segera menarik diri satu langkah menjauh dari Sonya, memasang wajah sedatar mungkin seolah mereka hanya sedang membicarakan teknis bangunan. Jantungnya masih berdegup kencang karena tuduhan tak berdasar dari Sonya.Dara kemudian mendekat ke arah jendela besar di lantai satu, menatap ke arah jalan raya. "Kira-kira kapan bangunan ini udah bisa aku gunain, Tante? Aku pengen secepatnya masukin interior sama barang-barang butik."Sonya tersenyum profesional, mencoba mengabaikan sisa ketegangan dengan Pram. "Sebaiknya setelah minggu depan aja, Mbak Dara. Biar kami bersihin dulu sebelum ditempati."Dara mengangguk setuju, ia nampak tidak sabar untuk memu
"Iya, aku kenal beliau," jawab Pram dengan nada kaku, berusaha menutupi kepanikan.Dara justru nampak antusias, ia melangkah maju dengan gaya anggunnya dan berdiri di samping Pram.“Wah, bagus dong kalau gitu. Jadi lebih enak kita bicaranya kalau udah saling kenal. Kenal di mana kalian sebelumnya? Kok Mas Pram nggak pernah cerita punya kenalan pemilik bangunan sehebat Tante Sonya?"Sonya segera membuka mulutnya, matanya melirik ke arah Pram dengan dahi berkerut. "Kebetulan aku adalah ibu kos dari—""Sarah!" potong Pram dengan cepat, suaranya naik satu oktaf demi mencegah Sonya menyebutkan nama Tari yang bisa memicu perang dunia di keluarga Sisil. Pram melemparkan tatapan penuh isyarat pada Sonya, sebuah tatapan memohon sekaligus peringatan agar wanita itu mengikuti permainannya.Sonya segera menangkap maksud dari kode mata Pram. Ia berdehem pelan dan memperbaiki posisi kacamatanya."Sarah? Sarah siapa, Mas?" tanya Dara
"Dara, nggak usah ya. Simpan aja tenagamu buat aktivitas hari ini. Mas beneran lagi nggak mood buat begituan sekarang," kata Pram sambil menepis pelan tangan Dara yang sudah mulai merayap liar di atas pahanya.Dara seketika memundurkan duduknya kembali ke posisi semula. Wajahnya yang tegas mendadak berubah murung, bibirnya ditekuk kebawah dengan raut kecewa. "Kenapa sih, Mas? Kok ditolak mentah-mentah gitu? Apa karena servis mulut aku kemarin-kemarin kurang enak ya? Atau Mas bosen sama aku?"Pram menghela napas panjang, ia melirik sekilas ke arah Dara yang nampak sangat tersinggung. "Bukan gitu, Dara. Kamu itu hebat, aku selalu suka cara kamu pakai bibir kamu itu. Tapi jujur, Mas lagi nggak mood aja. Pikiranku masih ke mana-mana, badan juga rasanya nggak enak."Dara terdiam sejenak, ia merapikan blazernya yang sedikit terbuka memperlihatkan renda penyangga dadanya yang menggoda. "Terus, apa yang bisa bikin mood Mas Pram membaik lagi? Ak







