Se connecterSecepatnya ia meraih pinggang Dara untuk menghindar, namun—
Sratt! Ujung runcing rak besi yang roboh masih sedikit mengenai paha Dara. “Aduhhh, Mas Pram!” Dara menekan paha atasnya yang mengeluarkan darah, wajahnya berkerut menahan sakit. Reflek Pram menyingkap rok pendek Dara untuk memeriksa luka tersebut, namun seketika ia menjadi tertegun mendapati segitiga berwarna merah muda yang terpampang jelas di depan matanya. Dara segera menyadari tatapan Pram ke bagian tersebut. “Biar aku sendiri, Mas,” tangannya bergerak hampir menyentuh luka goresan di pahanya sendiri. Namun gerakan tangan Pram menghentikan niat itu. “Ini bukan luka biasa, Ra. Kalau salah ditanganin malah tetanus gimana?“ tegur Pram. Dara akhirnya menarik kembali tangannya, membiarkan paha itu kembali terbuka bebas mempertontonkan kain segitiga murah muda yang sedikit ketat karena kekecilan. Plekk! Plekk! Bukannya mengobati, Pram justru menampar-nampar bagian paha Dara di sekeliling luka tersebut. “Mas, kok—” “Ini disebut mengeluarkan paksa sisa karat yang masuk ke dalam luka. Dengan sedikit penekanan, darah kotor akan kembali keluar,” potong Pram serius. Dara mengangguk mengerti. Setelah menampar dan memijat, darah kembali keluar. Sekonyong-konyong Pram memajukan wajahnya ke arah kain segitiga Dara. “Eh, Mas, apa—” Slurpp! Dara salah sangka. Bukan pangkal pahanya yang dituju Pram, melainkan luka di dekat sana. Tanpa jijik Pram menghisap beberapa kali darah kotor yang keluar. “Perlu dibantu beberapa hisapan biar kotorannya maksimal keluar,” terangnya tanpa diminta. Usai melakukan itu, Pram mengambil sapu tangan dari tasnya lalu mengikatkannya pada luka di paha atas Dara. “Selesai,” ucap Pram, namun tangannya masih tetap menahan rok Dara. Dara bukanlah wanita polos. Sebagai anak orang kaya dan terbiasa dalam pergaulan kelas atas, ia pernah mencicipi manisnya kenikmatan pria-wanita. Ditatap Pram dengan begitu lekat di bagian paling rahasianya, ia tak memungkiri, ada desiran halus menyeruak di dalam dadanya. Apalagi Pram meskipun berstatus jongos suruhan, nyatanya memiliki postur atletis dan wajah yang tampan, membuat pikiran Dara semakin melayang kemana-mana. “Kamu memang sukanya dicukur ya?“ tiba-tiba muncul pertanyaan aneh dari mulut Pram. “Dicukur?“ Dara membeo, keningnya mengernyit. “Itu!” tatapan Pram tertuju pada pusat hulu ledak di tengah segitiga merah muda milik Dara. “Eh, anu…” Dara seketika gelagapan. “Gerah soalnya, Mas, kalau lebat!“ ia menyerah untuk mencari alasan lain karena kesulitan berpikir cepat. “Aku juga suka sama yang model begitu,” ucap Pram lirih. Dara mendengarnya, dan anehnya, ia justru merasa senang karena Pram menyukai cukurannya. “Boleh nggak aku—” “Kak Daraaa! Kamu dimana?“ belum sempat Pram menyelesaikan kalimatnya, sebuah teriak di depan gudang menginterupsi semuanya. Dara buru-buru bangkit, merapikan kembali roknya. Bertepatan dengan itu, Tari muncul di ambang pintu. “Ternyata disini rupanya. Ayo, Kak, ikut aku sebentar. Ada yang pingin aku omongin,” Tari melambaikan tangannya. Tari adalah keponakan Sisil dari kampung. Ia menumpang di sana karena sedang kuliah di salah satu Universitas di Jakarta. Usianya seumuran dengan Bunga, adik bungsu Dara, sekitar 23 tahun. Sudah sejak semula Tari tidak suka dengan kehadiran Pram di rumah tersebut. Pasalnya, Tari selalu bertingkah sinis kepada Pram. Belum lagi, Pram sempat mendengar percakapan Tari yang sedang menelepon bahwa Tari merasa keluarga itu terlalu berbaik hati pada orang miskin rendahan seperti Pram. Dara menggeleng, seakan tak rela menyudahi interaksi mendebarkan bersama Pram. “Aku lagi nemenin Mas Pram bersih-bersih gudang, Tar. Nanti aja deh,” tolaknya. Mendapati penolakan tersebut, wajah Tari berubah murung. “Ngapain sih, Kak, pakai acara nemenin dia segala? Bisa besar kepala nanti dia lama-lama. Kak Dara harus menjaga harga diri keluarga!“ semburnya dongkol. Dara terkesiap. “Tar, jangan ngomong kayak gitu. Tidak sopan kamu!