Share

6. Obat Duka Lara

Penulis: Leva Lorich
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-22 14:02:12

“Tari! Apa-apaan sih? Kamu kelewatan, Tar!“ Pram tentu saja marah menerima perlakuan itu.

“Hei, hei, hei! Aku nggak kelewatan tuh. Cuma bantu mandiin kamu biar agak bersihan,” senyum puas Tari terkembang. “Tapi kamu memang ada benarnya. Harga dirimu tak jauh lebih berharga dari air mineral bekas ini,” imbuhnya penuh penghinaan.

Wajah Pram merah padam. Ia terpaksa pulang demi meredam emosinya yang bisa berakibat fatal jika terus meladeni Tari.

Beberapa hari kemudian, panggilan datang dari Intan, anak angkat kedua Sisil. Usianya 25 tahun. Tak kalah dari Sisil dan Dara, wajah Intan juga cantik.

“Mas Pram, tolong antar aku ke kampus. Sopir keluarga lagi cuti, istrinya melahirkan,” pinta Intan menemui Pram di taman rumah.

“Aku lagi ada tugas menata taman, Tan. Kalau bundamu marah gimana hayo?“ tampik Pram karena memang ia sudah ada tugas hari itu.

“Ini juga atas persetujuan bunda, Mas. Kata bunda sebaiknya aku diantar Mas Pram aja. Bunda justru nggak tenang kalau aku naik ojek online,” terang Intan.

Pram pun mengangguk dan segera membersihkan diri.

Beberapa saat kemudian mobil station mewah keluarga mereka sudah melaju mulus dengan Pram di belakang kemudi.

Intan yang biasanya lebih suka duduk di kursi belakang saat bersama sopir keluarga, hari ini memilih duduk di sebelah Pram. “Aku duduk depan saja gapapa kan, Mas. Bete aja duduk di belakang nggak ada temen ngobrol,” ucapnya memanyunkan bibir.

Pram mengangguk, melirik sekilas, dan seketika jantungnya mencelos. 

Ia baru menyadari jika Intan mengenakan rok ketat selutut. Dalam posisi duduk, otomatis rok menjadi sedikit terangkat, menampilkan paha putihnya yang sekal.

“Kenapa, Mas? Suka ya?“ Tatapan Pram tertangkap basah oleh Intan.

“Oh, eh, anu… tadi nggak sengaja li—”

Srett!

“Kalau suka, lihat aja. Mumpung aku lagi murah hati,” perkataan Pram terpotong oleh aksi gila Intan yang justru mengangkat tinggi roknya, bahkan hingga inventaris segitiga berwarna biru lautnya terlihat jelas.

“Eh, Tan, jangan gitu. Tadi aku nggak sengaja,” Pram menyimpan mata laparnya dan berusaha kembali dalam mode santun.

Namun kegilaan Intan tak berhenti disana. Mendapati penolakan Pram membuatnya semakin tertantang.

“Kenapa juga harus malu-malu begitu? Ini kan di dalam mobil, nggak ada orang lain. Cuma kita berdua. Sini deh,” Intan menarik tangan kiri Pram dan menempatkan begitu saja diantara paha jenjang yang terlihat.

Tangan Pram membeku seketika. “Tan, jangan, Tan, nanti bundamu marah loh!“ ia masih berusaha bertahan dari letupan keinginan, tangannya tetap terdiam disana, tak berani bergerak.

“Mas Pram kok gitu sih. Lagian aku nggak akan bilang bunda kok,” Intan merajuk, bibirnya mengerucut.

Pram menggeleng lemah. “Kamu kenapa sih, Tan? Nggak biasanya kamu kayak gini!“ 

“Aku baru putus dari pacarku, Mas. Dia ketahuan main serong. Aku juga baru sadar kalau selama ini dia cuma manfaatin aku, morotin aku, cuma mau tubuh dan uangku,” ucapnya menahan tangis.

Namun cepat-cepat ia mengangkat tangan untuk mengusir air mata yang hampir tumpah. “Jadi, itung-itung sebagai obat pelipur lara, manjain aku sebentar saja, Mas. Mau, kan?“

'Alamak! Obat pelipur lara seindah ini? Mau aja apa mau banget?' teriak Pram dalam hati.

Pram hanya mengangguk tipis, sok tenang. Perlahan lima jari Pram mengembang mirip  tentakel gurita, merabai setiap jengkal kulit mulus pada paha tersebut.

Wajah sendu Intan berubah senang. Sesekali keningnya berkerut merasakan sensasi yang menjalar dari titik-titik sensitifnya.

“Teruskan saja, Mas Pram. Mobilnya matic, kok. Jadi aman saja kalau cuma pakai satu tangan,” Intan bergeser membisikkan kalimat itu tepat di samping indra pendengaran Pram, membuat seluruh isi kepala Pram berdengung.

Pram kembali mengangguk tipis. 

Merasa kurang nyaman hanya dengan sentuhan tentakel di kaki putihnya, Intan nekad menggeser tangan kiri Pram tepat pada lowongan pekerjaan miliknya yang masih tertutup kain biru. “Yang disini lebih butuh,” ia kembali berbisik, nadanya bercampur desahan tertahan.

