Share

3. Mau Yang Kokoh

Penulis: Leva Lorich
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-22 13:58:00

“Ma-maaf, Bu!” Pram kalang kabut menutup pusat pancaran air dengan tangannya. Namun karena panik, tangannya jadi tidak cekatan dan justru membuat air semakin menyebar tanpa terkendali.

Sekujur badan Pram sudah basah oleh air, begitu juga dengan Sisil.

Lekuk tubuh Sisil terlihat meremang dari balik gaun tidurnya yang basah tersebut.

Pram meraih karet bannya kembali dan menyumpalkannya pada bagian paralon yang mengeluarkan air.

Keadaan teratasi. Air berhenti mengalir seketika.

Namun keadaan menjadi berubah sedikit canggung bagi Pram. Ia terpaku diam.

Ia memerhatikan Sisil yang sigap mengambil handuk yang tergantung di sudut kamar mandi. Sisil lalu memberikannya pada Pram.

“Pakai handuk, Mas. Nanti kamu kedinginan!” perintahnya, bahkan sambil membantu menggosokkan handuk ke tubuh Pram.

Pram membeku, bukan karena perlakukan Sisil yang menggosokkan handuk ke tubuhnya, melainkan adanya gesekan lembut dan tak disengaja dari bagian depan tubuh Sisil yang menempel di lengannya.

“Maaf ya, Mas, harusnya kamu sudah istirahat malam malah sekarang basah-basahan gini gara-gara aku,” bisikan Sisil terdengar di telinga Pram sembari terus membantu Pram mengeringkan tubuhnya.

Pikiran Pram semakin melayang. Bisikan yang cukup dekat dengan telinganya itu terdengar merdu mendayu.

Setelah merasa pakaian Pram tak lagi basah kuyup, Sisil mundur. “Mas, aku ganti baju dulu.”

Sisil melangkah membelakangi Pram dan melakukan gerakan refleks untuk menyeka air dari bagian belakang tubuhnya.

“Uhh!” tenggorokan Pram seketika tercekat. Ia bisa melihat siluet basah yang membulat di belakang.

Saat Sisil benar-benar keluar dari kamar mandi tersebut, Pram menyadari bahwa betapa memalukan pikirannya barusan. ‘Ah, dasar otakku yang kotor!’ gumamnya dalam hati.

Pram keluar dari kamar mandi dan melihat Sisil sudah mengganti pakaiannya. “Bu, saya mohon pamit. Untuk malam ini kran air tidak bisa digunakan dulu karena saya sumpal. Besok pagi saya akan membawa paralon dan kran pengganti,” ia berpamitan.

Namun Sisil menahannya, “Eh jangan langsung pulang dong! Emangnya kamu ga ingin dibayar?”

“Besok saja, Bu, sekalian. Kan belum beres air krannya,” jawab Pram menundukkan wajah, takut memiliki pikiran aneh-aneh lagi.

Sisil mendekati Pram dan mengelus dadanya. “Pakaianmu masih basah begini? Apa perlu aku pinjamkan pakaian Bapak?” gerakan tangan kemudian bergeser ke bahu dan perut Pram, menunjukkan bahwa pakaian Pram memang basah semuanya.

Pram lagi-lagi mematung tiba-tiba.

Setiap perlakuan kecil dari Sisil membuat pikiran Pram berkelana kemana-mana. Namun ia segera menarik diri. “Jangan, Bu. Saya nggak enak sama Bapak,” cepat-cepat ia menjawab. “Sebaiknya saya pulang sekarang.”

Pram mempercepat langkah, tak ingin semakin carut marut pikirannya.

“Ya sudah, Mas. Sampai besok ya!”

Pram buru-buru mengangguk sopan dan berjalan cepat ke luar. Ia tak ingin Sisil melihat miliknya yang diam-diam sudah setengah naik.

Keesokan paginya, Pram kembali datang dengan membawa paralon cadangan dan kran air baru. Ia mulai bekerja di bawah tatapan Sisil yang selalu menemaninya.

“Masih bisa kembali normal kan, Mas?” tanya Sisil disampingnya.

Pram mengangguk. “Aman, Bu. Semua akan kembali normal kalau sudah selesai saya kerjakan,” mata dan tangannya masih fokus menyelesaikan pekerjaannya.

Setengah jam kemudian kran telah selesai diperbaiki.

Pram keluar dari kamar mandi diikuti oleh Sisil. “Sudah selesai, Bu, saya mau pamit,” ia memohon izin.

Sisil menggeleng, “Kamu ini pelupa, ya?” ia menarik napas dalam-dalam, membuat busungan di dadanya sedikit terangkat ke depan.

