Se connecter“Ma-maaf, Bu!” Pram kalang kabut menutup pusat pancaran air dengan tangannya. Namun karena panik, tangannya jadi tidak cekatan dan justru membuat air semakin menyebar tanpa terkendali.
Sekujur badan Pram sudah basah oleh air, begitu juga dengan Sisil. Lekuk tubuh Sisil terlihat meremang dari balik gaun tidurnya yang basah tersebut. Pram meraih karet bannya kembali dan menyumpalkannya pada bagian paralon yang mengeluarkan air. Keadaan teratasi. Air berhenti mengalir seketika. Namun keadaan menjadi berubah sedikit canggung bagi Pram. Ia terpaku diam. Ia memerhatikan Sisil yang sigap mengambil handuk yang tergantung di sudut kamar mandi. Sisil lalu memberikannya pada Pram. “Pakai handuk, Mas. Nanti kamu kedinginan!” perintahnya, bahkan sambil membantu menggosokkan handuk ke tubuh Pram. Pram membeku, bukan karena perlakukan Sisil yang menggosokkan handuk ke tubuhnya, melainkan adanya gesekan lembut dan tak disengaja dari bagian depan tubuh Sisil yang menempel di lengannya. “Maaf ya, Mas, harusnya kamu sudah istirahat malam malah sekarang basah-basahan gini gara-gara aku,” bisikan Sisil terdengar di telinga Pram sembari terus membantu Pram mengeringkan tubuhnya. Pikiran Pram semakin melayang. Bisikan yang cukup dekat dengan telinganya itu terdengar merdu mendayu. Setelah merasa pakaian Pram tak lagi basah kuyup, Sisil mundur. “Mas, aku ganti baju dulu.” Sisil melangkah membelakangi Pram dan melakukan gerakan refleks untuk menyeka air dari bagian belakang tubuhnya. “Uhh!” tenggorokan Pram seketika tercekat. Ia bisa melihat siluet basah yang membulat di belakang. Saat Sisil benar-benar keluar dari kamar mandi tersebut, Pram menyadari bahwa betapa memalukan pikirannya barusan. ‘Ah, dasar otakku yang kotor!’ gumamnya dalam hati. Pram keluar dari kamar mandi dan melihat Sisil sudah mengganti pakaiannya. “Bu, saya mohon pamit. Untuk malam ini kran air tidak bisa digunakan dulu karena saya sumpal. Besok pagi saya akan membawa paralon dan kran pengganti,” ia berpamitan. Namun Sisil menahannya, “Eh jangan langsung pulang dong! Emangnya kamu ga ingin dibayar?” “Besok saja, Bu, sekalian. Kan belum beres air krannya,” jawab Pram menundukkan wajah, takut memiliki pikiran aneh-aneh lagi. Sisil mendekati Pram dan mengelus dadanya. “Pakaianmu masih basah begini? Apa perlu aku pinjamkan pakaian Bapak?” gerakan tangan kemudian bergeser ke bahu dan perut Pram, menunjukkan bahwa pakaian Pram memang basah semuanya. Pram lagi-lagi mematung tiba-tiba. Setiap perlakuan kecil dari Sisil membuat pikiran Pram berkelana kemana-mana. Namun ia segera menarik diri. “Jangan, Bu. Saya nggak enak sama Bapak,” cepat-cepat ia menjawab. “Sebaiknya saya pulang sekarang.” Pram mempercepat langkah, tak ingin semakin carut marut pikirannya. “Ya sudah, Mas. Sampai besok ya!” Pram buru-buru mengangguk sopan dan berjalan cepat ke luar. Ia tak ingin Sisil melihat miliknya yang diam-diam sudah setengah naik. — Keesokan paginya, Pram kembali datang dengan membawa paralon cadangan dan kran air baru. Ia mulai bekerja di bawah tatapan Sisil yang selalu menemaninya. “Masih bisa kembali normal kan, Mas?” tanya Sisil disampingnya. Pram mengangguk. “Aman, Bu. Semua akan kembali normal kalau sudah selesai saya kerjakan,” mata dan tangannya masih fokus menyelesaikan pekerjaannya. Setengah jam kemudian kran telah selesai diperbaiki. Pram keluar dari kamar mandi diikuti oleh Sisil. “Sudah selesai, Bu, saya mau pamit,” ia memohon izin. Sisil menggeleng, “Kamu ini pelupa, ya?” ia menarik napas dalam-dalam, membuat busungan di dadanya sedikit terangkat ke depan. Pram segera mengalihkan tatapannya. “Lupa apa ya, Bu?” spontan tangannya menggaruk kepalanya yang tak gatal untuk mencoba