MasukSisil menoleh sedikit, memberikan senyuman tipis yang nampak begitu menggoda di bawah sinar matahari pagi.
Rambutnya yang biasa disanggul rapi kini dibiarkan tergerai berantakan, memberikan kesan liar yang alami. "Eh, Mas Pram. Nggak apa-apa, ini dikit lagi selesai kok. Biar aku aja yang lanjutin." Pram menggeleng tegas, ia merasa tidak enak hati membiarkan majikannya melakukan pekerjaan kasar. "Nggak pantas lah, Bu. Masa majikan ngerjain ginian, padahal ada pelayan kayak saya yang bisa disuruh-suruh. Sini embernya, Bu." Sambil bicara, mata Pram sesekali tak kuasa menahan diri untuk tidak melirik ke arah paha Sisil yang nampak sangat jenjang dan padat karena posisi daster yang tersingkap saat ia bergerak. Aroma sabun cuci bercampur dengan parfum mahal Sisil yang muncul dari balik daster kuning itu benar-benar membuat Pram menegang. Sisil sedikit menunduk. Gumpalan ketat di dadanya terlihat dari celah atas pakaiannya. Ia kemudian menepis lembut tangan Pram yang sudah hampir masuk ke dalam ember cucian yang penuh dengan pakaian basah. "Udah, Mas Pram... nggak masalah. Biar aku aja yang jemur, ini kan pekerjaan wanita. Lagian seru juga kok kena matahari pagi dikit-dikit biar sehat." "Bi Surti ke mana, Bu? Kok nggak kelihatan dari tadi?" tanya Pram lagi, masih berusaha meraih bibir ember plastik itu. "Bi Surti lagi ke pasar, katanya mau belanja stok mingguan sekalian nengok adiknya sebentar. Makanya, apa salahnya kalau aku bantu sedikit biar kerjaan rumah nggak numpuk, kan?" sahut Sisil sambil kembali menjereng sebuah kemeja milik Mugi. Pram tetap bersikukuh. Baginya, melihat Sisil yang anggun harus berkeringat di bawah jemuran adalah hal yang tidak bisa ia biarkan. “Enggak, Bu. Saya yang malu kalau membiarkan Bu Sisil capek sendiri.“ Karena tqk ada yang mau mengalah, terjadilah aksi tarik-menarik ember plastik di antara mereka. Pram menarik sisi kanan, sementara Sisil dengan gigih mempertahankan sisi kiri ember tersebut sambil tertawa kecil melihat kegigihan pelayannya. "Lepasin, Mas! Aku mau jemur sendiri!" seru Sisil renyah sambil menarik kuat-kuat. "Sini saya aja, Bu! Itu tugas pelayan seperti saya," balas Pram sambil memberikan tarikan yang cukup bertenaga. Karena lantai di area jemuran itu sedikit licin terkena cipratan air sabun, malapetaka kecil pun terjadi. Saat Pram memberikan tarikan terakhir yang cukup kuat, pegangan tangan Sisil pada bibir ember tiba-tiba terlepas karena licin. Karena kehilangan keseimbangan yang mendadak, Sisil tidak sanggup menahan beban tubuhnya sendiri. "Aaaaa!" teriak Sisil pendek. Ia terjengkang ke belakang dengan posisi terduduk di atas lantai yang basah. Namun yang membuat Pram benar-benar membeku di tempat adalah saat daster kuning tipis itu tersingkap sempurna ke atas akibat posisi jatuh Sisil. Kedua paha montok Sisil terbuka lebar, memperlihatkan kemulusan kulit seputih pualamnya hingga ke bagian yang paling privat. Pram melotot kaget, matanya seolah terkunci pada pemandangan di depan kakinya. Pakaian dalam berwarna ungu tua bermotif bunga nampak jelas menutupi kawah gelap Sisil, menciptakan pemandangan sesaat yang menggetarkan jiwa. Belum lagi bagian dada Sisil yang seolah ingin melompat keluar dari balik kerah daster yang rendah akibat guncangan saat terjatuh tadi. Pram terpana, ia menelan ludah dengan sangat susah payah saat melihat rona kemerahan di wajah Sisil yang kini nampak menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—antara malu, kaget, tapi juga ada binar lain di matanya. "Bu Sisil! Aduh, maaf Bu!" teriak Pram kaget, ia segera melemparkan ember plastik itu ke samping dan tergopoh-gopoh menghampiri Sisil yang masih terduduk di lantai basah dengan paha terbuka lebar. Namun, nasib