“ sentak Dara tak enak hati pada Pram. Pram segera angkat bicara. “Biar saja, Ra. Aku sudah terbiasa dihina dan direndahkan. Kenyataannya, aku memang jongos. Sebaiknya kamu ikut Tari saja.“ “Heh, kamu! Jangan malah cari muka di depan Kak Dara ya. Bisa-bisanya berlagak seperti kaum yang teraniaya, najisss!“ jari telunjuk Tari terarah lurus ke arah Pram. Karena merasa jika Dara tak mendukungnya, Tari kemudian berbalik pergi dengan langkah kaki terhentak kesal. — Sore hari, ketika aktivitas bersih-bersih Pram selesai, ia kembali ke rumah utama untuk mencari Dara, mengambil upahnya hari ini. Alih-alih bertemu Dara, ia justru bertemu kembali dengan Tari yang baru pulang dari kampus. “Eh ngapain sih disini? Bikin kotor aja. Sana-sana pergi!“ usir Tari yang melihat Pram di teras rumah. “Aku mau cari Dara, Tar,” tolak Pram. “Kak Dara lagi ke salon. Lagian ngapain juga sih ngincer Kak Dara mulu?!“ ucap Tari tak mengenakkan hati. “Aku cuma mau ambil upah hari ini. Nggak ada maksud lain,” Pram masih bersikukuh bertahan di teras itu. “Udah pulang sana. Kayak nggak ada hari lain aja. Besok kan bisa ambil upahnya!“ Tari semakin menjadi-jadi. Pram menggeleng heran. “Itu uang buat beli makan hari ini, Tar. Kamu yang nggak pernah miskin mana tahu rasanya kelaparan!“ nada suaranya mulai meninggi. “Eh makin nyolot ya. Aku bilangin Om Mugi baru tahu rasa kamu, biar ditolak nggak kerja disini lagi. Balik deh makan rumput lagi! Kasihan, dasar kismin struktural!“ Tari melotot keji. Tari memang terlahir dari keluarga kaya. Meski rumahnya di desa, orang tuanya memiliki berhektar-hektar sawah, lahan peternakan, perkebunan, dan masih banyak lagi. Sayangnya Tari selalu dimanja oleh adik Sisil tersebut hingga tumbuh menjadi wanita congkak. “Kamu mengancamku?“ Pram menatap sengit. “Iya! Memang kenapa? Nggak terima?!“ Tari membalas tatapan itu tak kalah sengit, dan— Byurr! Tiba-tiba Tari menyiramkan air mineral di botolnya ke wajah Pram.Simbiosis mutualisme terhenti menggantung tatkala mobil station tersebut memasuki area kampus dimana Intan berkuliah.Intan merapikan kembali pakaiannya, kemudian membuka pintu. “Mas Pram, tunggu saja disini sebentar. Aku nggak lama kok. Cuma mau ambil jas almamater yang ketinggalan di loker,” Intan melongokkan kepala sejenak ke dalam mobil sebelum pergi.Pram keluar dari mobil, menyalakan sisa puntungnya yang masih separuh sambil menunggu Intan kembali. Sesekali tatapan Pram bergerak mengikuti para mahasiswi yang berlalu lalang dengan pakaian menggoda.'Ini kampus atau catwalk? Banyak banget modelnya!' gumam Pram, matanya tak pernah berhenti memindai setiap onderdil mahasiswi.Tak lama kemudian dari jauh Pram sudah bisa melihat Intan yang berjalan cepat, atau lebih mirip berlari kecil. Di belakangnya, seorang mahasiswa mengejar tanpa henti.Hingga akhirnya keduanya tiba di dekat mobil.“Sayang, kamu jangan salah paham dong. Aku sama Dwi itu cuma temenan, nggak lebih!“ ucap pria yang
“Tari! Apa-apaan sih? Kamu kelewatan, Tar!“ Pram tentu saja marah menerima perlakuan itu.“Hei, hei, hei! Aku nggak kelewatan tuh. Cuma bantu mandiin kamu biar agak bersihan,” senyum puas Tari terkembang. “Tapi kamu memang ada benarnya. Harga dirimu tak jauh lebih berharga dari air mineral bekas ini,” imbuhnya penuh penghinaan.Wajah Pram merah padam. Ia terpaksa pulang demi meredam emosinya yang bisa berakibat fatal jika terus meladeni Tari.—Beberapa hari kemudian, panggilan datang dari Intan, anak angkat kedua Sisil. Usianya 25 tahun. Tak kalah dari Sisil dan Dara, wajah Intan juga cantik.“Mas Pram, tolong antar aku ke kampus. Sopir keluarga lagi cuti, istrinya melahirkan,” pinta Intan menemui Pram di taman rumah.“Aku lagi ada tugas menata taman, Tan. Kalau bundamu marah gimana hayo?“ tampik Pram karena memang ia sudah ada tugas hari itu.“Ini juga atas persetujuan bunda, Mas. Kata bunda sebaiknya aku diantar Mas Pram aja. Bunda justru nggak tenang kalau aku naik ojek online,” t