Melihat peluang gawang yang terbuka lebar, Pram mulai memberanikan diri membuka suara. “Kulit kamu memang mulus sekali, Tan.“

“Lebih mulus yang di dalam, Mas. Sudah dicukur, seperti bayi,” kali ini pipi Intan bersemu merah terpengaruh malu bercampur letupan hasrat.

“Beneran mulus? Ah kamu pasti bohong!“ trik pancingan klasik terlontar dari bibir Pram, anehnya, selalu dituruti mangsa.

Merasa tertantang, Intan mengangkat sedikit tubuhnya agar lebih mudah baginya meluruhkan kain biru dari tempatnya.

Dalam hitungan detik, sawah ladang itu terhampar jelas tanpa penghalang. 

Pram melirik sekilas. “Wah kamu benar, Tan. Kelihatan bersih dan mulus. Tapi belum tentu juga kalau belum dipastikan,” Pram kembali melontarkan kalimat pancingan.

“Ah, Mas Pram. Nggak usah banyak giringan deh. Kalau cewek udah mode seperti ini, ya udah sikat aja. Nggak usah pakai prolog lagi!“ Intan menarik paksa tangan kiri Pram untuk menjangkau area curam berhulu ledak tinggi tersebut.

Tak sungkan lagi Pram mengeluarkan kemampuan aslinya. Dengan lincah ia mulai mengelus, mengorek, menggosok, memelintir, bahkan menarik apapun yang bisa ditarik.

“Nahhh. Shhhh, begitu baru benarrr!“ desah Intan lega. Sedari tadi bagian itu sudah berharap sentuhan kerinduan, namun Pram terlalu lama berbasa-basi.

Permainan Pram sangat lihai. Dengan memusatkan eksplorasi pada bagian lahan gambut kacang hawaii, area itu cepat menjadi berembun.

“Ehmmm, ya, disitu mas, kencengin main kelerengnyaaa!“ pinggul Intan terangkat tinggi mengejar kemanapun jari Pram bergeser.

Dan tiba-tiba—

Nyettt!

Dengan gemas tangan Intan menyapa tusuk konde Pram yang masih bersemayam di balik celananya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   7. Aku Butuh Kamu Secepatnya!

    Simbiosis mutualisme terhenti menggantung tatkala mobil station tersebut memasuki area kampus dimana Intan berkuliah.Intan merapikan kembali pakaiannya, kemudian membuka pintu. “Mas Pram, tunggu saja disini sebentar. Aku nggak lama kok. Cuma mau ambil jas almamater yang ketinggalan di loker,” Intan melongokkan kepala sejenak ke dalam mobil sebelum pergi.Pram keluar dari mobil, menyalakan sisa puntungnya yang masih separuh sambil menunggu Intan kembali. Sesekali tatapan Pram bergerak mengikuti para mahasiswi yang berlalu lalang dengan pakaian menggoda.'Ini kampus atau catwalk? Banyak banget modelnya!' gumam Pram, matanya tak pernah berhenti memindai setiap onderdil mahasiswi.Tak lama kemudian dari jauh Pram sudah bisa melihat Intan yang berjalan cepat, atau lebih mirip berlari kecil. Di belakangnya, seorang mahasiswa mengejar tanpa henti.Hingga akhirnya keduanya tiba di dekat mobil.“Sayang, kamu jangan salah paham dong. Aku sama Dwi itu cuma temenan, nggak lebih!“ ucap pria yang

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   6. Obat Duka Lara

    “Tari! Apa-apaan sih? Kamu kelewatan, Tar!“ Pram tentu saja marah menerima perlakuan itu.“Hei, hei, hei! Aku nggak kelewatan tuh. Cuma bantu mandiin kamu biar agak bersihan,” senyum puas Tari terkembang. “Tapi kamu memang ada benarnya. Harga dirimu tak jauh lebih berharga dari air mineral bekas ini,” imbuhnya penuh penghinaan.Wajah Pram merah padam. Ia terpaksa pulang demi meredam emosinya yang bisa berakibat fatal jika terus meladeni Tari.—Beberapa hari kemudian, panggilan datang dari Intan, anak angkat kedua Sisil. Usianya 25 tahun. Tak kalah dari Sisil dan Dara, wajah Intan juga cantik.“Mas Pram, tolong antar aku ke kampus. Sopir keluarga lagi cuti, istrinya melahirkan,” pinta Intan menemui Pram di taman rumah.“Aku lagi ada tugas menata taman, Tan. Kalau bundamu marah gimana hayo?“ tampik Pram karena memang ia sudah ada tugas hari itu.“Ini juga atas persetujuan bunda, Mas. Kata bunda sebaiknya aku diantar Mas Pram aja. Bunda justru nggak tenang kalau aku naik ojek online,” t