sial nampaknya masih menghampirinya. Lantai area jemuran yang licin karena sisa air sabun dari ember yang tumpah membuat pijakan Pram ikut goyah. Kaki kanannya tergelincir keras ke depan. Tubuh gagahnya hilang keseimbangan dan langsung ambruk ke arah Sisil berada. Bruk! Pram bukan saja gagal membantu, ia justru ikut jatuh dan menindih tubuh Sisil yang empuk. Wajah Pram terkubur di antara leher dan bahu Sisil, menghirup aroma wangi khas tubuh nyonya majikannya yang bercampur dengan aroma panas matahari pagi. Jantungnya berdegup kencang bukan main karena posisi mereka yang sangat aneh. Lebih kaget lagi saat Pram baru menyadari posisi kedua tangannya. Tangan kirinya mendarat telak dan bertumpu pada salah satu bagian dada Sisil yang sangat kenyal dan besar, sementara tangan kanannya yang bermaksud mencari tumpuan di lantai justru menyelinap masuk ke celah paha Sisil dan menempel erat di atas pakaian dalam ungu miliknya. Pram bisa merasakan kelenturan daging dada Sisil yang seolah ingin meledak di bawah telapak tangannya. Di bawah sana, jari-jarinya merasakan kelembutan kain celana dalam yang tipis, bahkan ia bisa merasakan hawa hangat yang memancar dari kawah gelap Sisil. "A-aduh! Maaf, Bu! Maaf banget!" Pram tersadar dan dengan gerakan panik segera menarik tangannya, lalu merangkak mundur menjauh dengan wajah merah padam. "Saya beneran nggak sengaja, lantainya licin sekali." Sisil tidak nampak marah sedikit pun. Ia justru tersenyum manis, memperlihatkan gurat wajahnya yang dewasa dan penuh pesona. Ia mengulurkan tangannya yang lentik ke arah Pram. "Iya, Mas Pram, Aku tahu kok. Sini, bantuin berdiri dulu, pinggulku rasanya agak sakit nih kena lantai." Pram menyambut tangan itu dengan gemetar. Saat ia baru saja menarik tubuh Sisil untuk berdiri, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu dapur."Aku belum puas, Mas! Jangan pikir bisa lolos secepat itu setelah kamu bikin hatiku berantakan!" desis Dara dengan napas yang memburu, matanya memerah menatap Pram yang masih terikat tak berdaya.Dara tidak menunggu jawaban. Ia kembali naik ke atas ranjang dengan gerakan yang sangat kasar.Ia memposisikan dirinya tepat di atas pangkal paha Pram yang masih menegang akibat stimulasi paksa tadi. Dengan satu sentakan pinggul yang kuat, ia mengarahkan pedang pusaka Pram tepat di mulut relung curamnya.Blas!Pedang pusaka itu melesak masuk sepenuhnya, menembus lorong labirin Dara yang sudah banjir oleh cairan gairah dan sisa-sisa pelepasan sebelumnya. Dara langsung menggoyang pinggulnya dengan sangat cepat dan ritmis, persis seperti seorang penunggang kuda yang sedang memacu hewan tunggangannya di lintasan balap.Tubuh Dara meliuk-liuk liar di atas tubuh Pram. Ia menjambak rambutnya sendiri, mendongakkan kepala ke
"Rasain ini, Mas! Jangan harap bisa lolos gitu aja setelah bikin aku kesel di depan Tante Sonya tadi!" desis Dara dengan mata berkilat, tangannya semakin kencang mengocok mercusuar Pram yang sudah berada di titik nadir ketahanannya.Pram hanya bisa mengerang sangat panjang di balik penyumpal mulutnya. Tubuhnya yang terikat kencang pada sandaran ranjang mendadak menegang kaku seperti ditarik kawat baja. Sedetik kemudian, semburan dahsyat dari senapan runduknya memancar keluar dengan tekanan hebat, memenuhi rongga mulut Dara yang masih setia mengulum puncaknya.“Ahummm, mmmmm!“ teriakan Pram tertahan penyumpal mulut.Dara tidak melepaskan hisapannya sedikit pun. Dengan gerakan tenggorokan yang terlihat jelas, ia menelan seluruh cairan panas dan kental itu dalam satu tegukan rakus tanpa sisa. Setelah memastikan milik Pram benar-benar bersih, ia baru melepasnya dan menyeka bibirnya dengan punggung tangan, lalu tersenyum