Secepatnya ia meraih pinggang Dara untuk menghindar, namun—Sratt!Ujung runcing rak besi yang roboh masih sedikit mengenai paha Dara. “Aduhhh, Mas Pram!” Dara menekan paha atasnya yang mengeluarkan darah, wajahnya berkerut menahan sakit.Reflek Pram menyingkap rok pendek Dara untuk memeriksa luka tersebut, namun seketika ia menjadi tertegun mendapati segitiga berwarna merah muda yang terpampang jelas di depan matanya.Dara segera menyadari tatapan Pram ke bagian tersebut. “Biar aku sendiri, Mas,” tangannya bergerak hampir menyentuh luka goresan di pahanya sendiri.Namun gerakan tangan Pram menghentikan niat itu. “Ini bukan luka biasa, Ra. Kalau salah ditanganin malah tetanus gimana?“ tegur Pram.Dara akhirnya menarik kembali tangannya, membiarkan paha itu kembali terbuka bebas mempertontonkan kain segitiga murah muda yang sedikit ketat karena kekecilan.Plekk!Plekk!Bukannya mengobati, Pram justru menampar-nampar bagian paha Dara di sekeliling luka tersebut.“Mas, kok—”“Ini disebu
Selama memperbaiki kaki ranjang, pikiran Pram menjalar kemana-mana. Ia benar-benar tidak bisa fokus. Pasalnya, Sisil mondar-mandir di belakangnya sambil sesekali mengecek pekerjaan Pram. Wanita itu menunduk dan mendekatkan tubuhnya hingga menempel pada lengan Pram. “Gimana, Mas? Bisa nggak?” tanya Sisil. Pram menangkapnya seperti sebuah bisikan. “B-bisa, Bu, sebentar,” jawab Pram terbata. Pram melirik Sisil sejenak, pandangan wanita itu fokus kepada kaki ranjang yang tengah dibetulkan Pram. Sisil lalu mengangguk. Untuk sesaat, Pram lega karena tidak ada ucapan apa-apa lagi dari Sisil yang bisa membuatnya berpikir macam-macam. Namun, ia salah.Tangan Sisil tiba-tiba mengelus lengan bagian atas milik Pram sebelum beranjak pergi. Bulu-bulu di tubuh Pram naik seketika. Perkakas di tangan Pram juga lepas begitu saja karena terkejut. “Eh- aduh!”“Kenapa, Mas?” Sisil berseru.“Nggak, Bu!” katanya. Tangannya yang berkeringat terasa semakin basah karena gugup. Setelah beberapa lama, Pra
“Ma-maaf, Bu!” Pram kalang kabut menutup pusat pancaran air dengan tangannya. Namun karena panik, tangannya jadi tidak cekatan dan justru membuat air semakin menyebar tanpa terkendali. Sekujur badan Pram sudah basah oleh air, begitu juga dengan Sisil. Lekuk tubuh Sisil terlihat meremang dari balik gaun tidurnya yang basah tersebut. Pram meraih karet bannya kembali dan menyumpalkannya pada bagian paralon yang mengeluarkan air. Keadaan teratasi. Air berhenti mengalir seketika. Namun keadaan menjadi berubah sedikit canggung bagi Pram. Ia terpaku diam. Ia memerhatikan Sisil yang sigap mengambil handuk yang tergantung di sudut kamar mandi. Sisil lalu memberikannya pada Pram. “Pakai handuk, Mas. Nanti kamu kedinginan!” perintahnya, bahkan sambil membantu menggosokkan handuk ke tubuh Pram. Pram membeku, bukan karena perlakukan Sisil yang menggosokkan handuk ke tubuhnya, melainkan adanya gesekan lembut dan tak disengaja dari bagian depan tubuh Sisil yang menempel di lengannya. “Maa
Sekujur tubuh Pram mendadak kaku. Pikirannya kacau, tidak tahu harus berbuat apa. Sementara itu tangan Pram yang lain memeluk pinggang Sisil yang begitu ramping. Tubuh keduanya saling menempel.Setelah beberapa saat, Pram pada akhirnya kembali sadar. Ia lalu melepaskan Sisil dari genggamannya perlahan, memastikan wanita itu dapat berdiri tegap. “Ma-maaf, Bu! Saya nggak sengaja!” seru Pram dengan nada panik.Sisil menggeleng. “Ahh.. bukan salah kamu, Mas…. Aku yang nggak hati-hati,” ia seolah mengabaikan tangan Pram. “Kalau nggak ada kamu, mungkin aku tadi sudah jatuh ke lantai.”Pram kembali kaget. Suara Sisi lagi-lagi seperti mendesah.Pram bahkan sampai menggoyangkan kepalanya beberapa kali, berpikir ia sedang berhalusinasi lagi.“Makasih ya, Mas, sudah nolongin aku,” Sisil meletakkan tangannya di dada Pram.“I-iya, Bu,” jawab Pram terbata. Di hadapannya, Sisil masih tersenyum.Ketika Sisil menjauhkan tangannya dari dada Pram, Pram merasakan wanita itu seperti mengelus dadanya sin