Pram segera mengalihkan tatapannya. “Lupa apa ya, Bu?” spontan tangannya menggaruk kepalanya yang tak gatal untuk mencoba mengingat-ingat.

“Masss…” suara seperti desahan itu lagi-lagi keluar dari bibir Sisil. “Kamu kan sudah sepakat kerja penuh di sini, kok pamit pulang sih? Kan jam pulang kerjanya nanti sore!”

Pram menepuk keningnya karena benar-benar terlupa. “Eh, iya, ya. Maaf, Bu,” ia merasa malu sendiri. “Jadi, tugas saya selanjutnya apa, Bu?” tanyanya kemudian, kembali mencoba menatap wajah Sisil.

“Nih, Mas, lihat,” Sisil mengajak Pram menuju salah satu kamar tidur di rumah itu.

Sisil lalu menunduk, jari telunjuknya mengarah ke kaki ranjang yang sedikit doyong. Namun mata Pram justru tertuju ke bagian rongga pakaian di leher Sisil yang sedang menunduk tersebut.

Pram menelan ludahnya, namun lamunan singkatnya segera buyar saat Sisil kembali berkata, “Kamu perbaiki ya setelah ini.”

“Iya, Bu.”

“Jangan iya-iya aja kamu itu. Sini lihat!” Sisil sedikit menarik kain lengan baju Pram sehingga otomatis ia ikut menunduk. Wajah mereka bersebelahan, cukup dekat, bahkan Pram bisa merasakan aroma hembusan napas Sisil.

Sisil menunjuk kaki ranjang. “Batang kakinya ini kurang kokoh. Tolong kamu kuatkan tumpuannya. Aku mau batang yang kokoh, Masss!”

Pram ternganga!

Aroma napas hangat dan perkataan Sisil yang masuk ke hidung serta gendang telinganya memberikan efek imajinasi liar di dalam otaknya.

Pikiran Pram melayang, terbayang hal-hal yang seharusnya tidak ia pikirkan saat sedang bekerja seperti itu.

‘Batang kokoh?!’ gumam Pram dalam hati dengan pikiran frustasi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   166. Rasa Sesal

    "Aku belum puas, Mas! Jangan pikir bisa lolos secepat itu setelah kamu bikin hatiku berantakan!" desis Dara dengan napas yang memburu, matanya memerah menatap Pram yang masih terikat tak berdaya.Dara tidak menunggu jawaban. Ia kembali naik ke atas ranjang dengan gerakan yang sangat kasar.Ia memposisikan dirinya tepat di atas pangkal paha Pram yang masih menegang akibat stimulasi paksa tadi. Dengan satu sentakan pinggul yang kuat, ia mengarahkan pedang pusaka Pram tepat di mulut relung curamnya.Blas!Pedang pusaka itu melesak masuk sepenuhnya, menembus lorong labirin Dara yang sudah banjir oleh cairan gairah dan sisa-sisa pelepasan sebelumnya. Dara langsung menggoyang pinggulnya dengan sangat cepat dan ritmis, persis seperti seorang penunggang kuda yang sedang memacu hewan tunggangannya di lintasan balap.Tubuh Dara meliuk-liuk liar di atas tubuh Pram. Ia menjambak rambutnya sendiri, mendongakkan kepala ke

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   165. Kehabisan Napas

    "Rasain ini, Mas! Jangan harap bisa lolos gitu aja setelah bikin aku kesel di depan Tante Sonya tadi!" desis Dara dengan mata berkilat, tangannya semakin kencang mengocok mercusuar Pram yang sudah berada di titik nadir ketahanannya.Pram hanya bisa mengerang sangat panjang di balik penyumpal mulutnya. Tubuhnya yang terikat kencang pada sandaran ranjang mendadak menegang kaku seperti ditarik kawat baja. Sedetik kemudian, semburan dahsyat dari senapan runduknya memancar keluar dengan tekanan hebat, memenuhi rongga mulut Dara yang masih setia mengulum puncaknya.“Ahummm, mmmmm!“ teriakan Pram tertahan penyumpal mulut.Dara tidak melepaskan hisapannya sedikit pun. Dengan gerakan tenggorokan yang terlihat jelas, ia menelan seluruh cairan panas dan kental itu dalam satu tegukan rakus tanpa sisa. Setelah memastikan milik Pram benar-benar bersih, ia baru melepasnya dan menyeka bibirnya dengan punggung tangan, lalu tersenyum