"Ada apa lagi, Dara? Masih ada tugas lain? Aku lagi tanggung nih nyuci mobil kamu tadi," tanya Pram sesaat setelah pintu kayu jati kamar Dara terbuka sedikit dari dalam.Dara tidak langsung menjawab. Wajah cantiknya nampak sangat datar, matanya menatap Pram dengan tatapan yang sulit diartikan—dingin namun menyimpan bara yang siap meledak. Ia hanya memberikan perintah singkat dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Masuk!"Pram melangkah masuk dengan ragu. Begitu kakinya melewati ambang pintu, Dara segera menutup pintu itu dengan keras dan memutar kunci dua kali. Clak!Clak!Pram berdiri mematung di tengah ruangan yang harum aroma mawar itu, menanti apa yang akan dilakukan oleh putri sulung Sisil tersebut.Dara berjalan dengan langkah tegas menuju lemari pakaian mewahnya. Amarah yang ia rasakan sejak di bangunan milik Sonya tadi nampaknya belum surut sama sekali. Ia membuka laci rahasia di b
Clak! “Toiletnya bersih banget, Tante. Airnya juga kenceng, pas banget buat kenyamanan pelanggan nanti," ujar Dara sambil melangkah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang nampak segar setelah membasuh muka.Pembicaraan rahasia antara Pram dan Sonya seketika terhenti. Pram segera menarik diri satu langkah menjauh dari Sonya, memasang wajah sedatar mungkin seolah mereka hanya sedang membicarakan teknis bangunan. Jantungnya masih berdegup kencang karena tuduhan tak berdasar dari Sonya.Dara kemudian mendekat ke arah jendela besar di lantai satu, menatap ke arah jalan raya. "Kira-kira kapan bangunan ini udah bisa aku gunain, Tante? Aku pengen secepatnya masukin interior sama barang-barang butik."Sonya tersenyum profesional, mencoba mengabaikan sisa ketegangan dengan Pram. "Sebaiknya setelah minggu depan aja, Mbak Dara. Biar kami bersihin dulu sebelum ditempati."Dara mengangguk setuju, ia nampak tidak sabar untuk memu
"Iya, aku kenal beliau," jawab Pram dengan nada kaku, berusaha menutupi kepanikan.Dara justru nampak antusias, ia melangkah maju dengan gaya anggunnya dan berdiri di samping Pram.“Wah, bagus dong kalau gitu. Jadi lebih enak kita bicaranya kalau udah saling kenal. Kenal di mana kalian sebelumnya? Kok Mas Pram nggak pernah cerita punya kenalan pemilik bangunan sehebat Tante Sonya?"Sonya segera membuka mulutnya, matanya melirik ke arah Pram dengan dahi berkerut. "Kebetulan aku adalah ibu kos dari—""Sarah!" potong Pram dengan cepat, suaranya naik satu oktaf demi mencegah Sonya menyebutkan nama Tari yang bisa memicu perang dunia di keluarga Sisil. Pram melemparkan tatapan penuh isyarat pada Sonya, sebuah tatapan memohon sekaligus peringatan agar wanita itu mengikuti permainannya.Sonya segera menangkap maksud dari kode mata Pram. Ia berdehem pelan dan memperbaiki posisi kacamatanya."Sarah? Sarah siapa, Mas?" tanya Dara
"Dara, nggak usah ya. Simpan aja tenagamu buat aktivitas hari ini. Mas beneran lagi nggak mood buat begituan sekarang," kata Pram sambil menepis pelan tangan Dara yang sudah mulai merayap liar di atas pahanya.Dara seketika memundurkan duduknya kembali ke posisi semula. Wajahnya yang tegas mendadak berubah murung, bibirnya ditekuk kebawah dengan raut kecewa. "Kenapa sih, Mas? Kok ditolak mentah-mentah gitu? Apa karena servis mulut aku kemarin-kemarin kurang enak ya? Atau Mas bosen sama aku?"Pram menghela napas panjang, ia melirik sekilas ke arah Dara yang nampak sangat tersinggung. "Bukan gitu, Dara. Kamu itu hebat, aku selalu suka cara kamu pakai bibir kamu itu. Tapi jujur, Mas lagi nggak mood aja. Pikiranku masih ke mana-mana, badan juga rasanya nggak enak."Dara terdiam sejenak, ia merapikan blazernya yang sedikit terbuka memperlihatkan renda penyangga dadanya yang menggoda. "Terus, apa yang bisa bikin mood Mas Pram membaik lagi? Ak