mengingat-ingat. “Masss…” suara seperti desahan itu lagi-lagi keluar dari bibir Sisil. “Kamu kan sudah sepakat kerja penuh di sini, kok pamit pulang sih? Kan jam pulang kerjanya nanti sore!” Pram menepuk keningnya karena benar-benar terlupa. “Eh, iya, ya. Maaf, Bu,” ia merasa malu sendiri. “Jadi, tugas saya selanjutnya apa, Bu?” tanyanya kemudian, kembali mencoba menatap wajah Sisil. “Nih, Mas, lihat,” Sisil mengajak Pram menuju salah satu kamar tidur di rumah itu. Sisil lalu menunduk, jari telunjuknya mengarah ke kaki ranjang yang sedikit doyong. Namun mata Pram justru tertuju ke bagian rongga pakaian di leher Sisil yang sedang menunduk tersebut. Pram menelan ludahnya, namun lamunan singkatnya segera buyar saat Sisil kembali berkata, “Kamu perbaiki ya setelah ini.” “Iya, Bu.” “Jangan iya-iya aja kamu itu. Sini lihat!” Sisil sedikit menarik kain lengan baju Pram sehingga otomatis ia ikut menunduk. Wajah mereka bersebelahan, cukup dekat, bahkan Pram bisa merasakan aroma hembusan napas Sisil. Sisil menunjuk kaki ranjang. “Batang kakinya ini kurang kokoh. Tolong kamu kuatkan tumpuannya. Aku mau batang yang kokoh, Masss!” Pram ternganga! Aroma napas hangat dan perkataan Sisil yang masuk ke hidung serta gendang telinganya memberikan efek imajinasi liar di dalam otaknya. Pikiran Pram melayang, terbayang hal-hal yang seharusnya tidak ia pikirkan saat sedang bekerja seperti itu. ‘Batang kokoh?!’ gumam Pram dalam hati dengan pikiran frustasi.Simbiosis mutualisme terhenti menggantung tatkala mobil station tersebut memasuki area kampus dimana Intan berkuliah.Intan merapikan kembali pakaiannya, kemudian membuka pintu. “Mas Pram, tunggu saja disini sebentar. Aku nggak lama kok. Cuma mau ambil jas almamater yang ketinggalan di loker,” Intan melongokkan kepala sejenak ke dalam mobil sebelum pergi.Pram keluar dari mobil, menyalakan sisa puntungnya yang masih separuh sambil menunggu Intan kembali. Sesekali tatapan Pram bergerak mengikuti para mahasiswi yang berlalu lalang dengan pakaian menggoda.'Ini kampus atau catwalk? Banyak banget modelnya!' gumam Pram, matanya tak pernah berhenti memindai setiap onderdil mahasiswi.Tak lama kemudian dari jauh Pram sudah bisa melihat Intan yang berjalan cepat, atau lebih mirip berlari kecil. Di belakangnya, seorang mahasiswa mengejar tanpa henti.Hingga akhirnya keduanya tiba di dekat mobil.“Sayang, kamu jangan salah paham dong. Aku sama Dwi itu cuma temenan, nggak lebih!“ ucap pria yang
“Tari! Apa-apaan sih? Kamu kelewatan, Tar!“ Pram tentu saja marah menerima perlakuan itu.“Hei, hei, hei! Aku nggak kelewatan tuh. Cuma bantu mandiin kamu biar agak bersihan,” senyum puas Tari terkembang. “Tapi kamu memang ada benarnya. Harga dirimu tak jauh lebih berharga dari air mineral bekas ini,” imbuhnya penuh penghinaan.Wajah Pram merah padam. Ia terpaksa pulang demi meredam emosinya yang bisa berakibat fatal jika terus meladeni Tari.—Beberapa hari kemudian, panggilan datang dari Intan, anak angkat kedua Sisil. Usianya 25 tahun. Tak kalah dari Sisil dan Dara, wajah Intan juga cantik.“Mas Pram, tolong antar aku ke kampus. Sopir keluarga lagi cuti, istrinya melahirkan,” pinta Intan menemui Pram di taman rumah.“Aku lagi ada tugas menata taman, Tan. Kalau bundamu marah gimana hayo?“ tampik Pram karena memang ia sudah ada tugas hari itu.“Ini juga atas persetujuan bunda, Mas. Kata bunda sebaiknya aku diantar Mas Pram aja. Bunda justru nggak tenang kalau aku naik ojek online,” t