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   164. Menerima Hukuman

    "Ada apa lagi, Dara? Masih ada tugas lain? Aku lagi tanggung nih nyuci mobil kamu tadi," tanya Pram sesaat setelah pintu kayu jati kamar Dara terbuka sedikit dari dalam.Dara tidak langsung menjawab. Wajah cantiknya nampak sangat datar, matanya menatap Pram dengan tatapan yang sulit diartikan—dingin namun menyimpan bara yang siap meledak. Ia hanya memberikan perintah singkat dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Masuk!"Pram melangkah masuk dengan ragu. Begitu kakinya melewati ambang pintu, Dara segera menutup pintu itu dengan keras dan memutar kunci dua kali. Clak!Clak!Pram berdiri mematung di tengah ruangan yang harum aroma mawar itu, menanti apa yang akan dilakukan oleh putri sulung Sisil tersebut.Dara berjalan dengan langkah tegas menuju lemari pakaian mewahnya. Amarah yang ia rasakan sejak di bangunan milik Sonya tadi nampaknya belum surut sama sekali. Ia membuka laci rahasia di b

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   163. Cemberut

    Clak! “Toiletnya bersih banget, Tante. Airnya juga kenceng, pas banget buat kenyamanan pelanggan nanti," ujar Dara sambil melangkah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang nampak segar setelah membasuh muka.Pembicaraan rahasia antara Pram dan Sonya seketika terhenti. Pram segera menarik diri satu langkah menjauh dari Sonya, memasang wajah sedatar mungkin seolah mereka hanya sedang membicarakan teknis bangunan. Jantungnya masih berdegup kencang karena tuduhan tak berdasar dari Sonya.Dara kemudian mendekat ke arah jendela besar di lantai satu, menatap ke arah jalan raya. "Kira-kira kapan bangunan ini udah bisa aku gunain, Tante? Aku pengen secepatnya masukin interior sama barang-barang butik."Sonya tersenyum profesional, mencoba mengabaikan sisa ketegangan dengan Pram. "Sebaiknya setelah minggu depan aja, Mbak Dara. Biar kami bersihin dulu sebelum ditempati."Dara mengangguk setuju, ia nampak tidak sabar untuk memu

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   162. Sebuah Kecemburuan

    "Iya, aku kenal beliau," jawab Pram dengan nada kaku, berusaha menutupi kepanikan.Dara justru nampak antusias, ia melangkah maju dengan gaya anggunnya dan berdiri di samping Pram.“Wah, bagus dong kalau gitu. Jadi lebih enak kita bicaranya kalau udah saling kenal. Kenal di mana kalian sebelumnya? Kok Mas Pram nggak pernah cerita punya kenalan pemilik bangunan sehebat Tante Sonya?"Sonya segera membuka mulutnya, matanya melirik ke arah Pram dengan dahi berkerut. "Kebetulan aku adalah ibu kos dari—""Sarah!" potong Pram dengan cepat, suaranya naik satu oktaf demi mencegah Sonya menyebutkan nama Tari yang bisa memicu perang dunia di keluarga Sisil. Pram melemparkan tatapan penuh isyarat pada Sonya, sebuah tatapan memohon sekaligus peringatan agar wanita itu mengikuti permainannya.Sonya segera menangkap maksud dari kode mata Pram. Ia berdehem pelan dan memperbaiki posisi kacamatanya."Sarah? Sarah siapa, Mas?" tanya Dara

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   161. Pemilik Bangunan

    "Dara, nggak usah ya. Simpan aja tenagamu buat aktivitas hari ini. Mas beneran lagi nggak mood buat begituan sekarang," kata Pram sambil menepis pelan tangan Dara yang sudah mulai merayap liar di atas pahanya.Dara seketika memundurkan duduknya kembali ke posisi semula. Wajahnya yang tegas mendadak berubah murung, bibirnya ditekuk kebawah dengan raut kecewa. "Kenapa sih, Mas? Kok ditolak mentah-mentah gitu? Apa karena servis mulut aku kemarin-kemarin kurang enak ya? Atau Mas bosen sama aku?"Pram menghela napas panjang, ia melirik sekilas ke arah Dara yang nampak sangat tersinggung. "Bukan gitu, Dara. Kamu itu hebat, aku selalu suka cara kamu pakai bibir kamu itu. Tapi jujur, Mas lagi nggak mood aja. Pikiranku masih ke mana-mana, badan juga rasanya nggak enak."Dara terdiam sejenak, ia merapikan blazernya yang sedikit terbuka memperlihatkan renda penyangga dadanya yang menggoda. "Terus, apa yang bisa bikin mood Mas Pram membaik lagi? Ak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status