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   5. Sangat Terhina

    Secepatnya ia meraih pinggang Dara untuk menghindar, namun—Sratt!Ujung runcing rak besi yang roboh masih sedikit mengenai paha Dara. “Aduhhh, Mas Pram!” Dara menekan paha atasnya yang mengeluarkan darah, wajahnya berkerut menahan sakit.Reflek Pram menyingkap rok pendek Dara untuk memeriksa luka tersebut, namun seketika ia menjadi tertegun mendapati segitiga berwarna merah muda yang terpampang jelas di depan matanya.Dara segera menyadari tatapan Pram ke bagian tersebut. “Biar aku sendiri, Mas,” tangannya bergerak hampir menyentuh luka goresan di pahanya sendiri.Namun gerakan tangan Pram menghentikan niat itu. “Ini bukan luka biasa, Ra. Kalau salah ditanganin malah tetanus gimana?“ tegur Pram.Dara akhirnya menarik kembali tangannya, membiarkan paha itu kembali terbuka bebas mempertontonkan kain segitiga murah muda yang sedikit ketat karena kekecilan.Plekk!Plekk!Bukannya mengobati, Pram justru menampar-nampar bagian paha Dara di sekeliling luka tersebut.“Mas, kok—”“Ini disebu

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   4. Mulai Gila

    Selama memperbaiki kaki ranjang, pikiran Pram menjalar kemana-mana. Ia benar-benar tidak bisa fokus. Pasalnya, Sisil mondar-mandir di belakangnya sambil sesekali mengecek pekerjaan Pram. Wanita itu menunduk dan mendekatkan tubuhnya hingga menempel pada lengan Pram. “Gimana, Mas? Bisa nggak?” tanya Sisil. Pram menangkapnya seperti sebuah bisikan. “B-bisa, Bu, sebentar,” jawab Pram terbata. Pram melirik Sisil sejenak, pandangan wanita itu fokus kepada kaki ranjang yang tengah dibetulkan Pram. Sisil lalu mengangguk. Untuk sesaat, Pram lega karena tidak ada ucapan apa-apa lagi dari Sisil yang bisa membuatnya berpikir macam-macam. Namun, ia salah.Tangan Sisil tiba-tiba mengelus lengan bagian atas milik Pram sebelum beranjak pergi. Bulu-bulu di tubuh Pram naik seketika. Perkakas di tangan Pram juga lepas begitu saja karena terkejut. “Eh- aduh!”“Kenapa, Mas?” Sisil berseru.“Nggak, Bu!” katanya. Tangannya yang berkeringat terasa semakin basah karena gugup. Setelah beberapa lama, Pra

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   3. Mau Yang Kokoh

    “Ma-maaf, Bu!” Pram kalang kabut menutup pusat pancaran air dengan tangannya. Namun karena panik, tangannya jadi tidak cekatan dan justru membuat air semakin menyebar tanpa terkendali. Sekujur badan Pram sudah basah oleh air, begitu juga dengan Sisil. Lekuk tubuh Sisil terlihat meremang dari balik gaun tidurnya yang basah tersebut. Pram meraih karet bannya kembali dan menyumpalkannya pada bagian paralon yang mengeluarkan air. Keadaan teratasi. Air berhenti mengalir seketika. Namun keadaan menjadi berubah sedikit canggung bagi Pram. Ia terpaku diam. Ia memerhatikan Sisil yang sigap mengambil handuk yang tergantung di sudut kamar mandi. Sisil lalu memberikannya pada Pram. “Pakai handuk, Mas. Nanti kamu kedinginan!” perintahnya, bahkan sambil membantu menggosokkan handuk ke tubuh Pram. Pram membeku, bukan karena perlakukan Sisil yang menggosokkan handuk ke tubuhnya, melainkan adanya gesekan lembut dan tak disengaja dari bagian depan tubuh Sisil yang menempel di lengannya. “Maa

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   2. Basah-basahan

    Sekujur tubuh Pram mendadak kaku. Pikirannya kacau, tidak tahu harus berbuat apa. Sementara itu tangan Pram yang lain memeluk pinggang Sisil yang begitu ramping. Tubuh keduanya saling menempel.Setelah beberapa saat, Pram pada akhirnya kembali sadar. Ia lalu melepaskan Sisil dari genggamannya perlahan, memastikan wanita itu dapat berdiri tegap. “Ma-maaf, Bu! Saya nggak sengaja!” seru Pram dengan nada panik.Sisil menggeleng. “Ahh.. bukan salah kamu, Mas…. Aku yang nggak hati-hati,” ia seolah mengabaikan tangan Pram. “Kalau nggak ada kamu, mungkin aku tadi sudah jatuh ke lantai.”Pram kembali kaget. Suara Sisi lagi-lagi seperti mendesah.Pram bahkan sampai menggoyangkan kepalanya beberapa kali, berpikir ia sedang berhalusinasi lagi.“Makasih ya, Mas, sudah nolongin aku,” Sisil meletakkan tangannya di dada Pram.“I-iya, Bu,” jawab Pram terbata. Di hadapannya, Sisil masih tersenyum.Ketika Sisil menjauhkan tangannya dari dada Pram, Pram merasakan wanita itu seperti mengelus dadanya sin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status