Secepatnya ia meraih pinggang Dara untuk menghindar, namun—Sratt!Ujung runcing rak besi yang roboh masih sedikit mengenai paha Dara. “Aduhhh, Mas Pram!” Dara menekan paha atasnya yang mengeluarkan darah, wajahnya berkerut menahan sakit.Reflek Pram menyingkap rok pendek Dara untuk memeriksa luka tersebut, namun seketika ia menjadi tertegun mendapati segitiga berwarna merah muda yang terpampang jelas di depan matanya.Dara segera menyadari tatapan Pram ke bagian tersebut. “Biar aku sendiri, Mas,” tangannya bergerak hampir menyentuh luka goresan di pahanya sendiri.Namun gerakan tangan Pram menghentikan niat itu. “Ini bukan luka biasa, Ra. Kalau salah ditanganin malah tetanus gimana?“ tegur Pram.Dara akhirnya menarik kembali tangannya, membiarkan paha itu kembali terbuka bebas mempertontonkan kain segitiga murah muda yang sedikit ketat karena kekecilan.Plekk!Plekk!Bukannya mengobati, Pram justru menampar-nampar bagian paha Dara di sekeliling luka tersebut.“Mas, kok—”“Ini disebu
Selama memperbaiki kaki ranjang, pikiran Pram menjalar kemana-mana. Ia benar-benar tidak bisa fokus. Pasalnya, Sisil mondar-mandir di belakangnya sambil sesekali mengecek pekerjaan Pram. Wanita itu menunduk dan mendekatkan tubuhnya hingga menempel pada lengan Pram. “Gimana, Mas? Bisa nggak?” tanya Sisil. Pram menangkapnya seperti sebuah bisikan. “B-bisa, Bu, sebentar,” jawab Pram terbata. Pram melirik Sisil sejenak, pandangan wanita itu fokus kepada kaki ranjang yang tengah dibetulkan Pram. Sisil lalu mengangguk. Untuk sesaat, Pram lega karena tidak ada ucapan apa-apa lagi dari Sisil yang bisa membuatnya berpikir macam-macam. Namun, ia salah.Tangan Sisil tiba-tiba mengelus lengan bagian atas milik Pram sebelum beranjak pergi. Bulu-bulu di tubuh Pram naik seketika. Perkakas di tangan Pram juga lepas begitu saja karena terkejut. “Eh- aduh!”“Kenapa, Mas?” Sisil berseru.“Nggak, Bu!” katanya. Tangannya yang berkeringat terasa semakin basah karena gugup. Setelah beberapa lama, Pra
“Ma-maaf, Bu!” Pram kalang kabut menutup pusat pancaran air dengan tangannya. Namun karena panik, tangannya jadi tidak cekatan dan justru membuat air semakin menyebar tanpa terkendali. Sekujur badan Pram sudah basah oleh air, begitu juga dengan Sisil. Lekuk tubuh Sisil terlihat meremang dari balik gaun tidurnya yang basah tersebut. Pram meraih karet bannya kembali dan menyumpalkannya pada bagian paralon yang mengeluarkan air. Keadaan teratasi. Air berhenti mengalir seketika. Namun keadaan menjadi berubah sedikit canggung bagi Pram. Ia terpaku diam. Ia memerhatikan Sisil yang sigap mengambil handuk yang tergantung di sudut kamar mandi. Sisil lalu memberikannya pada Pram. “Pakai handuk, Mas. Nanti kamu kedinginan!” perintahnya, bahkan sambil membantu menggosokkan handuk ke tubuh Pram. Pram membeku, bukan karena perlakukan Sisil yang menggosokkan handuk ke tubuhnya, melainkan adanya gesekan lembut dan tak disengaja dari bagian depan tubuh Sisil yang menempel di lengannya. “Maa
Sekujur tubuh Pram mendadak kaku. Pikirannya kacau, tidak tahu harus berbuat apa. Sementara itu tangan Pram yang lain memeluk pinggang Sisil yang begitu ramping. Tubuh keduanya saling menempel.Setelah beberapa saat, Pram pada akhirnya kembali sadar. Ia lalu melepaskan Sisil dari genggamannya perlahan, memastikan wanita itu dapat berdiri tegap. “Ma-maaf, Bu! Saya nggak sengaja!” seru Pram dengan nada panik.Sisil menggeleng. “Ahh.. bukan salah kamu, Mas…. Aku yang nggak hati-hati,” ia seolah mengabaikan tangan Pram. “Kalau nggak ada kamu, mungkin aku tadi sudah jatuh ke lantai.”Pram kembali kaget. Suara Sisi lagi-lagi seperti mendesah.Pram bahkan sampai menggoyangkan kepalanya beberapa kali, berpikir ia sedang berhalusinasi lagi.“Makasih ya, Mas, sudah nolongin aku,” Sisil meletakkan tangannya di dada Pram.“I-iya, Bu,” jawab Pram terbata. Di hadapannya, Sisil masih tersenyum.Ketika Sisil menjauhkan tangannya dari dada Pram, Pram merasakan wanita itu seperti mengelus dadanya sin







